icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

MEMBALAS HINAAN BAPAK

Bab 6 MHB 6

Jumlah Kata:1376    |    Dirilis Pada: 09/05/2022

k akan berbuat hal yang menyakitkan hati. Waktu sudah hampir maghrib ketika mereka tiba. Sumi menyodorkan helm yang dipakai

saja! Kamu gak usah jemput!" tukas Sumi

u yang terdengar. Lelaki itu pergi

tambahan lauk makan, biasanya gak ada apa-apa. Uang belanja Ibu pun,

asih makan, semua harus beli. Hanya air minum saja yang gratis. Untuk pulang pergi pun harus naik ojek sampai

arna putih. Sepatu satu-satunya yang harus cuci, kering, pakai, kadang

nyambut kedatangan Sumi. Perempuan paruh baya itu selalu

an ke kamar untuk menyimpan tas kecil berisi

lalu menunaikan Salat maghrib. Setelah itu, Sumi beranjak ke

ru saja menyimpan piring plastik be

h lancar, Bu

ng terjadi. Dia sudah terlalu banyak membuat Ibu susah dan membeb

juga!" tukas Ibu. Dia pun berlalu meninggalkanku yang menyuap sendirian. Dudu

a. Tampak menyembul wajah Bapak. Dia menenteng berkat, se

ada orang. Dia menyimpan satu bungkus ke dalam rak. Sudut mata Sumi menangkap jika

amar mandi menoleh pada Bapak. Tampak wajah Asril penuh d

ak mau pergi lagi

h Sumi dan ikut duduk di kursi di samping Sumi. Dia melihat piring S

a gak makan kenyang! Ini tadi ada ayam dan lauk

mi juga makan gak ada lauk! Mana dia capek pulang kerja!" tukas Ibu ketika

anan enak! Sudah kerja kok malah ngerepotin, nambahin biaya ongko

yang tadinya nikmat, menjadi pahit. Tak nyaman de

ya nanti keburu basi!" Ibu tak lagi hendak memperpanjang

ga buat ongkos! Dasar gak anak gak becus!" gerutu B

g masih sisa setengah, tak lagi ada selera. Dikecupnya pucuk kepal

iri. Lalu membuka pintu samping dan membuang nasi si

yang meleleh tak kompromi. Ah, memang hatinya terlalu cengeng. Na

r karena putri sulungnya tak

Bu!

bergegas masuk ke dalam dan

u, ya!" tukasnya sambil menggendong si bungsu yang ma

*

menunggunya di depan rumah ketika dirinya baru saja mengisi botol air minum yang akan dibawanya. Meskipun suda

sih dimintanya dari Ibu. Tak enak karena Bapak selalu saja mengungkitnya. Ya, namanya orang baru ker

dia tinggalkan setiap kali mau keluar rumah. Baginya keridhoan orang tua a

, ya, Sum!

k berbicara sedikitpun. Dia tam

an sindiran ataupun perkataan kasar pun sudah sangat beruntung untuknya

ti, beda ama yang satunya yang ngabisin mulu duit orang tua!" tukasnya. Tak menyebut nama Sumi secara

rangkat kerja juga. Sumi menerima helm seperti biasa, lalu melajukan sepeda motornya. Tak

aki bertanya seraya melaju

berpura-pura tak menge

, aku bisa pinjemin kok bahu i

Sumi menjawab asal. Zaki terkekeh, lalu meminta Sumi berp

*

apang, sudah boleh belajar bawa pemain ke lapangan! Yang disebutkan namany

u lalu menyebutkan nama-nama. Ada sekitar lima belas orang yang d

dan Rita jaga OOB di lapangan teratai hole satu. Sumiati dan Tina jaga OOB di lap

bawa pemain agar bisa mendapatkan uang tips tambahan. Setidaknya bisa untuk ongkos

h berpencar, hanya saja Sumiati tertinggal saputangan kecil untuk lap keringatnya. D

ika Sumi san tak masuk sebab sakit?"

ingat kemarin sempat ada masalah. Hiraka Yamada berjalan cepat dengan wajah tamp

ag-nya!" tukasnya. Sumi terdiam sejenak, bukannya tadi katanya d

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
MEMBALAS HINAAN BAPAK
MEMBALAS HINAAN BAPAK
“"Percuma kamu Bapak sekolahkan tinggi-tinggi! Susah-susah pun maksain kamu biar masuk SMA, tapi mana nyatanya sekarang! Sudah mau satu tahun lulus sekolah tapi belum kerja juga! Belum ngasilin duit! Mending adik kamu yang sekolahnya SMP doang, sudah punya pacar anak tukang daging sapi, hidupnya terjamin!" celoteh Bapak. Orang yang Sumi paling takutkan ketika sudah bicara. Sumi menghela napas. Dia masih membelekangi Bapak dan mengiris bawang merah untuk masak. Untuk ke sekian kalinya omelan itu terasa menusuk hati Sumi. Bapak selalu mengungkit keinginannya untuk bersekolah lagi dan menyalahkan karena sampai saat ini belum menghasilkan rupiah. Hinaan, cibiran dan perlakuan Bapak membuat Sumi benar-benar terluka. Namun rupanya Tuhan mendengar setiap alunan doa yang dipanjatkan olehnya. Pertemuannya dengan Hiraka Yamada---seorang pegolf yang merupakan bos dari salah satu perusahaan automotive ternama di tanah air membuka jalannya untuk meraih kejayaan. Namun ada satu hal yang tiba-tiba terasa kosong, Zaki---sahabat dekat Sumi yang dulu selalu ada ketika dia butuhkan tiba-tiba menghilang. Sumi tak tahu jika Zaki menaruh rasa padanya. Zaki pergi dengan masih memendam segenggam cinta di hatinya. Akankah kehidupan mereka berakhir bahagia?”
1 Bab 1 MHB12 Bab 2 MHB23 Bab 3 MHB34 Bab 4 MHB 45 Bab 5 MHB 56 Bab 6 MHB 67 Bab 7 MHB 78 Bab 8 MHB 89 Bab 9 MHB 910 Bab 10 MHB 1011 Bab 11 MHB1112 Bab 12 MHB1213 Bab 13 MHB1314 Bab 14 MHB1415 Bab 15 MHB1516 Bab 16 MHB1617 Bab 17 MHB1718 Bab 18 MHB1819 Bab 19 MHB1920 Bab 20 MHB2021 Bab 21 MHB2122 Bab 22 MHB2223 Bab 23 MHB2324 Bab 24 MHB2425 Bab 25 MHB2526 Bab 26 MHB2627 Bab 27 MHB2728 Bab 28 MHB2829 Bab 29 MHB2930 Bab 30 MHB3031 Bab 31 MHB3132 Bab 32 MHB3233 Bab 33 MHB3334 Bab 34 MHB3435 Bab 35 MHB3536 Bab 36 MHB3637 Bab 37 MHB3738 Bab 38 MHB3839 Bab 39 MHB3940 Bab 40 MHB4041 Bab 41 MHB4142 Bab 42 MHB4243 Bab 43 MHB4344 Bab 44 MHB4445 Bab 45 MHB4546 Bab 46 MHB46 - END