back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
GAIRAH LIAR IBU TIRIKU

GAIRAH LIAR IBU TIRIKU

Dewa Amour

5.0
Ulasan
354.6K
Penayangan
102
Bab

//Mature conten 21+// Meghan Crafson, mantan model majalah dewasa. Di usianya yang sudah menginjak 30 tahun dia masih kelihatan cantik dan seksi layaknya remaja 20 tahunan. Dinikahi seorang Crazy Rich asal New York hanya membuatnya bahagia dari segi financial saja. Namun dia tak mendapatkan kepuasan sex dari suaminya yang sudah berusia 50 tahun itu. Sampai akhirnya kedatangan Hardin merubah segalanya. Hardin Willbowrn, pria tampan dengan postur tubuh atletis menyerupai aktor Hollywood itu adalah putera tunggal suaminya. Gejolak nafsu liar Meghan menginginkan anak tirinya itu. Dia pun berusaha menggoda Hardin di belakang suaminya. Sebagai pria normal, tentu Hardin kesulitan menolak gelombang gairah liar yang ibu tirinya tawarkan. Bagaimanakah kisah selanjutnya? Akankah Hardin menolak gairah liar ibu tirinya itu? Atau dia malah terjun dalam kenikmatan salah yang ditawarkan Meghan?

Bab 1
WANITA PENIKMAT SEX

Gemericik hujan masih mengguyur kota New York sejak sore tadi. Hawa dingin menyelimuti kota yang tak pernah tidur itu. Sebuah jam besar berdiri pada sudut ruangan dengan cat dinding bernuansa air laut Karibia. Jarumnya menunjuk tepat pada anggka dua.

Benar, sudah pagi. Namun aktivitas panas masih berlangsung di dalam kamar VVIP dimana jam besar itu bertengger. Ia terpaksa harus menyaksikan pergumulan liar sepasang manusia di tengah ranjang.

California Hotel, bangunan itu memiliki 100 lantai dan termasuk hotel bintang lima yang paling populer di kalangan kaum Jetset di Amerika. Hotel itu dulunya milik seorang pengusaha asal Jepang bernama Hisaki Shimada. Namun setelah usahanya bangrut, pria itu melelang aset mewahnya kepada seorang pengusaha terkaya nomer dua di Amerika yakni Edward Willbowrn.

Edward mendapatkan hotel itu dengan harga yang lumayan tinggi. Bahkan ia memberikan tawaran terakhir yang membuat para pembeli di pelelangan itu tercengang dibuatnya. 500 juta dolar, harga yang Edward sanggupi mengalahkan semua tawaran pembeli di pelalangan siang itu. Akhirnya hotel 100 lantai itu pun jatuh ke tangannya.

California Hotel sendiri Edward beli untuk hadiah anniversary pernikahannya dengan Meghan Crafson, wanita 30 tahun asal Polandia yang baru saja ia nikahi satu tahun yang lalu. Menikahi wanita yang seumuran dengan puteranya membuat Edward sangat bahagia.

Dia selalu berusaha untuk membuat mantan model majalah dewasa itu hidup bergelimang kemewahan. Bahkan CEO utama perusahaan teknologi terbesar di Amerika itu rela menghabiskan banyak uangnya demi kebahagiaan Meghan. Ini semua ia lakukan karena rasa cintanya yang teramat besar pada wanita itu.

Namun bagaimana dengan Meghan? Apakah wanita berkulit putih itu juga sangat mencintainya? Jawabannya tidak. Karena Meghan adalah wanita matrealistis yang hidupnya tak mau ambil pusing. Baginya uang adalah segalanya. Persetan dengan apa pun yang penting saldo rekeningnya selalu luber terisi.

Seperti saat ini, Meghan malah asik bergumul dengan pria bayaran bernama Louis. Dan ini bukan kali pertama dirinya tidur dengan pria lain setelah terikat pernikahan dengan Edward Willbowrn. Wanita itu kerap menghabiskan malam dengan siapa saja yang bisa memuaskan hasratnya.

Meski tak mau dibilang seorang hiper sex, namun itulah kenyataannya. Meghan tak pernah benar-benar puas hanya dengan satu pria saja. Bahkan ia selalu mencari batang berurat yang besar dan bisa memberinya kenikmatan yang ia inginkan.

"Louis, terus sayang! Kamu payah! Shit!" Suara cetar itu berasal dari bibir merah basah yang terus meracau di bawah kendali seorang pria berambut kecokelatan. Meghan tak henti berdesah dan meracau di sela percintaan yang sedang dirinya lalui. Sudah hampir empat jam mereka bercinta, namun si jalang Meghan masih belum mencapai puncaknya.

"Nyonya ..." Kali ini si pria yang berdesah dengan napas beratnya yang terdengar memburu. Peluh bercucuran dari ribuan pori-pori kulitnya. Louis sudah kewalahan menggempur milik Meghan.

Tapi sial! Wanita itu tak juga mencapai klimaks. Dia mulai kesal.

"Louis! Oh, shit!"

"Fuck!"

Persetan dengan Meghan yang tampak sangat kecewa karena batang kebanggaan Louis sudah meledak di dalamnya. Pria itu bahkan segera berguling usai menarik senjatanya keluar. Meghan memalingkan wajahnya kesal. Sial! Ternyata bercinta dengan gigolo itu pun tak mampu membuatnya merasakan kenikmatan yang ia cari. Sia-sia dirinya sudah membayar mahal untuk pria 26 tahun itu. Ternyata Louis sangat payah!

"Nyonya, saya tak bisa bermain lagi," ucap Louis seraya menoleh pada wanita di sampingnya. Keduanya masih dalam keadaan polos dan berada dalam selimut yang sama. Penyesalan tampak jelas di mata pria muda berparas tampan itu. Baru kali ini ia mendapatkan pelanggan seperti ini. Wanita 30 tahun yang sangat cantik namun memiliki nafsu layaknya kuda betina.

"Tak usah banyak bicara, kamu memang payah!" Setelah menoleh tegas pada pria muda di sampingnya, Meghan segera beringsut dari ranjang. Dia lantas berjalan menuju kamar mandi dengan wajah kecewa.

"Dasar wanita hiper." Louis berdesis sembari memandangi tubuh polos Meghan yang semakin menjauh darinya. Tubuhnya memang indah, namun nafsunya sangat gila, pikirnya. Dia bergidig kemudian.

Langkah sepasang tungkai jenjang itu berhenti di samping sebuah bathtub berukuran cukup besar. Meghan menggelengkan kepalanya masih tampak kecewa atas percintaan buruk tadi. Wanita itu lantas memasuki wadah air di hadapannya. Dia membenamkan tubuhnya di sana.

Benar-benar sial! Dimana ia bisa mendapatkan kenikmatan yang seperti itu? Sepasang matanya terpejam perlahan dengan kepalanya yang bersandar pada tepi bathtub. Sekilas ingatannya melayang pada kejadian dua tahun yang lalu, saat dirinya menghadiri sebuah pesta temannya yang bernama Laura.

Laura dan beberapa teman prianya mengadakan sebuah permainan dimana akhirnya Meghan kalah dan ditantang bercinta dengan seorang pria. Saat itu dirinya diikat di tengah ranjang dengan kain hitam yang menutupi sepasang matanya. Sampai seorang pria pun datang, lantas menikmati setiap inci tubuhnya. Meski itu konyol, namun Meghan merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa saat pria itu membantainya di atas ranjang.

Untuk pertama kalinya bagi Megan. Dan pria itu membuatnya serasa melayang-layang dengan berjuta kenikmatan yang diberikannya. Dia menginginkan pria itu lagi. Namun siapa dia dan dimana dia sekarang? Sayangnya Meghan tak tahu hal .

Dia pernah beberapa kali menanyakan pria itu pada Laura. Namun temannya itu tak mau memberitahunya. Karena itu melanggar peraturan dari permainan mereka. Dia tak boleh mengatakan pada Meghan (korban) siapa pun pria itu (pelaku).

Dan semenjak itu Meghan terus berpetualang sex untuk mencari kenikmatan yang pernah dirinya rasakan malam itu. Dia sudah candu dan sangat menginginkannya lagi. Tapi sayang, dari sekian pria yang dikencaninya, tak ada satu pun dari mereka yang bisa membuatnya terpuaskan seperti yang pria itu lakukan.

Hh, apa lagi sejak dirinya menikahi Edward. Dunia sex-nya sangat buruk. Boro-boro merasa puas di atas ranjang, si tua bangka itu bahkan jarang sekali menyentuhnya.

Memang, ada beberapa malam dimana ia bercinta dengan Edward. Namun hasilnya sangat buruk! Payah! Baru saja 30 menit mereka bergumul, pembisnis itu sudah menyerah. Benar-benar menyebalkan! Meghan menyibak air hangat di hadapannya. Hatinya tak bisa tenang jika hasratnya belum terpuaskan. Apakah dia harus sewa dua gigolo sekaligus? No! I

tu bisa merusak aset berharganya nanti. Dia tak mau.

Sepertinya memang hanya pria itu yang bisa membuatnya puas. Tapi dimana dia? Ugh! Meghan mengerang kesal dengan sesekali melepaskan tinjunya pada air. Kemudian ia menyentuh miliknya di bawah sana. Dibelainya dengan lembut namun berangsur kasar kemudian. Ah, nikmatnya. Ia teringat kenikmatan itu. Dia sangat menginginkannya lagi.

"Pergilah," ucap Meghan seraya menyodorkan selembar cek pada pria berkemeja hitam lengan panjang di hadapannya. Bibirnya tersenyum remeh menatap Louis. Pria ini masih muda, tampan dan bertubuh kekar.

Tapi kenapa dia sangat payah di atas ranjang, pikirnya kesal.

"Terima kasih, Nyonya." Dengan wajah merah menahan malu, Louis segera meraih haknya dari wanita dengan dress selutut warna hitam di hadapannya. Sial! Meghan sudah membuatnya seperti tisue bekas yang tak berguna. Bahkan wanita itu mencibir padanya. Ah, itu bukan salahnya. Bukan! Baiknya wanita itu bercinta dengan seekor kuda saja, pikirnya yang juga tak kalah kesalnya.

"Aku harap Madam Barbara tak lagi mempekerjakan pria payah sepertimu!"

Louis menghentikan langkahnya sejenak di hadapan pintu. Ucapan menohok dari bibir seksi Meghan membuatnya merasa sangat terhina. Namun apa daya? Dia hanya seorang pekerja sex. Pasti Madam Barbara akan memecatnya setelah ini. Benar-benar sial!

Tangan kanan Louis mencengkeram pegangan kopernya dengan penuh emosi. Pria itu pun kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar hotel nomer 1334 dimana Meghan masih berdiri memandangi kepergiannya.

Wanita itu melipat kedua tangannya di bawah dada dengan bibirnya yang bergetar-getar mengutuk pria yang sudah tiga hari bersamanya itu. Payah! Rutuknya dalam hati.

Tak lama dari itu, ponsel pintar yang tergeletak pada meja nakas pun berdering. Ah, siapa yang menelepon? Masih dengan mood-nya yang buruk, Meghan segera meraih ponsel itu. Sial! Untuk apa si tua bangka itu menelepon? Wajahnya semakin dipenuhi aura kesal setelah melihat ID si pemanggil yang tampak pada layar ponselnya, Edward Willbowrn.

"Hubby! Apa? kamu akan pulang? Baiklah, aku akan menyiapkan sebuah pesta untukmu!"

Omong kosong! Wanita itu selalu berkata manis pada Edward. Padahal hatinya selalu menyumpai pria 50 tahun itu agar segera tewas. Menurutnya itu lebih baik daripada harus mengurusi suami yang tak berguna itu.

Eh, tapi dia masih membutuhkan Edward juga, kan? Tentu saja. Karena jika Edward tewas, lantas bagaimana ia melangsungkan hidupnya? Terlebih sampai sekarang dirinya belum memiliki seorang anak dari konglomerat kaya raya itu.

Apa? Memiliki anak dari Edward? Cih! Meghan tak pernah berpikir sampai sejauh itu. Karena mana mungkin dirinya bisa memiliki seorang anak, membuatnya 'puas' saja Edward tak mampu. Dasar tua bangka! Meghan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis. Kedua tangannya segera melipat ponsel pintarnya.

***

Sore itu langit tampak mendung. Mobil sport jenis Lamborghini keluaran terbaru edisi terbatas musim ini terlihat menepi di pelataran sebuah mansion mewah. Mansion tiga lantai itu berdiri mencolok di antara rumah-rumah besar di sekitarnya. Karena bangunan megah dengan cat putih itu berdiri pada dataran yang lebih tinggi dari beberapa mansion di sekitarnya. Bahkan mansion itu tampak lebih besar dari yang lainnya.

Sepasang tungkai panjang dibalut celana kain hitam keluar satu per satu dari pintu mobil sport itu. Seorang pria muda, tampan. Wajahnya blasteran Jerman-Rusia dengan postur tubuhnya yang tinggi dan kekar bak seorang atlet tinju. Tubuh idaman para wanita itu dibalut stelan jas hitam mahal dengan merk ternama, Mars Anthony. Terlihat sangat menawan dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Ayo Hardin, Daddy ingin memperkenalkan seseorang padamu," ucap pria paruh baya yang juga keluar dari mobil yang sama. Edward Willbowrn, dia baru kembali dari Jerman setelah menghadiri acara wisuda puteranya yang bernama Hardin Leonard Willbowrn.

Sudah hampir lima tahun puteranya itu menempuh pendidikan pada universitas ternama di Jerman. Hardin akhirnya lulus dengan nilai tinggi. Kini pria itu kembali untuk membantu sang ayah mengurus bisnisnya.

Bibir kemerahan itu hanya mengulas senyum saat Edward merangkul bahunya. Hardin memang tipikal pria yang tak banyak bicara. Edward mengatakan puteranya itu mewarisi sipat ibunya yang pendiam. Padahal itu bohong belaka. Karena sebenarnya Hardin bukanlah putera kandungnya.

Edward tak henti tertawa senang seraya menggiring Hardin memasuki mansion. Di ruang tamu sudah tampak seorang wanita dengan long dress warna merah hati yang sedang berdiri menyambutnya. Sementara beberapa pelayan wanita berseragam juga tampak berdiri di belakangnya, turut menyambut kedatangan mereka.

Sepasang manik hijau kebiruan Hardin membulat penuh melihat wanita itu. Sial! Kenapa wanita itu berada di sini? Pikirnya seraya memalingkan wajahnya ke lain arah. Rahut wajahnya tampak tidak nyaman lagi setelah melihat Meghan yang sedang memasang senyum manis untuknya.

"Honey, ini Hardin puteraku. Dan Hardin, ini adalah Meghan, Mommy barumu."

Hardin sangat tersentak mendengar ucapan sang ayah. Apa? Mommy baru? Jadi, wanita itu adalah istri baru ayahnya? No! Ini tidak mungkin. Hardin menelan ludah kasar saat Meghan tersenyum binal seraya menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengannya.

Tubuh Hardin gemetaran tiba-tiba dengan jantungnya yang hampir meledak. Apakah Meghan tidak mengenalinya? Ya, sepertinya wanita itu tidak mengenalinya, pikir Hardin seraya menerima uluran tangan wanita cantik di hadapannya itu.

Sepasang pupil hazel Meghan terangkat ke wajah Hardin. Keduanya saling berpandangan barang sejenak. Crazy! Ternyata putera Edward ini sangtlah tampan dan memiliki aura seksual yang menggoda. Meghan menelan salivanya melihat bibir seksi Hardin yang tampak lembab.

Sepertinya sangat nikmat jika dilumat, pikirnya mulai melantur. Kemudian pandangan binalnya turun pada bagian depan celana kain hitam yang dikenakan oleh Hardin. Diamatinya sesuatu yang tampak sesak di dalam sana. Bibirnya menyeringai tipis diam-diam.

Sementara Edward hanya tersenyum senang melihatnya. Dia sangat lega jika Meghan bersedia menerima Hardin sebagai puteranya. Dan itu juga yang ia harapkan dari Hardin, dia berharap puteranya itu bisa menerima Meghan sebagai ibu sambungnya. Dengan begitu kini keluarganya kembali lengkap, pikirnya.

Wah, indah sekali harapan Edward. Namun sangat berbeda dengan apa yang sedang Meghan harapkan dan Hardin pikirkan saat ini.

Unduh Buku