back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Gairah Tuan Besar

Gairah Tuan Besar

Cathalea

4.9
Ulasan
1M
Penayangan
162
Bab

Zain, seorang pengusaha terkenal yang terlihat muda di usianya yang mendekati empat puluh. Ia adalah seorang pria yang nyaris sempurna tanpa cela. Namun, tidak seorang pun yang tahu. Lima tahun yang lalu pasca menyaksikan pengkhianatan istrinya, Zain mengalami kecelakaan tragis. Dampak kecelakaan itu ia mengalami disfungsi seksual. Demi harga dirinya, Zain menjaga aib itu rapat-rapat. Namun, hal itu dimanfaatkan Bella untuk berbuat semena-mena. Kecewa karena Zain tidak mampu memberinya kepuasan, Bella bermain gila dengan banyak pria. Zain tidak berkutik, hanya bisa pasrah karena tidak ingin kekurangan dirinya diketahui oleh orang banyak. Namun, semuanya berubah saat Zain mengenal Yvone, gadis muda yang mabuk di kelab malam miliknya. Untuk pertama kalinya, Zain kembali bergairah dan memiliki hasrat kepada seorang wanita. Namun, Yvone bukanlah gadis sembarangan. Ia adalah kekasih Daniel, anak tirinya sendiri. Mampukah Zain mendapatkan kebahagiaannya kembali?

Bab 1
Pengkhianatan

lima tahun yang lalu...

Hujan mengguyur kota dengan lebat, menciptakan genangan air di mana-mana. Di tengah cuaca yang tidak bersahabat itu Zain memacu mobilnya dalam kecepatan penuh. Di balik kemudi wajahnya tampak tegang penuh amarah.

Tanpa memedulikan jalanan yang licin, Zain terus menginjak pedal gas hingga kandas. Emosi benar-benar telah menguasai hati dan pikirannya, sehingga tidak lagi memedulikan keselamatan jiwanya sendiri.

Sebuah pesan yang berisikan video singkat yang ia terima beberapa lalu adalah alasan utama mengapa Zain berbuat nekat begitu.

[Malam panas bersama Bella Auriga Bimantara. Ingin bergabung? Datanglah ke alamat ini.]

Begitulah bunyi pesan singkat yang Zain terima dari nomor yang tidak dikenal. Di bawah pesan itu sebuah video dengan durasi sembilan belas detik memperlihatkan wajah Bella yang sedang mendesah nikmat di atas tubuh seorang pria.

Darahnya mendidih terbakar cemburu dan sakit hati.

Hati kecilnya ingin mengabaikan pesan itu karena ia merasa semua itu hanya editan. Perbuatan iseng dari lawan-lawan bisnisnya. Namun, logikanya menunjukkan hal lain. Zain mengenali tanda lahir yang ada di dada Bella. Tidak hanya itu, Zain juga mengenali tempat yang ada dalam video itu. Dalam ingatan Zain, ruangan itu persis sama dengan kamar yang ada di villa miliknya.

"Kurang ajar kamu, Bella! Berani sekali kamu mengkhianatiku!" Zain memaki sambil memukul kemudi berkali-kali.

"Apa kurangnya aku, Bella?!" geramnya.

"Lihat saja, aku akan membuat perhitungan denganmu," desisnya kemudian.

Zain kembali menginjak pedal gas sedalam mungkin, membuat mobil sport itu melesat bagaikan anak panah.

Namun, Zain lengah.

Amarah telah membutakan matanya. Beberapa saat setelah menginjak pedal gas, sebuah truk besar muncul dari arah berlawanan. Klakson panjang terdengar, tetapi sia-sia. Zain tak lagi mampu mengendalikan kemudi yang ada dalam genggamannya. Pedal rem sudah ia tekan hingga kandas, tapi mobil sport itu terlalu kencang untuk dihentikan. Benturan keras pun terjadi.

Blam! Duar!

Mobil sport milik Zain ringsek di depan moncong truk besar itu. Kaca-kaca berhamburan, asap mengepul menghalangi pandangan. Di balik kemudi, kepala Zain terkulai bersimbah darah. Beberapa saat ia berusaha untuk membuka mata, tetapi hanya dua kedipan, mata itu akhirnya terpejam tak berdaya.

***

Satu bulan berlalu. Di sebuah ruangan VVIP rumah sakit, Zain terbaring lemah di atas brankar. Ia masih koma meski telah menjalani sejumlah operasi untuk menyelamatkan nyawanya.

Dokter sedang memeriksa perkembangannya. Dilihat dari ekspresi wajahnya bisa ditebak, hasilnya cukup baik.

"Bagaimana kondisi suami saya, Dok?" tanya Bella yang sejak tadi berdiri di samping tempat tidur.

Pria paruh baya dengan kaca mata tebal itu tersenyum.

"Secara keseluruhan, kondisi Tuan Zain semakin membaik, Nyonya. Saya yakin dalam waktu dekat dia segera sadar," jawab dokter itu.

Bella tersenyum lebar, menampakkan suka cita yang besar mendengar kata-kata dokter itu.

Namun, begitu dokter itu pergi, wajah cantiknya langsung berubah drastis. Bibir yang tadinya membentuk senyuman, sekarang berubah membentuk ejekan.

"Segera sadar? Huh ... untuk apa? Kalau hanya akan menjadi pria cacat lebih baik kamu mati saja, Zain," kata Bella dingin.

Ia kembali menyeringai sinis. Jari-jari lentiknya meraih ponsel di atas nakas, lalu bergerak lincah menghubungi seseorang.

"Percepat saja rencana kita. Tidak lama lagi dia mungkin sadar, aku tidak mau mengambil resiko," perintahnya pada seseorang di seberang sana.

"...."

"Ya, lebih cepat lebih baik," katanya tegas.

Ia menutup panggilan telepon itu. Tanpa menoleh lagi, Bella pergi meninggalkan Zain yang terlelap di tempat tidur.

Ia tidak tahu, tepat di saat ia menutup telepon itu, di belakangnya Zain telah membuka mata.

***

Bella memacu Porche Taycan miliknya menuju rumah sakit. Padahal baru dua puluh menit lalu ia meninggalkan gedung berwarna putih itu. Namun, ia harus kembali lagi karena secara mengejutkan mendapat kabar Zain telah sadar dari koma.

"Sial!" makinya sambil memukul stir.

"Mengapa harus hari ini, sih? Padahal tinggal selangkah lagi semua aset itu menjadi milikku," ucapnya geram.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Wajah Bella langsung berubah saat melihat nama yang tertera di layarnya.

"Bagaimana? Apakah kau berhasil meyakinkan dewan direksi?" tanyanya resah.

"...."

"Sial! Tua bangka itu akan aku buat menyesal nanti. Lihat saja," kecam Bella.

"...."

"Tunda saja. Aku mau lihat kondisi Zain dulu," perintahnya lagi. "Semoga saja dia hilang ingatan,' sambungnya dalam hati.

Zain adalah pengusaha kaya raya pemilik sejumlah jaringan bisnis di bawah bendera Z. A. Group. Usianya masih muda, baru menginjak 30 tahun, tapi kerajaan bisnisnya telah berkembang pesat.

Ia m

erupakan pria mapan yang memesona. Tidak hanya tampan, tetapi juga jenius. Meskipun terlihat dingin dan angkuh, tapi kesuksesannya di dunia bisnis berhasil membuat sosoknya selalu disegani oleh teman dan ditakuti oleh lawan.

Banyak wanita yang tertarik untuk menjadi kekasihnya, tetapi hati Zain hanya tertuju pada Bella. Mantan aktris terkenal yang terlihat cantik dan menggairahkan meski usianya lebih tua lima tahun.

Tidak sedikit yang mencibir keputusan Zain menikahi Bella karena reputasinya yang terkenal matre dan sering bergonta-ganti pacar. Namun, Zain bergeming. Ia terlanjur tergila-gila pada wanita bertubuh seksi itu.

Tidak tanggung-tanggung, Zain menggelar pesta pernikahan mewah dan menghadiahkan sejumlah perhiasan mahal untuk Bella. Saat itu, Zain merasa menjadi lelaki paling berbahagia di dunia karena bisa mempersunting Bella.

Orang bijak berkata, waktu akan mengubah segalanya. Sayangnya itu tidak berlaku pada Bella. Sifatnya yang licik, materialistis, dan senang bermain cinta tidak berubah sama sekali. Dari waktu ke waktu ia justru semakin serakah.

Bella tidak pernah merasa puas dengan limpahan materi yang Zain berikan. Kondisi Zain yang mengenaskan pasca kecelakaan mencetuskan ide gila di kepalanya. Di saat Zain terbaring koma, Bella menyusun rencana untuk mengalihkan semua aset Zain menjadi atas namanya.

Namun, di saat rencananya memasuki tahap eksekusi, Zain sadar dari koma. Hal itu membuat rencana yang ia susun dengan rapi menjadi berantakan.

Sesampai di rumah sakit, Bella langsung menuju ruang perawatan Zain. Ia mendapati pria itu sedang berbicara dengan dokter.

"Akhirnya kamu sadar, Sayang," ucap Bella begitu masuk ke kamar.

Ia meraih tangan Zain, lalu menciumnya dengan lembut. Sepasang matanya berkaca, menatap Zain dengan haru.

"Bagaimana dengan kondisi suami saya, Dok?" tanyanya dengan suara bergetar.

Dokter itu tersenyum.

"Tuan Zain baik-baik saja, Nyonya. Tadi saya sudah lakukan serangkaian tes, semuanya normal. Tuan Zain sudah sehat seperti sedia kala," jelas dokter itu.

"Terimakasih, Dok," kata Bella.

Dokter itu mengangguk, lalu pergi bersama para perawatnya.

Bella kembali menatap Zain, dengan lembut membelai wajah tampan Zain yang masih dibalut perban.

"Selamat, Sayang. Terimakasih sudah bertahan. Berita kecelakaanmu benar-benar membuatku hampir gila," ujarnya.

"Benarkah?" tanya Zain.

"Tentu saja. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana hidupku jika tidak ada kamu," jawab Bella.

Zain bangkit dari pembaringan, lalu duduk menghadap istrinya itu. Bayang-bayang video perselingkuhan Bella kembali menari di matanya.

"Apakah kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Zain.

Sepasang alis Bella bertaut. Heran mendengar pertanyaan Zain yang begitu tiba-tiba.

"Tentu saja, Sayang. Aku sangat menyintaimu. Hanya kamu satu-satunya pria di dalam hidupku sejak kita menikah," jawab Bella.

"Kamu yakin?" tanya Zain lagi, kali ini dengan sorot mata tajam.

Bella mulai merasa kesal. Ia tidak suka dicurigai begitu. Dengan kasar, ia melepaskan genggaman dari tangan Zain.

"Maksud kamu apa sih bertanya begitu? Kamu mencurigaiku?" tanya Bella dengan nada tinggi.

Bella menyangka Zain tidak akan berbuat banyak mendengar protesnya. Namun, Bella salah. Zain yang berada di hadapannya saat ini adalah sosok yang berbeda. Dia bukan lagi Zain yang tergila-gila pada kecantikan Bella, tetapi dia adalah Zain yang telah mengetahui semua perbuatan buruk Bella. Zain sangat membenci pengkhianatan. Rasa cintanya telah berubah menjadi benci.

Tiba-tiba Zain berdiri, dengan garang ia mencengkeram rahang Bella.

"Jangan coba-coba mempermainkanku, Bella. Kamu sudah mengikis kesabaranku," desis Zain dengan sorot mata tajam.

"A-apa mm-maksud kamu?" tanya Bella gugup.

"Apa yang kamu rencanakan di saat aku sedang koma? Kamu ingin mengalihkan asetku?" tanya Zain dingin.

"A-aku ti-tidak mengerti apa yang kamu katakan," jawab Bella bingung.

Zain memperkuat cengkeramannya di rahang Bella.

"Aku tahu semua yang kamu rencanakan dengan Direktur Jo. Bermimpilah, Bella. Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa memiliki hartaku. Bersiaplah untuk menjanda karena aku akan menceraikanmu," ucap Zain.

Ia mendorong wanita itu, seraya melepaskan cengkeramannya.

Bella mengusap rahangnya yang terasa perih. Senyum sinis hadir di sudut bibirnya.

"Kamu ingin menceraikanku? Silakan saja," tantang Bella. "Tapi jangan salahkan aku jika berita tentang impotensimu menjadi headline besok pagi," sambungnya disertai ancaman.

"Impotensi? Huh! Siapa orang yang akan mempercayai berita hoax itu?" sahut Zain lantang.

"Oh ... memangnya dokter belum memberitahumu, ya?" tanya Bella. "Kecelakaan itu telah membuatmu cacat, Zain. Juniormu itu tidak akan pernah bisa lagi memuaskan wanita," terang Bella sambil tertawa.

Unduh Buku