Bercinta dengan Playboy

Bercinta dengan Playboy

Kaitani Hikari

5.0
Komentar
2.3K
Penayangan
47
Bab

Pengkhianatan tunangannya, membuat Risa mengiyakan ajakan kencan semalam yang diajukan teman sekantornya, Alva. Playboy yang keberadaannya ia manfaatkan untuk membalas perselingkuhan Alan. Akankah semuanya berjalan baik-baik saja saat Alan tahu pengkhianatan Risa dan Alva yang notabenenya masih berstatus sebagai sepupunya sendiri?

Bab 1 Prolog

"TOLONG pelan-pelan!" Risa memejamkan mata. Bibirnya terus mengerang saat pria itu berusaha untuk menyatukan tubuh mereka dengan cara menggesekkan dua benda pribadi keduanya dengan gerakan pelan dan hati-hati.

Alva melengkungkan tubuhnya di atas tubuh Risa. Wajahnya mendekati telinga Risa dan mulai berbisik mesra, "Lo serius sama semua ini, Sa?"

Risa membuka mata dan menatap pria yang kini berada di atasnya dengan wajah sebal. "Bukannya lo yang nawarin gue, kenapa lo malah jadi ragu begini?"

Karena gue nggak nyangka lo masih perawan, sialan! batin Alva sembari menghela napas panjang.

"Kalau lo emang nggak bisa, kita berhenti aja!"

Risa mendorong dada Alva, membuat pria itu bangun dan Risa turut bangun dari ranjang pria itu. Namun, sebelum dia benar-benar bisa berdiri, Alva kembali menarik tangannya kembali.

"Va, kalau lo emang nggak bisa, gue bisa nyari sembarang cowok buat lepas status sialan ini!" teriaknya yang kini merasa kesal bukan main.9

Risa telah dikhianati oleh tunangannya. Tunangannya memilih berselingkuh dengan sang sekretaris daripada lekas menikah dan bisa mendapatkan kepuasan batin darinya. Dia yang selalu meminta Risa untuk terus menjaga keperawanannya, malah mengumbar kejantanannya untuk sekretarisnya bahkan wanita-wanita jalang lain di luar sana.

Risa geram dan sangat marah. Dia ingin membuat kekasihnya tahu apa yang dia rasakan saat melihat pria itu meniduri wanita lain di belakangnya. Dan akhirnya, dia menerima tawaran Alva untuk tidur dengannya dengan tujuan membalaskan dendam.

Namun, Alva tiba-tiba saja merasa ragu saat tahu kalau dia masih perawan.

Sial!

Apakah status perawan segitu pentingnya hingga harus terus dijaga?

Bagaimana dengan status perjaka seorang pria?

Kenapa pria bisa dengan mudahnya membuka gesper dan celap-celup sana sini?

Kenapa wanita tidak bisa melakukan hal yang sama?

Malahan seorang pria akan menanyakan status keperawanan seorang perempuan sebelum mau menikahinya. Padahal, pria itu tidak sesuci itu untuk mendapatkan gadis perawan.

Bukankah semua itu tidak adil?!

"Bukannya udah telat?" Alva mendorong Risa untuk kembali rebahan di atas ranjangnya. "Gue nggak bisa ngelepasin lo gitu aja, Sa. Nggak setelah semua ini ...."

Alva kembali mencium bibir Risa, melumatnya dengan perlahan dan hati-hati, sebelum mulai menaikkan tempo ciumannya lebih intens. Dia berusaha mengembalikan perempuan itu dalam kabut berahi, sebelum dia mulai memosisikan diri.

Bersiap masuk dan mengoyak harta paling berharga milik perempuan di bawahnya ini.

Kenapa sebelumnya dia bisa merasa ragu?

Hanya karena dia tahu, perempuan ini masih suci, bukan berarti dia tidak bisa menodainya, bukan?

Dia bisa melakukannya. Dia bisa mengambil harta berharganya. Lagi pula, Alva tidak memaksa Risa untuk memberikannya. Risa yang datang padanya dengan suka rela. Dan Alva, sebagai bajingan sejati akan dengan senang hati mengambilnya.

Benda kebanggaannya masuk dengan sempurna. Rasa sesak itu begitu hangat dan membuatnya melenguh panjang. Nikmat, begitu luar biasa sesak dan menggairahkan. Alva mulai menggerakkan diri, memompa dengan perlahan dan hati-hati, karena takut melukai perempuan yang sedang meringis di bawah tubuhnya saat ini.

"Jangan pernah menyesali ini semua, Risa!" erangnya, sebelum menggoyangkan pinggulnya lebih cepat dari sebelumnya.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Kaitani Hikari

Selebihnya

Buku serupa

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku