Saat Istriku Memilih Mati

Saat Istriku Memilih Mati

WuSaKoRi

5.0
Komentar
13.8K
Penayangan
39
Bab

Istriku mati, memilih bunuh diri, begitu tiba-tiba, tanpa tanda-tanda. Meninggalkanku dengan tia anak laki-laki yang masih kecil-kecil. Seiring waktu, satu persatu alasan kematian istriku terkuak, yang membuatku terhenyak. Aku yang awalnya merasa telah menjadi suami dan imam yang sempurna, dihadapkan kenyataan yang sebaliknya. Ultimatum dari mertua membuatku berpikir ulang tentang peranku sebagai kepala rumah tangga. Nasi telah menjadi bubur, dan kini aku harus menuai apa yang sudah kutabur.

Saat Istriku Memilih Mati Bab 1 Hari Pertama Kepergianmu

Jasad istriku diturunkan dalam liang lahat, tangan ini terulur hendak menyambutnya. Sama seperti saat aku menyambutnya dengan senyum terkembang kala meminta kesediaannya untuk menikah denganku dulu. Waktu itu, aku menjanjikannya dunia beserta isinya, yang tak pernah kupenuhi.

Berjanji saat hati bahagia itu memang paling mudah.

Hanya kali ini, aku menyambutnya di bawah dengan berusaha tegar walau tanganku gemetar tak karuan. Dengan hembusan napas panjang dan hati getir meletakkannya dalam ceruk dan memiringkan tubuhnya ke arah kiblat.

Aku masih kuat.

Dibantu orang-orang lain aku mengubur tubuh istriku dengan gundukan tanah, hati-hati sekali takut menyakitinya. Takut menyakitinya? Mengapa baru sekarang aku memikirkannya? Selama ini aku lupa bertanya bagaimana keadaannya.

10 tahun lalu, diserahkannya padaku tanggungjawab atas istriku dari ayahnya saat aku berjanji di depan penghulu, tapi rupanya aku bukanlah lelaki atas sumpahku. Setelah ia dalam genggaman, tak lagi aku merepotkan diri memberikannya perhatian.

Tak pernah sekalipun bertanya kabarnya, bahkan enggan tiap membaca pesan darinya yang bertanya keberadaanku dan kapan aku pulang. Lebih-lebih harus mendengarkan cerita hari-harinya, setiap kali ia hendak bercerita aku mengabaikannya dan memilih nongkrong dengan teman-temanku saja.

Paling dia hanya akan mengeluh soal kerjaan rutinnya sebagai ibu rumah tangga dan menjaga anak-anak kami bertiga, lagu lama kaset rusak, aku bosan. Dia wanita yang kunikahi karena kepintarannya dulu, kini isi obrolan kami bukanlah lagi tentang ilmu terbaru tapi cerita sehari-hari yang tak memiliki bobot.

Dia pikir kerja di luar tak capek, bertemu dengan banyak rekan kerja dengan karakternya masing-masing yang bikin pusing kepala. Aku pulang mau istirahat, bukan mendengarkan masalah orang lain lagi.

Sehingga, jika kulihat ia mendekat hendak mulai mengeluh, maka aku memotongnya duluan dengan keluar ngopi ke rumah tetangga agar pikiranku rileks. Waktu itu aku merasa, rumah bukanlah rumah, tapi bara api, selalu panas. Belum lagi teriakan anak-anakku yang bersahutan tak henti-henti, telingaku penging dan memunculkan emosi.

Sengaja aku pulang tengah malam, saat mereka semua sudah tertidur, dengan demikian aku juga bisa langsung istirahat setibanya di rumah. Sebal sekali, padahal besok pagi harus mulai kerja lagi.

Tentang Ali, anak bungsu yang kehadirannya karena kesalahanku yang tak sempat memutus pers*ngg*maan kami saat aku mencapi klimaks, namun aku berdalih bahwa Ali adalah permintaanmu dulu saat kita masih sama-sama kuliah.

Aku masih ingat betul sorot mata tak terimamu waktu itu dan berkata.

"Itukan dulu waktu aku belum tahu repotnya menjaga anak kecil-kecil di waktu yang bersamaan! Bahkan Rayi masih kecil 15 bulan, dan Azka baru 4 tahun, bagaimana jika nanti aku hamil lagi? Sedang kau tak pernah di rumah membantuku merawat anak-anak?"

"Kalau hamil lagi ya rejeki, alhamdulillah." Dalihku enteng sambil tersenyum padanya.

"Enteng banget ya Yah ngomongnya, kamu gak pernah tahu stressnya. Mengurus satu bayi saja sudah berat, ditambah lagi harus mengurusi kakak-kakaknya yang masih balita. Mereka juga butuh perhatian, tanganku cuma dua lho."

"Bunda, semua itu akan terasa ringan jika kita melakukannya dengan ikhlas, apa yang bunda lakukan itu tak tampak nilainya, tapi disitulah letak ujiannya. Kalau bunda bisa ikhlas menjalaninya, balasannya surga."

Aku tak lagi mendengar sanggahanmu waktu itu, saat kulirik mulutmu menganga kehabisan kata-kata. Dan itulah memang tujuanku, yaitu diammu.

Aku ingat, kau masih menyusui Rayi setelah hasil test pack mu menunjukkan garis dua. Juga rutin mengayuh sepeda untuk Azka, sulung kita yang baru masuk TK A karena kamu tak pandai membawa motor.

Hingga 5 bulan lamanya kau tetap memberikan hak ASI untuk anak kita yang kedua yang masih balita sembari menyicil tanah di kampung kelahiranku waktu itu, itupun karena inisiatif darimu.

Padahal aku merasa waktu itu masih belum siap untuk memiliki hutang, tapi kamu cerita jika ibuku bertanya kemana saja hasil kerjaku selama ini, maka demi memenuhi harapan orang tuaku kita menyicil tanah waktu itu.

Gajiku sangat mepet untuk hidup kita di kota penyangga Jakarta waktu itu, sehingga kamu berinisiatif untuk berjualan donat frozen ataupun yang siap santap untuk menambal sulam kebutuhan yang kurang.

Aku senang waktu itu, melihatmu keluar dari zona nyaman. Padahal kau melakukannya sembari mengurus rumah, Azka, Rayi dan juga jabang bayi dalam tubuhmu. Bergadang hingga tengah malam mengulen donat.

Tugasku adalah mencarikan pelanggan dari teman-temanku karena donat buatanmu memang enak, aku tak ingat bahwa tubuhmu entah bagaimana keadaannya waktu itu. Karena aku tidur sepanjang malam, tak pernah mengerti ceritamu yang mengeluh ingin rebahan tapi sudah disambut oleh tangisan Rayi 2 jam sekali setiap malam.

Aku ingat lagi, pernah kesal padamu yang masih tidur di pagi hari saat aku hendak berangkat kerja. Tak paham keluhanmu yang bilang habis begadang semalaman mengurus Azka yang demam dan Rayi yang bolak balik meminta asi.

Lebay sekali! Ngurus dua anak saja sudah seperti repotnya dokter memimpin operasi. Suami mau berangkat kerja malah tidur enak-enakan bukannya nyiapin bekal dan sarapan!

***

Lihatlah rapuhnya aku kini, saat ketiga anak kita yang masih sangat membutuhkan sosok bundanya menangis memegangi kedua tanganku sembari menatap gundukan tanah merahmu. Belum apa-apa batinku sudah lelah luar biasa.

Sesampainya di rumah, melihat dastermu tergantung di kastok membuatku tersedu sedan. Tumpah sudah semua tangisan, penyesalan, dan juga kekecewaan dari dalam diriku untukku sendiri. Kukunci pintu dan memeluk erat baju rumahmu yang dulu pernah kuprotes itu karena membuatmu tampak jelek dan tak memantik gairahku.

Wangi tubuhmu masih menempel di sana, bagaimana bisa wangi yang dulu menyebalkan ini kini membuatku candu? Kapan lagi aku dapat mengirup wangi tubuhmu secara langsung adinda? Mengapa kita tak lagi menyelesaikan semuanya dengan berbicara? Mengapa engkau memilih jalan pintas itu untuk pergi?

Bisa protes apalagi aku, karena terjawab jua mengapa kau memilih mengakhirinya. Dua hari lalu kau minta bicara, tapi lagi -lagi aku mengabaikannya karena janji futsalan dengan teman kantor.

Kau pintar, bicara denganmu adalah penghakiman atas tindakan-tindakanku yang salah. Bukan diskusi terbuka yang sehat antar dua insan manusia yang dewasa. Siapa juga yang mau disalah-salahi? Walaupun tindakanku memang salah.

Tapi kan aku imamnya? Terserah aku dong mau berbuat apa?

***

"Ayaaah... Buka pintunya... Kami lapeeer..." Rengekan Azka, diiringi tangisan Rayi dan juga si bungsu Ali.

Ah, tak bisakah mereka memberikanku waktu untuk sekedar berkabung sedih? Aku baru saja kehilangan istri, masih harus memikirkan kebutuhan mereka.

Seketika aku teringat, beginikah yang dirasakan istriku saat itu? Saat ia mengingatkan tangannya yang hanya dua? Saat ia stress ketika ketiganya membutuhkannya di waktu yang bersamaan?

Aku ingat, mereka belum makan dari kemarin, panggilan perut mereka saat ini adalah suatu kewajaran. Duh, susah sekali harus menekan emosi saat pikiran penuh oleh banyak hal lain.

Tak urung, kuseka juga airmata dan mengelus kepala mereka bertiga. Menuju dapur dan membuka kulkas untuk melihat bahan makanan yang tersedia. Saat membukanya, aku jatuh terduduk.

Kutemukan suratmu di sana.

-Untuk Suamiku.-

Begitu tulisan yang tertera di amplopmu, membuatku membukanya dengan tergesa-gesa, akhirnya aku mengetahui alasan kepergianmu, dengan demikian aku mendapat "penutupan" atas kalimat tanya besar dalam kepalaku 2 hari ini.

Jika kau membaca surat ini, artinya kau sudah lulus tahapan pertama menjadi seorang bapak, yang alpa kau lakukan 9 tahun ini.

Karena kau sudah lulus tahapan pertama, artinya tahapan selanjutnya pasti akan lebih mudah kau lalui. Berikut kujabarkan kebiasaan anak-anak kita, anggap ini kisi-kisimu melewati ujian hidup kedepan saat membersamai mereka.

Mereka makan dua kali sehari, makanan mereka tak susah-susah amat. Aku sudah tinggalkan beberapa sayuran lengkap dengan bumbunya agar kau tak kerepotan di 5 hari pertama, ingat-ingat resep dan takarannya ya! Karena setelah 5 hari tidak akan ada tutorial lagi.

Maaf ya,

Karena akhirnya aku memutuskan egois untuk mengambil cuti panjang yang tak pernah kau berikan.

Aku melirik beberapa plastik berisi sayuran yang sudah disiangi dan juga bumbu yang sudah dikupas beserta catatan kecil cara memasaknya. Tulisan tanganmu yang kembali membuat leleh airmataku.

Aku tak bisa bayangkan bagaimana kondisi mentalmu saat mempersiapkan semua ini. Apakah di sana lebih baik dibanding hidup denganku, adinda? Kau masih memikirkan kebutuhanku dan juga anak-anak kita bahkan saat hatimu kalut.

Ada ayam dan tempe ungkep juga kesukaan anak-anak. Telur dan juga nugget sebagai selingan hanya agar mereka mau makan. Maaf anak-anakmu makannya tak variatif dan mereka terbiasa dengan itu, tanganku cuma dua, Yah.

Azka gampang mimisan jika terlalu banyak pikiran dan istirahatnya kurang, pastikan dia cukup istirahat ya jika tak ingin kerepotan mengurus anak sakit. Jika musim berganti, pastikan mereka minum vitamin bintang-bintang yang mereka sukai itu.

Kaki Rayi gampang linu jika kelelahan, jika tak ingin bergadang mijetin semalaman, pastikan mengoleskan balsam di kedua kakinya jika sebelum tidur dia sudah tampak gelisah sembari menekuk kaki.

Ali belum bisa berbicara, tapi bahkan kakak-kakaknya yang belum remaja itu sendiri paham yang dia minta. Cobalah memahaminya dengan hati, bukan logika seperti yang biasanya kau lakukan dan berakhir memarahinya karena kau tak paham ia minta apa.

Mereka butuh dipahami olehmu yang dewasa, bukan justru belajar memahamimu. Jadi, seperti yang sering kau katakan dengan enteng saat aku sudah cerewet.

Sabarlah...

Begitu akhir dari suratmu yang kubolak balik karena tak percaya percakapan kita yang akhirnya baru kudengar (baca) ini berakhir begitu saja. Tapi tak ada. Tulisanmu hanya sampai situ saja.

"Ada lauk apa, Yah?" Azka menyapa dari balik bahuku ikut melongok isi dalam kulkas.

"Mm... Azka mau makan apa?"

"Ayam goreng aja, Yah." Tatapan Azka tertuju pada kotak berisi potongan-potongan ayam yang sudah diungkep dan siap digoreng.

"Oke, Azka panggil adek-adek tunggu di meja makan ya?" titahku yang dijawabnya dengan anggukan kepala.

Wangi ayam saat digoreng memenuhi ruangan saat baru masuk di wajan yang panas.

"Horeee... Ayam goreng ya Bunda?" Rayi berlari menyusul ke dapur dan tercekat saat bukan orang yang dirindukan yang berdiri menunggu ayam matang. Ia berbalik menunduk lesu ke arah meja makan dan duduk menekuk kaki.

Bagaimana ini, aku tak memikirkan rasa kehilangan mereka dan sibuk berkubang dengan kesedihanku sendiri. Saat ayam itu sudah matang, aku menyiapkan makanan mereka.

Azka menatap ayam yang kugoreng dengan masygul, begitu juga Rayi.

"Ada apa, mas Azka? Rayi? Ayo makan, keburu dingin entar."

"Azka biasanya di gorengkan paha sama bunda... Karena Azka gak pandai makan daging dada dan bagian yang banyak tulangnya."

"Iya, Rayi juga sama Yah. Adek Ali juga, suka yang banyak kulitnya soalnya rasanya lebih enak."

"Oh, ya sudah Ayah gorengkan lagi kalau begitu."

"Gorengnya jangan terlalu kering ya Yah biar gak keras."

Tak lupa Azka menambahkan instruksi. Baru kali ini aku tahu jika selera mereka berbanding terbalik denganku. Aku ingat, saat makan bersama waktu kuliah dulu kamu juga suka makan dada ayam sepertiku dengan alasan dagingnya bisa dapat lebih banyak.

Aku gak pernah ingat sejak kapan kamu beralih lebih menyukai bagian ceker, kepala dan leher.

Setelah kamu tiada kini baru aku tahu alasannya. Karena bagian-bagian terbaik telah kau berikan pada kami.

Sesak rasanya hati ini, apalagi mengingat sindiranku padamu yang sedang menggerogoti selipan daging di leher ayam.

"Meooong..." Demikian sindirku yang menerbitkan senyummu, aku benar-benar tak peka.

"Adinda, jangan ngadu sama Allah ya tentang kedzalimanku yang tak memperhatikanmu?"

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh WuSaKoRi

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Saat Istriku Memilih Mati Saat Istriku Memilih Mati WuSaKoRi Romantis
“Istriku mati, memilih bunuh diri, begitu tiba-tiba, tanpa tanda-tanda. Meninggalkanku dengan tia anak laki-laki yang masih kecil-kecil. Seiring waktu, satu persatu alasan kematian istriku terkuak, yang membuatku terhenyak. Aku yang awalnya merasa telah menjadi suami dan imam yang sempurna, dihadapkan kenyataan yang sebaliknya. Ultimatum dari mertua membuatku berpikir ulang tentang peranku sebagai kepala rumah tangga. Nasi telah menjadi bubur, dan kini aku harus menuai apa yang sudah kutabur.”
1

Bab 1 Hari Pertama Kepergianmu

12/07/2023

2

Bab 2 H+7 Setelah Kepergianmu

12/07/2023

3

Bab 3 Informasi Dari Kak Ita

12/07/2023

4

Bab 4 Tawaran Menikah Dengan Adik Ipar

12/07/2023

5

Bab 5 Ultimatum

12/07/2023

6

Bab 6 Pulang

12/07/2023

7

Bab 7 Habis Sudah Sabarku

12/07/2023

8

Bab 8 Kak Ita Buka Suara

12/07/2023

9

Bab 9 Sandiwara

12/07/2023

10

Bab 10 Penjelasan

12/07/2023

11

Bab 11 Pilihan Sulit

12/07/2023

12

Bab 12 Kebodohanku

12/07/2023

13

Bab 13 Meminta Ijin

12/07/2023

14

Bab 14 Mimpi

12/07/2023

15

Bab 15 Rayi

12/07/2023

16

Bab 16 Pengusiran

12/07/2023

17

Bab 17 Pamit

12/07/2023

18

Bab 18 Bagaimana Bisa Kau Hidup Kembali

12/07/2023

19

Bab 19 Pengakuan Meta

12/07/2023

20

Bab 20 Perasaan Apa Ini

12/07/2023

21

Bab 21 Awal

12/07/2023

22

Bab 22 Maunya Bagaimana

12/07/2023

23

Bab 23 Daniel

12/07/2023

24

Bab 24 Bahaya

12/07/2023

25

Bab 25 Pengeroyokan

12/07/2023

26

Bab 26 Titik Nadir

12/07/2023

27

Bab 27 Proyek Gen-Z

12/07/2023

28

Bab 28 Andai Kau Di Sini Adinda

12/07/2023

29

Bab 29 Fitnah

12/07/2023

30

Bab 30 Lempar Batu Sembunyi Tangan

12/07/2023

31

Bab 31 Cara Licik

12/07/2023

32

Bab 32 Menjadi Terduga

12/07/2023

33

Bab 33 Perempuanku Hanya Kamu, Adinda

12/07/2023

34

Bab 34 Setyo !

12/07/2023

35

Bab 35 Masuk Dalam Jebakan

12/07/2023

36

Bab 36 Ancaman

12/07/2023

37

Bab 37 Eksekusi

12/07/2023

38

Bab 38 Selubung

12/07/2023

39

Bab 39 Hey, Adinda

12/07/2023