Cinta Sendal Jepit

Cinta Sendal Jepit

Chayyira Arsani

5.0
Komentar
882
Penayangan
32
Bab

Amara, begitulah teman-teman memanggilku. Lahir dari keluarga yang tidak baik-baik saja. Mama pergi entah kemana sedangkan papa sibuk dengan kehidupannya sendiri, tanpa memikirkan perasaan anak sematawayangnya ini. Sejak keduanya berpisah, hidupku semakin tak karuan, papa menikah lagi dengan seorang perempuan yang jahatnya tingkat dewa, bahkan mungkin lebih. Entahlah .... Hingga semua ini membuat aku lebih senang berada di luar rumah. Cerita hidupku justru sedikit berwarna ketika lelaki bernama Agung datang dan memberi cinta. Kami bertemu dengan tanpa sengaja, ketika aku berusaha lari dari kejaran polisi. Salahku juga sih, hanya karena tak ingin terlambat datang ke acara reuni, aku sampai melupakan kelengkapan berkendara. Agung datang disaat yang tepat, ketika aku membutuhkan pertolongan. Tadinya kupikir permasalahan ini sepele dan akan segera selesai ketika motorku menyala, namun tak disangka ternyata dua orang penjaga keamanan di desa tersebut memergoki kami, mereka mengira kami berbuat hal yang tidak diindahkan. Akhirnya, kami pun dibawa ke balai desa setempat, dari sini semuanya menjadi rumit.Tuduhan yang tidak kami lakukan membuat kami dipaksa untuk mematuhi adat desa ini, yakni menikah. Pernikahan dadakan pun dilakukan, rasanya semua ini seperti mimpi. Hidupku jauh berubah, lelaki yang bernama Agung ini justru pasrah menerima keadaan. Hari demi hari kami lalui dengan ketidaknyamanan. Hingga suatu hari, ada perasaan lain yang muncul di hati. Perasaan yang sulit kumengerti maknanya itu semakin merajai hati. Sayang, justru karena perasaan inilah, petaka datang silih berganti hingga dalam keadaan mencekam dan tak bisa kugunakan otak untuk berfikir sebagaimana mestinya. Aku dan Agung pun saling menguatkan satu sama lain, hingga perjuangan kami berdua menemui titik terang. Ternyata benar kata pepatah, perjuangan tidak akan pernah menghianati hasil. Hingga cinta itu benar-benar datang tanpa halangan apapun. Layaknya di negeri dongeng para putri, aku pun merasakan cinta dan kebahagiaan sejati, aku dan lelaki bernama Agung pun hidup bahagia.

Cinta Sendal Jepit Bab 1 Terjebak Pernikahan

Tin ... Tin ....

Suara klakson di sana sini menambah ramai kondisi jalan. Entah mengapa jalanan yang biasanya lengang, malam ini nampak begitu ramai dan padat merayap sehingga kemacetan pun tak dapat dihindari. Seseorang berjalan balik memutar arah, lalu di susul sirine mobil polisi dengan suara khasnya yang tak kalah ramai dengan deru kendaraan.

Sial, ada razia rupanya!

Segera kubelokkan sepeda motor ke sebuah jalan sempit, seingatku jalanan sempit berliku seperti ini seringkali disebut dengan jalan tikus, entahlah bagaimana awal ceritanya kenapa sebutan itu ada, yang terpenting aku bisa lolos dulu dari polisi. Kalau saja aku tadi tidak terburu-buru, mungkin stnk tak akan ketinggalan seperti ini. Fikiranku tadi saat hendak berangkat hanyalah satu, segera tiba di tempat reuni teman sekolah. Sebenarnya masuk ke jalan ini juga bukan pilihan yang benar, terlebih aku jarang melewatinya. Syukur-syukur jika aku tidak tersasar.

"Woy, Mbak. Mau ke mana? Di sana hutan nggak ada tembusan." Seru seseorang, yang tadi juga mengantri karena macet.

Ah ... bodo amat! Mau hutan kek, ada hantu kek, yang penting aku nggak berurusan sama polisi, fyuh! Aku tak menghiraukan suara tersebut.

Kutarik gas motor lebih kencang, berharap tak mendengar lagi omongan-omongan yang hanya membuat bising telinga. Roda motor pun melaju semakin kencang hingga aku tak begitu memperhatikan badan jalan yang licin dan gelap.

Ngeng!

Semakin lama melewati jalanan ini cahaya penerangan pun semakin redup pula, hingga lama kelamaan tak ada lagi cahaya lain selain dari sorot lampu motorku. Sedangkan kiri dan kanan di kelilingi pohon-pohon yang menjulang tinggi. Sedetik kemudian aku mulai kehilangan keseimbangan dan akhirnya ....

Byur!!

Aku tercebur ke sebuah sungai kecil, naasnya motorku tidak bisa keluar. Aku pun berusaha untuk merangkak keluar dari sungai dengan kondisi yang gelap pekat. Bahkan sendal yang kupakai juga hilang entah kemana. Aku menangis sejadinya, tak berhenti merutuki diri yang kenapa sedari tadi tak mendengarkan perkataan orang. Nasib ...nasib!

Tapi tak lama kemudian aku sadar jika ini adalah hutan, jadi menangis pun kurasa percuma, siapa juga yang akan mendengar, paling-paling hantu dan binatang buas yang datang. Hi ... ngeri! Ya kecuali tiba-tiba ada keajaiban ada pangeran tampan yang mau membantu, membawa sebuah lilin lengkap dengan kuda putihnya! Wait ... kuda putih? Ih gak jadi deh, gimana kalau tiba-tiba yang datang adalah hantu!Huaaaaa....

Bimbang antara kembali keluar lewat jalan tadi atau terus melanjutkan perjalanan ini. Hingga kuputuskan duduk pada pinggiran jalan tanah yang ditumbuhi rumput. Kulantunkan doa tak henti berharap ada keajaiban datang. Tiba-tiba dari kejauhan samar-samar terlihat sorot cahaya mengarah padaku, aku memutuskan mendekati cahaya tersebut, semakin dekat cahaya tersebut semakin menyilaukan mata ini.

"Mbak, ngapain malam-malam ada di sini?" selidik pria di depanku.

"Lagi mojok. Lah terus kamu sendiri ngapain malam-malam ke tempat beginian?"

"Mojok itu apa, Mbak? Ini saya mau ngambil air di sungai, Mbak."

"Memangnya rumahmu nggak ada air?" tanyaku kemudian semakin penasaran.

"Ya ndak ada, Mbak. Wong ini desa terpencil!" Sahutnya seraya berlalu dan berdiri pada pinggiran sungai kemudian mulai menimba air.

Tangannya menyorot pada bagian kiri kolam, terlihat jelas di sana sepeda motorku tengah berendam dengan cantiknya pada bibir sungai.

"Loh, itu sepeda motor Mbak kah? Kok berenang di situ?" Ujarnya seraya menyorot cahaya senternya padaku.

Kurang asem nih, orang. Di kira motorku mau mandi apa?

Aku merengut, coba bukan karena dia manusia satu-satunya di tempat ini sudah kujitak kepalanya dengan kekuatan super. Duh, sabar ... sabar ...

"Gimana, bisa bantuin aku ngeluarkan itu motor nggak?"

"Ya bisa saja Mbak. Tapi paling besok, karena ndak bisa sendirian."

"Terus, aku pulangnya gimana?"

***

Pria bernama Agung itu pun mengajakku untuk bermalam di rumahnya. Awalnya aku menolak dan curiga jangan-jangan dia orang jahat yang sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan. Bukankah kata bang napi kejahatan itu ada bukan hanya niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah!

Setelah mengobrol cukup lama, barulah aku mengerti dan mulai berpikir baik tentangnya. Katanya, ia tinggal bersama ibunya, jadi kupikir dia tak akan macam-macam, dari tampangnya sih dia juga terlihat orang baik-baik.

Akhirnya aku pun memutuskan untuk mau dan ikut dengannya, daripada berdiam di tempat tak jelas dan seram begini, ya kan! Dalam perjalanan ke rumahnya, aku yang dari tadi berjalan bertelanjang kaki tiba-tiba menginjak sesuatu.

"Aduh sakit!" erangku hingga dia berhenti dan melihat ke arah telapak kakiku.

"Mbak, kok nyeker? Sandalnya di mana, jatuh ke sungai juga ya?"

Hadeh, ni orang nanya sendiri, jawab sendiri!

"Sini kulihat kakinya!" seraya membungkuk kan badan dan meraba telapak kakiku.

Saat ia berusaha menarik sesuatu di telapak kaki, terdengar suara peluit di tiup nyaring, aku mengedarkan pandangan ke arah sumber suara ternyata ada dua orang hansip berlari menghampiri kami.

"Kalian berdua, ngapain malam-malam di sini? Peraturan kampung ini sudah jelas, selepas maghrib dilarang perempuan dan laki-laki bukan muhrim berdua-duaan."

Agung cuma tertunduk. Sedangkan aku berusaha menjelaskan peristiwa yang terjadi. Namun sialnya para hansip ini tidak peduli, mereka justru mau menggiring kami ke balai desa. Aku hanya berdecak kesal. Mana pria lugu di sampingku ini malah diam saja tanpa berusaha memberi penjelasan.

Sedetik kemudian, Agung akhirnya bersuara "Maaf, Pak Hansip bisa berhenti sebentar kaki dia sakit, izinkan saya meminjamkan sandal saya ini, agar kakinya tidak terkena kotoran dan infeksi."

Aku tercengang saat dia memasukkan sandal jepit nya ke telapak kakiku, sedangkan dia malah bela-belain jalan tanpa alas kaki. Ketika aku memandangi wajahnya dia malah spontan berkata " Jangan dilihatin terus, Mbak. Nanti naksir!"

"Busyet, pede amat lu tong!"

Sesampainya di balai desa, sudah banyak warga kampung tengah menunggu. Dengan duduk bersila kami di persilahkan duduk, salah seorang warga di suruh memanggil ibunya Agung. Tidak lama salah seorang tetua adat berbicara, menjelaskan peraturan di kampung ini dan kami sudah melanggar. Jadi harus siap menerima hukuman yaitu di nikahkan malam ini juga di balai desa secara adat dan agama.

Sontak aku berdiri dan berteriak "Apa, peraturan macam apa ini? Saya saja baru tahu nama dia tadi. Lagian gimana mau nikah, wali saya aja nggak ada!"

Para Hansip berdiri hendak menangkapku, kata mereka aku tidak punya pilihan lain. Karena kalau itu tidak dilakukan desa mereka bakal terkena kutukan.

Ya ampun ini tahun berapa sih? Kok kayak zaman penjajahan aja! Nggak pokoknya enggak, aku nggak mau nikah. Aneh-aneh saja mereka, emang mereka pikir nikah itu semudah membalikkan telapak tangan, eh bukan emang mereka pikir nikah itu semudah ngambil singkong di sawah orang, eh apaan sih. Pokoknya itudah! Aku nggak mau pokoknya nggak mau!

Aku melengos ketika mereka memaksaku duduk di tengah bersama Agung, katanya prosesi pernikahan segera dimulai. Aku masih berusaha berontak, akan tetapi Agung membisikiku bahwa ikuti saja prosesnya, biar lebih mudah untuk keluar dari kampung ini. Nanti dia yang akan membantu. Mau tidak mau aku menerima tawarannya. Dengan syarat dia jangan pernah macam-macam apalagi ambil kesempatan.

Saat prosesi hendak dimulai, seorang perempuan tua datang tergopoh-gopoh ke balai sambil berkata "Ya ampun Le, kok kamu malah jadi begini? Pasti perempuan ini yang maksa kamu berduaan ya?"

Eh gimana-gimana buk?Nggak salah dengar ya? Kok jadi nyalahin aku sih? Wah gak beres nih orang-orang, main hakim sendiri saja. Lagian kenapa aku bisa berada di sini sih? Rasanya kayak mimpi, mending kalau ketiban durian runtuh! Wew, enggak ding ketiban durian kan sakit!Fyuh!

Salah seorang warga menarik tangan ibu si Agung agar duduk. Seseorang mengabarkan semua sudah siap, tinggal mas kawin saja yang belum ada. Aku menoleh pada Agung, niat hati mau menuntut banyak. Akan tetapi ini kan cuma pernikahan pura-pura jadi aku harus bisa berakting agar semua berjalan lancar dan besok bisa segera keluar dari sini.

Seseorang bertanya padaku "Sampean mau mas kawin apa? Biar disiapkan. Tapi jangan yang tidak ada di kampung ini.

Aku melirik kakiku yang sakit terkena duri, entah kenapa muncul di otakku, sepasang sandal yang dipinjamkan Agung tadi walaupun sudah buluk tetapi tetap nyaman digunakan, masa besok aku pulang tanpa alas kaki lagi.

Aku segera berdiri dan berkata," Aku minta sepasang sandal jepit sebagai mahar!"

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Cris Pollalis
5.0

Raina terlibat dengan seorang tokoh besar ketika dia mabuk suatu malam. Dia membutuhkan bantuan Felix sementara pria itu tertarik pada kecantikan mudanya. Dengan demikian, apa yang seharusnya menjadi hubungan satu malam berkembang menjadi sesuatu yang serius. Semuanya baik-baik saja sampai Raina menemukan bahwa hati Felix adalah milik wanita lain. Ketika cinta pertama Felix kembali, pria itu berhenti pulang, meninggalkan Raina sendirian selama beberapa malam. Dia bertahan dengan itu sampai dia menerima cek dan catatan perpisahan suatu hari. Bertentangan dengan bagaimana Felix mengharapkan dia bereaksi, Raina memiliki senyum di wajahnya saat dia mengucapkan selamat tinggal padanya. "Hubungan kita menyenangkan selama berlangsung, Felix. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi. Semoga hidupmu menyenangkan." Namun, seperti sudah ditakdirkan, mereka bertemu lagi. Kali ini, Raina memiliki pria lain di sisinya. Mata Felix terbakar cemburu. Dia berkata, "Bagaimana kamu bisa melanjutkan? Kukira kamu hanya mencintaiku!" "Kata kunci, kukira!" Rena mengibaskan rambut ke belakang dan membalas, "Ada banyak pria di dunia ini, Felix. Selain itu, kamulah yang meminta putus. Sekarang, jika kamu ingin berkencan denganku, kamu harus mengantri." Keesokan harinya, Raina menerima peringatan dana masuk dalam jumlah yang besar dan sebuah cincin berlian. Felix muncul lagi, berlutut dengan satu kaki, dan berkata, "Bolehkah aku memotong antrean, Raina? Aku masih menginginkanmu."

Pernikahan Kilat dengan Sang Miliarder

Pernikahan Kilat dengan Sang Miliarder

JADE HOWE
5.0

Riani sangat menyayangi pacarnya. Meskipun pacarnya telah tidak bekerja selama beberapa tahun, dia tidak ragu-ragu untuk mendukungnya secara finansial. Dia bahkan memanjakannya, agar dia tidak merasa tertekan. Namun, apa yang pacarnya lakukan untuk membalas cintanya? Dia berselingkuh dengan sahabatnya! Karena patah hati, Riani memutuskan untuk putus dan menikah dengan seorang pria yang belum pernah dia temui. Rizky, suaminya, adalah seorang pria tradisional. Dia berjanji bahwa dia akan bertanggung jawab atas semua tagihan rumah tangga dan Riani tidak perlu khawatir tentang apa pun. Pada awalnya, Riani mengira suaminya hanya membual dan hidupnya akan seperti di neraka. Namun, dia menemukan bahwa Rizky adalah suami yang baik, pengertian, dan bahkan sedikit lengket. Dia membantunya tidak hanya dalam pekerjaan rumah tangga, tetapi juga dalam kariernya. Tidak lama kemudian, mereka mulai saling mendukung satu sama lain sebagai pasangan yang sedang jatuh cinta. Rizky mengatakan dia hanyalah seorang pria biasa, tetapi setiap kali Riani berada dalam masalah, dia selalu tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya dengan sempurna. Oleh karena itu, Riani telah beberapa kali bertanya pada Rizky bagaimana dia bisa memiliki begitu banyak pengetahuan tentang berbagai bidang, tetapi Rizky selalu menghindar untuk menjawabnya. Dalam waktu singkat, Riani mencapai puncak kariernya dengan bantuannya. Hidup mereka berjalan dengan lancar hingga suatu hari Riani membaca sebuah majalah bisnis global. Pria di sampulnya sangat mirip dengan suaminya! Apa-apaan ini! Apakah mereka kembar? Atau apakah suaminya menyembunyikan sebuah rahasia besar darinya selama ini?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Cinta Sendal Jepit Cinta Sendal Jepit Chayyira Arsani Romantis
“Amara, begitulah teman-teman memanggilku. Lahir dari keluarga yang tidak baik-baik saja. Mama pergi entah kemana sedangkan papa sibuk dengan kehidupannya sendiri, tanpa memikirkan perasaan anak sematawayangnya ini. Sejak keduanya berpisah, hidupku semakin tak karuan, papa menikah lagi dengan seorang perempuan yang jahatnya tingkat dewa, bahkan mungkin lebih. Entahlah .... Hingga semua ini membuat aku lebih senang berada di luar rumah. Cerita hidupku justru sedikit berwarna ketika lelaki bernama Agung datang dan memberi cinta. Kami bertemu dengan tanpa sengaja, ketika aku berusaha lari dari kejaran polisi. Salahku juga sih, hanya karena tak ingin terlambat datang ke acara reuni, aku sampai melupakan kelengkapan berkendara. Agung datang disaat yang tepat, ketika aku membutuhkan pertolongan. Tadinya kupikir permasalahan ini sepele dan akan segera selesai ketika motorku menyala, namun tak disangka ternyata dua orang penjaga keamanan di desa tersebut memergoki kami, mereka mengira kami berbuat hal yang tidak diindahkan. Akhirnya, kami pun dibawa ke balai desa setempat, dari sini semuanya menjadi rumit.Tuduhan yang tidak kami lakukan membuat kami dipaksa untuk mematuhi adat desa ini, yakni menikah. Pernikahan dadakan pun dilakukan, rasanya semua ini seperti mimpi. Hidupku jauh berubah, lelaki yang bernama Agung ini justru pasrah menerima keadaan. Hari demi hari kami lalui dengan ketidaknyamanan. Hingga suatu hari, ada perasaan lain yang muncul di hati. Perasaan yang sulit kumengerti maknanya itu semakin merajai hati. Sayang, justru karena perasaan inilah, petaka datang silih berganti hingga dalam keadaan mencekam dan tak bisa kugunakan otak untuk berfikir sebagaimana mestinya. Aku dan Agung pun saling menguatkan satu sama lain, hingga perjuangan kami berdua menemui titik terang. Ternyata benar kata pepatah, perjuangan tidak akan pernah menghianati hasil. Hingga cinta itu benar-benar datang tanpa halangan apapun. Layaknya di negeri dongeng para putri, aku pun merasakan cinta dan kebahagiaan sejati, aku dan lelaki bernama Agung pun hidup bahagia.”
1

Bab 1 Terjebak Pernikahan

30/06/2024

2

Bab 2 Kembali Pulang

30/06/2024

3

Bab 3 Anak Terbuang

30/06/2024

4

Bab 4 Pengirim Misterius

30/06/2024

5

Bab 5 Nyaman dan Cinta

30/06/2024

6

Bab 6 Mencintai Tanpa Memiliki

30/06/2024

7

Bab 7 Permintaan yang Menyakitkan

30/06/2024

8

Bab 8 Tempat yang Tepat

30/06/2024

9

Bab 9 Salahku di mana

30/06/2024

10

Bab 10 Sebatas Angan

30/06/2024

11

Bab 11 Perubahan Agung

30/06/2024

12

Bab 12 Mencari Amara

30/06/2024

13

Bab 13 Pertolongan dari Tuhan

30/06/2024

14

Bab 14 Penyesalan Tak berujung

30/06/2024

15

Bab 15 Bertemu Kembali

30/06/2024

16

Bab 16 Kebakaran

30/06/2024

17

Bab 17 Teror

30/06/2024

18

Bab 18 Ternyata aku Cinta

30/06/2024

19

Bab 19 Sebuah Rasa

30/06/2024

20

Bab 20 Rindu Tak Berujung

30/06/2024

21

Bab 21 Pindah Rumah

03/07/2024

22

Bab 22 Perasaan yang bersambut

05/07/2024

23

Bab 23 Hal yang tersembunyi

07/07/2024

24

Bab 24 Mencari Restu

08/07/2024

25

Bab 25 Hari yang Berat

11/07/2024

26

Bab 26 Insecure Agung

13/07/2024

27

Bab 27 Hari Bahagia Amara (pov Dave)

16/07/2024

28

Bab 28 Malam pertama

19/07/2024

29

Bab 29 Kembali ke Kampung

23/07/2024

30

Bab 30 Dave Memilih Sendiri

25/07/2024

31

Bab 31 Dia yang Hilang

30/07/2024

32

Bab 32 Tidak Mampu

06/08/2024