icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Wangsit Kuntilanak

Bab 2 2. Kuntilanak di atas pohon

Jumlah Kata:1189    |    Dirilis Pada: 11/07/2023

ir. Ema tiba dengan napas sedikit tersengal di depan seb

kearifan lokal yang membua

carik kertas yang ia bawa. Memas

entuk rumah, tapi ini kayaknya bukan rumah deh. Apa gue

khirnya mencoba mengetuk pintu rumah, memanggil soso

. Permisi, hal

ngan sabar panggilannya mendapat sambutan. Dicoba untuk yang kedua kali kar

kan, pintu dengan kusen kayu megah dan ukiran rumit terbuka. M

pa,

rumah ini. Ini benar,

enyum lembut. "Oh, iya, Nduk. Bener, saya

dua kali deng

kamar lagi yang kosong.

, Bu? Saya pikir ini ta

ga, ternyata ada banyak banget yang berminat. Dan salah satu dari mereka memberi usulan untuk membua

aya malah seneng kalau di sini rame. Cuma saya agak kag

i dari siapa? Duh maaf,

nggak masalah kalau rame, malahan

ulu. Kita lihat-liha

sar, sebuah foto yang menunjukkan orang-orang di zaman dahulu. Kursi goyang yang terbuat dari kayu ja

rapat atau sekedar pertemuan di sini. Sambil bincang-bincang mengenai bisnis. Di b

u?" ulang E

ih ada fotonya." Bu Yati menunjuk pada sebuah figur lelaki berkumis tebal dengan blankon di kepala. Juga tongkat yang ada di tangann

iri dan kanan

ri kesayangannya pemilik pabrik jaman dulu

f 'o' tanpa suara. Dia

m kenalan. Nama Mb

ya

njang

birnya sebelum lanjut berucap, "E

ti, seperti yang Mbak Ema tahu. Anak-anak y

a,

as. Saya tunjukkin kama

i tangga melingkar yang mengantarkan me

rus berjalan hingga menuju kamar terakhir yang letaknya paling ujung. Bu Yati menge

angan. Sejenak Ema tertegun, tak menyangka bahwa di dalam rumah yang

ebuah lampu gantung berukuran cuk

setiap sudut ruangan yang ada. Rasanya tak menyesal sudah datang sejauh in

k? Mau nyew

aya mau nye

erapa

i untuk tinggal sampai setengah tahun di rasa cukup. Apalagi harga sewa di sini sangat-sang

empat bula

urah dan suasananya tenang. Jauh dari perkotaan. Mbak sebentar lagi bakal garap sk

yewa pertahun, tetapi ia takut uangnya tak cukup un

ya, santai aja. Di sini bisa n

engan

, Mbak. Nggak apa-apa. Mbak kerj

lis novel

is, ya? He

t-hebat banget kok, Bu. Pembaca

asilannya b

, lagi-lagi hany

nya lagi. Tapi sering dipakai kalau pagi-pagi. Kalau nggak mau ngantri, di bawah juga ada kamar mandi. Ada banyak

apa-a

aya tingga

telah ia terima. Ema langsung membaringkan tubuhnya di

s juga dari si tua kelad

remuk karena harus berjalan sambil menenteng koper

dalam mimpi. Saat baru saja akan kehilangan kesadaran. Sebuah teriakan peringa

i dari tem

di ambang kesadaran yang belum terkumpul

tu suar

a yakin baru saja mendengar suara ibuny

bisa melihat pohon beringin besar yang tadi ia lewati. Namun perempuan itu lagi-lagi harus kembali dikejutkan, tak kala matanya menangkap sesosok makh

alah liat, kan?

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Wangsit Kuntilanak
Wangsit Kuntilanak
“Orang bilang di sana rumah tinggal kuntilanak. Dahulu seorang wanita belanda yang melakukan praktik sihir di bakar warga hidup-hidup. Namun Ema tidak peduli. Orang tua kandungnya sudah meninggal dan ayah tirinya mencoba memperkosa gadis itu. Dia butuh tempat untuk tinggal. Hingga suatu hari, sosok kuntilanak berbadan ringkih muncul. Membunuh satu per satu orang terdekat Ema dan memberi teror pada gadis itu. Ema berhasil kabur, tetapi dia harus kembali. Selain wangsit kuntilanak ada padanya. Iqbal, kekasih gadis itu harus diselamatkan sebelum dimakan kuntilanak.”
1 Bab 1 Ndoro Ayu sudah datang2 Bab 2 2. Kuntilanak di atas pohon3 Bab 3 3. Dendam Tjokrodjiwo4 Bab 4 4. Perjanjian dengan iblis5 Bab 5 5. Penghuni Baru6 Bab 6 6. Hubungan yang goyah7 Bab 7 7. Bertemu Lisa8 Bab 8 8. Hati-hati dengan pohon tua itu9 Bab 9 9. Kepala di cabang pohon10 Bab 10 10. Pocong Ibu Mau Masuk Rumah11 Bab 11 11. Wajah penuh belatung12 Bab 12 12. Tergantung di langit-langit kamar13 Bab 13 13. Bisikkan aneh14 Bab 14 14. Tjokrodjiwo15 Bab 15 15. Shhtt, jangan diceritakan16 Bab 16 16. Jangan percaya mereka17 Bab 17 17. Dinda dan Tjokrodjiwo18 Bab 18 18. Tawa-tawa kecil yang mengganggu19 Bab 19 19. Sejarah Tjokrodjiwo20 Bab 20 20. Memori masa lalu21 Bab 21 21. Itu bukan Dinda