Jebakan Utang Mafia

Jebakan Utang Mafia

Adrian

5.0
Komentar
1
Penayangan
20
Bab

Tepat setahun lagi, Evelyn Rossi akhirnya akan terbebas dari jeratan utang warisan kakek tirinya. Utang yang selama sepuluh tahun terakhir telah mencekik lehernya, menjadikannya tawanan tidak resmi di bawah kendali seorang Mafia yang memukau dan berbahaya: Riccardo Valentini. Pria dingin dan tampan ini adalah pemimpin Kartel La Sanguina, penguasa mutlak dunia gelap di Italia. Untuk membayar utangnya, Evelyn terpaksa mengabdikan diri sebagai pelayan di sebuah toko kecil di sudut kota Palma. Toko itu hanyalah kedok; di balik aroma pizza rumahan, tempat itu adalah pusat transaksi ilegal Kartel La Sanguina. Riccardo Valentini adalah definisi pria mempesona dengan kekuasaan tak terbatas. Ia menginginkan Evelyn, bukan hanya sebagai sandera utang, tetapi sebagai penghangat ranjangnya-sebuah obsesi yang tak terbantahkan. Evelyn, yang bersumpah untuk menjauh dari dunia kelam Mafia, berusaha keras melarikan diri dari cengkeraman cinta posesif Riccardo. Setelah berhasil kabur, Evelyn menghabiskan empat tahun dalam perlindungan Nikolai Volkov, seorang bos Mafia Rusia. Namun, pelarian itu berakhir. Riccardo berhasil menemukan dan menculik Evelyn kembali dari "kandang" Mafia Rusia, mengklaim lagi apa yang ia anggap miliknya yang hilang. Akankah Evelyn mampu melepaskan diri dari obsesi brutal Riccardo? Atau, mampukah Nikolai Volkov, yang sejatinya telah jatuh cinta begitu dalam pada Evelyn selama masa perlindungannya, berhasil menghancurkan Riccardo untuk merebut kembali wanita yang dicintainya?

Bab 1 Rossi sudah terlalu lama akrab dengan keduanya

Palma. Kota ini selalu punya dua aroma: aroma garam laut yang getir dan aroma basil segar yang merayap dari lorong-lorong tua. Evelyn Rossi sudah terlalu lama akrab dengan keduanya, tapi belakangan, hanya satu aroma yang paling menempel di pakaiannya, di rambutnya, bahkan di pori-pori kulitnya: adonan ragi, keju mozzarella yang meleleh, dan saus tomat pekat. Aroma dari kedai kecil yang ironisnya bernama Delizia-Kenikmatan.

Tapi bagi Evelyn, tidak ada kenikmatan di sana.

Jendela kayu tua di balik konter kasir sudah hampir berembun oleh uap panggangan. Pukul tujuh pagi. Evelyn sudah di sana sejak subuh, tangannya sudah licin oleh minyak zaitun. Dia menarik napas panjang, bau bawang putih panggang ini menusuk hidungnya seperti jarum. Satu tahun. Hanya tinggal satu tahun lagi.

Tepat 365 hari. Atau mungkin 366 kalau tahun depan adalah tahun kabisat. Angka-angka itu adalah satu-satunya selimut hangat di tengah hidupnya yang beku. Angka-angka itu adalah mercusuar harapan di tengah badai yang diciptakan oleh kakek tiri sialannya sepuluh tahun lalu. Sepuluh tahun membayar harga atas kebodohan dan keserakahan pria yang bahkan tak pantas ia sebut keluarga.

Setiap lembar uang yang ia dapatkan-dari melayani pelanggan, dari mengaduk adonan, dari membersihkan remah-remah di lantai marmer kusam-semua hanya mengalir ke satu tempat: rekening bank pribadi milik Riccardo Valentini, pemimpin Kartel La Sanguina. Mafia yang memegang lehernya, yang mengikatnya dengan benang utang yang terbuat dari baja.

Evelyn menatap cermin buram di belakang etalase. Matanya yang cokelat tampak lebih gelap, seperti kopi tanpa gula. Rambutnya, yang seharusnya ia biarkan tergerai bebas, selalu diikat ketat agar tidak mengganggu pekerjaannya. Dia terlihat seperti pelayan toko pizza biasa di pinggir Palma.

Dan itulah intinya. Penyamaran.

Delizia bukanlah toko pizza biasa. Di balik rak-rak berisi botol minyak zaitun dan toples acar, ada ruangan kecil dengan pintu baja tersembunyi. Di situlah transaksi, pembukuan, dan terkadang, hukuman, dilakukan. Delizia adalah pos terdepan La Sanguina. Dan Evelyn, si pelayan cantik yang selalu tersenyum ramah pada setiap pelanggan, adalah mata uang berjalan yang tidak boleh rusak.

Pintu depan berderit, memutus lamunannya.

"Buon Giorno, bella," sapa Dante, pria bertubuh besar dengan tato kalajengking di lehernya. Dante adalah salah satu kaki tangan Riccardo yang paling setia-dan paling menjengkelkan. Ia datang bukan untuk sarapan, tapi untuk memastikan Evelyn ada di tempatnya.

"Selamat pagi, Dante," jawab Evelyn, senyum profesionalnya langsung terpasang, tanpa satu pun emosi yang nyata. "Mau kopi atau espresso?"

"Kau tahu aku tidak suka kafein. Aku datang untuk melihat si cantik ini. Ada pesanan khusus hari ini?" Dante menyandarkan tubuhnya di konter, pandangannya terlalu lama tertuju pada pergelangan tangan Evelyn yang ramping.

"Panggangan baru akan menyala. Belum ada pesanan khusus selain yang biasa kau tahu," balas Evelyn dingin. Maksud 'pesanan khusus' Dante selalu sama: laporan tentang siapa yang datang ke bagian belakang toko kemarin malam, berapa banyak uang yang ditransfer, dan siapa yang tampak mencurigakan. Evelyn hafal betul perannya. Dia adalah telinga dan mata mereka, tapi dia bersumpah, dia tidak akan pernah melibatkan hatinya.

Dante tertawa kecil, suara seraknya terdengar seperti amplas. "Santai saja, tesoro. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Riccardo... Bos kita... ia tidak suka barang miliknya mendapat masalah."

Hati Evelyn mencelos. Barang miliknya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di tempat ini, ia tahu statusnya. Bukan karyawan. Bukan pelayan utang. Tapi properti. Kata-kata itu, "Barang miliknya," selalu berhasil mengoyak dinding pertahanannya, bahkan setelah sepuluh tahun.

"Aku tahu, Dante. Aku tahu betul," kata Evelyn sambil mengelap konter dengan gerakan cepat, mencoba menjauhkan Dante darinya tanpa terlihat kasar. "Aku tidak akan lari. Bukan sekarang. Utangku hampir lunas. Aku tidak sebodoh itu untuk merusak sepuluh tahun kerja keras."

Dante tersenyum sinis, memperlihatkan gigi depannya yang sedikit renggang. "Itu gadis baik. Tapi... bahkan setelah lunas, apa kau pikir Bos akan membiarkanmu pergi semudah itu?"

Pertanyaan itu menampar Evelyn lebih keras daripada tamparan fisik manapun.

Ia membeku. Tangan yang memegang lap berhenti bergerak. Pertanyaan itu adalah hantu yang selalu menghantuinya setiap malam. Selama ini, dia berpegang teguh pada perjanjian: Sepuluh tahun, setelah itu dia bebas. Tapi ini adalah dunia Mafia. Perjanjian tertulis di atas kertas. Obsesi Riccardo Valentini tertulis di udara yang ia hirup. Dan di dunia ini, udara jauh lebih nyata daripada kertas.

Evelyn mengangkat dagunya, memaksakan keberanian kembali. "Perjanjian adalah perjanjian. Riccardo adalah pria bisnis. Dia tahu itu."

"Riccardo adalah pria yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, carissima." Dante menegakkan badan, mengakhiri percakapan kecilnya, tapi meninggalkan racun keraguan yang menyebar cepat dalam darah Evelyn. "Lanjutkan pekerjaanmu. Aku harus pergi menemui Rocco."

Setelah Dante menghilang ke lorong, Evelyn bersandar di dinding belakang, napasnya memburu. Pintu baja di ruang tersembunyi berdentang pelan, tanda Dante sudah masuk ke 'kantor' sebenarnya. Jantungnya berdetak liar. Ia harus membuang pikiran itu jauh-jauh. Fokus. Satu tahun. Hanya satu tahun lagi.

Ia ingat Riccardo, meskipun ia sudah lama tidak bertatap muka langsung dengannya-hampir tiga tahun. Tapi kenangan itu, atau lebih tepatnya teror dari kenangan itu, masih segar.

Riccardo Valentini. Pria yang membuat setan pun tampak seperti malaikat. Wajahnya-sangat tampan, struktur rahangnya tajam seperti pahatan marmer, mata gelapnya selalu memancarkan kombinasi kejenuhan dan bahaya yang mematikan. Pria itu berjalan dengan aura kekuasaan yang membuat semua orang ingin berlutut, termasuk para Capo dari kartel lain.

Riccardo telah melihat Evelyn tumbuh dari seorang remaja yang ketakutan menjadi wanita muda yang lelah namun bersemangat. Ia menyaksikan setiap perjuangan Evelyn dari balik bayangan. Dan di mata gelapnya, Evelyn selalu melihatnya: bukan sekadar keinginan, tapi klaim kepemilikan. Klaim yang lebih menakutkan daripada utang seratus juta euro.

Aku menginginkan kau, Evelyn. Kau adalah bunga yang tumbuh di sarangku. Dan bunga itu, tentu saja, hanya akan mekar untukku.

Suara Riccardo berbisik di benaknya, mengulangi kata-kata yang pernah ia ucapkan empat tahun lalu, tepat sebelum Evelyn melarikan diri untuk pertama kalinya. Pelarian yang gagal, yang berakhir dengan perang kartel kecil-kecilan dan Evelyn kembali di bawah perlindungan Mafia Rusia, Ivanovic Romanov. Dan setelah empat tahun bersembunyi di pelukan pria lain, ia tetap ditemukan. Diculik. Dan diklaim kembali.

Kini, ia kembali ke Delizia, tempat awal ia membayar dosa. Bedanya, kali ini ia tidak bersembunyi di sini. Ia diposisikan. Riccardo tahu, Evelyn akan mencoba lari lagi. Dan menempatkannya di Delizia, di jantung wilayahnya, hanya menunjukkan betapa yakinnya Riccardo bahwa Evelyn tidak akan ke mana-mana.

Pukul sepuluh pagi. Toko mulai ramai. Pria-pria bersetelan mahal dan sepatu kulit mengilap berdatangan, bukan untuk pizza, tapi untuk meeting di ruang belakang. Evelyn menyajikan kopi dengan tangkas, otaknya sibuk menghitung sisa waktu.

Aku tidak boleh menunggunya sampai utang ini lunas. Begitu lunas, ia tidak punya alasan hukum untuk menahanku, tapi ia akan punya alasan lain: obsesi.

Satu-satunya cara untuk menang adalah menghilang sebelum hari terakhir utang itu jatuh tempo. Mungkin tiga bulan sebelumnya. Empat bulan. Cukup waktu bagi Riccardo untuk tidak menduganya.

Pikiran itu membuatnya ngeri, tapi juga memberi dorongan adrenalin yang sangat ia butuhkan. Lari berarti kehilangan sisa utang yang sudah ia bayar, tapi itu berarti membeli kebebasan. Nyawa dan kebebasan jauh lebih berharga daripada beberapa ratus ribu euro sisa pembayaran.

Siang itu, sekitar pukul satu, telepon di konter berdering. Telepon khusus, yang hanya berdering jika itu adalah jalur komunikasi langsung dari kantor pusat La Sanguina. Evelyn meneguk ludah, jantungnya kembali berdebar tak karuan.

"Delizia," jawab Evelyn, suaranya berusaha keras terdengar normal.

"Evelyn? Ini Marco." Suara Marco, tangan kanan Riccardo. Ia selalu formal, selalu efisien, jauh lebih menakutkan daripada Dante. "Riccardo membutuhkanmu. Sekarang."

"Aku... aku tidak bisa meninggalkan toko, Marco. Aku sedang membersihkan dapur untuk panggangan shift kedua."

"Bersihkan nanti. Ini bukan permintaan. Ini perintah." Suara Marco tidak mengandung negosiasi. "Riccardo ada di vila. Dia meminta kau datang ke sana, membawa sesuatu. Kau tahu jalannya."

Evelyn memejamkan mata. Vila Riccardo. Tempat ia tidak pernah ingin kunjungi lagi. Tempat yang menjadi simbol dari malam-malam tanpa tidur dan mimpi buruk. Ini bukan hanya tentang membawa sesuatu. Ini adalah undangan. Umpan.

"Apa yang harus kubawa?" tanya Evelyn.

"Sebotol anggur merah vintage 1982. Anggur yang kau sembunyikan di ruang bawah tanah. Dan... bawa dirimu, Evelyn. Bos ingin memastikan kau masih sedap dipandang."

Sialan. Ia tahu ini akan terjadi cepat atau lambat. Riccardo tidak akan sabar. Setidaknya, ini bukan hari terakhirnya lari. Ini hanya hari di mana ia harus berakting.

Evelyn segera mencari Luigi, koki paruh waktu yang bertugas mengurus pizza di sore hari. Ia memberikan instruksi singkat, mengenakan jaketnya-jaket denim lusuh yang tidak mencolok-dan berjalan menuju gudang anggur di ruang bawah tanah.

Gudang itu dingin, sunyi, dan beraroma tanah lembap. Evelyn menemukan botol Bordeaux vintage yang dicari Riccardo. Anggur itu terasa berat di tangannya, seberat nasibnya sendiri. Ia menyembunyikannya di dalam kantong kain hitam.

Dia mengambil kunci mobil dinas toko-Fiat Panda tua yang bobrok-dan melaju keluar dari Palma menuju pinggiran kota, tempat Vila Valentini berada. Jalanan berliku, diapit oleh pohon-pohon cypress yang tinggi, terasa semakin mencekik seiring ia mendekati tujuannya.

Vila Riccardo, Il Drago, terletak di atas bukit, menghadap Laut Tengah. Bangunan itu adalah mahakarya arsitektur klasik, dihiasi dengan pilar-pilar batu alam dan patung-patung marmer. Itu adalah keindahan yang menipu, karena di balik dinding-dindingnya yang elegan, mengalir darah dan kekejaman.

Evelyn melewati gerbang besi tempa besar, yang dibuka otomatis oleh penjaga bersenjata yang bersembunyi di balik semak-semak. Ia memarkir mobilnya di halaman batu kerikil, di antara dua mobil sport Ferrari yang mengkilap.

Seorang pelayan yang rapi menyambutnya di pintu utama dan mengantarnya ke teras belakang.

Dan di sanalah dia. Riccardo Valentini.

Dia tidak duduk. Dia berdiri di tepi teras marmer putih, menatap laut biru tak bertepi. Angin laut menerpa jas linen hitamnya yang mahal. Postur tubuhnya sempurna, kekar di balik kain, memancarkan aura berbahaya. Ia seperti patung dewa Yunani yang baru saja turun ke bumi-seorang dewa yang memegang trisula kekuasaan.

Evelyn meremas kantong kain di tangannya. Ini adalah momen yang paling ia takuti: bertemu dengan pria yang memiliki utangnya, dan yang sekarang ingin memiliki jiwanya.

Riccardo berbalik. Gerakannya lambat, elegan, dan penuh perhitungan. Ketika mata gelapnya menangkap sosok Evelyn, seringai tipis, hampir tidak terlihat, muncul di sudut bibirnya. Itu bukan senyum kegembiraan, tapi senyum predator yang telah melacak mangsanya.

"Evelyn. Kau datang," katanya. Suaranya rendah, serak, dan memiliki aksen Italia yang kental. Bahkan setelah bertahun-tahun, suara itu masih membuat lutut Evelyn lemas.

"Aku menerima perintah Marco," jawab Evelyn, menjaga suaranya tetap datar. Ia mendekat perlahan, berjalan di atas karpet Persia mahal.

"Tentu saja. Kau selalu patuh, itulah salah satu hal yang kusukai darimu," ejek Riccardo. Dia berjalan ke meja kecil dan menuangkan segelas grappa untuk dirinya sendiri. "Anggur itu. Berikan padaku."

Evelyn meletakkan kantong itu di meja. Riccardo membukanya, melihat botol itu sekilas, lalu mengangguk puas. Dia tidak tertarik pada anggur itu. Dia hanya ingin Evelyn datang.

"Kau terlihat lelah," komentar Riccardo, nadanya tiba-tiba berubah menjadi lembut, perhatian palsu yang jauh lebih berbahaya daripada ancaman. Dia mendekatinya, langkahnya tanpa suara di atas marmer.

"Aku bekerja, Riccardo. Delizia ramai. Seperti yang kau minta."

"Ah, ya. Delizia. Tempat yang bagus. Menjaga kau tetap sibuk. Menjaga kau tetap di bawah mataku." Tangannya terangkat, dan Evelyn menegang, bersiap untuk sentuhan yang tidak ia inginkan. Tapi Riccardo hanya menyentuh sehelai rambut yang lepas dari ikatan ketatnya. Dia menyisipkannya ke belakang telinga Evelyn, sentuhan itu begitu ringan, begitu hati-hati, tapi terasa seperti rantai yang mengikat lehernya.

"Kau tahu, Evelyn," bisiknya, suaranya kini bergetar dengan intensitas yang lebih dalam. "Hanya tinggal satu tahun. Tapi waktu itu terlalu lama bagiku. Kau berada di bawah perlindungan Mafia Rusia itu selama empat tahun. Empat tahun! Aku harus membuat penyesalan itu berharga, kan?"

Evelyn menelan ludah. "Aku tidak tahu apa maksudmu, Riccardo."

Dia tertawa, sebuah tawa kering yang tanpa humor. "Jangan jadi bodoh. Kau tahu. Kau tahu bahwa utang itu hanyalah alasan bagiku untuk menahan kau. Utang itu bisa kubayar sepuluh kali lipat. Tapi aku ingin kau membayar dengan caramu sendiri."

Dia memiringkan kepalanya, mata gelapnya menelanjangi Evelyn, menembus lapisan pelayan toko yang ia kenakan.

"Kau adalah wanita yang kuat. Kau bukan lagi gadis kecil yang menangis di hadapanku sepuluh tahun lalu. Kau melarikan diri dariku. Kau bersembunyi di pelukan Ivanovic Romanov. Itu menyakitiku, Evelyn."

"Itu adalah keputusan yang harus kuambil untuk menyelamatkan diriku," Evelyn berbisik.

"Menyelamatkan diri?" Riccardo tersenyum lebar kali ini, memperlihatkan gigi putihnya yang sempurna. "Kau pikir Ivanovic itu penyelamat? Dia hanya pria lain yang menginginkan kau, sama sepertiku. Bedanya, aku punya hak legal, Evelyn. Aku punya perjanjian yang mengikat kau."

Dia menarik tubuhnya lebih dekat, jarak di antara mereka sekarang hanya beberapa inci. Evelyn bisa mencium aroma kayu cendana, asap tembakau mahal, dan kekuasaan yang tajam dari tubuhnya.

"Satu tahun," katanya, suaranya turun menjadi gemuruh. "Satu tahun lagi, utang itu akan lunas. Tapi aku tidak bisa menunggu selama itu, mia cara."

Riccardo mengangkat tangan dan menyentuh pipi Evelyn, ibu jarinya membelai tulang pipinya. Sentuhan itu panas dan menuntut. "Aku sudah menahan diri selama bertahun-tahun, Evelyn. Sejak pertama kali aku melihat kau di Palma, ketakutan tapi berjuang. Aku melihat api di matamu. Dan api itu, aku ingin menggunakannya untuk menghangatkan ranjangku. Aku ingin kau. Malam ini. Bukan sebagai pembayaran utang. Tapi sebagai hadiah darimu untukku."

Rasa mual menyeruak di perut Evelyn. Ini dia. Momen yang ia duga. Momen di mana ia harus membuat keputusan. Menjadi budak obsesi pria ini, atau lari dan menghadapi seluruh kartel La Sanguina.

Evelyn memaksa dirinya untuk tidak bergetar. Dia menatap langsung ke mata Riccardo, sebuah tindakan keberanian yang hampir gila.

"Aku tidak datang ke sini untuk menawar, Riccardo. Aku hanya membawa anggur yang kau minta," kata Evelyn. "Dan aku akan pergi."

Wajah Riccardo menjadi kaku. Sentuhan lembutnya tadi menghilang, digantikan oleh cengkeraman baja di dagu Evelyn. Ia memaksanya untuk menatapnya.

"Kau menolakku?"

"Aku menghormati perjanjian. Aku melayani di Delizia. Aku bekerja. Aku membayar utang. Itu saja. Tidak ada lagi yang termasuk dalam kesepakatan itu," jawab Evelyn, setiap kata terasa seperti api yang membakar lidahnya. Ia tahu ia mempertaruhkan segalanya.

Riccardo mengamatinya selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Mata gelapnya menjelajahi matanya, mencoba mencari celah, kebohongan, atau rasa takut yang bisa ia eksploitasi. Tapi yang ia temukan hanyalah kelelahan dan tekad.

"Keberanianmu ini... itu yang membuat kau begitu menarik, Evelyn," katanya pelan. Cengkeramannya mengendur, lalu dia melepaskannya. Evelyn mundur selangkah.

"Pergi," perintah Riccardo. Dia berbalik lagi, menghadap Laut Tengah. Bahunya terlihat tegang. "Kau sudah memenuhi perintah. Jangan kembali sampai aku memanggil kau lagi. Dan Evelyn... jangan pernah berpikir untuk lari lagi. Kau tahu apa yang terjadi terakhir kali. Kali ini, aku tidak akan memanggil kau kembali. Aku hanya akan mengurus Romanov sialan itu."

Ancaman itu jelas. Ancaman itu dingin. Dia tidak mengancam Evelyn. Dia mengancam Nikolai Volkov. Pria yang telah melindunginya selama empat tahun, pria yang mencintainya.

Evelyn tidak menunggu sedetik pun lagi. Dia berbalik dan berlari. Dia tidak peduli dengan penampilannya, dia tidak peduli dengan para pelayan. Dia berlari melalui lorong-lorong vila yang mewah, udara terasa berat, mencekiknya.

Ketika ia mencapai Fiat Panda tuanya dan menyalakannya, tangannya gemetar. Riccardo tidak marah. Itu lebih buruk. Dia hanya mengingatkannya bahwa permainan telah berubah. Utang hanyalah MacGuffin. Permasalahannya adalah obsesi.

Evelyn melaju kencang menjauhi Il Drago, air matanya bercampur dengan keringat dingin di pipinya.

"Aku tidak bisa menunggu satu tahun," Evelyn bergumam pada dirinya sendiri, tinjunya memukul kemudi mobil. "Aku tidak bisa menunggu sampai utang ini lunas. Begitu lunas, aku tidak punya alasan untuk lari. Aku harus lari sekarang. Aku harus menghilang. Sebelum dia membuat langkah berikutnya."

Dia tahu, keputusan ini berarti ia harus mengkhianati perjanjian. Dia harus melarikan diri, menyisakan sisa utangnya. Itu berarti Riccardo akan marah besar, jauh lebih besar daripada kemarahan sebelumnya. Ini berarti perang, bukan hanya antara Kartel, tetapi perang pribadi antara Evelyn dan pria paling berbahaya di Italia.

Tapi dia tidak punya pilihan. Menyerah berarti kehilangan jiwanya, menjadi milik Riccardo secara fisik dan mental. Dan itu adalah neraka yang tidak bisa ia bayar.

Saat matahari mulai condong ke barat, Evelyn Rossi, si pelayan toko pizza yang terkunci dalam utang, akhirnya membuat keputusan. Rencana harus disusun. Dalam tiga bulan ke depan, ia harus mengumpulkan cukup uang gelap (uang tunai, bukan transfer bank yang bisa dilacak Riccardo), mendapatkan paspor palsu, dan menghilang dari Palma tanpa jejak.

Dan dia harus mencari cara untuk meninggalkan pesan pada Nikolai Volkov-untuk memberi tahu pria Rusia itu agar tidak datang mencarinya. Karena jika Nikolai datang, itu bukan hanya tentang menyelamatkan Evelyn. Itu akan menjadi pemusnahan total, perang kartel yang akan menenggelamkan seluruh Italia dalam darah.

Tekadnya kini sudah bulat. Ia harus lari. Sendiri. Dan hidup, atau mati, sebagai wanita bebas.

Malam itu di Delizia, Evelyn tidak lagi melihat panggangan dan adonan. Yang ia lihat hanyalah peta, rute pelarian, dan bayangan Riccardo yang menatap tajam dari kejauhan. Hitung mundurnya tidak lagi menuju kebebasan yang sah. Hitung mundurnya telah berubah: menjadi hitungan mundur menuju pelarian yang putus asa.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Adrian

Selebihnya

Buku serupa

MENIKAH DENGAN SULTAN

MENIKAH DENGAN SULTAN

Evie Yuzuma
5.0

“Nay! rempeyek kacang apaan kayak gini? Aku ‘kan bilang mau pakai kacang tanah, bukan kacang hijau!” pekik Natasya. Dia membanting bungkusan rempeyek yang sudah Rinai siapkan untuknya. Natasya berniat membawanya ke rumah calon mertuanya dan mengatakan jika itu adalah rempeyek buatannya. “Maaf, Sya! Bahan-bahannya habis kemarin. Aku uangnya kurang, Sya! Uang yang kamu kasih, sudah aku pakai buat berobat ibu. Ibu lagi sakit,” getar suara Rinai sambil membungkuk hendak memungut plastik yang dilempar kakak tirinya itu. Namun kaki Natasya membuat pergerakannya terhenti. Dia menginjak-injak plastik rempeyek itu hingga hancur. *** “Aku mau beli semuanya!” ucap lelaki itu lagi. “T—tapi, Bang … yang ini pada rusak!” ucap Rinai canggung. “Meskipun bentuknya hancur, rasanya masih sama ‘kan? Jadi aku beli semuanya! Kebetulan lagi ada kelebihan rizki,” ucap lelaki itu kembali meyakinkan. “Makasih, Bang! Maaf aku terima! Soalnya aku lagi butuh banget uang buat biaya Ibu berobat!” ucap Rinai sambil memasukkan rempeyek hancur itu ke dalam plastik juga. “Aku suka perempuan yang menyayangi ibunya! Anggap saja ini rejeki ibumu!” ucap lelaki itu yang bahkan Rinai sendiri belum mengetahui siapa namanya. Wira dan Rinai dipertemukan secara tidak sengaja, ketika lelaki keturunan konglomerat itu tengah memeriksa sendiri ke lapangan tentang kecurigaan kecurangan terhadap project pembangunan property komersil di salah satu daerah kumuh. Tak sengaja dia melihat seoarng gadis manis yang setiap hari berjualan rempeyek, mengais rupiah demi memenuhi kebutuhannya dan sang ibu. Mereka mulai dekat ketika Rinai menghadapi masalah dengan Tasya---saudara tirinya yang seringkali menghina dan membullynya. Masa lalu orang tua mereka, membuat Rinai harus merasakan akibatnya. Harum---ibunda Rinai pernah hadir menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang tua Tasya. Tasya ingin menghancurkan Rinai, dia bahkan meminta Rendi yang menanangani project pembangunan property komersil tersebut, untuk segera menggusur bangunan sederhana tempat tinggal Rinai. Dia tak tahu jika lelaki yang menyamar sebagai pemulung itu adalah bos dari perusahaan tempat kekasihnya bekerja. Wira dan Rinai perlahan dekat. Rinai menerima Wira karena tak tahu latar belakang lelaki itu sebenarnya. Hingga pada saatnya Wira membuka jati diri, Rinai benar-benar gamang dan memilih pergi. Dia merasa tak percaya diri harus bersanding dengan orang sesempurna Wira. Wira sudah frustasi kehilangan jejak kekasih hatinya. Namun tanpa disangka, takdir justru membawanya mendekat. Rinai yang pergi ke kota, rupanya bekerja menjadi ART di rumah Wira. Bagaimanakah kisah keduanya? Akankah Rinai kembali melarikan diri ketika tahu jika majikannya adalah orang tua Wira?

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy
5.0

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku