icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
The Blue Eyes

The Blue Eyes

icon

Bab 1 Hantu Genit

Jumlah Kata:1242    |    Dirilis Pada: 31/03/2022

E

asa dingin. Suasana di luar sangat sepi dan sunyi, yang terden

iat hingga tulang belakang berbunyi gemeretak. Mata yang terasa lelah menagih untuk diisti

tas dan menyandarkan tubuh. Kedua siku diletakkan di pagar dan dagu ditumpangkan ke telapak tangan. Memandangi sekeliling yang tampa

et

et

et

ringi dengan ketukan yang selalu bernada dan berjumlah sama, seakan

ta kembali sambil membalikkan badan dan jalan dengan langkah sedikit diseret menuju pintu. Seper

?" tanya sang tamu sambil me

enatapnya dengan malas, kem

putih tampak sedikit berbintik-bintik di tulang pipi, tetapi tetap tidak mengurangi keelokan parasnya. Rambut panjang sepung

um kemudian dia mengangkat alis, gaya khasnya bila ing

aknya dengan nada suar

, aku cape

mbil mengedipkan mata yang dihiasi bulu mata lentik

bergeming untuk menolak ajakannya. Tiba-tiba dia menarik tangan kanan

geluarkan tenaga menarik yang besar dan kuat. Sekali-sekali kaki atau tanganku tersangkut

di depan kolam ikan kecil di sudut kanan. Perempuan yang kali ini m

ake hak tinggi segala," led

epanmu," sahutnya sembari mendelik dan menger

harus

awa. Sebetulnya tanpa diungkapkan pun aku sudah mengetahui alasannya, te

k air dari kolam dan ditingkahi suara katak yang sepe

pangg

ergem

engan suara yang

n wajahku dengan paksa sampai kami saling berhadapan

harus jawab!" titahny

itu akan cepat mereda. Perlahan aku menarik kedua tangannya dari waja

dian dia memajukan wajah dan mendaratkan kecupan di pipi kananku sekilas.

tingkah hantu yang ternyata bisa malu-malu. Seperti ha

*

h bangunan besar berarsitektur khas rumah tempo dulu. Sebagian dindingnya dibiark

k bola itu tampak terawat. Beberapa pohon yang tumbuh di sekitarnya tampak r

ekat kolam ikan berukuran kecil. Di belakang ayunan tampak rimbunan pohon ber

an celana kain hitam menyambut kedatanganku di teras depan. Beliau adala

milik orang tua Farid, sahabatku. Rumah yang Pak Tono tempati merupakan sebuah paviliun di bag

arankan untuk tinggal di sini. Kendatipun aku awalnya agak ragu-ragu, tetapi Farid meya

, dan sejak itu pulalah Viana selalu hadir

et

et

et

. Tuk. T

. Tuk. T

bangun dari atas tempat tid

. Terdorong rasa penasaran, aku melongok ke luar kamar, menoleh ke kanan

arena tiba-tiba merasakan ada hawa dingin dari ujung kiri koridor yang mengarah ke d

an bergaun putih melambai yang berdiri tegak depan pintu. Wajahnya tampak pucat pas

uju jendela. Menyandarkan tubuh ke kusen dengan santai. Kedua tangan dim

nya dengan suara yang terdengar an

takut?" Aku b

asti pada takut, termasuk Farid,"

penakut, tap

ng, yang terdengar hanya bunyi gesekan de

ambil melayang mendekat da

ng luar negeri tampak cantik. Kulit putih, alis lebat menaungi sepasang mata beriris biru, hidung mencuat ting

aku

u," tukasnya sebelum ak

sendu. Kata-kata indah yang biasanya meluncur dengan lancar kini

ggak?" tanyany

jawabku de

dan menampilkan wajah pucat kesi dengan urat-urat ber

l membuat Viana tertawa melengking, sebelum sosoknya memudar

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka