icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bukan Salesman Biasa

Bab 2 Penampilan Baru

Jumlah Kata:1056    |    Dirilis Pada: 16/10/2023

n Mas Ardhan untuk membayar s

han?" ulang Ardhan yang tak percaya d

Senyum mengembang seketika di bibir Ardhan, ia melupakan masalah kacamat

tuh waktu lama keduanya pun sampai di tempat tujuan, Ardhan dibawa ke ruang rapat. Di sana mereka membicarakan mengena

ang mengganggu pikiran lelaki itu. Penglihatan menjadi berbeda sekarang karena kac

i banyak waktu untuk menemukan jawabannya, sore ini dirinya masih harus pergi ke perusahaan terakhir. Keb

an ke perusahaan tersebut bagian frontlier langsung menyambutnya ram

ka mereka sudah berada di ruang pertemuan. Proses pembayaran pun berlangsung cepat, s

lain menanti dirinya, Sang atasan tersenyum lebar sembari berjalan ke arahnya. "Nah gitu dong

gagap, ia tak siap menerima pujian dar

pa, tiba-tiba perusahaan itu mau bayar?" tanya si

ungkin beliau kasihan pada saya," jawab Ardhan

akan tugaskan kamu untuk bertemu klien b

?" tanya Ardh

gka, kalau kamu berhasil mendapatkan kerjasa

rnya saya ...," ujar Ardhan seraya men

kata si boss berlalu begitu saja. Ardhan lantas meneruskan langkahnya ke ruang kerjanya.

imbalan yang didapatkannya sungguh besar. Sudah lama dirinya menantikan kesempatan untuk naik jabatan. "Ini memang kesem

memikirkan apa yang membuat kedua mata mereka berbeda. Jika dilihat secara gender, bukan hanya rekan wanitanya

ya sembari membawa tumpukan daftar klien yang lain. "Ini daftar klien yang kedua, usahakan semua

matamu jadi merah?" ujarnya memberanikan diri be

, kok tiba-tiba tanya begitu,"sahut wanita itu se

rtinya jahat dan biru itu baik," cicitnya. "Buktinya milik karyawa

h sang atasan. Sepertinya Pak Bobby tidak sabar untuk mendengar jawaban da

epat, Ardhan tak tahu bagaimana

elas lelaki paruh baya itu. Sang atasan memuji penampilan baru Ardhan, beliau mengatakan jika lelaki itu tampak l

Seorang lelaki berbadan tegap, ia merupakan teman baik Ardhan. "Dhan,

k Bobby tidak salah pi

baik dan lebih layak. Memangnya kamu bisa jawab semua pertanyaan mereka?" kata lelaki itu. Ucapan teman sep

nya itu merupakan tempatnya berkeluh kesah, Ardhan tak pernah iri atas penc

kalau kamu tiba-tiba gugup atau apa. Biar digan

ercayai orang lain. Pegawai yang lain tidak ada yang lebih mumpuni dibandingkan aku,"sahut Ard

yang biasa kamu lakukan. Kamu angkat kaki dari kantor ini, sece

annya itu, bagaimana jika ternyata ucapan tersebut menjadi kenyataan. Semua orang akan

akan dipecat. Mungkin memang lebih baik aku mundur saja,"pikirnya. Ardhan lan

bar buruk untuk kita, klie

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bukan Salesman Biasa
Bukan Salesman Biasa
“Mata adalah jendela hati. Karena membantu seorang pria tua misterius, Ardhan Aji Pradiptio mendapatkan imbalan sebauh benda misterius yang mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Selama ini nasib buruk selalu menghantuinya mulai dari karir yang jalan di tempat, dihina dan diremehkan atasannya hingga pernikahan yang sebentar lagi terlaksana justru batal. Akibat benda itu ia bisa tahu seberapa baik dan jahatnya seseorang dari bola matanya. Suatu hari ia bertemu dengan pria yang memiliki warna mata berbeda dari yang lain. Ardhan kesulitan menebak kepribadian orang itu. Lalu apa yang akan ia lakukan? Ke manakah dia mencari jawabannya? Mari ikut Ardhan mencari tahu siapa orang itu lewat kisahnya di buku Bukan Salesman Biasa.”
1 Bab 1 Sang Pusat Perhatian2 Bab 2 Penampilan Baru3 Bab 3 Mata Lainnya4 Bab 4 Wanita dan Masalahnya5 Bab 5 Si Jingga6 Bab 6 File Penting7 Bab 7 Tentang Laporan8 Bab 8 Oh Kekasih9 Bab 9 Penjual Kacamata10 Bab 10 Warna Hijau11 Bab 11 Nasib Kinanthi12 Bab 12 Tempat Baru13 Bab 13 Penyakit Hati14 Bab 14 Mood Swings15 Bab 15 Pekerjaan Baru16 Bab 16 Hampir Celaka17 Bab 17 Saksi dan bukti18 Bab 18 Pihak Ketiga19 Bab 19 Orang Asing20 Bab 20 Moment makan siang21 Bab 21 Surat Pernyataan22 Bab 22 Skenario Atasan23 Bab 23 Wakil Kantor 24 Bab 24 Halusinasi25 Bab 25 Kabar dari dia26 Bab 26 Bunga Tidur27 Bab 27 Bicara empat mata28 Bab 28 Menghindari Prama29 Bab 29 Beda Cerita30 Bab 30 Hidup dengan cinta31 Bab 31 Firasat Ibu32 Bab 32 Terbongkar33 Bab 33 Salah lawan34 Bab 34 Provokasi Moritz35 Bab 35 Laporan Perusahaan36 Bab 36 Cinta segitiga37 Bab 37 Ardhan vs Prama38 Bab 38 Gara-gara Kinanthi39 Bab 39 Terjebak macet40 Bab 40 Penguntit41 Bab 41 Senjata makan tuan42 Bab 42 Ulah si kakek43 Bab 43 Mundur untuk maju44 Bab 44 Titik Awal45 Bab 45 Jadi salesman46 Bab 46 Berpengalaman47 Bab 47 Kepergian Prama48 Bab 48 Sakit Jiwa