Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
5.0
Komentar
992
Penayangan
63
Bab

Awalnya Beryl cuma main-main karena egonya tersentil ketika orang-orang mengatakan jika Beryl tidak akan mungkin bisa mendapatkan Simfoni. Katanya cewek itu terlalu sulit untuk didekati. Beryl kira orang-orang terlalu berlebihan dalam mendeskripsikan Simfoni, tapi ternyata mereka tidak bohong sama sekali. Nyatanya Simfoni memang sulit didekati. Berbagai cara sudah Beryl lakukan, dari yang normal sampai tidak normal. Dari yang bikin gemes sampai yang bikin stress. Pokoknya apa pun Beryl lakukan buat menarik perhatian Simfoni! Hah! Mana ada yang bisa imun terhadap pesona Beryl! Akankah Beryl berhasil menaklukkan Simfoni?

Bab 1 Sepatu Kets Cinderella

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

Sepatu Kets Cinderella

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

EMBUSAN angin masih betah bermain berlama-lama dengan awan, mengaraknya pelan di bawah hamparan langit yang masih terbias cahaya matahari sore ketika dua remaja laki-laki tengah sibuk berlarian di tengah lapang basket. Si bundar orange bergaris hitam itu menjadi rebutan keduanya.

Kening Beryl sudah dipenuhi peluh ketika ia berhasil merebut bola di tangan Gerhan untuk kesekian kali. Kaki berbalut sepatu berlambangkan tanda ceklis itu berlari cepat, membuat kemeja seragamnya yang tidak dikancingkan bergerak-gerak karena bertubrukan dengan angin. Namun, Gerhan memang tidak bisa dianggap remeh. Laki-laki itu kembali mengejar Beryl, berusaha merebut bola di tengah keprotektifan seorang Beryl dalam mempertahankan bola. Aksi kejar-kejaran terjadi selama beberapa saat hingga akhirnya mereka berdiri berhadap-hadapan. Beryl menyeringai di tengah usaha Gerhan dalam merebut bola. Tangan kanan Beryl men-dribble bola, sementara tangan kirinya membatasi gerak Gerhan. Napas kedua laki-laki itu terengah cepat.

"Rebut bola ini kalo lo bisa," ujar Beryl angkuh. Plester di sudut bibirnya entah kenapa justru membuat senyum meremehkan laki-laki itu tampak menawan.

Gerhan menanggapi itu dengan senyum meremehkan. Tangannya masih berusaha menggapai bola di tangan Beryl. "Jangan sombong."

"Sombong?" Lagi-lagi seringaian Beryl terlihat. "Kita liat apa itu sombong." Detik selanjutnya laki-laki itu melakukan pivot, membawa bola di tangannya melewati pertahanan Gerhan. Kaki-kakinya kian melangkah cepat, membuat Gerhan kesulitan mengejar gerak lihainya. Beryl melompat, melakukan lay up di udara hingga membikin bola orange itu melesat cepat menembus ring. Bola itu meluncur mulus tanpa sedikit pun menyentuh pinggiran ring.

Beryl melayangkan tatapan penuh kemenangan pada Gerhan, yang langsung dibalas Gerhan dengan decihan.

Mengusap keringat yang jatuh di pipi dengan punggung tangan, Beryl lantas berujar di tengah deru napasnya yang belum stabil, "Tuh, itu namanya sombong."

Napas Gerhan tak kalah berantakannya dari Beryl. Dada laki-laki itu bergerak naik turun. "Lo cuma beruntung." Padahal Gerhan sadar betul bagaimana kemampuan Beryl dalam bermain basket. Bisa dibilang jika Beryl merupakan salah satu pemain basket terbaik sekolah, sehingga kemampuannya tak bisa diragukan. Namun, tentu saja Gerhan tak akan mengakui hal itu sekarang. Tidak di saat Beryl sedang angkuh-angkuhnya membanggakan diri.

Beryl berdecak. "Lo nggak mau banget ngakuin kehebatan gue."

Gerhan hanya melayangkan tatapan sekilas. Kedua tungkai kakinya lantas membawa laki-laki itu mendekati bola yang tengah memantul-mantul pendek ke arahnya.

Lemparan kerikil di punggung diikuti teriakan, "Udahan maennya, woy!" membuat Beryl kontan mengaduh. Laki-laki itu berbalik dan mendapati Xylo tengah duduk dengan kaki yang diselonjorkan di pinggir lapangan. Sebuah kruk tergeletak di samping kakinya. "Hobi banget lo berdua manas-manasin gue!" sungutnya kesal.

"Sakit, Bego!" Beryl balas bersungut jengkel. Beryl tidak berlebihan ketika mengatakan itu. Faktanya, kerikil yang Xylo lemparkan memang tidak bisa dibilang kecil. Mana Xylo melemparnya sekuat tenaga lagi. Beryl yakin jika bekas lemparan Xylo akan meninggalkan jejak kemerahan di punggungnya.

"Ya lo pada lagian. Udah tau gue lagi nggak bisa main, segala main di depan gue!"

Beryl justru menyeringai. Laki-laki itu lantas kembali menghadap pada Gerhan. "Yok, Han, lanjut lagi! Kita bikin si Xylo makin mupeng."

"Bangsat!"

Tawa Beryl merebak puas. Sedangkan Gerhan hanya menatap kedua manusia itu tanpa minat sebelum kembali melanjutkan permainannya seorang diri. Ah, Gerhan dan ketidakpeduliannya, selalu melekat seerat itu.

Beryl berjalan mendekati Xylo. Bukannya iba pada keadaan kaki Xylo yang masih terbungkus perban elastis, Beryl justru bertanya menyebalkan. "Asli kagak, tuh, luka lo? Jangan-jangan palsu lagi." Tentu saja itu hanya sebuah candaan. Karena Beryl pun tahu betul bagaimana seorang Axylo Dhananjaya bisa mendapatkan cedera itu.

"Congor lo kalo nanya!" seru Xylo berapi-api. "Beneranlah. Tanda cinta dari anak-anak Cendana, nih!" Meskipun kalimat yang Xylo lontarkan cenderung seperti candaan, tetapi Beryl tahu betul ada kekesalan yang tersemat di dalamnya. Jelas saja. Memang orang waras mana yang tidak akan kesal jika telah dicurangi sampai seperti itu? "Ah, bangsat emang anak Cendana! Liat aja, setelah kaki gue sembuh bakal gue balas mereka! Mental banci aja pada bangga! Nggak cocok mereka megang bola basket, cocoknya pada megang bola bekel!" sambung Xylo, yang kembali memicu munculnya tawa Beryl.

"Ya, lo maklum ajalah. Mereka kan luarnya doang laki, mentalnya, sih, nggak jauh beda sama barbie."

"Si bangke!" Xylo ikut-ikutan tertawa. "Suka bener kalo ngomong."

Mengabaikan ucapan Xylo, Beryl lantas memalingkah wajah pada Gerhan yang masih sibuk dengan bola basketnya. Laki-laki itu tampak asyik sendiri, dan tidak ada tanda-tanda jika ia akan segera menghentikan permainannya dalam waktu dekat. "Si Gerhan kalo udah ketemu yang bulet-bulet begitu suka nggak mau berhenti."

"Nyadar diri, Nyet! Lo juga begitu." Xylo menonjok pundak Beryl hingga membuat laki-laki itu kembali tertawa. "Lo bahkan bisa lebih parah dari si Gerhana Matahari Bulan."

"Wadu, ati-ati digigit bulldog ketauan manggil Gerhana."

"Halah, bulldog begituan doang kagak takut gue."

"HEH! SIAPA YANG LO KATAIN BULLDOG?!" Teriakan itu melengking sempurna menembus pendengaran Xylo, membuat laki-laki itu kontan berjengit kaget. "Enak aja manggil kesayangan gue bulldog!"

"Budek gue, woy!" Xylo balas berteriak. Diusapnya telinga yang terasa pengang berkat teriakan tiba-tiba perempuan di sampingnya. "Lo dateng dari mana, hah? Udah kayak setan tiba-tiba nongol."

"Dia 'kan emang setan." Beryl menyambung dengan tawa ditahan.

"HEH!" Perempuan itu—Cyrin—melotot galak. "Enak aja ngatain gue setan! Mau gue cakar, tuh, muka?!"

"Buset," Xylo kembali mengusap telinganya kasar, "Lo bisa nggak, sih, ngomong nggak sambil teriak? Budek kuping gue lama-lama."

"Bodo amat! Kuping juga kuping lo bukan kuping gue!"

"Gerhan! Woy! Cewek lo, nih, tolong kandangin. Pusing gue denger dia teriak-teriak mulu!"

Yang diteriaki sontak berbalik. Bola yang baru masuk ke dalam ring kini memantul menjauhi Gerhan, tetapi laki-laki itu tidak memedulikannya. Keningnya justru mengerut begitu netra gelap itu menemukan sesosok perempuan duduk di dekat teman-temannya. Padahal, tadi ia tidak ada di sana. Tanpa mengatakan apa-apa, Gerhan merajut langkah mendekati mereka.

Xylo berbisik pada Beryl. "Giliran ada ceweknya aja langsung nyamperin. Dasar bucin." Yang diamini oleh Beryl.

"Kok belum pulang?"

Ucapan Gerhan disambut Cyrin antusias. Perempuan itu berjalan mendekati Gerhan dan langsung melingkarkan tangan di lengan Gerhan. Ia tampak tak peduli jika saat ini kondisi Gerhan penuh oleh keringat. "Abis rapat sama anak teater terus liat kamu lagi main basket, ya udah, aku samperin." Cyrin nyengir. "Aku pulang sama kamu, ya?" pintanya.

Gerhan mengangguk seadanya. "Oke."

Sementara Cyrin mulai sibuk memperhatikan Gerhan dengan memberikan laki-laki itu bekal minumnya yang masih tersisa banyak serta menyusut keringat di wajah Gerhan dengan tisu, Beryl justru beranjak. Membuat Xylo seketika bertanya panik. Oh, tolong, mana mau dia jadi obat nyamuk sendirian. Setidaknya kalau ada Beryl, Xylo tidak terlalu terlihat mengenaskan.

"Gue mau ke toilet. Ngapa? Mau ikut? Apa mau nitip?" Begitulah balasan Beryl ketika Xylo bertanya. Tampangnya tengil luar biasa.

Xylo berdecak jengkel. "Ah, yaudah lah, sono. Ntar balik gue nebeng, ye? Awas kalo lo ujug-ujug balik dan ninggalin gue."

"Iya, iya. Cerewet amat lo kayak cewek," tukas Beryl sambil lalu. Ia lantas berjalan menuju toilet. Sebenarnya ada toilet terdekat yang bisa Beryl tuju. Letaknya berada di dekat gedung olahraga di sisi utara lapang basket outdoor, atau kalau tidak, ada di ujung lantai satu. Namun, laki-laki itu memilih yang terjauh. Ia memilih toilet yang berada di bangunan belakang, sekalian ke kantin, begitu pikirnya.

Beryl mengambil langkah memutar, ia melewati taman belakang. Di tengah desir angin yang membelai daun, laki-laki itu seperti mendengar ada yang berbicara. Sontak saja hal itu menghentikan langkahnya. Ia mengedarkan pandang, tetapi Beryl sama sekali tidak melihat siapa pun di sana. Mengangkat bahu tidak peduli, Beryl kembali melanjutkan langkah. Namun, baru lima langkah yang ia ambil, suara itu kembali terdengar. Tidak jelas memang, tetapi tetap saja Beryl dapat mendengarnya.

Penasaran, Beryl kembali menyapu pandangan. Akan tetapi, hasilnya tetap sama. Dia tidak menemukan siapa pun. Beryl berdecak. Pikirannya lantas mengarah pada satu makhluk tak kasatmata yang kerap kali ditakuti orang-orang. Hantu, tentu saja. Namun, pikiran itu kembali ditepisnya jauh-jauh. Setan jam segini masih tidur, begitu pikir Beryl.

Menuntaskan rasa penasarannya, niat Beryl yang tadi ingin ke toilet kini berbelok. Laki-laki itu berjalan menuju salah satu pohon yang tepat berada di dekat tembok belakang sekolah. Semakin ia mendekati pohon itu, semakin jelas pula suara yang terdengar.

"Kaki kamu kenapa bisa luka kayak gini? Pasti sakit."

Ketika berada di dekat pohon itu, Beryl kembali mengedarkan pandang, dan tetap saja, ia tidak menemukan siapa pun di sana. Kembali berdecak, Beryl lantas menyandarkan lengan pada batang pohon.

"Kita turun, ya? Sebentar. Eh!"

Seiring dengan kalimat itu terdengar, Beryl merasakan sesuatu menimpa kepalanya. Ia kontan mengaduh, disusul jatuhnya sebuah sepatu kets dengan bagian belakang terlipat di dekat kakinya. "Siapa, nih, yang ngelempar gue pake sepatu?!" ujarnya jengkel. Tanpa sengaja, mata laki-laki itu terarah ke atas pohon. Dan betapa terkejutnya Beryl kala melihat seorang perempuan berseragam sama dengannya tengah duduk di salah satu dahan pohon. Kelopak mata laki-laki itu melebar. Pun perempuan itu menampilkan ekspresi yang sama. Malah, dibanding Beryl tampaknya dia lebih terkejut.

Sekian sekon diliputi keterkejutan, akhirnya Beryl kembali menemukan logikanya. "Heh, lo ngapain di situ?"

Perempuan itu gelagapan. "A—aku—"

"Mau maling lo, ya?"

Kini giliran mata perempuan itu yang melebar. "Eng—enggak! Aku cuma—"

"Turun lo!"

Perempuan itu tampak enggan, tapi begitu Beryl kembali menyentaknya dan menyuruhnya untuk segera turun, ia sama sekali tak memiliki pilihan. Ia sudah bergeser ke sisi dahan yang dekat dengan batang pohon. Namun, sebelum ia melakukan gerakan lain, kepalanya kembali menunduk untuk menatap Beryl. "Mata kamu," ujarnya membuat kening Beryl mengernyit.

"Kenapa sama mata gue?" bingung Beryl.

"Tutup mata kamu! Jangan ngintip!" teriak perempuan itu seraya meletakkan telapak tangan pada permukaan rok.

Mata Beryl berotasi. Padahal, terpikirkan ingin mengintip saja tidak. Namun, daripada mendebat perempuan itu, Beryl memilih menurut. Laki-laki itu memalingkan wajah ke arah lain, sama sekali tak melihat bagaimana proses turunnya perempuan itu dari atas pohon. Setelah mendengar bunyi yang menandakan jika si perempuan telah sepenuhnya telah menapak di atas tanah, Beryl lantas kembali memberikan atensi pada perempuan itu.

Perempuan itu berdiri canggung dengan satu tangan memilin sisi rok rimpel selututnya, sementara tangan yang lain memeluk seekor kucing cokelat pucat. Kepala perempuan itu menunduk, tak berani menatap Beryl. Di posisi seperti itu Beryl dapat melihat jika postur perempuan itu tidak terlalu tinggi. "Ma—maaf."

Kening Beryl agak mengernyit, tetapi dibandingkan menanggapi permintaan maaf perempuan di hadapannya, Beryl lebih tertarik menyanyakan hal lain. "Lo ngapain naik-naik ke atas pohon?" Mata laki-laki itu lantas menyipit curiga. "Jangan-jangan lo beneran mau maling, ya?"

Perempuan itu tampak panik. Tangannya yang tidak memeluk si kucing sontak bergerak ke kanan dan ke kiri secara cepat, sebuah gesture menampik. "Eng—enggak! Aku nggak mau maling! Aku anak sekolah sini, mana mungkin aku maling di sekolahku sendiri."

"Kalo nggak mau maling, terus ngapain lo naik-naik ke atas pohon?"

"Aku cuma mau ngambil kucing ini. Kasian dia nggak bisa turun."

Netra gelap Beryl turun, menatap pada kucing di pelukan perempuan itu. Ada darah yang Beryl liat di kaki kucing tersebut. Kucing itu pun tampak lemas, dilihat dari kepalanya yang menyandar tanpa tenaga pada lengan si perempuan. Sesekali ia memejamkan mata atau mengeong pelan. Tatapan Beryl kembali naik pada perempuan di hadapannya yang kini kembali menunduk. Kepala Beryl sedikit meneleng, mengamati perempuan itu.

Risi ditatap seperti itu, perempuan itu berniat kabur. Sayangnya sebelum sempat melarikan diri, Beryl keburu mencekal lengannya. Menahannya.

"Eits, gue belum selesai."

Dicekal tiba-tiba, perempuan itu refleks menampik. Gerakannya terlalu cepat dan kasar hingga ia sendiri kaget dengan tindakannya hingga membuat mata perempuan itu melebar.

Tetapi sepertinya Beryl tidak terganggu dengan itu. Dia malah memicing penuh selidik. "Lo beneran anak sekolah sini?"

Anggukan kaku adalah jawaban yang diberikan perempuan itu. Ia masih kaget atas tindakannya tadi.

"Tapi kok gue nggak pernah liat lo?" Beryl memasang tampang berpikir, hidung dan keningnya sampai mengernyit. Ditatapnya perempuan itu intens, mencoba menggali ingatan apakah dia pernah melihat perempuan ini atau tidak. "Angkat kepala lo."

Perempuan itu justru semakin menunduk dalam. Kucing di pelukannya kembali mengeong lemah. "A—aku harus ngobatin kucing ini." Setelah mengatakan kalimat tersebut, perempuan itu lantas menjauh tanpa menunggu balasan dari Beryl. Langkahnya tampak tergesa-gesa, kentara sekali jika ia tengah menghindari Beryl. Ingin mencegah lagi pun tampaknya tidak akan berguna, karena Beryl yakin jika perempuan itu akan tetap menghindar. Jadi, Beryl membiarkan saja perempuan itu pergi.

Merasa ada yang aneh, Beryl lantas tertunduk. Keningnya lagi-lagi mencipta gelombang samar kala melihat sebuah sepatu kets hitam dengan bagian belakang terinjak ada di tangannya. Sepatu si perempuan pohon itu!

Dia tidak mengerti kenapa ia masih memegang sepatu ini, dan dia juga tidak mengerti kenapa perempuan itu bisa lupa dengan sepatunya sendiri.

Namun, di luar ketidakmengertiannya, Beryl justru mengembangkan senyum. Ah~ sepertinya dia memiliki bahan untuk bertemu perempuan itu lagi nanti.

Dan kata nanti yang terucap dalam kepala Beryl rupanya terjadi terlalu cepat. Sebab, belum lima detik kata itu terpikir di dalam kepala, sepatu kets di tangannya sudah berpindah lantaran ada yang merebutnya.

"Se—sepatu aku!"

Rupanya perempuan itu kembali lagi untuk mengambil sepatu yang tertinggal. Meskipun suaranya terdengar digalak-galakan, tetapi tetap saja Beryl menemukan kegugupan di sana.

Belum-belum Beryl memberikan tanggapan, perempuan itu sudah kembali menjauh dengan langkah yang sama tergesanya seperti tadi. Bahkan saking tergesanya, perempuan itu sampai tidak memakai satu sepatunya terlebih dahulu. Ia hanya menjinjing sepatu itu di tangan kiri. Sama sekali tak terlihat risi berjalan hanya dengan memakai satu sepatu. Tampak sekali jika ia memang tidak ingin berlama-lama dengan Beryl.

Beryl lagi-lagi menatap kepergian perempuan itu. Matanya tak lepas dari punggung tertutup rambut agak kecokelatan tersebut.

Menarik.

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ to be continued

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku