Ketika Keabadian Runtuh: Kenyataan Pahit Cinta

Ketika Keabadian Runtuh: Kenyataan Pahit Cinta

Kameko Leitman

5.0
Komentar
272
Penayangan
17
Bab

Suamiku, Baskara Aditama, seorang miliarder teknologi, adalah pria yang sempurna. Selama dua tahun, dia memujaku, dan pernikahan kami membuat semua orang yang kami kenal iri. Lalu seorang wanita dari masa lalunya muncul, menggandeng tangan seorang anak laki-laki berusia empat tahun yang pucat dan sakit-sakitan. Anaknya. Anak itu menderita leukemia, dan Baskara menjadi terobsesi untuk menyelamatkannya. Setelah sebuah insiden di rumah sakit, anaknya mengalami kejang. Dalam kekacauan itu, aku terjatuh dengan keras, rasa sakit yang hebat melilit perutku. Baskara berlari melewatiku begitu saja sambil menggendong anaknya, dan meninggalkanku bersimbah darah di lantai. Aku kehilangan bayi kami hari itu, sendirian. Dia bahkan tidak pernah menelepon. Ketika dia akhirnya muncul di ranjang rumah sakitku keesokan paginya, dia mengenakan setelan jas yang berbeda. Dia memohon ampun karena tidak ada di sisiku, tanpa tahu alasan sebenarnya di balik air mataku. Lalu aku melihatnya. Sebuah bekas ciuman berwarna gelap di lehernya. Dia telah bersama wanita itu saat aku kehilangan anak kami. Dia memberitahuku bahwa keinginan terakhir putranya yang sekarat adalah melihat orang tuanya menikah. Dia memohon padaku untuk menyetujui perpisahan sementara dan pernikahan palsu dengannya. Aku menatap wajahnya yang putus asa dan egois, dan sebuah ketenangan yang aneh menyelimutiku. "Baiklah," kataku. "Aku akan melakukannya."

Ketika Keabadian Runtuh: Kenyataan Pahit Cinta Bab 1

Suamiku, Baskara Aditama, seorang miliarder teknologi, adalah pria yang sempurna. Selama dua tahun, dia memujaku, dan pernikahan kami membuat semua orang yang kami kenal iri.

Lalu seorang wanita dari masa lalunya muncul, menggandeng tangan seorang anak laki-laki berusia empat tahun yang pucat dan sakit-sakitan. Anaknya.

Anak itu menderita leukemia, dan Baskara menjadi terobsesi untuk menyelamatkannya. Setelah sebuah insiden di rumah sakit, anaknya mengalami kejang. Dalam kekacauan itu, aku terjatuh dengan keras, rasa sakit yang hebat melilit perutku.

Baskara berlari melewatiku begitu saja sambil menggendong anaknya, dan meninggalkanku bersimbah darah di lantai.

Aku kehilangan bayi kami hari itu, sendirian. Dia bahkan tidak pernah menelepon.

Ketika dia akhirnya muncul di ranjang rumah sakitku keesokan paginya, dia mengenakan setelan jas yang berbeda. Dia memohon ampun karena tidak ada di sisiku, tanpa tahu alasan sebenarnya di balik air mataku.

Lalu aku melihatnya. Sebuah bekas ciuman berwarna gelap di lehernya.

Dia telah bersama wanita itu saat aku kehilangan anak kami.

Dia memberitahuku bahwa keinginan terakhir putranya yang sekarat adalah melihat orang tuanya menikah. Dia memohon padaku untuk menyetujui perpisahan sementara dan pernikahan palsu dengannya.

Aku menatap wajahnya yang putus asa dan egois, dan sebuah ketenangan yang aneh menyelimutiku.

"Baiklah," kataku. "Aku akan melakukannya."

Bab 1

Bau antiseptik yang khas memenuhi hidungku di klinik. Aku duduk di tepi ranjang pemeriksaan, memperhatikan seorang perawat dengan rapi membalut luka kecil di tanganku. Goresan bodoh karena pisau dapur.

Ini bukan apa-apa, sungguh, tapi Baskara memaksa aku memeriksakannya.

Pintu klinik terbuka dengan kasar dan dia bergegas masuk, setelan jas mahalnya sedikit kusut.

"Elara, kamu baik-baik saja?"

Matanya, mata yang sama yang biasa memerintah di ruang rapat, kini melebar karena cemas. Dia bergegas menghampiri, mengabaikan perawat, dan meraih tanganku yang tidak terluka.

"Baskara, aku baik-baik saja. Ini hanya luka gores kecil."

Dia sepertinya tidak mendengarku. Dia memeriksa perban baru itu seolah-olah itu adalah luka besar, ibu jarinya dengan lembut mengelus pergelangan tanganku.

"Kamu harus lebih hati-hati," gumamnya, suaranya rendah dan penuh dengan rasa cemas posesif yang familier, yang selalu membuat jantungku berdebar kencang.

Perawat itu, seorang wanita muda dengan wajah ramah, tersenyum pada kami.

"Ibu sungguh beruntung. Suami Ibu pasti sangat mencintai Ibu."

Aku balas tersenyum, perasaan hangat menyebar di dadaku. "Aku tahu."

Kami adalah pasangan yang sempurna. Elara Wijaya dan Baskara Aditama. Mantan mixologist yang melepaskan kariernya demi miliarder teknologi yang memujanya. Dua tahun pernikahan yang menjadi idaman semua orang yang kami kenal.

Tiba-tiba, tangisan anak kecil yang menyayat hati memecah keheningan klinik. Itu adalah suara kesakitan murni, diikuti oleh suara seorang wanita yang putus asa mencoba menenangkan.

Suara itu datang dari kamar sebelah. Senyumku memudar.

Perawat itu menghela napas, ekspresinya berubah sedih. "Kasihan anak itu. Dia datang untuk kemoterapi."

"Kemoterapi?" tanyaku, luka kecilku sendiri terlupakan.

"Leukemia," katanya pelan. "Baru berumur empat tahun. Sungguh malang."

Gelombang simpati menyelimutiku. Aku tidak bisa membayangkan rasa sakit yang dialami anak itu dan ibunya.

"Mengerikan sekali," bisikku.

Baskara meremas tanganku, nadanya acuh tak acuh. "Itu menyedihkan, tapi tidak ada hubungannya dengan kita, Elara. Ayo kita pulang."

Dia selalu seperti itu-fokus, sedikit dingin jika menyangkut hal-hal di luar dunia kami yang sempurna. Dia mulai membantuku turun dari ranjang, siap untuk pergi.

Tapi kemudian pintu kamar sebelah terbuka. Seorang wanita dengan mata lelah dan pakaian murah keluar, menggandeng tangan seorang anak laki-laki kecil yang pucat.

Anak itu menangis pelan, wajahnya basah oleh air mata. Wanita itu tampak putus asa, matanya memindai ruangan sampai mendarat pada Baskara.

Dia membeku. Lalu, wajahnya berubah kaget bercampur dengan sesuatu yang lain yang tidak bisa kuberi nama.

Dia maju selangkah, menarik anak kecil itu bersamanya.

"Baskara?" katanya, suaranya bergetar. "Baskara Aditama?"

Tubuh Baskara menegang di sampingku. Dia tidak berbalik. Dia tidak berbicara.

Wanita itu mengambil langkah lagi. "Ini aku. Karin. Dari Bali? Empat tahun yang lalu."

Aku memandang dari wanita itu ke suamiku, jantungku mulai berdetak sedikit terlalu cepat. Aku merasakan firasat buruk yang dingin merayap di tulang punggungku.

Anak kecil itu, Leo, menatap Baskara. Dan di wajahnya yang kecil dan pucat, aku melihatnya. Garis rahangnya yang tajam. Matanya yang dalam. Dia adalah versi mini dari suamiku.

Baskara akhirnya berbalik, wajahnya bagai topeng ketidakpercayaan. "Aku tidak kenal kau."

Penyangkalannya cepat, terlalu cepat.

"Di Mulia Resort," desak Karin, suaranya menguat. "Kau di sana untuk konferensi teknologi. Kita... kita menghabiskan malam bersama."

Sebuah ingatan muncul, sesuatu yang pernah Baskara ceritakan padaku dulu sekali. Kesalahan mabuk di Bali sebelum dia bertemu denganku. Dia bilang itu hanya cinta satu malam yang tidak berarti, sebuah kesalahan bodoh yang dia sesali.

Pandanganku kembali tertuju pada anak itu, Leo. Empat tahun.

Perhitungannya sederhana. Perhitungannya brutal.

Gelembung hangat dan bahagia tempatku hidup tidak hanya pecah. Gelembung itu hancur berkeping-keping es yang dingin.

Aku menatap Baskara, suaraku nyaris tak terdengar. "Apa itu benar?"

Dia tidak mau menatap mataku.

"Kita butuh tes DNA," kataku, kata-kata itu terasa asing di mulutku. Suaraku sendiri terdengar jauh, seperti milik orang lain.

Menunggu hasilnya adalah satu jam terpanjang dalam hidupku. Karin duduk diam, memeluk putranya, ekspresinya tenang, nyaris penuh kemenangan. Baskara mondar-mandir, wajahnya muram, karismanya lenyap, digantikan oleh rasa bersalah yang mentah dan membara.

Aku hanya duduk di sana, tangan terkepal di pangkuanku, mencoba menahan diri. Aku merasa mati rasa, seolah sedang menonton film tentang hidupku yang berantakan.

Akhirnya, perawat itu kembali dengan selembar kertas. Dia tidak perlu mengucapkan sepatah kata pun. Raut wajahnya sudah cukup.

Hasilnya mengonfirmasi. 99,9% kemungkinan.

Leo adalah putra Baskara.

Baskara menatap kertas itu, wajahnya pucat pasi. Dia menatapku, mulutnya membuka dan menutup, tetapi tidak ada kata yang keluar. Dia hanya tampak tersesat, hancur.

Karin mulai terisak, suara yang dibuat-buat agar terdengar menyedihkan. Dia menarik Leo lebih dekat.

"Baskara, dia sekarat," isaknya. "Dokter bilang dia butuh transplantasi sumsum tulang. Kau satu-satunya harapannya. Tolong, dia putramu."

Kata 'putra' seolah menghantam Baskara seperti pukulan fisik. Dia menatap anak laki-laki kecil yang sakit itu, pada air mata di wajahnya, dan sesuatu dalam diri suamiku berubah. Rasa bersalah di matanya digantikan oleh rasa tanggung jawab yang kuat dan putus asa.

Dia menatapku, tapi tatapannya jauh. Seolah-olah dia sudah berada di dunia lain, dunia di mana aku tidak ada.

"Elara," katanya, suaranya tegang. "Pulanglah. Aku... aku akan menangani ini. Pulang saja dan istirahat."

Pulanglah.

Kata-kata itu bergema di kepalaku. Dia mengusirku. Dalam krisis nyata pertama pernikahan kami, dia memilih mereka. Dia mendorongku keluar.

Itu adalah sebuah penghakiman. Sebuah vonis. Dan pada saat itu, aku tahu aku telah kalah.

Aku bahkan tidak bisa menemukan amarah untuk melawan. Aku hanya merasakan kesedihan yang mendalam dan mengosongkan jiwa. Inilah pria yang telah berjanji untuk mencintai dan melindungiku selamanya. Pria yang kucintai dengan segenap jiwa ragaku.

Tapi dia punya rahasia. Rahasia berusia empat tahun yang kini sedang sekarat. Dan aku tidak bisa membencinya karena ingin menyelamatkan anaknya.

Aku berdiri, kakiku terasa goyah. Dunia sedikit miring. Aku berjalan keluar dari klinik, meninggalkannya di sana dengan masa lalunya, putranya, dan wanita yang baru saja menghancurkan masa depanku.

Aku kembali ke rumah kami yang indah dan kosong. Potret pernikahan besar di lobi seolah mengejekku. Wajah kami yang tersenyum, begitu penuh harapan. Itu membuatku mual.

Gelombang pusing yang hebat menghantamku, dan dunia menjadi gelap.

Ketika aku sadar, aku berada di tempat tidurku sendiri. Asisten rumah tangga kami, Bi Imah, menatapku dengan cemas.

"Nyonya Baskara pingsan. Saya sudah panggil dokter."

Dokter, seorang pria berwajah ramah, sedang membereskan tasnya. Dia tersenyum lembut.

"Selamat, Nyonya Baskara. Anda hamil."

Hamil.

Kata itu menggantung di udara. Percikan kecil kegembiraan berkedip di dalam diriku, segera diikuti oleh gelombang ketidakpastian yang menghancurkan. Seorang bayi. Bayi kami.

Tapi apakah Baskara masih menginginkan bayi kami sekarang?

"Di mana dia?" tanyaku pada Bi Imah, suaraku lemah. "Di mana Baskara?"

"Beliau belum pulang, Nyonya. Beliau belum menelepon."

Dia masih di rumah sakit. Bersama mereka.

Aku berbaring di sana, satu tangan di perutku yang rata, tangan lainnya menggenggam ponselku, badai kegembiraan dan ketakutan berkecamuk di dalam diriku.

Dia tinggal di rumah sakit sepanjang malam. Dia tidak pernah menelepon. Dia tidak pernah mengirim pesan.

Keesokan paginya, saat aku duduk sendirian di meja makan besar mencoba memaksakan diri makan roti panggang, ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

Aku tahu kau sedang mencari keluargamu. Kurasa aku bisa membantu.

Aku menatap layar, jantungku berdebar kencang. Keluargaku. Keluarga yang tidak bisa kuingat. Keluarga yang kukira telah hilang selamanya.

Aku mengetik balasan dengan satu kata gemetar.

Siapa ini?

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Kameko Leitman

Selebihnya

Buku serupa

Bosku Kenikmatanku

Bosku Kenikmatanku

Juliana
5.0

Aku semakin semangat untuk membuat dia bertekuk lutut, sengaja aku tidak meminta nya untuk membuka pakaian, tanganku masuk kedalam kaosnya dan mencari buah dada yang sering aku curi pandang tetapi aku melepaskan terlebih dulu pengait bh nya Aku elus pelan dari pangkal sampai ujung, aku putar dan sedikit remasan nampak ci jeny mulai menggigit bibir bawahnya.. Terus aku berikan rangsang an dan ketika jari tanganku memilin dan menekan punting nya pelan "Ohhsss... Hemm.. Din.. Desahannya dan kedua kakinya ditekuk dilipat kan dan kedua tangan nya memeluk ku Sekarang sudah terlihat ci jeny terangsang dan nafsu. Tangan kiri ku turun ke bawah melewati perutnya yang masih datar dan halus sampai menemukan bukit yang spertinya lebat ditumbuhi bulu jembut. Jari jariku masih mengelus dan bermain di bulu jembutnya kadang ku tarik Saat aku teruskan kebawah kedalam celah vaginanya.. Yes sudah basah. Aku segera masukan jariku kedalam nya dan kini bibirku sudah menciumi buah dadanya yang montok putih.. " Dinn... Dino... Hhmmm sssttt.. Ohhsss.... Kamu iniii ah sss... Desahannya panjang " Kenapa Ci.. Ga enak ya.. Kataku menghentikan aktifitas tanganku di lobang vaginanya... " Akhhs jangan berhenti begitu katanya dengan mengangkat pinggul nya... " Mau lebih dari ini ga.. Tanyaku " Hemmm.. Terserah kamu saja katanya sepertinya malu " Buka pakaian enci sekarang.. Dan pakaian yang saya pake juga sambil aku kocokan lebih dalam dan aku sedot punting susu nya " Aoww... Dinnnn kamu bikin aku jadi seperti ini.. Sambil bangun ke tika aku udahin aktifitas ku dan dengan cepat dia melepaskan pakaian nya sampai tersisa celana dalamnya Dan setelah itu ci jeny melepaskan pakaian ku dan menyisakan celana dalamnya Aku diam terpaku melihat tubuh nya cantik pasti,putih dan mulus, body nya yang montok.. Aku ga menyangka bisa menikmati tubuh itu " Hai.. Malah diem saja, apa aku cuma jadi bahan tonton nan saja,bukannya ini jadi hayalanmu selama ini. Katanya membuyarkan lamunanku " Pastinya Ci..kenapa celana dalamnya ga di lepas sekalian.. Tanyaku " Kamu saja yang melepaskannya.. Kata dia sambil duduk di sofa bed. Aku lepaskan celana dalamku dan penislku yang sudah berdiri keras mengangguk angguk di depannya. Aku lihat di sempat kagett melihat punyaku untuk ukuran biasa saja dengan panjang 18cm diameter 4cm, setelah aku dekatkan ke wajahnya. Ada rasa ragu ragu " Memang selama ini belum pernah Ci melakukan oral? Tanyaku dan dia menggelengkan kepala

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Ketika Keabadian Runtuh: Kenyataan Pahit Cinta Ketika Keabadian Runtuh: Kenyataan Pahit Cinta Kameko Leitman Miliarder
“Suamiku, Baskara Aditama, seorang miliarder teknologi, adalah pria yang sempurna. Selama dua tahun, dia memujaku, dan pernikahan kami membuat semua orang yang kami kenal iri. Lalu seorang wanita dari masa lalunya muncul, menggandeng tangan seorang anak laki-laki berusia empat tahun yang pucat dan sakit-sakitan. Anaknya. Anak itu menderita leukemia, dan Baskara menjadi terobsesi untuk menyelamatkannya. Setelah sebuah insiden di rumah sakit, anaknya mengalami kejang. Dalam kekacauan itu, aku terjatuh dengan keras, rasa sakit yang hebat melilit perutku. Baskara berlari melewatiku begitu saja sambil menggendong anaknya, dan meninggalkanku bersimbah darah di lantai. Aku kehilangan bayi kami hari itu, sendirian. Dia bahkan tidak pernah menelepon. Ketika dia akhirnya muncul di ranjang rumah sakitku keesokan paginya, dia mengenakan setelan jas yang berbeda. Dia memohon ampun karena tidak ada di sisiku, tanpa tahu alasan sebenarnya di balik air mataku. Lalu aku melihatnya. Sebuah bekas ciuman berwarna gelap di lehernya. Dia telah bersama wanita itu saat aku kehilangan anak kami. Dia memberitahuku bahwa keinginan terakhir putranya yang sekarat adalah melihat orang tuanya menikah. Dia memohon padaku untuk menyetujui perpisahan sementara dan pernikahan palsu dengannya. Aku menatap wajahnya yang putus asa dan egois, dan sebuah ketenangan yang aneh menyelimutiku. "Baiklah," kataku. "Aku akan melakukannya."”
1

Bab 1

29/10/2025

2

Bab 2

29/10/2025

3

Bab 3

29/10/2025

4

Bab 4

29/10/2025

5

Bab 5

29/10/2025

6

Bab 6

29/10/2025

7

Bab 7

29/10/2025

8

Bab 8

29/10/2025

9

Bab 9

29/10/2025

10

Bab 10

29/10/2025

11

Bab 11

29/10/2025

12

Bab 12

29/10/2025

13

Bab 13

29/10/2025

14

Bab 14

29/10/2025

15

Bab 15

29/10/2025

16

Bab 16

29/10/2025

17

Bab 17

29/10/2025