icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Cachtice Castle : Blood Countess de Ecsed

Bab 2 Rahasia Pria, 26 September 1573

Jumlah Kata:1055    |    Dirilis Pada: 09/04/2022

BACK Ta

ung di langit." Pemuda kecil berusia em

k? cahayanya tidak menyilaukan seperti matahari." Pemuda ke

iran mereka hanya terpaut lima bulan saja, sehingga keduanya benar-benar mirip anak kembar saat tumbuh menjadi bocah muda yang tampan. Perbedaan mereka hanyalah pada garis rahang yang lebih tegas, serta

dengan ceria, tidak seperti bulan yang selalu melotot." Jawab Lorant lugas. Dia sendiri sesungguhnya

ng. Baginya melotot itu menyeramkan, menakutkan, mengerikan dan segala sesuatu yang membuat siapapun ingin menghindar, berlari menjauh karena ketakutan. S

al. jadi dia akan terus bertanya jika belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Atau jika dia merasa argumentasinya valid, Adik sepupu

tahu kita diberi permen atau coklat dari Ibu, tapi dia tidak diberi karena giginya yang ompong." Dugaan Lorant terbukti b

ada yang memukul punggung mereka dari belakang, serentak keduanya berhenti tertawa lalu menoleh. Di sana berdiri gadis imut yang melihat ke arah mereka dengan tajam samb

iku ompong. Awas kalau gigiku sudah tumbuh, aku akan men

"Kamu sudah mengerti sekarang kan, Kak? itu yang disebut melotot, sedangkan pelayan itu

Dia merasa sangat tertekan dan ingin memukul mereka sampai babak belur. Tetapi tentu saja dia tidak bisa melakukannya. Ke

dian pelayan tersebut berbicara pada gadis yang hampir menangis itu, "Nona Erza, Tuan Lorant dan Tuan Arpad tidak sedang meledekmu, dan kamu harus tahu bahwa kamu memang gadis tercantik di Arva. Mereka hany

tersenyum, lalu berebut memeluk si

angi Erza, meskipun Erza adalah Adik sepupu, namun bagi Lorant, Erza sudah seperti Adik kandungnya

au kalah. Bagaimanapun Erza memang cantik, dan Arpad menyayangi Erza seperti Lorant. Mereka berdua bahkan bersedi

enyum. Dia menyambut pelukan kedua Kakaknya, lalu dengan gemas

an mencubit kalian lebih keras." Setelah menjulurkan lidahnya, Erza berlari dan bersembu

n yang kewalahan menghadapi kelincahan tiga bocah tersebut. Ketigan

yonya Ester jika kalian sakit." Sang pelayan terduduk, berakting seolah-olah sedang sedih. K

mbil mengelus rambut pelayan tersebut dengan tangannya yang mungil. Erza memang sangat pen

ku takut Nyonya Ester akan memarahiku jika kalian masih di luar saat malam seperti in

angan bersedih. Kak Lorant dan Kak Arpad juga akan melindungimu." Erza menatap kedua Kakaknya, lalu menge

nisiatif untuk menenangkan Erza, "Tentu Adikku sayang. Adikku yang paling cantik di Arva. Ap

ovidek yang megah, meninggalkan langit kelam yang masih dihiasi kelip bintang, serta cah

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Cachtice Castle : Blood Countess de Ecsed
Cachtice Castle : Blood Countess de Ecsed
“Kisah ini dituliskan dengan latar belakang sejarah seorang wanita bangsawan kelas atas pada abad ke-15 di Eropa Timur, saat ini letak Cachtice Castle berada di dekat kota Bratislava, Slovakia. Tokoh-tokoh nyata yang berada dalam sejarah seperti Elizabeth Bathory de Ecsed, Raja Matyas, Gyorgy Thurzo, dll., berdampingan dengan tokoh fiksi seperti Benca, Lorant, Arpad, Ivett, Gustav, dll. Atas laporan dari berbagai pihak termasuk pendeta Lutheran Istvan Magyari, serta saksi-saksi lain, Raja Matyas memerintahkan Gyorgy Thurzo untuk melakukan penyelidikan terhadap Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, dia dinyatakan bersalah, termasuk mereka yang membantu kegiatan pembunuhan gadis-gadis muda secara sadis tersebut. Dorka (Doratia Dentez), Anna Darvula, juga suster Illona Joo dan Johanness Ujvari, mendapatkan hukuman mati dari Raja Matyas, sedangkan Countess Elizabeth Bathory de Ecsed yang berstatus bangsawan, memiliki kekebalan terhadap hukuman mati. Maka dia ditahan di dalam kastilnya sendiri dengan hanya diberi sedikit celah untuk bernafas, dan makanan. Pada 21 Agustus 1614, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, meninggal dunia, ditandai dengan makanan yang tidak disentuhnya sama sekali. Maka setelah diperiksa, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, ditemukan sudah tidak bernyawa. Hingga saat ini, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, sering disebut sebagai Blood Countess, atau putri berdarah yang disinyalir telah membunuh lebih dari 600 gadis perawan dalam upayanya untuk menjadi tetap muda belia, dengan melakukan ritual mandi darah gadis perawan. Kisah kekejaman maupun kegiatan ritual sex bebas yang dilakukan di dalam kastil Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, tercatat dalam sejarah kelam Roman Empire di Hongaria. Namun kisah ini hanyalah fiksi dengan latar belakang kekejaman sang putri berdarah yang menjadi inspirasi terhadap kisah vampire di Eropa.”