icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Di Balik Senyum Istri

Bab 2 Yakinkan Hatimu Dulu

Jumlah Kata:1423    |    Dirilis Pada: 02/06/2022

saling peduli, maka masih ada Tuhan sang pemilik h

aik hati menikahimu, selamanya kamu hanya aka

angan pernah mengatakan hal

Ayah." Ayah mertua

kutinya dari belakang. Bahkan kami belum sempat bersalaman dengan mertuaku, Mas Bagas sudah lebih dulu menarikku keluar rumah. Kugiri

salaman dulu?

laman sama nenek ah, yu

-buru nih. Papah nyuruh kita harus cep

isya yang terlihat biasa saja, mungkin karena usianya sudah bukan balita lagi, dia tak terlalu m

, st

dadak menginjakkan pedal Rem membuat kami y

nengok ke belakang, tanpa basa basi aku segera kelu

emelukku, sambil sedikit terisak.

nggalkan saja Bagas jangan memaksakan hatim

ngannya. Ibu Dena, mertuaku langsung menerimanya lalu mengelapkan tisu itu ke wajahnya. Sepertinya Bu Dena ingin mengatakan sesuatu, tetapi karena ada anak-anak dia

s Bagas menurut dia keluar kamar tapi bisa ku lihat dia terus saja mengintip di balik pintu. Setelah anak-anak terlelap aku malah ikut terlelap, hatiku lelah, terkadang tertidur bisa jadi obat mujarab untuk sejenak mel

ak ingin menjawabnya seperti dia yang tak mau menjawa

gan diemin Mas!"

g bicaralah!" Mas Baga

rasanya didiam

at aku tanya maukah ma

, De," ucap

ingung. Aku terlanjur percaya kalau Mas berada di pihakku, tapi ap

Ria De, percaya sama

sial untuk perempuan itu?" Lagi-l

cuma cinta sama

kenapa? Mas takut kalau aku tahu bahwa seju

u, De," ja

ya Mas mengatakan hal ini tadi, di depan s

mencoba meyakinkanku. Aku meletakkan te

u setelah itu mas bisa meyakinkan orang lain. Aku permisi." Tak lupa a

Sebuah pesan dari nomor baru masuk dar

kita teman dekat, ada banyak yang

i luar aja?" Tiba-tiba

samaku, sedang kita akan membicarakan hal yan

besok aku

bicarakan Riana?"

. Mas Bagas sedang pergi ke kantor, padahal ak

u menikah dengan s

kan?" Aku refleks t

i untuk meminta

apnya lantang. Aku jadi merinding menyaksikan seorang wanita cantik

mengetahui alasan apa ya

ari pada menikah dengannya sehingga dia memilih perempuan sembarangan untuk menjadi istri."

Aku sampai lupa menjamunya, tetapi tujuanku sebenarnya hanya ingin mered

an sampai sekarang kami harus jatuh cinta pada pria yang sama. Aku menghargainya, karena kita dulu pernah dekat, tapi dia

'kan melepaskan Mas Ba

dia hanya akan jadi suamiku."

mu tidak keberatan aku meminta

itu kaya? Apa orang kaya sepertimu masih kekur

sir aku?"

pada calon perusak rumah t

barang milikku. Dia tak segan untuk memintanya dariku. Selain itu dia selalu berusaha menyamaiku bahkan sering kali dia membeli tas, buku dan peralatan se

l

rada di belakangku. Aku sampai tersedak, karena terkejut sekaligus berc

n, malu

, jangan di t

pa, Uma? Uma aj

dari teko, tapi Arumi ga boleh ngikutin Uma. Itu enggak s

i sendiri

boleh!"

ma marah,"

e dapur aja ya, Uma bikini Arumi sirup, mau?"

a," ucap Aru

telah membuatkan Arumi sirup tiba-tiba Mas Bagas sudah pulang dari kantornya dia langsung berhambur memel

teng-dateng kok

anya. Aku refleks melepaskan pelukan

ali sebelum menikah? Mas berjanji tidak akan mengi

tidak mau aku tidak akan m

mu sudah medu, Mas," ucapku. Perlahan

peduli pada masa lalumu lagi setelah kau berjanji akan

k bisa mengabaikan Riana be

au sebenarnya itu hanya

ada jaminan Riana bisa me

nang-senang mengatasnamakan ikatan poliga

n baik-b

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Di Balik Senyum Istri
Di Balik Senyum Istri
“"Laki-laki itu tidak perlu ijin istri untuk menikah lagi," katanya. Mendengar ucapan Ayah bisa kulihat Ibu malah tertunduk lagi, ada apa sebenarnya? kenapa dia hanya diam tanpa suara? "Dari sekian banyak sunah nabi kenapa harus poligami, Riana biar kutanya langsung padamu, bersediakah kamu jadi istri kedua suamiku?" "Hmm, aku, tolong kasih aku waktu, aku engga bisa ngasih keputusan sekarang," jawab Riana. "Kenapa nak Riana bukannya kamu dan Bagas sudah saling kenal, bukankah kalian sudah dekat sejak kuliah?" tanya Ayah mertua. Hah? Apa ini jadi mereka pernah dekat? Kenapa hidup serumit ini. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum menyaksikan permainan takdirku. "Kenapa Dek, kenapa kamu malah senyum?" Mas bagas menatap heran ke arahku, raut mukanya tampak gelisah mungkin dia takut aku akan meledak. "Kenapa dunia ini begitu sempit, Mas? kamu sendiri bagaimana? maukah menikahi mantan teman sebangkuku?" Aku harus memastikan ini sendiri disaksikan kedua orang tuanya. Dia lagi-lagi tak menjawab. "Tentu saja suamimu tidak akan menolak menikah dengan wanita cantik seperti Riana, toh mereka juga sudah saling mengenal," sambar ayah mertuaku. "Kalau tolak ukur menikahi wanita hanya dilihat dari kecantikannya, apakah setelah menikah ada jaminan dia akan memiliki anak laki-laki, kalau tidak bukankah semuanya sia-sia?"”
1 Bab 1 Bertemu Calon Madu2 Bab 2 Yakinkan Hatimu Dulu3 Bab 3 Bukti4 Bab 4 Jalan yang Tak Mudah5 Bab 5 Pilihan6 Bab 6 Sumpah7 Bab 7 Anugerah dari Tuhan8 Bab 8 Ujian yang Tak Pernah Ada Habisnya9 Bab 9 Kebohongan Ayah10 Bab 10 Tamu Tak diundang11 Bab 11 Benar-Benar Kejam12 Bab 12 Cemburu itu Menjengkelkan13 Bab 13 Puber Kedua14 Bab 14 Kesempatan Terahir15 Bab 15 Rahasia Apa yang Kamu Tutupi 16 Bab 16 Pengkhianat Tetaplah Pengkhianat17 Bab 17 Pelukan Terakhir18 Bab 18 Tak Ada Kesempatan Lagi19 Bab 19 Kedatangan Tamu20 Bab 20 Hidup Baru21 Bab 21 Video Viral22 Bab 22 Suami Egois23 Bab 23 Pelukan itu Membuatku Takut24 Bab 24 Mencurigakan25 Bab 25 Di Balik Sikapnya yang Menjengkelkan26 Bab 26 Kesepakatan Apa 27 Bab 27 Cinta karena Terbiasa28 Bab 28 Haruskah Menikah di Atas Kontrak 29 Bab 29 Aku Belum Siap30 Bab 30 Mau dibawa ke Mana 31 Bab 31 Cemas32 Bab 32 Kecelakaan33 Bab 33 Aku Benci Bagas34 Bab 34 Duniaku Hancur35 Bab 35 Bagian dari Masa Lalu36 Bab 36 Hidup Baru37 Bab 37 Tak Tahu Sopan Santun38 Bab 38 Mantan Suami Tak Tahu Diri39 Bab 39 Kamu Tidak Bersalah40 Bab 40 Kenapa Diam 41 Bab 41 Tak Sempurna42 Bab 42 Deg-degan43 Bab 43 Akan Kubuat Jatuh Cinta Berkali-Kali44 Bab 44 Ada Tamu Tak diundang45 Bab 45 Cubitan Pengusir Mantan46 Bab 46 Air Mata Bagas47 Bab 47 Karma48 Bab 48 Piala Bergilir49 Bab 49 Jangan Macam-Macam!50 Bab 50 Tanggung Jawab51 Bab 51 Seonggok Sampah