Dendam Wanita Simpanan

Dendam Wanita Simpanan

Asy'arie

4.3
Komentar
3.5K
Penayangan
85
Bab

Nayla yang tak ingin melibatkan orang di sekitar dalam masalah, malah membuatnya semakin jauh terjebak dalam ancaman-ancaman. Sumpah yang diucapkan oleh Kak Yuni seolah menjelma nyata. Muak dengan tuduhan-tuduhan dan fitnah yang melabelinya sebagai pelakor, , Nayla akhirnya memutuskan untuk mewujudkan semua ucapan itu menjadi nyata.

Dendam Wanita Simpanan Bab 1 Lemah

"Bukan aku, Kak! Aku sama sekali gak pernah nyebarin kabar soal Kakak sama Kak Anto," tampikku.

Kesal saja, yang melakukan perselingkuhan mereka. Yang melihat dan menyebarkan tetangga, tapi aku yang harus terkena getahnya.

"Lalu siapa lagi? Dasar gak tahu terima kasih! Udah ditampung, dirawat, diusahain biar gak putus sekolah. Balasannya malah nyebar fitnah. Kamu mau kakak cerai sama Hendrik?" Kak Yuni menatapku nyalang, suaranya semakin tinggi dipenuhi amarah.

Dari pintu depan, Kak Makmur masuk diiringi Kak Aulia.

Kak Yuni melayangkan tangan ke arahku, tapi Kak Aulia lebih dulu sempat menahan. Meski gemetar, aku tak ingin menunjukkan raut ketakutan yang membuat tuduhannya semakin besar.

Kak Makmur menarikku ke luar. "Nay, kamu sementara di rumah Kakak aja, ya!"

"Yun, sabar. Istigfar. Kan bisa dibicarakan baik-baik." Kak Aulia berusaha membujuk Kak Yuni.

"Sabar gimana lagi! Itu anak gak tau terima kasih! Sudah ditampung, bikin malu! Kamu gak tahu aja alasan dia dipindahin ke sini gara-gara overdosis di sekolah, dia pura-pura baik. Dasar serigala berbulu domba!" Kak Yuni tak henti-henti memaki.

Rumah Kak Aulia bersama Kak Makmur yang hanya terhalang triplex tipis membuatku bisa mendengar semua teriakan dan makian itu dengan jelas. Sesak, kecewa, ingin marah dan balas mengatakan semua aibnya yang selama ini sudah berusaha keras kujaga.

Air mata mulai merebak, aku menunduk menyembunyikan wajah di kedua lutut.

"Aku sumpahin, biar dia yang jadi pelakor sekalian! Biar tahu gimana rasanya dituduh merebut laki orang!" Suara berdebum dari barang apa yang entah ditendang kembali diiringi makian.

"Nay, udah. Padahal aku kemaren juga udah bilang, kalau yang pertama lapor itu Lily. Lily liat Anto ke luar dari rumah Yuni tengah malam lewat pintu dapur." Kak Makmur berusaha menenangkan.

"Tapi kenapa sekarang aku yang dituduh, Kak?" Isakku semakin keras dan menjadi-jadi. Amarah, kebencian, rasa kesal bercampur aduk di hati.

"Mungkin karena cuma kamu orang luar yang tinggal di sana dan dipikir tahu semuanya," jelas Kak Makmur.

Dari rumah Kak Yuni telah sunyi, Kak Aulia terdengar masuk dan menghampiri kami berdua.

"Nay, malam ini tidur di rumah aku aja sementara, ya? Takut Yuni masih marah terus emosi kalo kamu balik," ujar Kak Aulia.

"T-tapi, Kak?" Aku segera mengangkat kepala dan menatap.

"Udah, gak apa. Ayah kamu juga nitip tolong jagain kamu. Aku juga kaget kalo Yuni sampai semarah itu."

"Boleh nginap di rumah Kak Lily di belakang aja? Di sini takut ngerepotin," ujarku mengingat rumah Kak Aulia yang kecil. Tak tega harus berdesakan dengan sepasang suami istri itu, ditambah dengan kelima anaknya lagi.

"Apa nanti gak dikira kamu 'sekongkol' sama Lily?" cegah Kak Makmur.

"Iya, terserah. Orang jujur salah juga. Nyalahin orang padahal yang salah siapa!" sungutku.

Kak Aulia akhirnya mengalah, mengantarkanku ke rumah kecil di belakang.

"Li ...," panggilnya sambil mengetuk pintu.

Wanita yang usianya baru memasuki kepala tiga itu membuka pintu, daster merah motif bunga-bunga membalut tubuhnya yang kurus.

"Aku nitip Nayla, ya? Kamu denger aja, 'kan, barusan Yuni marah? Takut Nayla kenapa-napa," ujar Kak Aulia.

"Masuk, masuk. Aku malas ikut campur. Dia salah, tapi dia yang marah karena merasa difitnah." Kak Lily segera memberi jalan untukku masuk.

Aku masuk diiringi Kak Aulia. Kak Lily menyuruhku untuk segera ke kamar, tersisa mereka berdua berbicara entah membahas apa.

Aku menurut, melangkah menuju ruang kecil di mana hanya triplek yang menjadi dindingnya juga. Aku duduk di sisi dinding kayu sambil mengotak-atik ponsel.

Tak lama Kak Lily menghampiri, segera kukembalikan ponsel ke dalam kantong celana.

"Kak Aulia sudah pulang. Sementara tidur di rumahku, nanti keperluan kamu biar Kak Aulia aja yang ngambil. Kamu jangan temuin Yuni sampe keadaan tenang, ya?" pesan Kak Lily.

Aku mengangguk patuh. Saat dia memintaku untuk segera tidur pun, aku tak berani membantah.

Kurebahkan diri dengan banyak perasaan yang mengganggu, kesal, benci, sedih bercampur bahagia. Sepandai-pandai menyimpan bangkai, pasti akan tercium bau busuknya. Mungkin itu kata yang tepat.

Aku memang saksi bisu perselingkuhan Kak Yuni dan Kak Anto, tapi tak cukup berani mengungkapkan. Padahal Kak Hendrik selama ini sudah sangat baik dan perhatian.

Malam-malam meresahkan setiap Kak Hendrik pergi merantau, lalu Kak Anto datang menyelinap ke kamar kini takkan ada lagi. Aku tak pernah bisa tidur dengan tenang mendengar suara desahan mereka setelah ketiga anak Kak Yuni tidur. Bahkan tak jarang aku yang harus berjaga-jaga agar 'malam panas' mereka lancar dan aman.

Pernah aku diamuk Nisa, anak pertama Kak Yuni karena menghalanginya masuk saat Kak Anto bersembunyi tanpa busana di dalam kamar.

Aku merasa jadi orang jahat yang lemah. Tapi, sekarang semuanya sudah berakhir tanpa campur tanganku lagi, harusnya aku sudah tenang. Tanpa sadar, kedua mata terpejam dengan banyak hal yang ternyata masih harus kusimpan sendirian.

****

"Nay, Nay." Kak Lily membangunkanku.

Meski berat, tetap kupaksa membuka kedua mata. Terlihat dia sudah rapi dan wangi, oh, astaga, sekarang jam berapa!

"Kakak ke pasar, ya, jualan? Tadi baju-baju kamu sudah diambilkan Kak Aulia. Mandi, makanan ada di dapur," jelasnya, aku masih berusaha mengumpulkan nyawa yang tadi berkelana di alam mimpi.

"Jangan telat makan, kalo nanti Kak Yuni datang jangan dibukain pintu. Oke?" pesan Kak Lily lagi.

Aku mengangguk meski setengah sadar. Wanita yang tadi bicara itu beranjak ke luar.

"Jul! Ayo, berangkat!" Teriakan Kak Lily memanggil suaminya terdengar.

Aku melirik angka di sudut ponsel. Jam sembilan! Pantas saja jendela yang terbuka membuatku silau.

Sekarang, aku sendirian. Kak Lily sudah berangkat bekerja membawa Izam, anak semata wayang mereka. Kak Ijul pasti juga akan bekerja.

Kak Makmur bekerja di Kantor Lurah, sedang Kak Aulia setiap pagi ikut kursus menjahit. Mustahil harus mendatangi Kak Yuni.

Aku bergegas mandi karena tuntutan perut yang lapar. Usai mengguyur air seadanya dan memakai kaos tanpa lengan juga celana pendek di atas lutut, kulirik semangkok mie goreng plus telur dadar yang tersedia.

Segera kubawa ke ruang depan sambil menikmati kipas angin yang menyala.

Belum usai menghabiskan separuh, terdengar suara sepeda motor berhenti di depan. Aku gegas menyelesaikan kunyahan dan berniat ke kamar untuk mengambil celana panjang serta jaket.

Beberapa langkah, pintu depan sudah terbuka. Kak Ijul berdiri memandangku saat aku berpaling untuk memastikan siapa yang datang.

"Eh, Nay. Kenapa mie nya gak dihabiskan?" tanyanya memecah kecanggungan.

"Mau ambil jaket bentar, Kak. Sama ganti celana," sahutku tanpa menoleh lagi.

Derit papan kayu yang diinjak terdengar mendekat. Aku mempercepat gerak memasang celana panjang.

Kak Ijul berdiri tepat di depan pintu kamar. Tatap matanya menyapu seluruh tubuhku.

"M-maaf, Kak. Kakak, 'kan, tau ada aku, kenapa gak ketuk pintu dulu sebelum mau masuk? Mau cari apa?" tanyaku terbata.

Bukannya menjawab, dia malah melangkah maju.

"Kak, aku ke luar sekarang, ya?" Aku melangkah mendekati pintu, tapi satu tangannya mencengkeram.

Pintu ditutupnya dengan kasar. "Nay, kamu cantik banget. Putih, mulus, bersih," puji Kak Ijul sambil menatapku.

"Makasih, Kak. Tapi kalau gini nanti dikira apa sama orang," elakku kala tangannya mengelus pipi.

Kak Ijul tak menyahut, malah mendorongku ke kasur kapuk kemudian turut menunduk. Dalam keadaan tak berjarak, aku bisa melihat sepasang matanya yang memerah. Astaga, pasti dia sedang mabuk! Bodohnya aku!

Harusnya tadi aku membawa mie itu ke kamar dan mengunci pintu. Pikiranku tentang Kak Ijul yang akan pergi bekerja ternyata salah.

"Kak." Aku mendorong kedua bahunya.

"Ssst!" Kedua tanganku dicengkeramnya merapat ke lantai. Aku ingin memberontak, tapi tubuhnya sudah tepat di atas dan berat. Aku ingin berteriak, tapi mulutnya yang menjijikkan tak jua melepaskan kecupan meski kepalaku terus bergerak menghindar.

"Kalo kamu teriak, aku tinggal bilang kamu yang menggoda duluan. Semua orang pasti akan percaya karena kelakuan Yuni. Diam!" ancamnya.

Tenagaku yang tak seberapa harus kalah meski terus berusaha melawan. Hanya air mata yang terus berjatuhan saat kehormatanku harus direnggut paksa.

Detik-detik berubah menjadi sangat lambat dan menghunuskan belati-belati tajam ke dalam dada. Hancur sudah masa depanku, takkan ada lagi pria yang mau menerima.

Aku tak bisa menjaga, aku salah, aku terlalu lemah!

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Pernikahan Kilat dengan Sang Miliarder

Pernikahan Kilat dengan Sang Miliarder

JADE HOWE

Riani sangat menyayangi pacarnya. Meskipun pacarnya telah tidak bekerja selama beberapa tahun, dia tidak ragu-ragu untuk mendukungnya secara finansial. Dia bahkan memanjakannya, agar dia tidak merasa tertekan. Namun, apa yang pacarnya lakukan untuk membalas cintanya? Dia berselingkuh dengan sahabatnya! Karena patah hati, Riani memutuskan untuk putus dan menikah dengan seorang pria yang belum pernah dia temui. Rizky, suaminya, adalah seorang pria tradisional. Dia berjanji bahwa dia akan bertanggung jawab atas semua tagihan rumah tangga dan Riani tidak perlu khawatir tentang apa pun. Pada awalnya, Riani mengira suaminya hanya membual dan hidupnya akan seperti di neraka. Namun, dia menemukan bahwa Rizky adalah suami yang baik, pengertian, dan bahkan sedikit lengket. Dia membantunya tidak hanya dalam pekerjaan rumah tangga, tetapi juga dalam kariernya. Tidak lama kemudian, mereka mulai saling mendukung satu sama lain sebagai pasangan yang sedang jatuh cinta. Rizky mengatakan dia hanyalah seorang pria biasa, tetapi setiap kali Riani berada dalam masalah, dia selalu tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya dengan sempurna. Oleh karena itu, Riani telah beberapa kali bertanya pada Rizky bagaimana dia bisa memiliki begitu banyak pengetahuan tentang berbagai bidang, tetapi Rizky selalu menghindar untuk menjawabnya. Dalam waktu singkat, Riani mencapai puncak kariernya dengan bantuannya. Hidup mereka berjalan dengan lancar hingga suatu hari Riani membaca sebuah majalah bisnis global. Pria di sampulnya sangat mirip dengan suaminya! Apa-apaan ini! Apakah mereka kembar? Atau apakah suaminya menyembunyikan sebuah rahasia besar darinya selama ini?

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Dendam Wanita Simpanan Dendam Wanita Simpanan Asy'arie Romantis
“Nayla yang tak ingin melibatkan orang di sekitar dalam masalah, malah membuatnya semakin jauh terjebak dalam ancaman-ancaman. Sumpah yang diucapkan oleh Kak Yuni seolah menjelma nyata. Muak dengan tuduhan-tuduhan dan fitnah yang melabelinya sebagai pelakor, , Nayla akhirnya memutuskan untuk mewujudkan semua ucapan itu menjadi nyata.”
1

Bab 1 Lemah

13/10/2021

2

Bab 2 Mati Rasa

13/10/2021

3

Bab 3 Perceraian Kak Yuni

13/10/2021

4

Bab 4 Bungkam

13/10/2021

5

Bab 5 Biar Menjadi Rahasia

13/10/2021

6

Bab 6 Salah Langkah

16/11/2021

7

Bab 7 Gosip

16/11/2021

8

Bab 8 Kekacauan

22/11/2021

9

Bab 9 Karma( )

24/11/2021

10

Bab 10 Lembar Hitam yang Terbuka

24/11/2021

11

Bab 11 Ada yang Aneh

30/11/2021

12

Bab 12 Korban Bully

30/11/2021

13

Bab 13 Memberanikan Diri

30/11/2021

14

Bab 14 Alasan Sebenarnya

30/11/2021

15

Bab 15 Mati Itu, Seperti Apa

30/11/2021

16

Bab 16 Hilang

30/11/2021

17

Bab 17 Tragedi

30/11/2021

18

Bab 18 Depresi

30/11/2021

19

Bab 19 Pengalaman Manis yang Pertama

01/12/2021

20

Bab 20 Gila, tapi Waras

01/12/2021

21

Bab 21 Reaksi Aneh

02/12/2021

22

Bab 22 Tote Bag Spesial

02/12/2021

23

Bab 23 Tunas Harapan

02/12/2021

24

Bab 24 Syok

02/12/2021

25

Bab 25 Ungkapan

03/12/2021

26

Bab 26 Ombak Besar

03/12/2021

27

Bab 27 Dikucilkan

03/12/2021

28

Bab 28 Romantisme Palsu

04/12/2021

29

Bab 29 Satu-satunya yang Tersisa

04/12/2021

30

Bab 30 Neraka Bernama Kesepian

04/12/2021

31

Bab 31 Pada Akhirnya

05/12/2021

32

Bab 32 Nekat

05/12/2021

33

Bab 33 Kebahagiaan (Semu) yang Sempurna

05/12/2021

34

Bab 34 Overdosis

06/12/2021

35

Bab 35 Keputusan yang Tak Bisa Dibantah

06/12/2021

36

Bab 36 Jangan Sakiti Dia!

11/12/2021

37

Bab 37 Hampir! (+18)

12/12/2021

38

Bab 38 Cemburu

13/12/2021

39

Bab 39 Mawar yang Terinjak

14/12/2021

40

Bab 40 Terjaga

18/12/2021