icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Di Balik Senyum Istri

Bab 4 Jalan yang Tak Mudah

Jumlah Kata:1177    |    Dirilis Pada: 02/06/2022

pagi. Entah sudah berapa bulan aku tidak pernah ke tempat ini. Padahal masih satu kota jarak yang harus di tempuh dari rumahku hanya sekitar 30 menit tapi rasanya jauh sekali. Mas

l, terlalu ribet menyuruh sopir

ba-tiba Meisya

mbil bersuapan makanan. Memalukan, apa kamu harus melakukannya di tempat umum begini, hingga harus di saks

Dari kejauhan dapat kulihat dia mulai memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri. Aku bingung bag

ia menurut kuajak makan. Tapi pandangannya tak bisa lepas ke tempat Mas Bagas dan Riana, mereka tampak buru-buru pergi dari tempat itu. Raut muka sulungku b

eketika dia memalingkan wajahnya

isya mengambil kembali sendok yang sudah berada di tanganku la

nya berusaha menghiburku. Nasi pecel yang kumakan menurutku rasanya enak, sanga

is ini Meisya mau ke mana? Na

Meisya malah menyodorkan makanannya padaku. Aku memakannya. Demi apa pun in

mbil sekuat tenaga menahan air mataku agar tidak tumpah di hadapan anak-anakku. Setelah selesai makan aku pergi ke masjid dekat situ, aku terbiasa menunaikan salat duha, hingga

wa ahlina wadzurriyyatina wa amwaalina wafiimaa raz

-istri kami, anak-anak turun kami, harta-harta kami dan di dalam apa-apa (rizqi) yang engkau

a-Nya. Aku mengajak mereka untuk pulang, sesampainya di rumah Mas Bagas ternyata sudah sampai lebih dulu. M

mbawakan oleh-oleh untuknya atau tidak. Di antara anak-anakku Meisyalah yang paling dekat dengan Mas Bagas, tet

ya Mas Bagas setelah anak-anak pergi ke ruang

demi nafsumu! Kenapa Mas malah melakukannya? Cepat atau lambat anak-

mau ke mana

mar Meisya

au pulang ke rumah Ibu.

inggalin ak

perlu mengantarku. Aku ingin membiasakan

kata orang nanti kalau kamu

Mas mempersiapkan jawabannya dari sekarang." Mas Bagas hanya bisa diam. Aku paling benci dengan sikapnya yang tak bisa tegas, sikapnya

ilang ada tugas kelompok, kami terpaksa menunda keberangkatan ke rumah ibu. Saat aku hendak meny

leh ngomo

tanya

lan sama tante-tante, tapi bukan mamahmu," jelas seorang anak perempua

as udah selesai 'kan? Aku buru-buru

ya?" tanya anak pe

tinya tidak enak juga kalau aku terus menguping. Aku

empersilahkan mereka. Teman-teman Meisya tampak saling siku

akan makanan yang kusuguhkan, tak terkecuali Meisya, tapi masih dapat kulihat raut sedih tampak di wajahnya. Setelah me

a Meisya saat kami sekel

sya. Meisya tiba-tiba saja menghindar, hingga Mas Bagas mengerutkan

ja bukannya udah punya tante baru?" tanya Meisya. Jan

," ucap Mas Bagas mencoba menyentuh Meisya l

suka jalan sama tente-tante. Meisya malu hiks hiks hiks." Luruh sudah air mata Meisya, diikuti adik-adiknya yang lain, entah merek

mi pergi, hiduplah dengan caramu send

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Di Balik Senyum Istri
Di Balik Senyum Istri
“"Laki-laki itu tidak perlu ijin istri untuk menikah lagi," katanya. Mendengar ucapan Ayah bisa kulihat Ibu malah tertunduk lagi, ada apa sebenarnya? kenapa dia hanya diam tanpa suara? "Dari sekian banyak sunah nabi kenapa harus poligami, Riana biar kutanya langsung padamu, bersediakah kamu jadi istri kedua suamiku?" "Hmm, aku, tolong kasih aku waktu, aku engga bisa ngasih keputusan sekarang," jawab Riana. "Kenapa nak Riana bukannya kamu dan Bagas sudah saling kenal, bukankah kalian sudah dekat sejak kuliah?" tanya Ayah mertua. Hah? Apa ini jadi mereka pernah dekat? Kenapa hidup serumit ini. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum menyaksikan permainan takdirku. "Kenapa Dek, kenapa kamu malah senyum?" Mas bagas menatap heran ke arahku, raut mukanya tampak gelisah mungkin dia takut aku akan meledak. "Kenapa dunia ini begitu sempit, Mas? kamu sendiri bagaimana? maukah menikahi mantan teman sebangkuku?" Aku harus memastikan ini sendiri disaksikan kedua orang tuanya. Dia lagi-lagi tak menjawab. "Tentu saja suamimu tidak akan menolak menikah dengan wanita cantik seperti Riana, toh mereka juga sudah saling mengenal," sambar ayah mertuaku. "Kalau tolak ukur menikahi wanita hanya dilihat dari kecantikannya, apakah setelah menikah ada jaminan dia akan memiliki anak laki-laki, kalau tidak bukankah semuanya sia-sia?"”
1 Bab 1 Bertemu Calon Madu2 Bab 2 Yakinkan Hatimu Dulu3 Bab 3 Bukti4 Bab 4 Jalan yang Tak Mudah5 Bab 5 Pilihan6 Bab 6 Sumpah7 Bab 7 Anugerah dari Tuhan8 Bab 8 Ujian yang Tak Pernah Ada Habisnya9 Bab 9 Kebohongan Ayah10 Bab 10 Tamu Tak diundang11 Bab 11 Benar-Benar Kejam12 Bab 12 Cemburu itu Menjengkelkan13 Bab 13 Puber Kedua14 Bab 14 Kesempatan Terahir15 Bab 15 Rahasia Apa yang Kamu Tutupi 16 Bab 16 Pengkhianat Tetaplah Pengkhianat17 Bab 17 Pelukan Terakhir18 Bab 18 Tak Ada Kesempatan Lagi19 Bab 19 Kedatangan Tamu20 Bab 20 Hidup Baru21 Bab 21 Video Viral22 Bab 22 Suami Egois23 Bab 23 Pelukan itu Membuatku Takut24 Bab 24 Mencurigakan25 Bab 25 Di Balik Sikapnya yang Menjengkelkan26 Bab 26 Kesepakatan Apa 27 Bab 27 Cinta karena Terbiasa28 Bab 28 Haruskah Menikah di Atas Kontrak 29 Bab 29 Aku Belum Siap30 Bab 30 Mau dibawa ke Mana 31 Bab 31 Cemas32 Bab 32 Kecelakaan33 Bab 33 Aku Benci Bagas34 Bab 34 Duniaku Hancur35 Bab 35 Bagian dari Masa Lalu36 Bab 36 Hidup Baru37 Bab 37 Tak Tahu Sopan Santun38 Bab 38 Mantan Suami Tak Tahu Diri39 Bab 39 Kamu Tidak Bersalah40 Bab 40 Kenapa Diam 41 Bab 41 Tak Sempurna42 Bab 42 Deg-degan43 Bab 43 Akan Kubuat Jatuh Cinta Berkali-Kali44 Bab 44 Ada Tamu Tak diundang45 Bab 45 Cubitan Pengusir Mantan46 Bab 46 Air Mata Bagas47 Bab 47 Karma48 Bab 48 Piala Bergilir49 Bab 49 Jangan Macam-Macam!50 Bab 50 Tanggung Jawab51 Bab 51 Seonggok Sampah