5.0
Komentar
65
Penayangan
14
Bab

Xerdan Leonald Smith, seorang violinis ternama di negara Italia. Pria itu sangat disanjung karena permainan biola yang mengetuk hati para pendengarnya. Tidak hanya permainan biola saja, tetapi ketampanan dan kekayaan dari Xerdan yang membuat semua orang menatap kagum ke arahnya, terutama para kaum wanita yang memang terpesona. Namun, tidak ada yang tahu. Dibalik ketampanan, kekayaan, dan keindahan suara biolanya, terdapat kisah kelam yang disembunyikan secara rapat. Bahkan, Xerdan begitu apik dalam menyembunyikan kejahatan serta kelicikannya dalam menumbangkan musuh. Hingga suatu hari dia diundang ke sebuah acara kampus yang ada di Indonesia, negara kelahiran sang mama. Pria itu datang bersama sahabat sekaligus asisten pribadinya, Jordan Aston Rodriguez. Tanpa sengaja keduanya bertemu dengan Nurhidayah Sawira dan Inti Aisyiyah di kampus tersebut, yang memang milik Xerdan. Bagaimanakah kehidupan Xerdan? Kisah kelam dan kejahatan apa yang pria itu sembunyikan? Dan bagaimana kelanjutan kisah Xerdan-Hidayah serta Jordan-Inti?

Bab 1 Prolog

Plak!

Suara tamparan menggema di ruangan yang gelap juga lembab, hanya suara tangis ketakutan dan jerit kesakitan dari seorang gadis cantik yang membuat ruangan sunyi menjadi ramai. Dia hanya bisa menangis dan menjerit, tetapi tidak mampu mengeluarkan kalimat permintaan tolong. Jika pun ingin meminta tolong, itu akan percuma, karena tidak akan ada yang mau menolongnya. Jangankan menolong, untuk mendekat ke arah tempat itu pun sepertinya tidak ada yang berani.

Plak!

Lagi-lagi tamparan kuat dari tangan besar milik pria di hadapannya kembali terdengar. Gadis itu kini sudah pasrah menerima siksaan, ketika dirinya memberontak. Kejam, licik, dan kasar, itulah sifat yang dapat dideskripsikan dari pria gila yang terus saja menyiksanya.

"Kau gila, benar-benar gila! Kenapa kau menyiksaku, hah?! Dasar psychopath brengsek!" cerca gadis itu dengan lantang, sehingga membuat si pria marah dan menjambak kuat rambutnya.

Gadis itu kembali mendapatkan tamparan karena telah menghina pria itu. "Lepaskan aku, kenapa kau terus menyiksaku! Apa salahku? Bukankah sudah kubilang, aku tidak mencintaimu! Pria gila seperti kamu tidak pantas untuk dicintai, kamu itu iblis!" teriaknya.

"DIAM!" bentak pria itu.

Pria itu marah pada gadisnya. Iya, gadis di hadapan dia adalah miliknya. Calon istri sekaligus ibu dari anak-anaknya kelak. Namun, apa itu mungkin? Sebab saat ini dia tengah begitu marah dan tidak mampu mengendalikan emosinya, sehingga menyiksa gadis yang ia cintai. Kini, sisi iblisnya sudah terlihat dan keluar setelah sekian lama dia sembunyikan, hanya karena rasa cinta yang begitu besar kepada gadis itu.

Kecemburuan dan takut akan kehilangan, membuat pria itu kembali kalap dan menunjukkan sisi iblisnya. Dia menghabisi pria yang berani menyentuh miliknya, di hadapan gadis itu. Bahkan, amarah yang belum hilang pun, dilampiaskan kepada gadis itu. Hingga kesadaran dan rasa bersalah pun muncul, saat gadis di hadapannya memohon ampun.

"Aku mohon, Mr. Tolong lepaskan aku, jangan siksa aku. Apa salahku, Mr?" lirih gadis cantik itu dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.

Pria itu tertawa dengan mengerikan. "Lepas? Kau ingin lepas, Baby? Aku akan melepaskanmu. Pergilah. Cepat, sebelum aku berubah pikiran, Sayang," ucap pria itu dengan penuh penekanan di setiap kata, tetapi gadis itu hanya diam tak bergerak ataupun menjawab ucapan.

Bohong jika pria itu rela melepaskan gadisnya, tetapi dia harus melakukan itu. Sebelum dirinya menghabisi gadis cantik tersebut.

"Ayo, cepat pergilah! Tinggalkan aku, sebelum aku menyakitimu lebih jauh! Bukankah kau tidak mencintaiku?! Jadi, cepat pergi!" Gadis itu masih diam dan terduduk di hadapan pria tersebut.

Pria itu mengalihkan pandangan ke arah sang gadis. "Kenapa kau diam? Ayo, lari dari tempat ini, sebelum aku kembali menyakitimu! Cepat, tinggalkan aku," ujar pria tersebut, tetapi gadis itu tetap diam dan masih pada posisinya.

Beberapa saat kemudian, gadis itu berusaha untuk bangun, walaupun sedikit kesulitan, akhirnya dia mampu berdiri. Tinggi gadis itu hanya sebatas dada pria di hadapannya. Tanpa aba-aba ataupun paksaan, gadis cantik nan manis itu memeluk pria yang sudah menyiksanya, sambil bergumam kata maaf.

Gadis itu kembali menangis terisak dengan mengeratkan pelukannya kepada pria yang awalnya terdiam karena perlakuan gadisnya itu, kini membalas pelukan dengan tak kalah erat.

"Maafkan aku," ucap gadis itu dengan tangis yang tidak bisa ditahan.

Pria itu menggelengkan kepala. "No, jangan meminta maaf, Baby. Di sini aku yang salah, kau tidak mencintaiku, sudah seharusnya aku memang melepaskan kamu."

Inilah kelemahannya, gadis itu begitu pandai membuat dia bertekuk lutut dan kembali menjadi pria yang baik terhadap gadisnya. Hanya karena pelukan, tangis, dan ucapan lembut, ia melupakan kekasaran dan penyiksaan yang sudah dilakukannya.

"Maafkan aku, maafkan aku. Maaf telah membuatmu marah," ujar gadis itu.

Pria itu mengembuskan napasnya dengan pelan. Dia begitu tersiksa mendengar ucapan maaf disertai tangis dari gadisnya. Sungguh, dia begitu luluh walaupun sang gadis hanya mengucapkan kata maaf. "Aku sangat mencintaimu. Please, jangan pernah tinggalkan aku demi pria brengsek itu, walaupun itu hanya sebuah perniatan saja. Aku hanya ingin memilikimu. Dan apa yang sudah menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku. Jangan seperti dia yang menyakitiku, Baby," gumam pria itu masih dengan memeluk erat gadisnya, seakan takut gadis itu benar-benar menuruti keinginan ia agar pergi darinya.

Gadis itu kembali terdiam. "Apa kau tidak pernah melihat ketulusanku, Baby? Aku tulus mencintaimu, itu benar-benar cinta, bukan obsesi semata. Jika kau tidak percaya, tembak kepalaku dengan pistol ini. Aku sangat mencintaimu percayalah," ujar pria tersebut dengan lirih, lalu memberikan sebuah pistol ke tangan gadis itu dan mengarahkan tepat ke kepalanya.

Gadis itu menggelengkan kepala. "Aku minta maaf. Cintamu memang sangat tulus, aku percaya itu. Tapi, aku tidak pantas untukmu, kamu adalah orang kaya dan terpandang, sedangkan aku bukanlah apa-apa jika disandingkan denganmu," sahut gadis itu dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya.

"Kau pantas, sangat pantas. Karena hal itu, aku memilihmu."

Gadis itu terharu mendengar ucapan pria di hadapannya ini. "Maaf karena telah mengizinkan orang lain menyentuhku, padahal kamu sangat baik. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu," seloroh gadis itu.

"Bantu aku menjadi pria yang baik. Pria yang mampu menyembunyikan kejahatanku, sisi iblisku."

"Tentu, aku akan melakukannya."

"Aku tidak mau menjadi pria jahat yang selalu menyakiti gadis yang sangat aku cintai, maafkan aku."

"Tidak, jangan minta maaf. Di sini kau tidak salah. Wajar jika kau menyiksaku, tolong maafkan aku. sebenarnya kau adalah pria yang sangat baik dan tulus, tetapi sikap tempramentalmu sulit dikendalikan."

"Aku memang gila, seorang Psychopath, dan pemarah," racau pria itu.

"Tidak," sahut gadis itu.

"Maafkan aku karena selalu menyakitimu dan membuatmu terluka. Aku mencintaimu, tapi aku selalu menyiksamu," sesal pria itu.

"Tidak, I am fine Mr. Jangan salahkan dirimu, kau seperti ini karena aku dan dia,"

"You're mine, Baby! Yesterday, today, tomorrow, and forever. JUST MINE," ucap pria itu dengan penuh penekanan di setiap kata.

"Ya, aku milikmu. Milikmu, Mr," bisik gadis itu.

Pria tersebut mengurai pelukannya kemudian berjongkok di hadapan sang gadis. Ia merogoh saku celananya, lalu memperlihatkan sebuah kotak beludru berwarna merah dengan bentuk love, yang berisi sebuah cincin berlian indah dan mahal.

"Will You marry me, Baby?" ucap pria itu dengan tulus, membuat gadis di hadapannya ternganga dengan pandangan tidak percaya.

Ya, tentu saja tidak percaya karena gadis itu mengira kalau pria itu mendekatinya hanya untuk pembalasan dendam terhadap seseorang, tetapi ternyata pria tersebut benar-benar tulus kepadanya.

"Kenapa diam? Apa kau masih ragu denganku?" tanya pria itu dengan nada khawatir karena takut gadisnya akan menolak kembali.

Gadis itu menarik napas lalu mengembuskannya secara perlahan. "Yes, I will, Mr!" jawab gadis itu dengan senyum lebar.

Pria itu langsung berdiri dan menarik tubuh gadisnya ke dalam pelukan, Ia tersenyum dengan air mata mengalir di kedua pipinya. Untuk hari ini katakan saja jika pria itu manja, lebay, cengeng atau apa pun, yang terpenting Ia bahagia bahkan sangat bahagia.

"Terima kasih," ucap pria itu dengan lirih.

"I love you."

"I love you more, Mr," balas gadis itu dengan tulus.

Pria itu terdiam mendengar ucapan cinta dari gadisnya. Apa dia tidak salah mendengar? Atau itu hanya khayalan semata? Gadisnya membalas kalimat cintanya?

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Dayswira

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy
5.0

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku