icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT

Bab 6 Rumah Tangga Ajaib

Jumlah Kata:697    |    Dirilis Pada: 25/04/2022

r di kursi, tangannya memegang

di lantai. Entah benda apa yang jadi korban amuk sasaran dua sejoli bertengkar hebat tadi. Aku ta

n mereka. Seharusnya, aku tinggal nonton saja sambil makan kacang ditemani secangkir s

mpu menyakiti. Menolak tapi tak mampu me

a iba, melihat Mas Rio meringis, sa

rah. Karena di bagian pelipis, jadi

g nggak saki

ngajak berantem. Benar-b

g, jangan manja," jawabku mulai tersulut

bil menjauhkan kepalanya.

ujarku sambil tan

Ke mana juga Marta? Bukannya ini ulahnya? Benar-benar tak bertanggung jawab! Suami yang me

ku ke Mas Rio yang masih membersihkan

kertas yang kupegang tanp

t ke dapur. Ini harus dibakar! Kenapa juga pria egois itu membawa ke m

merampas kertas itu dari tangan

is dengan tatap penuh selidik. "Jangan-jangan kamu sudah j

ng!" ujarnya t

barusan y

g. Antisipasi kalau tiba-tiba mamah, papa

saja yang akan mereka temua bila kemari.

Aku nggak ak

sakin kamu di rumah? Jangan egois, Mas!" Suaraku mulai serak bila

tidak bol

an bibir. Rasanya ingin mencakar-cakar wajah lelaki egois itu. Atau membubuhkan sia

gga ajaib ini, membuat tens

tentang makanan dan kue yang dibawa dari

tertawa. Marta berbaring di sofa dan menggunakan paha Mas Rio sebagai bantal. Sedang lelaki itu

an masuk kembali ke kamar. Entah kenapa ada yang b

salah alamat? Adakah yang bisa mengingatkanku

Mas? Kehadirannya gangg

i tadi kunikmati kue-kue mama sambil berselancar di media so

aku memilih memasang headset di tel

an lelaki egois itu. Rasanya terla

at Mas Rio melarang. Aku yakin rasa ini hanya bentuk taatku pada

dang suami yang mau didengarkan itu, ta

bila mengambil k

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT
MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT
“Sebulan setelah pesta meriah akad pernikahanku dengan Mas Rio, konon lelaki yang bergelar suami itu, menikah siri dengan pacarnya sekaligus sahabatku. Kami hidup seatap. Namun, sikap Mas Rio dan Marta hanya menganggapku setan, menjadi yang ketiga. Aku diperlakukan tak selayak istri, pun tak sebagai pembantu. Intinya, aku hanya dianggap pajangan. Pajangan yang hanya mengambil tempat. Namun, tak berarti sama sekali. Entah apa yang merasuki Mas Rio, hingga suatu malam dia mendatangi kamarku dan mengambil paksa kehormatan yang selama ini kujunjung tinggi. Di pagi hari, barulah aku tahu jawabannya. Saat istri terkasihnya-Marta. Berteriak histeris akibat cemburu. Setelah mengetahui, kehormatan itu adalah ganti mahar agar tak sia-sia, jantungku seakan berhenti berdetak. Harga diriku sebagai istri dan wanita, sungguh telah terinjak-terinjak menjadi berkeping-keping. Aku melajukan motor di pagi buta untuk menceritakan kebobrokan rumah tanggaku kepada orang tuaku dan orang tua Mas Rio. Namun, sayang jauh panggang dari api. Pernikahan itu memang direncakanan karena ketiadaan cinta. Ke manakah hendak mengadu? Jika aku memang hanya dijadikan tumbal? Baiklah, aku akan pergi. Mencari obat pada luka di hati, mencari penawar pada lara di sukmaku. Kukirim tulisan pesan pamit ke nomor Mas Rio sebelum menghilangkan semua jejak tentang di mana keberadaanku. Selamat tinggal tanah kelahiran.”