/0/24873/coverorgin.jpg?v=3bb5d9f52074eb9898689abd6ad7c196&imageMogr2/format/webp)
Pagi itu, seperti pagi-pagi yang lain, adalah sebuah pertunjukan yang sunyi. Aroma kopi Arabika tercium dari dapur, namun tidak ada kehangatan yang mengiringinya. Yang ada hanyalah keheningan dingin yang menyelimuti meja makan marmer, memisahkan Arkana dan Rania lebih jauh dari jarak fisik di antara mereka. Rania membolak-balik majalah dengan gerakan mekanis, matanya menatap halaman-halaman yang penuh dengan gaun-gaun indah dan perhiasan berkilauan, tetapi pikirannya melayang jauh.
Dua tahun. Sudah dua tahun ia menjalani sandiwara ini. Sandiwara yang sempurna di mata dunia, namun hampa di dalam. Arkana, suaminya, duduk di seberangnya, tersembunyi di balik layar tabletnya. Garis wajahnya yang tegas dan rahangnya yang kokoh menjadi ukiran patung yang dingin, tidak bergerak, tidak menunjukkan emosi. Arkana adalah prototipe pria idaman dalam novel romansa-tinggi, tampan, kaya raya, dan pewaris salah satu perusahaan real estat terbesar di Jakarta. Namun, bagi Rania, Arkana hanyalah sebuah bayangan, sebuah kehadiran yang nyaris tidak ada.
"Hari ini ada acara?" suara bariton Arkana memecah keheningan, suaranya kering seperti kerikil yang bergesekan. Ia tidak menatap Rania, matanya tetap terpaku pada layar.
Rania menurunkan majalahnya, senyum tipis terpaksa terukir di bibirnya. "Tidak ada. Mungkin nanti sore aku akan mengunjungi Tuan Hadi."
Arkana mengangguk, tanpa menunjukkan ketertarikan. "Kakekmu. Iya, aku ingat." Ia kembali fokus pada layarnya, seolah percakapan itu tidak pernah terjadi.
Tuan Hadi. Kakeknya. Satu-satunya alasan mengapa Rania masih berada di rumah megah ini, di sisi pria ini. Pernikahan mereka adalah sebuah kesepakatan bisnis yang pahit, sebuah pengorbanan yang Rania lakukan untuk menyelamatkan kekayaan dan kehormatan keluarga. Perusahaan kakeknya, yang telah dibangun dari nol dengan darah dan keringat, berada di ambang kebangkrutan. Arkana datang sebagai penyelamat, menawarkan modal dan koneksi yang sangat dibutuhkan, dengan satu syarat: Rania harus menjadi istrinya. Arkana menginginkan nama baik keluarga Rania untuk menaikkan citra perusahaannya, dan Rania, yang tidak tega melihat kakeknya jatuh sakit karena memikirkan perusahaannya, menerima perjanjian itu.
Namun, yang ia dapatkan hanyalah sangkar emas. Dinding-dinding rumah ini, marmer yang dingin, dan jendela-jendela yang membingkai pemandangan kota, terasa seperti jeruji penjara. Rania adalah manekin yang dipajang, istri yang sempurna di depan publik, tetapi di belakang pintu, ia adalah sosok yang tidak terlihat. Cinta? Perasaan itu tidak pernah menjadi bagian dari perjanjian mereka. Yang ada hanya janji-janji kosong dan kebohongan yang diselubungi kemewahan.
Setelah Arkana pergi ke kantor, Rania segera bangkit. Ia tidak peduli dengan sisa sarapannya yang dingin. Langkahnya membawanya ke lantai dua, menuju satu-satunya tempat di rumah ini yang terasa seperti rumah sungguhan: kamar kakeknya.
Pintu terbuka dan Rania disambut dengan aroma minyak kayu putih dan wewangian bunga melati yang menenangkan. Kakeknya terbaring di ranjangnya, wajahnya yang keriput terlihat damai dalam tidurnya. Usia dan penyakit telah menggerogoti tubuhnya, tetapi tatapan matanya selalu memancarkan kehangatan yang tulus. Tuan Hadi adalah orang yang membesarkan Rania, menggantikan peran orang tua yang hilang dalam sebuah kecelakaan saat Rania masih kecil. Baginya, kakeknya adalah segalanya.
Rania duduk di samping ranjang, menggenggam tangan kakeknya yang kurus. Kulitnya terasa dingin dan lembut. "Kakek," bisiknya pelan, "Maaf, aku terlambat datang."
Mata kakeknya perlahan terbuka. Sebuah senyum tipis merekah di wajahnya. "Kamu tidak pernah terlambat, Nak," katanya dengan suara serak. "Kamu selalu ada di sini."
Air mata Rania menggenang. Kata-kata kakeknya adalah obat penenang yang paling ampuh. Ia menceritakan hari-harinya, berusaha membuatnya terdengar lebih ceria dari kenyataan. Ia bercerita tentang taman, tentang pelayan yang lucu, tentang hal-hal sepele yang bisa membuat kakeknya tersenyum. Ia tidak pernah bercerita tentang kesepiannya, tentang hati yang hancur, atau tentang suami yang dingin. Semua itu ia telan sendirian.
Tuan Hadi menepuk tangan Rania pelan. "Aku tahu kamu bahagia, Nak. Arkana pria yang baik."
Mendengar nama itu, hati Rania terasa seperti disengat. Ia hanya bisa mengangguk, memaksakan senyum lain. Ia tahu kakeknya mengucapkan itu untuk meyakinkan dirinya sendiri, untuk membenarkan pengorbanan yang Rania lakukan. Sejak awal, kakeknya selalu merasa bersalah. Ia sering meminta Rania untuk mengakhiri pernikahan ini, untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Tetapi Rania selalu menolak. Ia tidak bisa. Tidak setelah melihat kakeknya jatuh sakit parah karena memikirkan perusahaan yang hampir runtuh. Ia tidak bisa menghancurkan harapan terakhir kakeknya, yang melihat Arkana sebagai satu-satunya jalan keluar.
"Kakek, jangan khawatir. Aku baik-baik saja," kata Rania, mencium tangan kakeknya dengan lembut. "Istirahatlah lagi. Nanti sore aku datang lagi membacakan buku kesukaan Kakek."
Ia keluar dari kamar kakeknya dengan hati yang berat. Janji-janji Arkana untuk menjaga kakeknya dan membangun kembali perusahaan itu adalah ikatan yang menjeratnya. Sebuah janji manis di atas kertas yang tidak pernah benar-benar ia rasakan.
Siang itu, Rania memutuskan untuk pergi ke butik, mencari gaun yang akan ia kenakan untuk acara amal malam nanti. Ia membutuhkan alasan untuk keluar dari rumah ini, meskipun hanya sebentar. Saat di perjalanan, teleponnya berdering. Itu nomor ponsel Arkana. Rania mengerutkan kening. Arkana jarang sekali menghubunginya.
"Ya, Arkana?"
/0/27068/coverorgin.jpg?v=ff25ec482a368612f3864435423b3557&imageMogr2/format/webp)
/0/30956/coverorgin.jpg?v=f31449b3f14f7ea99b414ebc450c0f72&imageMogr2/format/webp)
/0/23058/coverorgin.jpg?v=4c0ec1f46fbfddc72bcf6894813f78e9&imageMogr2/format/webp)
/0/28795/coverorgin.jpg?v=bc9886bdf6a06f6c3f6f1537fdcf11fe&imageMogr2/format/webp)
/0/24579/coverorgin.jpg?v=a8f834d2d40f04e02b0abff67bdba0d4&imageMogr2/format/webp)
/0/2425/coverorgin.jpg?v=692f6c24132a2e345656fb9a67c6bb44&imageMogr2/format/webp)
/0/23062/coverorgin.jpg?v=b9f066c2b84cc6e0fc7250a2b099abab&imageMogr2/format/webp)
/0/17755/coverorgin.jpg?v=c03d6b2af81ce04d9d705988982426d3&imageMogr2/format/webp)
/0/14657/coverorgin.jpg?v=249fb5b182854ff07dd0060d5f6567ec&imageMogr2/format/webp)
/0/21468/coverorgin.jpg?v=b4f10ed7f590a8668d58329165d920e6&imageMogr2/format/webp)
/0/27691/coverorgin.jpg?v=cace5d0e391bec7ed65d8a9df2ed69c0&imageMogr2/format/webp)
/0/21638/coverorgin.jpg?v=93a4504fb4f119a1df890d35f8343a67&imageMogr2/format/webp)
/0/30821/coverorgin.jpg?v=efe3bdf48fa5ddadaecd6086a7b2d878&imageMogr2/format/webp)
/0/26700/coverorgin.jpg?v=59627c75df0fbb9c3896c76be4018d06&imageMogr2/format/webp)
/0/27132/coverorgin.jpg?v=8a62a4074b9bfa878363e400e61cfb66&imageMogr2/format/webp)
/0/14879/coverorgin.jpg?v=ce612bae66998796ab363e2e17406014&imageMogr2/format/webp)
/0/27200/coverorgin.jpg?v=b250a528e180dbffa54c6e5df87dedc1&imageMogr2/format/webp)
/0/8453/coverorgin.jpg?v=71ffe8c0b26e7425ad0689806dd70ff3&imageMogr2/format/webp)