Hilangnya Masa Muda

Hilangnya Masa Muda

simetri

5.0
Komentar
544
Penayangan
21
Bab

Safira Ayu Andini harus mengikhlaskan masa mudanya sirna begitu saja. Ia terpaksa menikah dengan Danu Pratama, seorang duda berusia 30 tahun dengan satu anak. Danu, yang tak pernah mencintai Safira, selalu bersikap dingin dan ketus padanya. Ia menerima Safira hanya karena desakan Ibunda, Bu Rina.

Hilangnya Masa Muda Bab 1 Safira Ayu Andini harus mengikhlaskan

Safira Ayu Andini harus mengikhlaskan masa mudanya sirna begitu saja. Usianya baru genap dua puluh dua tahun, usia di mana seharusnya ia bebas menjelajah dunia, meniti karier impian, atau setidaknya merasakan manisnya cinta pertama yang romantis. Namun, semua itu hanyalah khayalan belaka. Realitasnya jauh lebih pahit: ia terpaksa menikah dengan Danu Pratama, seorang duda berusia tiga puluh tahun dengan satu anak.

Perjodohan ini bagai petir di siang bolong bagi Safira. Ia mengenal Danu hanya sebatas teman keluarga, itupun hanya sesekali bertemu dalam acara-acara besar. Danu adalah sosok yang selalu terlihat matang, serius, dan tak banyak bicara. Aura dinginnya selalu menyelimuti, membuat siapa pun enggan mendekat. Jauh dari gambaran pria idaman Safira yang hangat dan humoris.

"Safira, kamu harus menikah dengan Danu," suara ibunya, Bu Rina, terdengar tegas kala itu. Tidak ada nada pertanyaan, apalagi permohonan. Itu adalah sebuah titah.

Safira terpaku di sofa ruang tamu. Air matanya sudah kering setelah semalaman menangis. Ia mencoba mencari alasan, memohon, bahkan memberontak, namun semua sia-sia. "Tapi kenapa, Bu? Aku tidak mengenalnya dengan baik. Aku tidak mencintainya."

Bu Rina menatap putrinya dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara rasa bersalah dan tekad bulat. "Ini demi kebaikan kita semua, Safira. Keluarga Danu akan membantu kita melunasi utang-utang perusahaan ayahmu. Kalau tidak, kita bisa kehilangan segalanya."

Mendengar nama ayahnya disebut, hati Safira mencelos. Ia tahu betapa terpuruknya sang ayah setelah bisnisnya mengalami kebangkrutan. Rumah mereka terancam disita, aset-aset berharga satu per satu dijual, dan tekanan hidup mencekik leher keluarga mereka. Safira adalah anak tunggal. Ia merasa bertanggung jawab. Tanggung jawab yang begitu berat untuk pundak gadis muda sepertinya.

Sejak hari itu, hidup Safira berubah menjadi abu-abu. Persiapan pernikahan dilakukan dengan cepat, nyaris tanpa ada sentuhan pribadi Safira. Gaun pengantin yang dipilihkan, cincin yang disematkan, bahkan dekorasi pesta, semuanya terasa asing dan hambar. Danu tidak pernah menunjukkan minat. Ia hadir dalam setiap pertemuan persiapan dengan ekspresi datar, sesekali mengangguk, seolah semua ini hanya formalitas belaka. Dingin. Ketus. Begitulah Danu.

Safira seringkali bertanya-tanya, apakah Danu juga merasakan hal yang sama dengannya? Apakah ia juga terpaksa? Namun, Danu tak pernah menyinggung perasaannya. Obrolan mereka sebatas hal-hal praktis, itupun sangat minim. Danu hanya akan berbicara jika ditanya, dan jawabannya selalu singkat, padat, dan tanpa emosi.

"Kamu mau tema apa untuk resepsi?" tanya perencana pernikahan suatu sore.

"Terserah," jawab Danu singkat tanpa menoleh.

"Warna bunga favoritmu, Safira?"

"Pink muda," jawab Safira lirih.

"Danu?"

"Apa saja," Danu menimpali, sambil fokus pada ponselnya.

Safira merasakan ngilu di hatinya setiap kali percakapan seperti itu terjadi. Ia tahu, pernikahannya bukan didasari cinta, apalagi kasih sayang. Ini murni transaksi. Transaksi yang mengorbankan kebahagiaan dan masa mudanya.

Hari pernikahan tiba. Safira mengenakan gaun putih yang indah, namun rasanya seperti kain kafan yang membungkus jiwanya. Ia tersenyum, menyalami tamu, berpose untuk foto, semua dilakukan seperti boneka yang digerakkan benang tak kasat mata. Di sampingnya, Danu berdiri tegak, dengan wajah yang tak menunjukkan emosi apa pun. Senyumnya tipis, lebih seperti formalitas daripada kebahagiaan.

Saat mengucapkan janji suci, suara Danu terdengar mantap, namun tatapannya kosong. Tidak ada binar cinta, tidak ada kehangatan. Hanya sepasang mata gelap yang memantulkan bayangan Safira yang buram. Safira sendiri hampir tak bisa menahan air matanya agar tak tumpah. Ia berjanji di depan Tuhan, pada seorang pria yang tak mencintainya, dan ia pun tak mencintai pria itu. Ironi yang menyakitkan.

Malam pertama pernikahan terasa mencekam. Setelah semua tamu pulang dan keluarga berpamitan, Safira dan Danu masuk ke kamar pengantin yang sudah dihias indah. Lilin-lilin berkedip lembut, menebarkan aroma melati yang menenangkan. Namun, suasana di antara mereka justru kaku dan tegang.

Safira berdiri di dekat jendela, menatap ke luar. Ia mendengar Danu bergerak di belakangnya. Lalu, suara kasur berderit. Safira menoleh pelan. Danu sudah berbaring memunggunginya, dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Seolah-olah Safira tidak ada di sana.

Hati Safira mencelos. Rasa perih itu kembali menyengat. Ia tahu Danu tidak menginginkannya, tapi perlakuan acuh tak acuh itu tetap saja menyakitkan. Perlahan, Safira berjalan ke sisi ranjang yang lain, berbaring membelakangi Danu. Ia menarik selimut hingga menutupi dagunya. Air mata yang selama ini ia tahan, akhirnya luruh tanpa suara. Ia menangis dalam diam, menyesali nasibnya, meratapi masa depannya yang entah akan seperti apa.

Keesokan paginya, Safira terbangun lebih dulu. Danu masih terlelap, napasnya teratur. Wajahnya yang tertidur terlihat sedikit lebih lembut, namun aura dinginnya tetap terasa. Safira bangkit dari ranjang, menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri, ia mengenakan pakaian yang sudah disiapkan ibunya.

Saat keluar dari kamar mandi, Danu sudah bangun dan duduk di tepi ranjang, merapikan rambutnya. Ia menoleh sekilas ke arah Safira, lalu bangkit dan mengambil handuk. "Saya mandi dulu," ucapnya datar, lalu masuk ke kamar mandi.

Tidak ada "selamat pagi", tidak ada senyum tipis, apalagi sentuhan. Safira hanya mengangguk kaku. Ia duduk di meja rias, menyisir rambutnya yang panjang. Bayangannya di cermin terlihat kuyu, matanya sedikit bengkak. Ia berusaha tersenyum, namun senyum itu tidak sampai ke matanya.

Setelah Danu selesai mandi dan berpakaian, mereka turun ke meja makan. Di sana sudah ada Bu Rina dan Pak Hadi, orang tua Danu. Serta seorang anak laki-laki berusia lima tahun dengan mata bulat dan rambut hitam legam.

"Selamat pagi, pengantin baru!" sapa Bu Rina, ibu Danu, dengan senyum lebar. Ia adalah wanita paruh baya yang ramah dan hangat. Berbanding terbalik dengan putranya.

"Pagi, Bu," jawab Safira lirih. Danu hanya mengangguk.

Anak laki-laki itu menatap Safira dengan rasa ingin tahu. "Mama baru?" tanyanya polos pada Bu Rina.

Safira tersentak. Ia lupa. Danu punya anak. Seorang anak laki-laki bernama Raihan. Ia akan menjadi ibu sambung. Sebuah peran yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.

Bu Rina tersenyum lembut. "Iya, sayang. Ini Tante Safira. Mulai sekarang Tante Safira akan jadi Mama Raihan juga."

Raihan kecil hanya mengangguk-angguk, lalu kembali fokus pada sereal di hadapannya.

Selama sarapan, suasana terasa canggung. Safira berusaha berbasa-basi dengan Bu Rina dan Pak Hadi, namun Danu hanya diam, sesekali menyahut singkat jika ditanya. Ia tampak fokus pada sarapannya, sesekali membantu Raihan yang kesulitan memotong sosis. Melihat interaksi Danu dengan Raihan, Safira merasa ada sedikit kehangatan dalam diri Danu, sebuah sisi yang tidak pernah ia tunjukkan padanya.

Setelah sarapan, Bu Rina mengajak Safira untuk berkeliling rumah. Rumah Danu besar, modern, dan tertata rapi. Namun, ada semacam kekosongan yang Safira rasakan. Mungkin karena terlalu rapi, terlalu bersih, nyaris tanpa sentuhan personal.

"Danu memang begitu, Safira. Dia tidak banyak bicara. Tapi hatinya baik kok," ucap Bu Rina seolah bisa membaca pikiran Safira. "Dia sangat menyayangi Raihan. Sejak istrinya meninggal tiga tahun lalu, dia jadi lebih pendiam."

Safira hanya mengangguk, mencerna informasi itu. Istri Danu meninggal tiga tahun lalu. Berarti Danu sudah menjanda cukup lama. Apakah Danu masih mencintai istrinya? Apakah itu sebabnya ia begitu dingin pada Safira? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam benak Safira, namun ia tak berani menyuarakannya.

Hari-hari awal pernikahan Safira dan Danu berjalan lambat, seperti putaran film tanpa suara. Mereka tinggal di rumah Danu yang besar, yang kini terasa semakin besar dan hampa. Danu sibuk dengan pekerjaannya, seringkali pulang larut malam. Jika tidak ada pekerjaan, ia akan menghabiskan waktunya di ruang kerjanya, entah membaca buku atau di depan laptop. Komunikasi di antara mereka sangat minim.

Safira berusaha mengisi waktunya. Ia membantu Bu Rina mengurus rumah, bermain dengan Raihan, atau membaca buku di kamar. Raihan adalah satu-satunya sumber kebahagiaan kecil bagi Safira. Anak itu polos dan ceria, seringkali membuat Safira tertawa dengan tingkah lucunya. Raihan dengan cepat dekat dengan Safira, memanggilnya "Mama Safira" dengan logat cadelnya yang menggemaskan.

Kehadiran Raihan sedikit melunakkan hati Safira. Ia melihat bagaimana Danu, yang begitu dingin padanya, bisa berubah menjadi sosok ayah yang lembut dan penuh perhatian di depan putranya. Danu akan sabar mendengarkan cerita Raihan tentang sekolah, menemaninya bermain, atau membacakan dongeng sebelum tidur. Pemandangan itu seringkali membuat Safira merasa iri sekaligus kagum. Iri karena Danu tidak pernah menunjukkan kelembutan itu padanya, namun kagum melihat sisi lain dari suaminya yang selama ini tersembunyi.

Suatu malam, Safira duduk di ruang keluarga, membaca buku. Danu baru saja pulang dari kantor. Ia melepas jasnya, meletakkannya di sofa, lalu menuju dapur untuk mengambil air minum.

"Sudah makan, Danu?" tanya Safira, mencoba memecah keheningan.

Danu menoleh. "Sudah di kantor." Suaranya datar seperti biasa. Ia minum segelas air, lalu beranjak menuju ruang kerjanya.

Safira menghela napas. Setiap usahanya untuk memulai percakapan selalu berakhir seperti ini. Ia merasa seperti hidup berdampingan dengan patung. Patung yang tampan, sukses, tapi tanpa jiwa yang terhubung dengannya.

Pernah suatu kali, Safira mencoba berbicara serius dengan Danu.

"Danu, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Safira saat Danu sedang duduk di ruang kerjanya.

Danu mengangkat kepalanya dari laptop, menatap Safira dengan alis terangkat. "Ada apa?"

"Tentang kita," Safira memulai dengan hati-hati. "Aku tahu pernikahan ini terjadi karena paksaan. Tapi, kita sudah menikah. Bisakah kita mencoba untuk... setidaknya berteman? Berusaha untuk saling mengenal?"

Danu menatapnya lama, tatapan kosong yang membuat Safira merasa kecil. "Apa yang ingin kamu kenal dari saya, Safira?" tanyanya dengan suara rendah, nyaris tanpa intonasi. "Saya sudah bilang, saya menerima pernikahan ini karena Mama. Tidak lebih."

Kata-kata itu bagai belati yang menusuk hati Safira. Begitu lugas, begitu jujur, dan begitu menyakitkan. Tidak ada harapan sama sekali.

"Tapi... apa kamu tidak merasa canggung? Kita tinggal serumah, tapi seperti orang asing," Safira mencoba lagi, suaranya bergetar.

Danu menghela napas panjang. "Saya sibuk. Saya tidak punya waktu untuk hal-hal seperti itu. Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau di rumah ini, asalkan tidak mengganggu saya dan Raihan."

Hancur. Hati Safira benar-benar hancur. Ia bangkit dari duduknya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Air matanya sudah siap tumpah. Ia berjalan cepat menuju kamar, mengunci pintu, dan menangis sejadi-jadinya di balik selimut.

Sejak saat itu, Safira berhenti mencoba. Ia memutuskan untuk menerima kenyataan pahit ini. Danu tidak akan pernah mencintainya. Danu tidak akan pernah peduli padanya. Ia hanyalah sebuah komoditas, sebuah kesepakatan bisnis yang mengikatnya dalam sangkar emas.

Ia mulai membangun dinding di sekeliling hatinya. Menutup diri dari Danu, dari harapannya yang sia-sia. Ia akan fokus pada Raihan, pada kegiatan sehari-harinya, pada segala sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit.

Namun, hidup di bawah satu atap dengan seseorang yang menganggapmu tidak ada, adalah siksaan yang tak berkesudahan. Setiap pagi, saat mereka berpapasan di meja makan, Danu hanya akan melirik sekilas, lalu kembali fokus pada sarapannya. Setiap malam, ia akan masuk ke kamar lebih dulu, dan ketika Safira masuk, Danu sudah memunggunginya, terlelap atau pura-pura terlelap.

Terkadang, Safira bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia akan sanggup menjalani hidup seperti ini selamanya? Bisakah ia benar-benar bahagia? Atau akankah ia terus terperangkap dalam pernikahan tanpa cinta ini, mengorbankan seluruh masa mudanya?

Suatu sore, Raihan sakit demam. Safira panik. Ia langsung mengukur suhu tubuh Raihan yang ternyata cukup tinggi. Dengan tergesa-gesa, ia mencari obat penurun panas di kotak P3K. Danu belum pulang dari kantor.

Safira menghubungi Danu, namun ponselnya tidak aktif. Ia mencoba menghubungi Bu Rina, namun ibunda Danu sedang berada di luar kota. Dalam kepanikan, Safira memutuskan untuk membawa Raihan ke rumah sakit terdekat. Ia memanggil taksi daring, menggendong Raihan yang lemas, dan bergegas pergi.

Di rumah sakit, Raihan langsung ditangani dokter. Safira menunggu dengan cemas di luar ruangan. Air matanya menetes tanpa bisa ia tahan. Ia merasa begitu sendirian. Ia adalah seorang istri, namun tidak punya suami yang bisa diandalkan dalam situasi darurat seperti ini. Ia adalah seorang ibu sambung, namun belum sepenuhnya bisa mengemban peran itu sendirian.

Beberapa jam kemudian, Danu tiba di rumah sakit. Wajahnya terlihat tegang dan khawatir. Ia baru mengetahui kabar Raihan dari asistennya yang dihubungi oleh Bu Rina.

"Bagaimana Raihan?" tanya Danu dengan suara serak, langsung menghampiri Safira.

"Dia sudah ditangani dokter. Sepertinya cuma demam biasa. Tadi saya coba hubungi kamu, tapi tidak aktif," jawab Safira, berusaha menahan emosinya.

Danu tidak berkomentar. Ia hanya menghela napas lega, lalu berjalan masuk ke ruang pemeriksaan. Safira mengikutinya dari belakang.

Di dalam, Raihan sudah sadar dan tampak lebih baik. Danu langsung memeluk putranya erat. "Anak Papa kenapa bisa sakit begini, Nak?" tanyanya lembut.

Raihan menunjuk Safira dengan jari kecilnya. "Mama Safira tadi panik."

Danu melirik Safira sekilas. "Terima kasih sudah membawa Raihan," ucapnya datar. Tidak ada nada terima kasih yang tulus, hanya sebuah formalitas yang membuat Safira merasa seperti orang asing yang kebetulan membantu.

Malam itu, mereka menginap di rumah sakit bersama Raihan. Safira duduk di sofa, memejamkan mata, lelah fisik dan batin. Danu duduk di kursi di samping ranjang Raihan, menatap putranya yang terlelap. Suasana hening, hanya ada suara monitor detak jantung Raihan.

Safira membuka mata dan melihat Danu. Dalam gelap, wajah Danu terlihat lelah, namun sorot matanya yang menatap Raihan begitu penuh kasih sayang. Safira menyadari, di balik topeng dinginnya, Danu adalah seorang ayah yang sangat mencintai anaknya. Mungkin, itu adalah satu-satunya sisi hangat yang dimiliki Danu.

"Kamu istirahat saja, Safira," suara Danu memecah keheningan. "Saya akan menjaga Raihan."

Safira terkejut. Itu adalah kalimat terpanjang yang Danu ucapkan padanya di luar konteks formalitas. Ia mengangguk pelan. "Baiklah."

Ia berbaring di sofa yang sempit, mencoba memejamkan mata. Namun pikirannya terus berputar. Ia tidak bisa tidak memikirkan Danu, pernikahannya, dan masa depannya. Bagaimana ia bisa bertahan di tengah kekosongan ini?

Sejak kejadian Raihan sakit, ada sedikit perubahan kecil dalam interaksi Danu dan Safira. Danu tidak lagi sepenuhnya mengabaikan Safira. Ia sesekali akan bertanya tentang Raihan, atau menanyakan apakah Safira membutuhkan sesuatu. Namun, percakapan mereka tetap terbatas dan formal. Dinding es di antara mereka belum mencair sepenuhnya.

Safira tahu ia tidak bisa mengharapkan banyak. Cinta tidak bisa dipaksakan. Ia hanya berharap suatu saat nanti, Danu bisa melihatnya bukan hanya sebagai istri paksaan, tetapi sebagai seseorang yang layak untuk dihormati dan dihargai. Ia berharap suatu saat nanti, ia bisa menemukan kebahagiaannya sendiri, meskipun itu bukan dari Danu.

Ia akan mencoba menjadi istri yang baik, ibu sambung yang penuh kasih sayang untuk Raihan. Ia akan melakukan tugasnya, memenuhi perannya dalam pernikahan ini. Demi Raihan, demi orang tuanya yang sudah berkorban untuknya, dan demi dirinya sendiri yang ingin menemukan kedamaian dalam situasi yang sulit ini.

Masa mudanya memang telah sirna, direnggut oleh sebuah janji suci tanpa cinta. Namun, Safira tahu, hidup harus terus berjalan. Ia harus kuat, harus tegar. Ia akan mencari makna di balik semua ini, mencari kebahagiaan kecil di tengah badai besar yang melandanya. Ia tidak akan menyerah pada nasib. Ia akan belajar untuk menerima, dan perlahan-lahan, membangun kembali puing-puing hatinya yang hancur.

Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Dalam keheningan malam, ia berbisik pada dirinya sendiri, "Aku akan bertahan. Aku harus bertahan."

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh simetri

Selebihnya

Buku serupa

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Cris Pollalis
5.0

Raina terlibat dengan seorang tokoh besar ketika dia mabuk suatu malam. Dia membutuhkan bantuan Felix sementara pria itu tertarik pada kecantikan mudanya. Dengan demikian, apa yang seharusnya menjadi hubungan satu malam berkembang menjadi sesuatu yang serius. Semuanya baik-baik saja sampai Raina menemukan bahwa hati Felix adalah milik wanita lain. Ketika cinta pertama Felix kembali, pria itu berhenti pulang, meninggalkan Raina sendirian selama beberapa malam. Dia bertahan dengan itu sampai dia menerima cek dan catatan perpisahan suatu hari. Bertentangan dengan bagaimana Felix mengharapkan dia bereaksi, Raina memiliki senyum di wajahnya saat dia mengucapkan selamat tinggal padanya. "Hubungan kita menyenangkan selama berlangsung, Felix. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi. Semoga hidupmu menyenangkan." Namun, seperti sudah ditakdirkan, mereka bertemu lagi. Kali ini, Raina memiliki pria lain di sisinya. Mata Felix terbakar cemburu. Dia berkata, "Bagaimana kamu bisa melanjutkan? Kukira kamu hanya mencintaiku!" "Kata kunci, kukira!" Rena mengibaskan rambut ke belakang dan membalas, "Ada banyak pria di dunia ini, Felix. Selain itu, kamulah yang meminta putus. Sekarang, jika kamu ingin berkencan denganku, kamu harus mengantri." Keesokan harinya, Raina menerima peringatan dana masuk dalam jumlah yang besar dan sebuah cincin berlian. Felix muncul lagi, berlutut dengan satu kaki, dan berkata, "Bolehkah aku memotong antrean, Raina? Aku masih menginginkanmu."

Cinta yang Tersulut Kembali

Cinta yang Tersulut Kembali

Calli Laplume
4.9

Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Fantasi Gilaku

Fantasi Gilaku

MYG
5.0

Kisah wanita bernama Alice yang selama tujuh tahun pernikahannya belum pernah merasakan kepuasan dalam hal seksualnya bersama suaminya. Selama tujuh tahun itu pula ia berpura pura menikmati semua yang dilakukan oleh David sang suami. Semua berawal dari percobaan pertama ia melakukannya sendiri, dari situ ia mulai terobsesi dan mulai melakukannya setiap hari, karena hanya dengan itu ia bisa mencapai kepuasan. Semakin kesini, fakta baru yang mengejutkan mulai bermunculan, seperti David yang ternyata berselingkuh dengan teman kantornya, yang tak lain merupakan mantan pacarnya dulu di masa sekolah dan David yang ternyata seorang gay. Anehnya Alice tak sama sekali menggugat atau membuang David, ia malah senang kala melihat David bercumbu dengan sesama pria. Hingga akhirnya Alice mempunyai seorang teman wanita, ia sangat peduli padanya, Alice dengan terang terangan bercerita soal suaminya kepada Jane. Jane merupakan wanita yang mempunyai trauma besar dalam hidupnya, ia pernah dilecehkan oleh ayahnya sendiri sewaktu masih sekolah. Perlahan traumanya membaik saat jane mengenal pria yang mencintainya yang bernama Bian, namun lama kelamaan Bian juga menunjukkan sifat aslinya, selama ini ia tak tulus mencintai Jane, malah Bian sengaja memperkosanya bersama teman sekelasnya. Semenjak itu ia sangat membenci laki-laki. Ia bersumpah tak akan berhubungan baik dengan laki-laki manapun. Hingga Jane bertemu Alice dan mereka seperti menemukam kecocokan satu sama lain. Mereka berdua memutuskan untuk menjalin hubungan terlarang. Setiap hari mereka habiskan waktu berdua. Alice mengijinkan Jane untuk tinggal bersamanya di rumah mewahnya. Semua orang tak menaruh curiga terhadap Alice dan Jane. Alice memutuskan untuk menceraikan David, karena Jane sangat cemburu dengan David. Sejak saat itu hubungan Alice dan Jane semakin romantis, hingga suatu hari Alice bertemu seorang pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Kabar tersebut terendus oleh Jane, Jane sangat marah terhadap Alice, namun Alice mencoba meyakinkan Jane bahwa ia juga tak akan meninggalkannya. Akhirnya Alice mendapat restu dari Jane, Pria bernama Steve itu pun berhasil meyakinkan Jane. Steve menyadari bahwa Jane merupakan sahabat terdekat Alice, jadi ia juga harus meyakinkan Jane bahwa ia sungguh sungguh terhadap Alice. Alice hidup bahagia bersama Steve dan Jane. Steve menikahi Alice dan dikaruniai seorang anak yang lucu dan menggemaskan.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku