Cinta yang Kupikir Abadi, Ternyata Bohong

Cinta yang Kupikir Abadi, Ternyata Bohong

Endarwati

5.0
Komentar
6
Penayangan
25
Bab

Aldric dan Keira menikah bukan karena cinta, melainkan karena kesepakatan antara dua keluarga besar. Bagi Aldric, pernikahan itu hanyalah langkah strategis demi mendapatkan kembali perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Sementara bagi Keira, pernikahan itu satu-satunya cara menyelamatkan ibunya dari hutang dan tekanan yang menghancurkan. Keduanya menandatangani perjanjian: mereka akan hidup bersama selama dua tahun, tanpa ikatan emosional, tanpa campur tangan satu sama lain, lalu bercerai ketika tujuan masing-masing tercapai. Namun, takdir sering kali berbuat iseng. Di balik semua kesepakatan dingin itu, perlahan tumbuh sesuatu yang tak seharusnya tumbuh-rasa nyaman, perhatian, bahkan cinta yang tak diinginkan. Sayangnya, ketika rasa itu mulai muncul di hati Keira, Aldric justru semakin menjauh. Ia mulai kembali dekat dengan mantan kekasihnya, Mira, seorang wanita ambisius yang dulu meninggalkannya karena status. Kini, setelah Aldric kembali kaya dan berkuasa, Mira datang membawa janji manis tentang cinta lama yang belum padam. Ketika kabar bahwa perusahaan ayah Keira telah diselamatkan dan hutang-hutang lunas, Aldric pun memutuskan untuk menepati bagian akhir perjanjian mereka: perceraian. Ia berpikir itu langkah terbaik-agar bisa menikahi Mira, wanita yang selama ini ia yakini sebagai cinta sejatinya. Keira menerima keputusan itu tanpa perlawanan. Hanya satu syarat yang ia minta-agar Aldric tak mencari atau mengganggunya lagi setelah berpisah. Ia pergi jauh, meninggalkan semua kenangan, membawa luka yang hanya ia tahu dalamnya. Lima tahun berlalu. Aldric hidup dengan kesuksesan, tapi hatinya kosong. Mira memang bersamanya, tapi ada jarak yang tak bisa dijembatani. Hingga suatu hari, sebuah proyek sosial membawanya ke sebuah kota kecil di tepi laut. Di sanalah, takdir mempertemukannya lagi dengan Keira-bersama seorang anak laki-laki berusia empat tahun yang memiliki mata dan senyum yang... sama persis dengannya. Dunia Aldric seketika berhenti. Rasa bersalah, marah, dan penyesalan bertubrukan dalam dadanya. Ia baru menyadari betapa banyak hal yang ia abaikan selama ini-terutama seorang anak yang ternyata adalah darah dagingnya sendiri. Kini pertanyaannya bukan lagi soal warisan, atau cinta lamanya pada Mira. Tapi tentang apakah Aldric berani memperjuangkan kembali Keira dan anak mereka, ataukah ia akan kembali menjadi pria pengecut yang hanya tahu melarikan diri dari tanggung jawab dan perasaan.

Cinta yang Kupikir Abadi, Ternyata Bohong Bab 1 Putra tunggal

Hujan turun deras malam itu. Deru air menabrak jendela kaca besar di ruang tamu rumah megah milik keluarga Delvane. Di balik kaca itu, seorang pria berdiri diam, memandangi kilat yang sesekali membelah langit dengan tatapan hampa.

Aldric Delvane.

Putra tunggal dari pengusaha legendaris yang baru saja meninggal dunia dua bulan lalu. Di pundaknya kini tertumpuk beban besar-menjaga perusahaan keluarga dari kebangkrutan yang mengintai.

Namun yang membuat napasnya terasa sesak bukan hanya urusan bisnis. Malam itu, ia baru saja menerima pesan singkat dari Mira, perempuan yang dulu sempat menjadi seluruh hidupnya.

"Aku sudah kembali ke Jakarta. Aku ingin kita bicara, Ric. Tentang kita... dan tentang masa lalu yang belum selesai."

Pesan itu sederhana, tapi cukup membuat dadanya bergetar aneh. Mira-wanita yang dulu menolaknya karena ia tak lagi punya apa-apa. Kini, setelah ia kembali berdiri tegak di puncak kekayaan dan kekuasaan, Mira datang lagi.

Aldric tersenyum miring, meneguk scotch yang ada di tangannya.

Namun senyum itu memudar ketika langkah kaki lembut terdengar di belakangnya.

"Sudah larut. Kau masih bekerja?" suara itu lembut tapi datar.

Aldric menoleh. Seorang wanita dengan gaun sederhana berwarna putih berdiri di ambang pintu. Rambut hitamnya diikat rendah, wajahnya pucat namun tenang. Keira.

Istrinya.

Atau lebih tepatnya-istri kontrak yang dinikahinya setahun lalu demi menyelamatkan perusahaannya.

"Tidak," jawab Aldric pendek, menaruh gelas di meja. "Aku hanya butuh udara."

Keira berjalan pelan ke arah sofa, duduk sambil memeluk lutut. "Kau lupa makan malam lagi."

"Aku tidak lapar."

Keira menghela napas. "Kau bilang hal yang sama semalam. Dan malam sebelumnya."

Suasana hening menelan keduanya. Hanya suara hujan yang menemani.

Aldric tak pernah tahu bagaimana harus memperlakukan Keira. Di satu sisi, ia merasa berutang padanya-karena pernikahan ini menyelamatkan nama baik keluarganya dan mengembalikan sebagian saham perusahaan. Tapi di sisi lain, ia juga tak bisa memaksakan perasaan yang tak pernah tumbuh.

Ia menikahi Keira dengan kesadaran penuh bahwa tidak akan ada cinta di antara mereka. Semua hanya transaksi.

Dan Keira tahu itu sejak awal.

Namun entah mengapa, beberapa bulan terakhir, pandangan mata Keira berubah. Ada sesuatu di sana-rasa yang tak berani diungkapkan. Dan justru itu yang membuat Aldric gelisah.

"Besok pagi aku akan ke kantor lebih awal," katanya, mencoba memutus keheningan. "Kau tak perlu menungguku sarapan."

Keira hanya mengangguk, suaranya nyaris tak terdengar, "Baik."

Aldric menatap wajahnya sejenak. Wajah yang selalu tampak tenang tapi penuh kesedihan. Seolah Keira sudah terbiasa menahan kecewa.

Ia ingin berkata sesuatu, tapi tak tahu apa. Dan seperti malam-malam sebelumnya, ia memilih diam.

Ia melangkah pergi ke kamar kerja, meninggalkan Keira sendirian di ruang tamu dengan cahaya lampu yang redup.

Keira menatap punggungnya yang menjauh. Di matanya, genangan air tampak berkilat, tapi tak satu pun tetes air mata jatuh.

Sudah setahun ia menjalani pernikahan ini, dan setiap hari terasa seperti berdiri di pinggir jurang-menunggu waktu hingga semuanya runtuh.

Keesokan paginya, langit cerah. Rumah besar itu sepi, seperti biasa.

Keira duduk di meja makan, memandangi piring sarapannya yang tak tersentuh. Ia mengenakan kemeja putih dan celana bahan, siap berangkat ke galeri kecil tempatnya bekerja. Ia tidak mau hanya menjadi "istri kaya yang duduk diam di rumah", meskipun Aldric pernah menawarinya segala kemewahan.

Ia lebih memilih memiliki sesuatu yang bisa disebut miliknya sendiri.

Namun pagi itu, sesuatu terasa berbeda. Ketika ia hendak mengambil tas, matanya menangkap sebuah amplop di atas meja.

Tulisan tangan Aldric di bagian depan membuatnya berhenti.

Tangannya bergetar saat membuka surat itu.

"Keira,

Terima kasih atas kerja samamu selama ini. Aku tahu ini tidak mudah bagimu. Tapi seperti yang pernah kita sepakati, begitu semua urusan selesai, kita akan menjalani hidup masing-masing.

Aku akan mengurus proses perceraian setelah semua dokumen perusahaan selesai.

Kau akan mendapat bagianmu sesuai perjanjian.

– Aldric"

Keira menatap kertas itu lama, sebelum akhirnya terdiam.

Jadi... waktunya sudah tiba.

Ia tahu hari ini akan datang, tapi tetap saja rasanya menyakitkan.

"Selama ini aku hanya bagian dari kesepakatan," gumamnya pelan. "Dan sekarang, tugasku selesai."

Air matanya akhirnya jatuh.

Bukan karena kehilangan cinta, tapi karena kehilangan harapan yang diam-diam ia tanamkan tanpa izin.

Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu tersenyum getir. "Baiklah, Aldric Delvane. Kalau ini yang kau inginkan... aku akan pergi tanpa menoleh lagi."

Tiga hari kemudian, Keira benar-benar pergi dari rumah itu.

Tanpa membuat drama, tanpa berteriak, tanpa menuntut apa pun. Ia hanya meninggalkan cincin pernikahan mereka di atas meja, persis di tempat Aldric biasa duduk.

Ketika Aldric pulang malam itu, rumah tampak kosong. Tak ada aroma masakan, tak ada langkah lembut di lantai marmer, tak ada suara piano yang biasanya dimainkan Keira setiap sore.

Hanya keheningan.

Dan cincin itu.

Aldric menatap benda kecil itu lama, dadanya terasa sesak.

Ia mengira akan merasa lega, tapi justru sebaliknya. Ada ruang hampa di dadanya yang tak bisa dijelaskan.

Namun ia menepis perasaan itu cepat-cepat.

"Ini memang yang terbaik," katanya dalam hati. "Semua sudah sesuai rencana."

Tapi bahkan saat ia mencoba tidur malam itu, suara lembut Keira masih terngiang di telinganya.

"Jangan lupa makan, Aldric..."

Sederhana, tapi entah mengapa justru kata-kata itu membuat matanya sulit terpejam.

Lima tahun berlalu.

Nama Aldric Delvane kembali bersinar di dunia bisnis. Ia dikenal sebagai CEO muda yang ambisius, berkarisma, dan tak pernah gagal dalam setiap proyeknya.

Ia punya segalanya-uang, kuasa, dan wanita yang dulu ia idamkan: Mira.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar ia miliki-ketenangan.

Mira sering menemaninya ke acara-acara besar, tapi hubungan mereka lebih seperti dua orang yang saling menggunakan. Mira mendapatkan status dan kemewahan, sementara Aldric mendapatkan kenangan masa lalu yang ia yakini sebagai cinta.

Namun setiap kali ia menatap mata Mira, yang ia lihat bukan cinta-melainkan bayangan Keira.

Wajah tenangnya. Tatapan lembutnya. Senyum samar yang tak pernah menuntut apa pun.

Hingga suatu hari, Aldric menerima surat undangan dari yayasan sosial yang bekerja sama dengan perusahaannya untuk pembangunan sekolah di daerah pesisir.

Ia memutuskan datang langsung ke lokasi, sebuah kota kecil bernama Aurora Bay.

Begitu sampai di sana, udara laut dan aroma asin membawanya pada ketenangan aneh. Tapi ketenangan itu hanya bertahan sampai ia melihat sosok perempuan di antara anak-anak yang sedang bermain di halaman sekolah baru itu.

Langkahnya terhenti.

Dunia seolah berhenti berputar.

Perempuan itu menunduk, membantu seorang anak kecil yang jatuh. Rambutnya diikat, senyumnya lembut. Ia mengenakan kemeja polos dan celana sederhana, tapi ada sesuatu yang membuat Aldric tidak bisa berpaling.

Keira.

Ia masih sama seperti dulu-tenang, anggun, dan berjarak. Tapi ada sesuatu yang baru dalam dirinya. Sebuah cahaya lembut di matanya.

Dan saat anak kecil itu berbalik memandang ke arah Aldric, waktu benar-benar berhenti.

Mata anak itu-warna cokelat tua yang dalam, sama persis dengan matanya sendiri.

Aldric terpaku.

Senyum anak itu begitu familiar, begitu menyayat. Ia seperti melihat versi kecil dirinya di masa lalu.

Tubuhnya kaku ketika Keira akhirnya sadar akan kehadirannya.

Tatapan mereka bertemu.

Sekejap mata itu membawa semua kenangan yang pernah mereka buang begitu saja-malam-malam hening, tatapan tanpa kata, surat perpisahan, dan keheningan yang dulu mereka ciptakan sendiri.

"Keira..." suara Aldric serak.

Keira menatapnya lama, tanpa ekspresi. "Tuan Delvane."

Hanya dua kata, tapi terasa seperti pisau yang menembus dadanya.

Begitu formal. Begitu jauh.

"Anak itu..." suaranya tercekat, menatap bocah kecil di samping Keira yang kini bersembunyi di balik tubuh ibunya. "Dia siapa?"

Keira menunduk, mengelus kepala bocah itu dengan lembut. "Namanya Liam."

"Berapa usianya?"

Keira tersenyum tipis, tapi tatapannya dingin. "Empat tahun."

Aldric membeku.

Empat tahun. Tepat satu tahun setelah mereka berpisah.

Pikirannya berputar cepat, menolak kenyataan yang perlahan menusuknya. Tapi satu pandangan pada wajah anak itu saja sudah cukup.

Dia tidak butuh tes DNA untuk tahu jawabannya.

Liam adalah anaknya.

"Aku ingin bicara," kata Aldric akhirnya, suaranya gemetar. "Berdua."

Keira menatapnya datar. "Untuk apa? Semua sudah selesai lima tahun lalu."

"Tidak," Aldric melangkah maju, matanya mulai memanas. "Kau menyembunyikannya dariku, Keira! Kau menyembunyikan anakku!"

Keira tersenyum pahit. "Kau kehilangan hak untuk menyebutnya 'anakmu' saat kau memilih pergi tanpa menoleh."

Kata-kata itu menusuk lebih tajam dari peluru.

Aldric terdiam. Di balik wajah dinginnya, Keira menahan gemetar di tangannya. Ia tak pernah berniat membuat pertemuan ini terjadi, tapi takdir punya caranya sendiri.

"Dia tidak butuhmu, Aldric," bisiknya. "Aku sudah cukup untuknya."

Aldric menatap Keira dengan pandangan campur aduk-marah, sedih, menyesal.

Ia ingin mengatakan ribuan hal, tapi tak ada kata yang keluar.

Semua terasa terlambat.

Namun satu hal yang ia tahu pasti-ia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan mereka lagi. Tidak kali ini.

Dan di bawah sinar matahari sore yang mulai redup, di depan sekolah sederhana di tepi laut itu, kisah lama yang belum selesai akhirnya terbuka kembali.

Bukan lagi tentang perjanjian, bukan tentang dendam, tapi tentang kesempatan kedua-yang mungkin datang terlambat.

Malam itu, Aldric berdiri di balkon hotel kecil tempat ia menginap. Di bawah sana, ombak berdebur lembut, sementara pikirannya berputar tanpa arah.

Ia tidak bisa berhenti memikirkan Liam-mata itu, senyum itu, bahkan cara anak itu memiringkan kepala saat berbicara.

Itu dirinya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aldric merasa benar-benar takut.

Takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya sudah lama menjadi miliknya, tapi tak pernah ia sadari.

Ia menatap langit yang gelap, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia berbisik pelan,

"Keira... beri aku kesempatan memperbaiki segalanya."

Namun jauh di sudut kota kecil itu, Keira memandangi Liam yang tertidur di pangkuannya, sambil menahan air mata yang hampir jatuh.

Ia tahu, badai lama baru saja datang kembali.

Dan hatinya belum siap menghadapinya lagi.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Endarwati

Selebihnya
Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu

Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu

Romantis

5.0

Alya adalah putri angkat dari seorang pengusaha terkenal bernama Haris dan istrinya, Ratna. Sejak kecil, Alya dibesarkan dengan kasih sayang dan dianggap seperti anak sendiri, meski ia tahu darahnya berbeda. Di rumah itu, Alya hidup berdampingan dengan anak kandung mereka, Revan, yang usianya terpaut empat tahun lebih tua. Awalnya hubungan Alya dan Revan berjalan baik. Revan bahkan sering melindungi Alya dari ejekan teman-temannya. Namun semuanya berubah ketika mereka beranjak dewasa. Revan mulai sering pulang larut malam, terjerat dalam pergaulan bebas, dan suatu malam - terjadi insiden kelam yang mengubah hidup Alya selamanya. Alya mengandung. Revan, ketakutan dan egois, menyangkal perbuatannya. Ia memaksa Alya menggugurkan kandungan agar reputasi keluarganya tidak hancur. Ratna, ibu angkat Alya, justru menyalahkannya dan menyuruh Alya pergi dari rumah sebelum aib itu diketahui publik. Dengan hati hancur, Alya meninggalkan rumah itu dan hidup seorang diri. Ia bertahan dengan bekerja serabutan, menanggung kehamilan sendirian hingga akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Rayan - cahaya kecil yang membuatnya kuat bertahan. Tahun demi tahun berlalu. Alya berhasil bangkit dan membuka usaha kecil. Hidupnya memang sederhana, tapi penuh ketenangan. Sampai suatu hari takdir mempertemukannya kembali dengan Revan dan keluarganya. Revan kini sudah berubah. Ia menyesal dan ingin menebus dosa masa lalunya setelah mengetahui bahwa Rayan adalah darah dagingnya sendiri. Ia mencoba mendekati Alya, meminta kesempatan untuk menjadi ayah bagi Rayan. Namun, bagi Alya, luka itu terlalu dalam. Ia tidak bisa begitu saja melupakan penghinaan dan penolakan di masa lalu. Ia hanya ingin melindungi anaknya dari masa lalu yang kelam. Revan terus berusaha - datang setiap hari, menjemput Rayan sekolah, membantu tanpa diminta, bahkan rela dihina oleh Alya berkali-kali. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan lagi pria pengecut yang dulu. Kini, pertanyaannya hanya satu - apakah hati Alya bisa luluh setelah semua luka yang pernah ia tanggung sendirian? Atau justru ia memilih menutup pintu selamanya, agar masa lalu tak lagi menyakitinya?

Buku serupa

Dari Pengantin Tercampakkan Menjadi Istri Saingannya

Dari Pengantin Tercampakkan Menjadi Istri Saingannya

Alvis Lane
5.0

Claudia dan Antonius telah saling mengenal selama dua belas tahun. Setelah tiga tahun berpacaran, tanggal pernikahan mereka telah ditetapkan. Berita tentang rencana pernikahan mereka mengguncang seluruh kota. Emosi memuncak ketika banyak wanita sangat iri padanya. Awalnya, Claudia tidak terlalu peduli dengan kebencian tersebut. Namun, ketika Antonius meninggalkannya di altar setelah menerima telepon, hatinya merasa hancur. "Dia pantas mendapatkannya!" Semua musuhnya menikmati kemalangan yang menimpanya. Berita itu menyebar dengan cepat. Suatu hari, Claudia memposting pembaruan di media sosialnya. Itu adalah foto dirinya dengan akta pernikahan yang diberi keterangan, "Panggil aku Nyonya Dreskin mulai sekarang." Di saat publik masih berusaha menyerap kejutan tersebut, Bennett-yang sudah bertahun-tahun tidak memposting di media sosial-mengunggah sebuah postingan dengan keterangan yang berbunyi, "Aku sudah menikah." Publik seketika heboh. Banyak orang menyebut Claudia sebagai wanita paling beruntung di abad ini karena berhasil menikahi Bennett. Semua orang tahu bahwa Antonius tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rivalnya. Claudia menang pada akhirnya. Dia menikmati komentar terkejut dari musuh-musuhnya sambil tetap rendah hati. Orang-orang masih berpikir bahwa pernikahan mereka aneh. Mereka percaya bahwa itu hanyalah pernikahan formalitas. Suatu hari, seorang awak media dengan cukup berani meminta komentar Bennett tentang pernikahannya, yang dijawab pria itu dengan senyum lembut, "Menikahi Claudia adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku."

Cinta yang Tersulut Kembali

Cinta yang Tersulut Kembali

Calli Laplume
4.9

Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Cinta yang Kupikir Abadi, Ternyata Bohong Cinta yang Kupikir Abadi, Ternyata Bohong Endarwati Romantis
“Aldric dan Keira menikah bukan karena cinta, melainkan karena kesepakatan antara dua keluarga besar. Bagi Aldric, pernikahan itu hanyalah langkah strategis demi mendapatkan kembali perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Sementara bagi Keira, pernikahan itu satu-satunya cara menyelamatkan ibunya dari hutang dan tekanan yang menghancurkan. Keduanya menandatangani perjanjian: mereka akan hidup bersama selama dua tahun, tanpa ikatan emosional, tanpa campur tangan satu sama lain, lalu bercerai ketika tujuan masing-masing tercapai. Namun, takdir sering kali berbuat iseng. Di balik semua kesepakatan dingin itu, perlahan tumbuh sesuatu yang tak seharusnya tumbuh-rasa nyaman, perhatian, bahkan cinta yang tak diinginkan. Sayangnya, ketika rasa itu mulai muncul di hati Keira, Aldric justru semakin menjauh. Ia mulai kembali dekat dengan mantan kekasihnya, Mira, seorang wanita ambisius yang dulu meninggalkannya karena status. Kini, setelah Aldric kembali kaya dan berkuasa, Mira datang membawa janji manis tentang cinta lama yang belum padam. Ketika kabar bahwa perusahaan ayah Keira telah diselamatkan dan hutang-hutang lunas, Aldric pun memutuskan untuk menepati bagian akhir perjanjian mereka: perceraian. Ia berpikir itu langkah terbaik-agar bisa menikahi Mira, wanita yang selama ini ia yakini sebagai cinta sejatinya. Keira menerima keputusan itu tanpa perlawanan. Hanya satu syarat yang ia minta-agar Aldric tak mencari atau mengganggunya lagi setelah berpisah. Ia pergi jauh, meninggalkan semua kenangan, membawa luka yang hanya ia tahu dalamnya. Lima tahun berlalu. Aldric hidup dengan kesuksesan, tapi hatinya kosong. Mira memang bersamanya, tapi ada jarak yang tak bisa dijembatani. Hingga suatu hari, sebuah proyek sosial membawanya ke sebuah kota kecil di tepi laut. Di sanalah, takdir mempertemukannya lagi dengan Keira-bersama seorang anak laki-laki berusia empat tahun yang memiliki mata dan senyum yang... sama persis dengannya. Dunia Aldric seketika berhenti. Rasa bersalah, marah, dan penyesalan bertubrukan dalam dadanya. Ia baru menyadari betapa banyak hal yang ia abaikan selama ini-terutama seorang anak yang ternyata adalah darah dagingnya sendiri. Kini pertanyaannya bukan lagi soal warisan, atau cinta lamanya pada Mira. Tapi tentang apakah Aldric berani memperjuangkan kembali Keira dan anak mereka, ataukah ia akan kembali menjadi pria pengecut yang hanya tahu melarikan diri dari tanggung jawab dan perasaan.”
1

Bab 1 Putra tunggal

23/10/2025

2

Bab 2 Lima tahun lalu

23/10/2025

3

Bab 3 Kehadiran pria itu

23/10/2025

4

Bab 4 Kamu nggak boleh jatuh lagi

23/10/2025

5

Bab 5 kesayangannya

23/10/2025

6

Bab 6 ruangan seakan bertolak belakang

23/10/2025

7

Bab 7 Senyumannya menandai awal

23/10/2025

8

Bab 8 seseorang yang mencoba mendekati

23/10/2025

9

Bab 9 belum datang

23/10/2025

10

Bab 10 misterius

23/10/2025

11

Bab 11 apa yang harus kita lakukan

23/10/2025

12

Bab 12 bermain dengan boneka

23/10/2025

13

Bab 13 perbatasan

23/10/2025

14

Bab 14 Dua hari berturut-turut

23/10/2025

15

Bab 15 kelahiran

23/10/2025

16

Bab 16 Setelah pengungkapan rahasia

23/10/2025

17

Bab 17 dia akan masuk ke rumah kita

23/10/2025

18

Bab 18 fokus pada dirimu sendiri

23/10/2025

19

Bab 19 Bagaimana kita bisa melindungi

23/10/2025

20

Bab 20 Tubuh anak itu terlihat rapuh

23/10/2025

21

Bab 21 reruntuhan

23/10/2025

22

Bab 22 Kau selalu bisa

23/10/2025

23

Bab 23 kegelisahan

23/10/2025

24

Bab 24 hancur oleh diri mereka sendiri

23/10/2025

25

Bab 25 merasakan hal yang sama

23/10/2025