icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bukan Salesman Biasa

Bab 3 Mata Lainnya

Jumlah Kata:1008    |    Dirilis Pada: 17/10/2023

n apa

juga," ujar Pak Bobby kepada Ardhan dengan p

enunaikan tugasnya secepat ini. Bahkan ia belum tahu apa y

natap berkas-berkas itu. Otaknya sedang mencari cara bagaimana bisa mempelajari berkas sebanyak itu dalam wak

baik

erbuka, kaki panjangnya segera masuk ke dalam. Dalam hitungan detik, ia sudah tiba di lobby pe

ak hal yang harus ia ingat dan disampaikan di hadapan para klien nanti

masih memakai kacamatanya karena ia ingin tahu apa warna bola mata orang yang akan ditemuinya.Waktu terus berjalan

emberitahuannya," cerocos lelaki itu, ia menatap layar ponselnya berulang kal

ebuah suara lelaki paruh baya menyahut. "Sore Pak, apakah klien kita

dak ada pemberitahuan re

r 45 menit tetapi klien kita tidak kun

adalah orang penting dan sangat menjaga reputasinya, bagaimana bisa sekarang beliau berbuat

b Ardhan. Sang atasan menyuruh lelaki itu untuk menunggu lima menit

proposal dan presentasi yang sudah disiapkan oleh staff perusahaannya.

ya. "Maaf ya Pak, saya terlambat karena tadi mendadak ada urusan kantor

ian berdiri menyambut orang penting tersebut. "Ah ti

ria itu berkata "Sepertinya kita

bertemu hari ini," timpal Ardhan. Ia sama sekal

kan saja hal tadi," ujar lelaki itu sembari tersenyum. "Perk

telah itu mereka duduk kembali. Lelaki bertubuh jangkung itu mempresentasi t

" sahut Prama mantap. Pertemuan tersebut berakhir dengan kesepa

a di kantor, ia bergegas menemui atasannya yang sudah menunggunya sedari tadi. "B

kerja kita dan setuju untuk bekerja sam

a bisa bekerja sama dengan perusahaan paling besar dan terkenal di seluruh negeri. "Kerja bagus A

uangan saya dulu," ujar Ardhan setelah menyer

ng baru saja ia lakukan jelas menjadi topik pembicaraan rekan-rekan kerjanya. Ada yang mena

," ujar salah satu staff kantor sembari menjulurkan tangannya. Ardhan tak langsu

wa tak semua orang baik padanya. Contohnya seperti wanita di depannya itu, ia ters

Kamu

rdhan. Ia lantas kembali meneruskan langkahnya menuju ruang kerjanya. Lelaki it

rsebut. Warna auranya serta kedua bola matanya yang berbeda dengan orang-orang p

an hanya ada pertanyaan tersebut, Ardhan tak tahu harus bertanya kepada siapa. Ia mencari di

ma kedua perusahaan itu berlangsung, Ardhan akan sering bertemu dengan

memberinya kacamata tersebut. Ia pun membereskan barang-barangnya dengan cepat.

siapa

yata temannya yang sekarang menjadi orang

ai dukun

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bukan Salesman Biasa
Bukan Salesman Biasa
“Mata adalah jendela hati. Karena membantu seorang pria tua misterius, Ardhan Aji Pradiptio mendapatkan imbalan sebauh benda misterius yang mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Selama ini nasib buruk selalu menghantuinya mulai dari karir yang jalan di tempat, dihina dan diremehkan atasannya hingga pernikahan yang sebentar lagi terlaksana justru batal. Akibat benda itu ia bisa tahu seberapa baik dan jahatnya seseorang dari bola matanya. Suatu hari ia bertemu dengan pria yang memiliki warna mata berbeda dari yang lain. Ardhan kesulitan menebak kepribadian orang itu. Lalu apa yang akan ia lakukan? Ke manakah dia mencari jawabannya? Mari ikut Ardhan mencari tahu siapa orang itu lewat kisahnya di buku Bukan Salesman Biasa.”
1 Bab 1 Sang Pusat Perhatian2 Bab 2 Penampilan Baru3 Bab 3 Mata Lainnya4 Bab 4 Wanita dan Masalahnya5 Bab 5 Si Jingga6 Bab 6 File Penting7 Bab 7 Tentang Laporan8 Bab 8 Oh Kekasih9 Bab 9 Penjual Kacamata10 Bab 10 Warna Hijau11 Bab 11 Nasib Kinanthi12 Bab 12 Tempat Baru13 Bab 13 Penyakit Hati14 Bab 14 Mood Swings15 Bab 15 Pekerjaan Baru16 Bab 16 Hampir Celaka17 Bab 17 Saksi dan bukti18 Bab 18 Pihak Ketiga19 Bab 19 Orang Asing20 Bab 20 Moment makan siang21 Bab 21 Surat Pernyataan22 Bab 22 Skenario Atasan23 Bab 23 Wakil Kantor 24 Bab 24 Halusinasi25 Bab 25 Kabar dari dia26 Bab 26 Bunga Tidur27 Bab 27 Bicara empat mata28 Bab 28 Menghindari Prama29 Bab 29 Beda Cerita30 Bab 30 Hidup dengan cinta31 Bab 31 Firasat Ibu32 Bab 32 Terbongkar33 Bab 33 Salah lawan34 Bab 34 Provokasi Moritz35 Bab 35 Laporan Perusahaan36 Bab 36 Cinta segitiga37 Bab 37 Ardhan vs Prama38 Bab 38 Gara-gara Kinanthi39 Bab 39 Terjebak macet40 Bab 40 Penguntit41 Bab 41 Senjata makan tuan42 Bab 42 Ulah si kakek43 Bab 43 Mundur untuk maju44 Bab 44 Titik Awal45 Bab 45 Jadi salesman46 Bab 46 Berpengalaman47 Bab 47 Kepergian Prama48 Bab 48 Sakit Jiwa