5.0
Komentar
507
Penayangan
13
Bab

Berawal dari pindahnya Sasa ke sekolah baru mempertemukannya dengan Dion. Seorang siswa dingin dan tidak bersahabat dengan siswa perempuan manapun. Sikap dingin Dion membuat Sasa merasa tersiksa, terlebih karena mereka duduk satu meja. Kekacauan yang dialami Sasa ternyata tidak hanya di sekolah, di rumah Sasa juga dihadapkan dengan masalah Papahnya yang sudah memiliki pacar baru. Hal ini membuat Sasa dilema dan murung saat di sekolah. Dion yang diam-diam memperhatikan perubahan Sasa, iba dan mulai mengubah sikapnya. Mereka mulai dekat dan menjadi teman untuk saling berbagi cerita. Dion yang tidak pernah menceritakan siapa dirinya sebenarnya, mulai terbuka pada Sasa. Berawal dari rasa nyaman sampai saling memendam perasaan dihati mereka masing-masing. Cover design by PosterMyWall.com

DIONESA Bab 1 Hari Pertama Sekolah

Menjadi anak baru di sebuah sekolah itu rasanya tidak enak. Itu yang dirasakan Sasa. Hari ini merupakan hari pertamanya masuk sekolah disalah satu sekolah negri di Jakarta. Di benaknya sudah dipenuhi dengan hal-hal yang mengerikan ketika akan melangkahkan kakinya di kelas.

Sasa diantar seorang guru ke kelas XI IPA 3, begitu Sasa masuk dia menjadi sasaran tatapan dari 28 siswa yang ada di kelas itu. Tentunya dengan tatapan yang menghakimi, mulai dari rambut sampai kaki. Sasa hanya bisa menunduk, menunggu Guru yang mengantarnya berbicara dengan Guru yang sedang mengajar di kelas itu.

"Ini kelas baru kamu, nanti perkenalan atau gimana selanjutnya tanya sama Ibu ini saja ya,"ujar Guru yang mengantar Sasa.

"Baik Bu."

Guru itu ke luar, keadaan kelas semakin riuh. Bisa dipastikan seisi kelas sedang membicarakan Sasa.

"Baik anak-anak, tenang dulu. Tolong perhatiannya ke sini sebentar. Kalian dapat teman baru, dia pindahan dari Jogja."

"Bu... jangan Ibu dong yang kenalkan. Biar dia dong Bu yang kenalkan sendiri..." celetuk seorang siswa laki-laki dari belakang.

"Boleh juga, oke silahkan kenalakan dirimu sendiri Nak," ujar Guru itu pada Sasa.

Sasa mengangguk, dia mengangkat kepalanya yang dari tadi tertuduk. Dia menghela nafasnya, melempar pandangannya ke depan. Dia mengumpulkan tenaga untuk berbicara.

"Hai semua..." sapa Sasa.

"Hai..." sambut semua siswa yang ada di kelas.

"Perkenalkan nama saya Shakira Dwita Wijaya, biasa dipanggil Sasa..."

"Sasa? Micin dong..." celetuk laki-laki yang tadi lagi.

Jelas celetukan itu mengundang tawa seisi kelas. Sasa hanya bisa terdiam, dugaannya benar kalau hari ini dia akan menjadi bahan tertawaan teman-teman barunya.

"Sudah... sudah.... Nanti kalian lanjutkan saja perkenalannya pada jam istirahat ya. Sasa kamu bisa duduk di barisan belakang sebelah kiri," Guru itu menunjuk meja yang di sudut.

Meja itu hanya diisi satu murid saja, bangku di sebelahnya kosong. Murid yang ada di meja itu seorang lelaki, wajahnya tidak terlalu bersahabat dan terkesan tidak peduli dengan yang terjadi di kelas. Sasa berjalan ke meja yang ditunjuk guru tersebut. Dia mencoba menebar senyum pada murid yang ada di sekitar meja itu.

"Hai Sasa, aku Della..." sapa seorang murid perempuan yang duduk di depan meja Sasa.

"Hai aku Sasa," ujar Sasa pada Della.

Beberapa murid ikut bersalaman dengan Della, kecuali laki-laki yang duduk semeja dengan Sasa. Wajah murid laki-laki itu acuh, tidak peduli dengan kedatangan Sasa. Sasa mengalah, dia mengulurkan tangannya pada laki-laki itu.

"Hai, aku Sasa..."

"Aku sudah tahu, tadi kan kamu sudah bicara di depan. Buat apa diulang lagi? Aku gak tuli kok," jawab laki-laki itu ketus.

Sasa melongo, dia tidak mengira kalau respon dari laki-laki dingin itu akan ketus.

"Dia pikir dia siapa? Sombong amat jadi orang," batin Sasa.

"Sudah Sa, jangan masukin ke hati. Dion memang orangnya seperti itu kok," ujar Della.

Sasa hanya mengangguk, mencoba tersenyum. Walaupun di dalam hatinya sangat kesal. Sasa membuka tas, mengeluarkan dan membanting bukunya ke atas meja.

"Biasa saja dong!" tegur Dion dengan ketus.

Sasa tidak merespon, dia seolah-olah tidak mendengar teguran dari Dion. Sampai pulang sekolah, tidak ada perbincangan antara Sasa dan Dion. Begitu bel berbunyi, Dion buru-buru mengemasi buku-bukunya dan pergi.

"Sa, kamu pulang ke arah mana?" tanya Della.

"Aku ke daerah Jakarta Selatan Del."

"Ohh, kita searah dong. Mau bareng gak?"

"Ehmmm aku dijemput kok Del, makasih ya."

"Ya sudah, aku duluan ya Sa. Sampai jumpa besok..."

"Iya Del..."

Sasa menyusuri koridor kelas sendiri, tentu dia menjadi bahan perhatian murid-murid di sekolah itu. Wajahnya yang manis, dengan tubuh yang tinggi semampai dan kulitnya yang putih bersih wajar menarik perhatian murid-murid terkhusus dari para lelaki.

Sampai di gerbang, Nino sudah menunggu. Nino adalah abang kandung Sasa. Usia mereka terpaut cukup jauh, sekitar 8 tahun. Sekarang Nino sudah bekerja, tepatnya membuka distro miliknya sendiri. Melihat Nino yang sudah ada di seberang jalan, Sasa langsung menyebrang jalan tanpa melihat ke kiri dan kanan.

"Aaaaaarrggggghhh...." Teriak Sasa, ketika satu motor melewati tubuhnya hanya terpaut beberapa centi meter.

Untung saja pengemudi motor itu bisa mengendalikan motornya dengan baik, nyaris saja Sasa diserempet motor besar itu.

"Punya mata gak?! Kalau menyebrang lihat-lihat dulu!" bentak pengemudi motor itu dari balik helmnya.

Sadar dengan kesalahannya, Sasa hanya tertunduk dan diam. Pengemudi motor itu juga langsung tancap gas. Dengan langkah lunglai, Sasa berjalan menuju mobil Nino.

"Kamu gak apa-apa Sa?" tanya Nino dengan panik.

"Enggak."

"Lain kali hati-hati ya."

"Iya."

"Kamu lagi lamunin apa sih? Sampai gak lihat ada motor sebesar itu lagi jalan. Telat saja dia rem, sudah jadi lemper kamu."

"Sudah dong Bang, jangan dimarahin terus. Aku juga gak mau kok kejadian seperti itu," gerutu Sasa.

"Tuh kan, dibilanging pasti protes."

"Bukan protes Bang, tapi aku juga syok tadi. Sudah dong jangan diomelin lagi."

Nino tidak bersuara lagi, dia mengemudikan mobilnya. Melihat wajah Sasa yang cemberut, Nino merasa iba. Nino memang paling tidak bisa melihat wajah adiknya cemberut, dia sangat sayang pada Sasa apalagi setelah Ibu mereka meninggal dunia. Nino merasa kalau Sasa adalah tanggung jawabnya.

"Sudah gak usah cemberut, jelek banget ih..."

"Bodo amat," jawab Sasa ketus.

"Eh, ngomong-ngomong kamu kenal sama yang bawa motor tadi?"

"Enggak."

"Bukannya teman satu sekolah kamu, seragamnya sama."

"Ya kali aku kenal semua anak murid di sana, baru juga hari pertama masuk sekolah," jawab Sasa masih dengan intonasi yang ketus.

"Galak amat sih adikku, terus gimana hari pertama sekolah kamu?"

"Gak jauh beda seperti Abang, menyebalkan."

Nino terkekeh mendengar jawaban Sasa.

"Ehmm, kamu lapar gak Sa? Kita makan yuk..."

Sasa melirik Nino.

"Mau gak? Kamu bisa makan sepuasnya deh nanti."

"Bener?"

"Benar lah..."

"Gitu dong, itu baru Abang aku. Makan sepuasnya kan?" Sasa sumringah.

"Iya. Tapi makan sepuasnya di rumah..."

"Aahhhh, nyebelin!" Sasa cemberut lagi.

"Iya... iya... kita makan di luar deh. Sudah jangan cemberut lagi."

Sasa tersenyum.

Mereka menuju salah satu resto keluarga yang ada di sekitaran Jakarta Pusat. Begitu sampai di sana, Sasa langsung memesan beberapa menu kesukaannya.

"Habis tuh Sa?" tanya Nino.

"Kalau gak habis, ya bawa pulang Bang," jawab Sasa dengan santai.

Nino hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan adik kandungnya itu. Tapi dia tidak melarang, dia membiarkan saja apa yang ingin dilakukan Sasa.

"Oh ya Sa, Papah pernah cerita sesuatu gak sama kamu?" tanya Nino disela-sela mereka makan.

"Cerita? Tentang apa Bang?"

"Tentang Tante Eva."

"Tante Eva? Siapa itu?"

"Pacar Papah," jawab Nino pelan.

Sasa berhenti makan, dia menatap wajah Nino. Seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

Lanjutkan Membaca
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
DIONESA DIONESA sannacaroline Anak muda
“Berawal dari pindahnya Sasa ke sekolah baru mempertemukannya dengan Dion. Seorang siswa dingin dan tidak bersahabat dengan siswa perempuan manapun. Sikap dingin Dion membuat Sasa merasa tersiksa, terlebih karena mereka duduk satu meja. Kekacauan yang dialami Sasa ternyata tidak hanya di sekolah, di rumah Sasa juga dihadapkan dengan masalah Papahnya yang sudah memiliki pacar baru. Hal ini membuat Sasa dilema dan murung saat di sekolah. Dion yang diam-diam memperhatikan perubahan Sasa, iba dan mulai mengubah sikapnya. Mereka mulai dekat dan menjadi teman untuk saling berbagi cerita. Dion yang tidak pernah menceritakan siapa dirinya sebenarnya, mulai terbuka pada Sasa. Berawal dari rasa nyaman sampai saling memendam perasaan dihati mereka masing-masing. Cover design by PosterMyWall.com”
1

Bab 1 Hari Pertama Sekolah

22/01/2022

2

Bab 2 Kekasih Baru Papah

22/01/2022

3

Bab 3 Manusia Es

22/01/2022

4

Bab 4 Ulah Giring

22/01/2022

5

Bab 5 Diam Tapi Perduli

22/01/2022

6

Bab 6 Bayu Dan Difo

26/01/2022

7

Bab 7 Kartu As Bayu

27/01/2022

8

Bab 8 Sisi Lain Dion

27/01/2022

9

Bab 9 Kehadiran Tante Eva

27/01/2022

10

Bab 10 Perubahan Papah

27/01/2022

11

Bab 11 Langit Mendung Sasa

29/01/2022

12

Bab 12 Dion Mulai Jatuh Cinta

22/02/2022

13

Bab 13 Pesona Sasa

23/02/2022