icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Taaruf dengan Anak Wanita Malam

Bab 5 Mimpi buruk

Jumlah Kata:1135    |    Dirilis Pada: 01/06/2022

da temaram cahaya lampion yang berpendar tergantung di depan teras pondok itu. Gadis itu terus berjalan ke arah pondok tua yang terbuat dari kayu tua yang nyaris lap

sekedar memenuhi dahaga penasaran yang bermukim di kepalanya. Dengan berjalan sedikit tersaruk-saruk melewati ilalang yang menjulang dia mendeka

asaran. Dahinya berlipat bagai akordion. Wanita yang berdiri mematung di hada

enggelam karena tiba-tiba terdengar dari kejauhan suara ombak y

anya berjarak satu meter. Namun wanita itu seketika berwajah pucat bagai kunarpa

as gadis itu terengah-engah seolah baru saja tenggelam dalam kolam lump

mimpi barusan adalah mimpi terburuk yang pernah dialami sepanjang hayatnya. Dia merasa senang berjumpa dengan wanita yang samar-samar mirip denganny

tan ... argh, aku ketiduran bahkan s

berse

untuk berjalan mengambil air minum yang terletak

glek

elas air putih dan d

siapa? Apakah ayahku salah satu pelanggan setia ibuku?" tanya Selina sembari mengusap wajahnya. Dia tak bisa membayangkan

g membangunkannya untuk melaksanakan shalat qiyamul lail di sepertiga malam. Lantas dia berjalan menuju kamar mandi untuk

anak Abah dan Ummi. Lantas ibu kandungku seorang pelacur ... ayahku? Aku tak tahu siapa ayah biologisku. Apa mungkin dia juga orang yang fasik seperti ibuku? Rasanya aku benar-benar terpuruk ya Allah. Ya Allah, tunjukil

i menahan gejolak kesedihan yang terkurung dalam dadanya. Malam itu s

wati pun sudah bangun seperti halnya Selina melaksanakan shalat tahajud dan membaca alquran. Terdengar di luar kamar pun Ummi dan Abah Selina berisik sudah mengobrol usai shalat malam. Namu

ikit sehingga dia bisa menghidu aroma udara yang segar saat pagi buta. Dia menatap kosong keluar. Namun seketika sekelebat siluet Aqsa m

ir dingin. Meskipun saat ini dia sedang memikul masalah yang teramat berat tapi dia tetap berusaha mengubur perasaan kalutny

mengajar kebanggaannya dan m

sekarang aku sudah men

angsung mengenakan seragam mengajarnya itu. Dia lupa kalau h

ng mengajar para santri di masjid sedangkan Ummi Sarah pergi ke pasar bersama Ceu Sari. Sementara itu Adam sedang pergi menuju rumah sa

aling berbisik tetangga dan terkekeh pelan. Selina ha

santriwati yang tengah mengapit

ggung ..." kata yang lain santriwati yang m

ya Selina yang penas

ngajar bukan?" kata santriwat

Selina sedikit ketus tak seperti biasanya. Para santriwati kag

ling pandang dan langsung berjalan terburu-buru menuju masjid karena me

sung kembali ke kamarnya dan menguncinya lagi dari dalam. Di dalam ka

eorang wanita memanggil Selina. Selina mengucek m

tok

k pintu kamarnya dengan pelan tapi penuh penekanan.

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Taaruf dengan Anak Wanita Malam
Taaruf dengan Anak Wanita Malam
“Hafla Selina Almaqvhira (Selina) begitu bahagia ketika mengetahui bahwa orang yang mengajak taaruf dengannya adalah seorang pemuda yang dia cintai. Dia adalah Mohammad Alfatih Aqsa (Aqsa), seorang pemuda yang merenggut hatinya saat pertama kali bertemu. Dia seorang pengusaha muda yang shaleh yang bergerak di bidang property syariah sekaligus kakak dari sahabatnya Shiza Anisa Hanifah. Pun, kedua orang tua Aqsa adalah sahabat Ustaz Bashor Abah-nya saat mondok di pesantren Jawa Timur. Seolah kebahagiaanya berlipat ganda. Dua buah keluarga bersatu dalam ikatan pernikahan. Namun kebahagiaan itu sirna saat keluarga Aqsa mengetahui bahwa ternyata Selina bukan anak kandung Ustaz Bashor dan istrinya Ummi Sarah melainkan anak seorang wanita malam yang mereka asuh sejak bayi. Dengan tegas keluarga Aqsa tidak meneruskan proses taaruf apalagi khitbah. Selina yang baru tahu jika dia bukan anak kandung Abah dan Ummi-nya merasa sangat shocked. Ditambah lagi Aqsa membatalkan proses taaruf. Kebalikannya, kesedihannya berlipat ganda. Bagaimanakah kisah cinta Selina setelah semua orang tahu bahwa dia anak seorang wanita tuna susila? Akankah Selina memperoleh jodoh yang bisa menerima dirinya apa adanya ataukah tidak?”