back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Pesona Wanita Pilihan CEO

Pesona Wanita Pilihan CEO

AR_Merry

4.9
Ulasan
92.1K
Penayangan
150
Bab

Harap bijak memilih bacaan! Mengandung adegan dewasa 21+ “Kau harus mempersiapkan diri menikahi putri dari Mr. Franklin, William,” ucap Michael tegas dan tak mau dibantah. Bahkan pria itu mengeluarkan tatapan tajam pada putranya yang menjadi CEO di Johnson Corporation sebagai penggantinya. “Aku tidak mau,” tolak William tanpa berpikir lama. “Dan kau pikir kau bisa menolak?” Michael menyeringai. “Aku sudah merancang pertemuan malam ini untuk mempertemukan kalian dan membicarakan pertunangan secepatnya. Jadi, kuharap kau tidak banyak bertingkah.” William yang baru saja menyelesaikan sarapannya seketika bangkit. Tanpa membalikkan badan, pria itu mengucapkan satu kalimat yang membuat sang ayah semakin marah besar. “Berani-beraninya kau membantah keputusan Daddy, William!” seru Michael yang mengepalkan tangannya di atas meja. “Apa kau tidak tahu kalau Daddy bisa mencabut semua yang kau miliki saat ini jika kau menolak keinginanku, hah?” Langkah William terhenti. Tanpa membalikkan badan ia lanjut berkata, “terserah apa yang akan Daddy lakukan. Dan perlu Daddy ingat, sampai kapan pun aku tak ingin jadi boneka seperti yang dialami Jeremy.” “Kau—” “Dan satu lagi ....” William memotong ucapan Michael dengan cepat. “... kalau Daddy menginginkan wanita itu menjadi bagian keluarga ini, Daddy bisa menikahinya.” Mampukah William mempertahankan keputusannya untuk keluar dari Keluarga Besar Johnson dan memilih pergi bersama kekasihnya?

Bab 1
Pesona Wanita Pilihan CEO
Penolakan William

“Kau berhak memilih. Mommy tidak akan pernah memaksa jika kau tak menyukainya, William. Dan jika hari itu tiba, tapi Mommy sudah tidak ada di sampingmu, maka perjuangkan pilihanmu.”

Seorang pria perlahan membuka mata saat suara itu kembali terngiang di telinganya. Helaan napasnya berembus dan bersamaan itu ia pun memutuskan bangkit untuk membersihkan diri.

“Pemilihan waktu yang tepat.”

William memastikan penampilannya setelah melihat pada jam di atas nakas yang menunjukkan waktu sarapan hampir saja usai.

Bukan tanpa alasan pria itu selalu menghindar di saat seperti ini. Apalagi jika bukan karena Daddy-nya, Michael Johnson yang selalu membicarakan hal yang tak ia sukai selama sarapan berlangsung.

Setelah semuanya rapi, William keluar membawa tas kerja berisi beberapa dokumen penting yang akan diperlukan untuk rapat bersama salah satu relasi bisnisnya, Franklin Corporation.

Dari kejauhan pria bermanik kebiruan itu mendengar sayup-sayup perbincangan yang terjadi antara dua pria berbeda usia di Keluarga Besar Johnson.

“Masih saja membicarakan perjodohan itu,” gumam William lirih.

Berniat menghindar, pria itu lantas memelankan langkahnya, dan berbelok ke pintu utama. Namun, suara sang pelayan yang tiba-tiba menyapa membuat perhatian Michael Johnson tertuju padanya.

“Mau ke mana kau, William?” tanya Michael Johnson dengan raut wajah tak bersahabat.

“Ke kantor. Willy ada rapat yang tidak bisa ditunda,” jawab William datar dan dingin.

Melihat akan terjadi peperangan di sana, Christian Johnson memanggil cucu semata wayangnya duduk dan menemaninya makan.

Mau tak mau, William mendekati sang kakek, dan menarik kursi tanpa memandang sedikit pun kepada ayahnya, Michael Johnson.

Tak ada yang bersuara sampai Christian Johnson meninggalkan meja makan dibantu oleh pelayan yang bertugas menjaganya. Dan saat pria tertua di Keluarga Johnson itu tak terlihat lagi, di situlah perdebatan antara William dan Michael dimulai.

“Kau harus mempersiapkan diri menikahi putri dari Mr. Franklin, William,” ucap Michael tegas dan tak mau dibantah. Bahkan pria itu mengeluarkan tatapan tajam pada putranya yang menjadi CEO di Johnson Corporation sebagai penggantinya.

“Aku tidak mau,” tolak William tanpa berpikir lama.

“Dan kau pikir kau bisa menolak?” Michael menyeringai. “Aku sudah merancang pertemuan malam ini untuk mempertemukan kalian dan membicarakan pertunangan secepatnya. Jadi, kuharap kau tidak banyak bertingkah.”

Alih-alih segera membantah, William memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya, lantas meneguk air putih yang tersedia, sebelum mengelap mulutnya dengan sehelai tisu.

Wajah laki-laki tiga puluh tahun itu berubah menjadi serius ketika berhadapan dengan sang ayah yang selalu bertindak arogan.

“Sampai kapan pun aku tidak akan menuruti keinginan Daddy,” ucap William tanpa meredupkan tatapan tajamnya.

“William!” Michael menggeram dengan wajah memerah, marah.

“Perlu Daddy ketahui, aku tidak bisa menikah dengan wanita lain sementara aku sudah memiliki kekasi, yang bahkan lebih baik dari yang Daddy tawarkan,” ucap William tanpa rasa takut. Tak ingin membuang waktu, ia lantas bangkit seraya membawa tas kerjanya.

“Berani-beraninya kau membantah keputusan Daddy, William!” seru Michael yang mengepalkan tangannya di atas meja. “Apa kau tidak tahu kalau Daddy bisa mencabut semua yang kau miliki saat ini jika kau menolak keinginanku, hah?”

Langkah William terhenti. Tanpa membalikkan badan ia lanjut berkata, “terserah apa yang akan Daddy lakukan. Dan perlu Daddy ingat, sampai kapan pun aku tak ingin jadi boneka seperti yang dialami Jeremy.”

“Kau—”

“Dan satu lagi ....” William memotong ucapan Michael dengan cepat. “... kalau Daddy menginginkan wanita itu menjadi bagian keluarga ini, Daddy bisa menikahinya.”

Tanpa mengatakan apa pun lagi William segera melangkahkan kedua kakinya keluar, mengabaikan teriakan Michael Johnson yang menggelegar.

Masuk ke dalam Lamborghini Aventador kesayangannya, William membelah jalanan kota New York yang masih tampak lengang. Ia mendengkus saat emosi tiba-tiba menguasai kewarasannya.

Tak ingin tersiksa, mobilnya lantas berbelok ke salah satu unit apartemen yang akhir-akhir ini sering ia kunjungi.

Sementara itu, seorang gadis yang sudah siap dengan celana panjang hitam, dipadukan kemeja putih, dan disempurnakan dengan blazer berwarna hitam tampak menyunggingkan senyuman di depan cermin.

Setelah penampilannya rapi, ia mengambil I-Pad, dan meraih tas kerjanya sebelum duduk di pantry untuk menikmati sarapan kilat yang telah ia siapkan sejak tadi.

Sambil mendengarkan lagu favorit melalui earphone yang kemudian terpasang di kedua telinga, gadis dua puluh enam tahun itu mulai menyendokkan salad ke dalam mulutnya. Di sela-sela itu, ia pun meneliti kembali isi dokumen yang akan digunakan untuk rapat pagi ini.

Terlalu larut dalam alunan musik dan layar datar di hadapannya membuat gadis itu terlonjak saat ada tangan yang tiba-tiba mendekapnya dari belakang.

“William?” gumam gadis itu dengan mata terpejam dan senyum kecil yang tersungging di bibirnya.

Tak ada jawaban alih-alih pelukan yang semakin erat diikuti kecupan-kecupan di puncak kepalanya. Dan bagi gadis itu tak perlu memastikan dua kali siapa pria yang mendekapnya saat ini.

Dengan posisi masih memeluk dan menunggu sang pujaan hati menyelesaikan sarapan, William menatap datar pada isi dokumen di layar itu. Dalam hati ia mendengkus kesal dengan sebuah nama yang membuat emosinya mencuat beberapa minggu terakhir.

“Sampai kapan kau akan memelukku, Willy?” Suara gadis itu menarik William dari lamunannya.

Wajah kesal itu perlahan berubah menjadi datar dan berubah lagi ketika berhadapan dengan sang kekasih.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Willy.”

Alih-alih segera menjawab, pria itu melabuhkan kecupan di kening sang kekasih dalam, dan kembali memeluknya erat.

“Sampai kau menjadi istriku dan berada di sampingku selamanya,” jawab William pada akhirnya.

“Istri?” Dahi gadis itu mengerut bingung. “Kau tidak lupa bukan, jika kita tidak bisa menikah dalam waktu dekat?”

Mendesah sesaat, William lantas mengangguk.

“Lalu? Apa maksud perkataanmu?”

Pria yang masih belum bisa mengutarakan niatnya itu menarik diri. Menangkup wajah sang kekasih dan mengalihkan topik pagi ini dengan tawaran yang membuat perdebatan di antara mereka.

“Kau tidak bisa menolak, Maria,” ucap William tegas, memotong segala penolakan sang kekasih sejak ia tadi. “Kalau kau takut ketahuan, aku akan menurunkanmu di tempat yang aman, Oke?”

Pemilik nama lengkap Maria Ashley itu hanya memejamkan mata sesaat dan memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut.

“Baiklah, Tuan William. Untuk kali ini saja, aku berbaik hati menuruti keinginanmu. Tetapi, tidak untuk lain kali,” jawab Maria kemudian.

Pria bermanik kebiruan itu menarik sudut bibirnya, membentuk satu seringai penuh arti. “Bagimu satu kali, tapi untukku mulai hari ini, dan seterusnya.”

Mengabaikan peringatan dari manik keabu-abuan milik Maria, William menggenggam tangan wanita itu, dan mengambil alih tas kerja di atas meja.

Tak ada obrolan sepanjang perjalanan menuju kantor. Mereka hanya fokus memandang ke depan dan hanyut dalam pikiran masing-masing.

Dan sampai di persimpangan, tak jauh dari gedung bertingkat milik Franklin Corporation, William menghentikan mobilnya.

“Kau bisa turun di sini jika takut ketahuan rekan kerjamu,” ucap William membuyarkan lamunan Maria.

Wanita itu menoleh ke kanan dan kiri seraya melepas seat belt miliknya. Saat ia bersiap membuka pintu, sebuah tarikan lembut menghentikan gerakan tangannya.

“Kenapa?” tanya Maria tanpa basa-basi.

Pria itu tak berbicara, tapi memajukan wajah, dan menunjuk bibirnya.

“Asal kau tahu, aku tidak pernah mencium laki-laki di pagi hari. Apalagi ketika akan berangkat ke kantor,” ucap Maria dengan wajah tegas tanpa berkedip sedikit pun.

“Ck!” William berdecak. “Tak bisakah kau mengubahnya saat bersamaku? Ya, anggap saja ini ucapan terima kasih.”

Masih mempertahankan raut wajahnya, Maria lantas membuat laki-laki itu diam tanpa membantah.

“Aku tidak akan pernah mengubahnya sebelum ada ikatan pasti di antara kita. Jadi, jangan meminta hal yang sudah menjadi kebiasaanku, dan satu lagi ....” Maria menjeda ucapannya.

“Apa?”

“Bukan hanya aku saja yang beradaptasi, tapi kau pun harus melakukannya.” Setelah mengatakan itu Maria memanfaatkan keterpanaan William untuk melepaskan diri dan segera turun dari mobil dengan hati-hati.

Tanpa menoleh lagi ke belakang, Maria berjalan dengan tegas menuju kantor di mana ia telah bekerja selama lebih dari setahun. Sedangkan William masih berada di dalam mobilnya tanpa mengedipkan mata sedikit pun, seraya memikirkan hal-hal yang membuat sudut bibirnya perlahan tertarik ke atas.

“Dan aku akan segera membuatmu mengubah keputusan tentang pernikahan, Baby. Kau tunggu saja.”

.

.

.

Bersambung ...

.

.

.

Spoiler bab selanjutnya

“Maksud Anda, proyek dengan Johnson Corporation, Sir?”

George mengangguk. “Ya. Proyek yang akan kita bahas pagi ini.”

Wanita dua puluh enam tahun itu mendadak bingung. Dan semuanya tertangkap jelas oleh George Franklin yang menarik sudut bibirnya.

.

.

.

Halo para pembaca, ini adalah novel kedua yang akan tayang secara eksklusif di Bakisah, Ceriaca, Pobaca, dan MoboReader setelah novel pertama Gairah Liar Sang CEO sukses membuat para pembaca baper.

Semoga kalian suka dengan semua karya-karyaku selanjutnya yang akan tayang di Bakisah.

Buku serupa
Unduh Buku