icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Di Balik Senyum Istri

Di Balik Senyum Istri

Penulis: Eria Yurika
icon

Bab 1 Bertemu Calon Madu

Jumlah Kata:1491    |    Dirilis Pada: 02/06/2022

elan, mungkin khawatir anak-anakku akan terbangun mendengar suaranya. Dia menari

a Mas nuntut Mas buat punya anak laki-laki

tanyaku

senyum terukir di bibirku, lalu perlaha

dia memelukku dengan erat. Apakah melahirkan anak perempuan sebuah kesalahan ak

" Aku ingin tahu apakah M

rkali-kali, tapi A

s? Apa bener cuma karena cucu

arkan pelukannya padaku me

h Adek m

baik Mas atau Ade sekalipun." Mas

nikah dengan konglomerat sepertimu, Mas?" Entah kenapa

Seketika aku tersenyum hanya dengan mengingatnya. Aku menghabiskan waktu 4 tahun di universitas, hany

dia sudah menyiapkan calon istri untuk Mas." Ca

2? Mana ada laki-laki yang nolak di

a orang lain di antara kita. Kita hadapi besok berd

itu lebih muda d

na kemerahan di wajahnya, aku tersipu malu Mas Bagas berhasil menggodaku. Malam semakin larut bukan waktu yang baik untuk berdiskusi kami pun kembali ke kamar, sudah waktunya tubuh ini diistirahatkan. Sayangnya se

amu ga

ngagetin aja." Suaranya b

selalu ada buat kamu." Aku tersenyum ke arah Mas Bagas. Sungguh aku ingin sel

nar

tirahatkan atau karena hatiku yang jauh lebih tenang. Aku pun menyusul Mas Bagas ke alam mimpi dalam dekapannya. Keesokan harinya sesuai janji, kami berkujung ke kediaman mertuaku.

ini Riana, ca

teman sebangkuku wak

f si

u sekolah dasar." Aku mencoba menjelaskan seingatku

kal ketemu dengan cara

Ayah mertuaku. Sementara Ibu mertuaku sedari tadi hanya diam menunduk, enta

ah Tuhan dengan sangat cepat, tetapi bukan pertemuan seperti ini yang aku harapkan. Sekilas aku melirik Mas Bagas, dia tampak terpukau dengan penampilan Riana. Balutan dress bodycon selutut sangat pas di padupadankan dengan hak tinggi yang berwa

irrulla

amiku yang masih saja t

napa?" Aku ters

" bisikku ke te

ucap Mas Bagas gelagapan dia memang bu

an senyum termanisku pada mereka, setelah itu aku berjalan menuju

ya? Aku takut dengan ilmuku yang tak seberapa ini menjadikanku berbuat zolim yang justru malah menyeretku ke neraka-Mu. Menyaksikan lelakiku berada dalam satu ruangan den

epanjang waktu. Tak peduli kalau hatiku sedang tidak baik-baik saja. Setida

odo Mas Bagas akan melihatku karena posisi duduknya tepat menghadap ke arah jendela yang akan aku lewati. Aku pergi menuju halaman depan di sana ada ke tiga putriku yang sedang bermain. Aku pecundang bukan? Pecundan

eisya anak pertamaku

ianya 4 tahun. Kedua anakku terbiasa memanggil kakanya dengan kata Aka. Ya Tuhan, apa aku menangi

ni-sini peluk Uma!" Ketiga an

ngan boong Ma dosa, nant

ah marah?" Entah tahu dari m

Arumi malah memastikannya pada kakanya Meisya. Ternyata akulah yan

gitu aja yang lain belum pada bubar, yuk ke sa

?" tanyak

yang harus di

'kan sama perempu

k menjawab p

anku, lalu menyuruh anak-anakku agar bermain agak jauh dari tempat kami berbic

aja? Beruba

aafin

antik Mas berubah

di dalam!" Mas Bagas menarik tanganku, mau tak mau aku mengikuti

adi bukannya ke toilet," Aku terseny

minta pendapat dariku." Seketika ibu mendongakkan kepalanya

tanya. Mendengar ucapan Ayah bisa kulihat Ibu malah tertunduk

poligami, Riana biar kutanya langsung padamu

ktu, aku engga bisa ngasih kep

ekat sejak kuliah?" tanya Ayah mertua. Hah? Apa ini jadi mereka pernah dekat? Kenapa

gas menatap heran ke arahku, raut mukanya tamp

kah menikahi mantan teman sebangkuku?" Aku harus memastikan ini s

engan wanita cantik seperti Riana, toh mereka ju

tikannya, apakah setelah menikah ada jaminan dia akan memi

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Di Balik Senyum Istri
Di Balik Senyum Istri
“"Laki-laki itu tidak perlu ijin istri untuk menikah lagi," katanya. Mendengar ucapan Ayah bisa kulihat Ibu malah tertunduk lagi, ada apa sebenarnya? kenapa dia hanya diam tanpa suara? "Dari sekian banyak sunah nabi kenapa harus poligami, Riana biar kutanya langsung padamu, bersediakah kamu jadi istri kedua suamiku?" "Hmm, aku, tolong kasih aku waktu, aku engga bisa ngasih keputusan sekarang," jawab Riana. "Kenapa nak Riana bukannya kamu dan Bagas sudah saling kenal, bukankah kalian sudah dekat sejak kuliah?" tanya Ayah mertua. Hah? Apa ini jadi mereka pernah dekat? Kenapa hidup serumit ini. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum menyaksikan permainan takdirku. "Kenapa Dek, kenapa kamu malah senyum?" Mas bagas menatap heran ke arahku, raut mukanya tampak gelisah mungkin dia takut aku akan meledak. "Kenapa dunia ini begitu sempit, Mas? kamu sendiri bagaimana? maukah menikahi mantan teman sebangkuku?" Aku harus memastikan ini sendiri disaksikan kedua orang tuanya. Dia lagi-lagi tak menjawab. "Tentu saja suamimu tidak akan menolak menikah dengan wanita cantik seperti Riana, toh mereka juga sudah saling mengenal," sambar ayah mertuaku. "Kalau tolak ukur menikahi wanita hanya dilihat dari kecantikannya, apakah setelah menikah ada jaminan dia akan memiliki anak laki-laki, kalau tidak bukankah semuanya sia-sia?"”