back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder

Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder

Brina Arrow

4.7
Ulasan
45.5K
Penayangan
75
Bab

Setelah mengumpulkan sedikit yang aku peroleh dari pekerjaan paruh waktuku, aku akhirnya bisa membelikan pacarku kue untuk ulang tahunnya dan mengejutkannya. Sedikit yang aku tahu bahwa aku adalah orang yang terkejut-- Aku menemukan pacarku selingkuh dengan pria lain tepat di depanku! Dia menginjak-injak seluruh martabatku dan mempermalukanku. Semua karena aku adalah orang miskin. Aku berjalan pulang dengan hati yang hancur, tidak tahu apa yang menungguku di rumah. Kepala pelayan orang terkaya di negara itu muncul di depan pintuku. Baru pada saat itulah ibuku memberi tahuku kebenaran yang mengejutkan-- aku adalah pewaris Grup Nelson. Keluarga Nelson dikenal memiliki banyak properti mewah di seluruh negeri, dan aku akan mewarisi semuanya. Ini adalah kesempatanku untuk membalas dendam dan mengambil kembali martabatku Setelah membeli setelan desainer dan naik mobil mewah, aku muncul di hadapan mantan pacarku. Ketika dia melihatku, dia berlutut dan memohon belas kasihan. Dia menangis, "Aku sangat menyesal telah mengkhianatimu. Bisakah kamu memberiku kesempatan lagi?" Senang rasanya melihat orang-orang yang dulu meremehkan dan menghinaku sekarang bersujud di kakiku dan bergegas menyanjungku. Tetapi aku bahkan lebih puas ketika aku berbalik dan mengabaikan mereka, menuju ke rumah baruku yang bernilai miliaran. Mulai sekarang, uang tidak lebih dari serangkaian angka bagiku. Seorang reporter pernah bertanya padaku, "Tuan Nelson, apakah Anda menyukai uang?" Aku meletakkan cerutuku dan mengucapkan kata-kata yang akan menggemparkan dunia, "Aku tidak suka uang. Aku hanya suka menghabiskannya."

Bab 1
Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
Pesta Ulang Tahun

"Renata pasti akan menyukainya."

Raivan Januar menatap kue di tangannya sambil tersenyum manis.

Ini adalah kue angsa yang melambangkan cinta. Dua angsa saling bersandar satu sama lain dan membuat sebuah bentuk cinta.

Warnanya juga warna putih yang merupakan warna favorit Renata, benda ini merupakan saksi kebersamaan mereka selama tiga tahun.

Demi membeli kue ini, Raivan menghabiskan semua uang yang dia peroleh dari kerja paruh waktu bulan ini!

"Tapi, kenapa memilih tempat pesta ulang tahun yang begitu mahal?!"

Raivan merasa sangat terkejut ketika melihat pesan di ponselnya.

Lokasi di mana dia berdiri saat ini disebut Hotel Scarton, satu-satunya hotel bintang lima di Kota Gixa.

Tagihan rata-rata di hotel ini setidaknya seharga jutaan rupiah!

Bagaimana bisa Renata memiliki kemampuan untuk mengadakan pesta ulang tahun di sini dan mengundang banyak teman sekelas?

Biayanya saja pasti tidak akan kurang dari 200 juta rupiah!

Namun seperti dirinya, Renata juga bukan berasal dari keluarga kaya, bagaimana dia bisa memiliki begitu banyak uang?

Melihat waktu, waktu pesta ulang tahun akan segera tiba, tapi Raivan masih belum melihat pacarnya.

Saat ini, sebuah SUV yang elegan dan mewah berhenti di depan hotel, kemudian seorang pria dan seorang wanita turun dari mobil.

Pria itu mencubit bokong gadis itu, menyebabkan gadis itu gemetar dan mengerang pelan.

"Pelan-pelan!"

Pria itu bernama Tommy Raharja, berusia 40 tahun, memiliki perut yang buncit dan mengenakan setelan jas khusus dari SAINTANGLOS, dia adalah pemilik SUV ini.

Sedangkan gadis di sebelahnya, yang memiliki wajah cantik dan tubuh yang menawan adalah Renata Darmawan.

Raivan tidak sengaja melihat adegan intim kedua orang itu!

Apa pacarnya selingkuh? Bahkan dengan seorang pria paruh baya!

"Renata!"

Sambil menahan emosi di hatinya, Raivan berteriak dan berjalan ke arah mereka.

Renata terkejut dan tampak seperti ingin menghindarinya.

"Kamu adalah...?" tanya Tommy yang mengangkat kepalanya dengan bangga.

Sebelum Renata bisa berkata apa-apa, mata Raivan menjadi dingin dan menjawab, "Aku pacar Renata. Siapa kamu?!"

Begitu kata-kata ini keluar, eskpresi Renata maupun Tommy langsung berubah masam.

"Bukankah aku sudah memberitahumu untuk datang setelah pesta?!" kata Renata dengan wajah suram dan tidak senang.

Raivan merasakan sakit di hatinya dan berkata dengan suara serak, "Kalau aku tidak datang, bagaimana aku bisa tahu bahwa kamu berselingkuh?!"

Tommy yang berada di samping tampak sedikit meremehkan dan melirik sekilas pada pria di depannya yang mengaku sebagai pacar Renata.

Pakaian dan celana pria ini memiliki noda hitam dan tampak seperti pengemis yang keluar dari gang kecil.

Dia juga memegang kue murah seukuran telapak tangan di tangannya, dia bahkan tidak bisa menandingi pelayan rumahnya.

"Orang miskin sepertimu juga berani mengaku sebagai pacar Renata? Apa kamu tahu berapa banyak tahi lalat di dadanya?"

Tommy mencibir dan menarik tubuh lembut Renata ke dalam pelukannya.

"Renata, kamu sudah tidur dengannya?!"

Ekspresi Raivan menjadi muram, tapi matanya yang menatap Renata masih memancarkan sedikit harapan.

Namun, tatapan itu disambut Renata dengan menghindari tatapan matanya, "Raivan, aku tahu kamu sangat baik padaku, tapi kamu benar-benar salah paham."

Kalimat ini menusuk hati Raivan seperti pisau.

Raivan mengepalkan tinjunya erat-erat sampai kukunya tertanam di dagingnya dan berkata dengan senyum masam, "Jadi, selama ini aku salah paham?"

"Kamu jangan mengikutiku lagi!" teriak Renata dengan ekspresi yang sangat tidak senang.

Dia mengibaskan tangannya dan tidak sengaja mengenai kue yang disiapkan sepenuh hati oleh Raivan.

Kemasannya terbuka dan kue itu terbang keluar dari kotaknya, lalu mendarat di tanah.

Kue yang berwarna putih bersih itu terlihat seperti lumpur setelah bercampur dengan lumpur di tanah, dan dua kepala angsa yang diukir dengan cokelat pun hancur di tempat.

Raivan merasa hatinya juga hancur.

"Apa kamu tahu siapa Tommy? Dia adalah wakil manajer umum hotel ini dan memiliki gaji tahunan miliaran. Uang yang dihasilkannya dalam semenit sudah cukup untuk membeli kue rusakmu itu."

"Seekor katak yang tinggal di komunitas kumuh juga ingin mendekati Kak Renata."

Beberapa gadis yang keluar dari hotel untuk menyaksikan keseruan tersebut saling mengobrol.

"Sayang sekali, suasana menyenangkan yang susah-susah didapatkan malah dihancurkan oleh orang miskin seperti ini."

Tommy menginjak kepala angsa di tanah sampai hancur, memeluk Renata dan berjalan ke pintu Hotel Scarton tanpa melihat ke belakang.

Ejekan demi ejekan yang diberikan menembus hati Raivan. Hubungan selama tiga tahun ternyata tidak dapat dibandingkan dengan uang.

Dia masih ingat ekspresi malu-malu di wajah Renata saat kencan pertama mereka. Senyum itu adalah kenangan dan hiburan dari seluruh masa muda Raivan.

Raivan berjalan seperti mayat ke tepi sungai kecil, wajahnya yang menyedihkan pun terpantul di atas permukaan air sungai.

Dia mengambil batu dan melemparkannya ke sungai.

Dia berteriak melampiaskan dan menganggap sungai itu sebagai Tommy dan Renata... dan juga sebagai dirinya yang pengecut.

Dia tidak punya uang ataupun kekuasaan, dan telah melalui banyak penderitaan sejak kecil, dia tidak bisa menerimanya!

"Jika suatu hari aku mendapatkan kekuasaan, aku pasti akan... menginjak-injak kalian di bawah kakiku dan membuat kalian menyesali semua perbuatan kalian!"

Ada kebencian pahit di mata Raivan dan dia hanya ingin melampiaskannya.

Raivan duduk di tepi sungai selama satu jam dan mengingat semua momennya saat bersama Renata.

Jantungnya berdenyut sakit untuk beberapa saat, tapi tidak peduli seberapa sakit hatinya, dia harus tetap bersemangat.

"Sudah waktunya pulang."

Sepuluh menit kemudian.

Di pinggiran kota, di sebelah komunitas bobrok.

Raivan turun dari bus dan berjalan menuju gedung nomor satu.

Rumahnya terletak di lantai paling bawah di gedung nomor satu. Apartmennya hanya sebesar 30 m2 dengan dua kamar tidur dan satu ruang tamu yang sangat sederhana.

Setiba di pintu rumah, mata Raivan tertuju pada sebuah mobil Pagani berwarna hitam mengilap.

Mobil mewah yang tidak ada hubungannya dengan hidupnya malah terparkir di depan rumahnya.

Sebelum Raivan masuk ke dalam rumah, seorang pria tua berambut putih yang memakai sarung tangan putih dan tuksedo berdiri penuh hormat di depan pintu.

Pria tua itu berkata dengan hormat, "Tuan Muda, saya telah menunggu lama. Nama saya Zoe dan saya merupakan kepala pelayan ayah Anda. Tuan besar meminta saya untuk membawakan Anda uang saku sebanyak 200 miliar."

"Apa? 200 miliar? Dan itu hanya uang saku?! Apa kamu sedang bercanda?"

"Setiap hari aku hanya makan nasi putih dan sayur, aku bahkan tidak bisa makan daging dua kali dalam sebulan. Aku sangat miskin dan kamu masih ingin menipuku?"

Raivan mengibaskan tangannya dengan tak berdaya dan yakin bahwa orang di depannya adalah seorang penipu.

Ibunya adalah wanita baik yang sakit-sakitan, sedangkan ayahnya sudah meninggal dan kerabatnya semua hanya petani.

Jangankan kendaraan, tabungan keluarganya bahkan tidak sampai 40 juta.

Terlahir di keluarga yang begitu miskin, mana mungkin dia masih bisa memiliki kepala pelayan yang mengendarai mobil mewah? Dan juga seorang ayah yang bisa dengan sesuka hati memberikan uang saku sebesar 200 miliar?

"Uang saku Anda akan segera masuk ke rekening Anda. Setelah memeriksanya, Anda akan tahu apa saya penipu atau bukan!" kata Kepala Pelayan Zoe sambil tersenyum.

"Ting!"

Ada sebuah pesan yang masuk membuat Raivan menatap ponselnya, pesan yang diterimanya merupakan notifikasi uang masuk.

[Tuan Raivan yang terhormat, saldo akun Anda saat ini adalah 200.001.000.000.]

Raivan kemudian membuka aplikasi mobile banking dan menemukan rekeningnya benar-benar memiliki uang sebesar 200 miliar.

"Sial, apa aku sedang bermimpi?!"

Buku serupa
Unduh Buku