Rahim Lima Ratus Juta

Rahim Lima Ratus Juta

Bintang_Malam

5.0
Komentar
9.8K
Penayangan
48
Bab

"Jangan pernah menaruh perasaan pada anakku yang ada dalam perutmu, dengan begitu tidak akan sulit bagimu saat pernikahan kita usai. Jangan cemas, saat dia lahir kau takkan melihat wajahnya, kami akan langsung membawanya. Nanti seolah-olah kami tidak pernah ada dalam hidupmu."

Rahim Lima Ratus Juta Bab 1 Lima Ratus Juta

"Hanya sampai kau memiliki anak, Jihan. Itu tidak akan lama. Satu tahun lagi kau akan kembali lagi ke sini."

Satu tahun. Itu akan menjadi waktu yang sangat panjang. Bagaimana mereka katakan itu takkan lama? Kupandangi wajak Mak Tuah dan Tek Ida bergantian, sudah nyaris satu bulan ini mereka membujukku.

"Aku ...."

"Dengar, orang itu akan datang esok pagi. Kau harus bersiap. Mamak tidak ingin kau membantah."

"Hanya satu tahun, lalu semua akan baik-baik saja." Tek Ida mengusap rambutku perlahan, kepura-puraan begitu kentara ketika tangan itu menyentuh rambutku.

"Untuk apa uang seratus juta itu?" Aku menatap hampa ke luar jendela rumah, yang menampilkan pesona alam nan memukau.

"Untuk menebus semua harta yang telah tergadai akibat membesarkanmu." Suara Tek Ida berubah ketus. Benar, wanita paruh baya yang terpaksa merawatku dari kecil ini sangat pandai berpura-pura.

Harta, entah harta yang mana yang telah kuhabiskan. Bisa dikatakan aku besar dari belas kasihan orang. Selalu saja ada orang yang datang tiap minggu, entah itu mengantar beras atau kebutuhan lainnya, dan kini mereka mengkambing hitamkanku atas semua harta yang tergadai.

"Aku akan bekerja, akan kubayar uang Mamak dan Etek yang sudah terpakai olehku, tapi bukan cara seperti ini."

"Jangan bertingkah, Jihan! Apa pekerjaan yang akan kau dapatkan, kau hanya menamatkan SMP! Bekerja di mana, menjual diri!" gertakan Mila membuatku semakin beku, aku sudah sangat biasa dengan suara keras dan makiannya. Anak sulung Mak Tuah ini, lebih tega dari siapapun di rumah ini.

"Aku akan bekerja," desisku menggigit bibir, memutar otak mencari pekerjaan apa saja.

"Sudah, tidak ada pertengkaran atau penolakan lagi. Besok orang itu akan datang. Kau harus bersiap!"

Aku memejamkan mata, memeluk lutut erat, suara Mak Tuah adalah final. Terdengar langkah kaki meninggalkan kamarku lalu pintu yang ditutup keras.

Air mataku jatuh, tidak menyesal. Aku tidak pernah menyesali apa pun. Bagiku semua yang terjadi adalah jalan takdir yang telah tertulis. Hanya saja kadang aku tak bisa menahan sesuatu yang pedih di dalam dada, menyesakkan. Hingga aku harus meneteskan air mata.

Baiklah, kuceritakan awal ide buruk ini menghampiri Mak Tuah. Beberapa minggu lalu, seorang laki-laki bertubuh subur datang ke rumah, dan menawarkan sesuatu yang sangat buruk pada Mak Tuah.

Aku tidak terlalu terkejut kenapa Mak Tuah langsung menawarkanku. Dari dulu, semenjak Ibu meninggal dia selalu mencari celah untuk mencampakkanku. Namun, tidak berhasil. Aku cukup diperhatikan di kampung ini, anak yatim yang malang. Sehingga Mak Tuah tak pernah berhasil dengan semua rencana jahatnya.

Tetapi kali ini rencana mereka untuk menyingkirkan akan terlaksana. Beliau akan mengumumkan bahwa aku akan bekerja di kota. Lalu aku menghilang, entah sampai kapan.

Aku tidak punya seseorang untuk berbagi, aku memang tidak suka bercerita pada siapapun. Jadi, kali ini mereka akan berhasil.

Aku tidak bisa membayangkan seperti apa orang itu. Apakah sudah tua atau cacat? Sehingga harus mencari wanita lugu di perkampungan untuk melahirkan anaknya.

Tetapi siapapun, mungkin kami bisa berteman. Mengingat melahirkan seorang anak berarti harus menikah dulu, dan aku akan menikah dengan orang asing.

Di usia delapan belas tahun, aku belum pernah menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Apa lagi membayangkan menikah. Almarhum Ibu pernah memberi petuah tentang pernikahan saat itu aku berumur enam tahun, beberapa bulan sebelum dia meninggal, tentang tanggung jawab besar menjadi seorang istri. Dan itu tidaklah mudah.

Aku menenggadahkan kepala, menatap langit-langit kamar. Benarkah malam ini malam terakhir aku di sini? Benarkah waktu itu hanya satu tahun dan semua akan selesai?

Azan magrib berkumandang dari masjid dekat rumah, aku bergegas menutup jendela kamar. Melangkah ke kamar mandi dan berwudhu. Satu-satunya tempat pulang adalah padaNya. Hanya padaNya aku menceritakan semua.

Setelah memakai mukena aku kembali mengintip di celah jendela. Memperhatikan teman-teman sebaya shalat berjamaah di masjid. Aku rindu ingin ke sana juga, tapi tidak boleh. Mak Tuah melarang, mungkin beliau takut aku memiliki teman. Seperti dicerita-cerita dongeng, aku tidak pernah membantah Mak Tuah. Entahlah, aku memang tak menyukai pertentangan.

Selesai shalat dan bermunajat, aku ke luar kamar. Menuju meja makan, menikmati makanan sisa yang telah disediakan. Aku tak pernah diizinkan makan satu meja dengan keluarga Mak Tuah, kecuali jika ada tamu. Ya, Mak Tuah selalu kelihatan menyayangiku di depan orang-orang, meskipun itu tidak tapi aku tak berniat menceritakan cerita sedih ini pada siapapun.

Selesai makan aku membereskan piring dan langsung mencucinya. Lalu melangkah ke ruang keluarga. Pemandangan seperti biasa terlihat, keluarga bahagia. Lengkap, sepasang anak yang sudah hampir menginjak dewasa, dengan orang tua yang begitu menyayangi. Hanya ini yang membuatku iri. Hanya ini yang mampu mengusik keikhlasan betapa cepatnya Ayah dan Ibu dipanggil yang maha kuasa.

"Ada apa, tidur sana!" Mila yang pertama menyadari kehadiranku dia menatap sinis.

"Ingin gabung? Susul ayah dan ibumu ke dalam kubur," potong Rudi terbahak.

Aku menelan ludah yang terasa pahit. Aku mengerjapkan mata, berusaha mengusir kabut yang hendak mengalami pandangan. Kalau saja bunuh diri itu sah dalam agama, sudah kususul Ayah dan Ibj jauh-jauh hari.

"Kapan orang itu akan menikahiku, Mak?" Suaraku yang serang terdengar nyaring, membuat semua orang itu menatap ke arahku dengan keterkejutan yang nyata. Kemudian tawa mengejek Mila dan Rudi memenuhi ruangan keluarga.

"Nikah? Mimpi!" Rudi memegangi perutnya dan terus tertawa.

"Tidak akan ada pernikahan, Jihan." Suara Mak Tuah menghentikan tawa Mila dan Rudi. Mak Tuah menatap ke arahku tajam.

"Tapi ...."

"Orang itu hanya membutuhkan anak, bukan istri. Kau mengerti maksudku?"

Aku menggeleng, bagaimana memiliki anak tanpa menikah. Astaga, apakah orang itu akan mengajakku berzina? Bisa kurasakan darah surut dari wajahku, menggelengkan kepala cepat. Aku takkan memasuki lobang dosa itu.

"Ya, kau akan melahirkan anaknya tanpa menikah. Tidak akan ada orang yang tahu ...."

"Tuhan tahu, Mak! Tuhan tahu segalanya! Aku takkan melakukan dosa itu!" jeritku.

Ayah dan Ibu akan masuk neraka karena dosaku. Mereka berdua akan menyesal memiliki anak sepertiku. Jadi, aku takkan melakukan itu, tidak tanpa pernikahan.

"Kamu jangan aneh-aneh, Jihan. Mana ada orang kota kaya raya yang mau menikahi wanita kampung sepertimu. Meskipun dia bandot tua itu takkan terjadi. Sudahlah terima saja takdirmu," tekan Tek Ida.

"Aku tidak akan berzina untuk memberikan siapapun anak," geramku memutar tubuh dan melangkah masuk kamar. Rasanya tenaga tercabut habis dari ragaku, kenapa kenyataan begitu semengerikan ini?

"Jangan coba-coba bertingkah, atau aku akan kujual kau ke rumah kuning kampung sebelah!" Tek Ida menyentakkan tanganku hingga kembali menghadap padanya. Mataku membulat tak percaya dengan apa yang dia katakan. Rumah kuning adalah tempat wanita yang menjajakan dirinya secara diam-diam. Penghuninya rata-rata janda genit. Tidak tersentuh hukum, kabarnya rumah itu milik seseorang yang berpengaruh.

"Etek takkan berani," tantangku.

"Jangan mengujiku, akan kuantar kau ke sana malam ini." Lalu tangannya menyeretku.

"Lepaskan!"

"Jangan membantahku, Ayo, Pak. Kita antar saja dia ke rumah kuning itu!" Tek Ida berseru pada Mak Tuah dengan terus menyeretku ke luar.

"Tidak! Tidak!" Aku mencoba melepaskan diri ketika dipaksa naik mobil Avanza yang baru saja dibeli Mak Tuah dari hasil penjualan tanah tapi tak berhasil.

Tak berapa lama kemudian mobil sudah meluncur melewati jalan desa. Dari kejauhan rumah kuning itu sudah jelas, lampu temaram terasnya membuatku merinding. Tel Ida tak main-main, dia ingin menjualku. Ke mana semua orang malam ini, kenapa tak ada yang melihatku. Ya Allah ....

"Baik, baik! Aku akan memberikan anak pada orang itu, bawa aku pulang!"

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Bintang_Malam

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Rahim Lima Ratus Juta Rahim Lima Ratus Juta Bintang_Malam Romantis
“"Jangan pernah menaruh perasaan pada anakku yang ada dalam perutmu, dengan begitu tidak akan sulit bagimu saat pernikahan kita usai. Jangan cemas, saat dia lahir kau takkan melihat wajahnya, kami akan langsung membawanya. Nanti seolah-olah kami tidak pernah ada dalam hidupmu."”
1

Bab 1 Lima Ratus Juta

12/01/2024

2

Bab 2 Tidak Ada Pilihan

12/01/2024

3

Bab 3 Mental Pelayan

12/01/2024

4

Bab 4 4. Permintaan

12/01/2024

5

Bab 5 Wanita Yang Tak Mau Punya Anak

12/01/2024

6

Bab 6 Perjanjian Kontak

12/01/2024

7

Bab 7 Minuman Yang Memabukkan

12/01/2024

8

Bab 8 Hal Sampai Anak Ini Lahir

12/01/2024

9

Bab 9 Mual

12/01/2024

10

Bab 10 Dia Istriku

15/01/2024

11

Bab 11 Beban Yang Bisa Kutanggung

15/01/2024

12

Bab 12 USG

15/01/2024

13

Bab 13 Bayi Kembar

15/01/2024

14

Bab 14 Bayi Kami

15/01/2024

15

Bab 15 Bayinya Bergerak

15/01/2024

16

Bab 16 16. Seolah-olah Kau Akan Jadi Suamiku Selamanya

15/01/2024

17

Bab 17 Maafkan Ibu, Nak

15/01/2024

18

Bab 18 Berikan Satu Padaku

15/01/2024

19

Bab 19 Semuanya Tetap Pada Perjanjian Awal

15/01/2024

20

Bab 20 Jangan Lahir Dulu

15/01/2024

21

Bab 21 Kontraksi

29/01/2024

22

Bab 22 Hari-hari Berat

31/01/2024

23

Bab 23 Salim 1

02/02/2024

24

Bab 24 Salim 2

05/02/2024

25

Bab 25 Salim 3

07/02/2024

26

Bab 26 26. Salim 4

09/02/2024

27

Bab 27 Salim

11/02/2024

28

Bab 28 Salim

13/02/2024

29

Bab 29 Salim

15/02/2024

30

Bab 30 Salim

17/02/2024

31

Bab 31 Salim

20/02/2024

32

Bab 32 Salim

22/02/2024

33

Bab 33 Salim

24/02/2024

34

Bab 34 Salim

26/02/2024

35

Bab 35 Salim

28/02/2024

36

Bab 36 Jihan

01/03/2024

37

Bab 37 Salim

03/03/2024

38

Bab 38 Salim

05/03/2024

39

Bab 39 Salim

09/03/2024

40

Bab 40 Salim

11/03/2024