icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 4
Metode Pemurnian Senjata (Bagian Dua)
Jumlah Kata:1290    |    Dirilis Pada:05/01/2022

Potongan terakhir dari kertas emas yang kecil terbang menembus kulit kepalanya dan masuk ke dalam otak Zen. Zen merasa seolah-olah dia habis dipukul oleh palu besi yang berukuran besar. Seluruh tubuhnya bergetar hebat saat pecahan kertas emas kecil-kecil itu bergabung menjadi satu sebelum memancarkan cahaya terang.

Setelah cahaya keemasan berangsur-angsur memudar, pecahan emas kecil ini menembus masuk ke dalam seluruh tubuh Zen. Beberapa ingatan yang bukan miliknya, seketika muncul dari kehampaan.

"Metode Pemurnian Senjata Agung..."

"Metode Pemurnian Senjata Kuno Pertama..."

"Gunakan daging sebagai senjata. Gunakan tubuhmu sebagai jiwa, tempa dan berlatihlah secara menyeluruh, bersihkan tubuh untuk vitalitas yang besar..."

'Apakah ini yang disebut metode pemurnian senjata?'

Meskipun Zen sama sekali tidak tahu tentang cara memurnikan senjata, tapi dia jelas tahu bahwa menjadi master pemurnian senjata adalah karir yang sangat berguna. Terlepas dari Klan Luo memiliki semua sumber daya keuangan yang kuat, tetapi mereka bahkan tidak bisa menyewa master pemurnian senjata dari tingkat yang paling rendah. Hal itu sudah cukup untuk menunjukkan betapa menguntungkannya untuk menjadi master pemurnian senjata.

Tapi tadi dikatakan untuk menggunakan daging tubuh sebagai senjata? Apa artinya kata-kata itu?

'Apakah metode ini menunjukkan bahwa aku perlu memperbaiki diriku dulu untuk menjadi senjata yang efektif?'

Begitu pikiran itu terlintas di benak Zen, sesuatu yang luar biasa terjadi pada tubuhnya.

Suhu tubuhnya tiba-tiba meningkat tajam. Dia menarik napas dalam-dalam karena terkejut saat pertama kali merasakan panas, lalu dingin, lalu panas lagi.

Sangat panas! Zen merasa tidak nyaman saat suhu tubuhnya naik seperti itu. Tak butuh waktu lama untuk dia merasa seolah-olah tubuhnya sedang terbakar dari dalam ke luar.

Dia bergegas berjalan ke arah tangki air di ujung ruang bawah tanah. Di sinilah mereka meninggalkan air untuk digunakan Zen untuk rutinitas sehari-harinya.

Dia langsung melompat ke dalam tangki tanpa berpikir dua kali.

Dia menutup matanya saat tubuhnya masuk lebih dalam ke dalam tangki itu. Air yang ada di sekitarnya mulai mendesis.

Tangki mulai bergetar saat air menggelegak dan berbuih. Tak lama kemudian, uap panas mulai mengepul keluar dari dalam tangki. Semua air di dalam tangki telah menguap sebelum tubuh Zen bisa mendinginkan dirinya sendiri di dalam tangki tersebut. Seluruh ruang bawah tanah diselimuti kabut.

Air gagal menurunkan suhu tubuh Zen. Sebaliknya, Zen malah merasa seolah-olah suhu tubuhnya tetap naik drastis. Dia menggeliat di dasar tangki yang sekarang kosong karena tidak tahan lagi dengan rasa panas itu. Perlahan retakan muncul dan merambat di kulit Zen dan cahaya merah gelap seperti sepotong besi panas merah menerobos kulitnya.

Dia meronta-ronta dan memukul bagian bawah tangki saat kabut berputar di sekelilingnya.

Tidak hanya tubuhnya, pikiran Zen juga mengalami perubahan yang luar biasa.

Tiba-tiba ada sebuah tungku hitam besar dengan sembilan ukiran naga di dinding muncul di dalam benaknya.

Setiap naga dicat dengan warna yang berbeda-beda, termasuk cyan, hitam, putih, ungu ... Masing-masing naga telah memamerkan taring mereka dan tampaknya sedang mencakar udara di sekitar mereka.

Delapan dari naga itu memejamkan mata mereka, sementara naga yang di bawah membuka matanya dan menatap ke arah Zen.

Naga itu memandang Zen tanpa emosi dengan mata yang dalam yang mencerminkan pengalaman dan kebijaksanaan karena telah hidup dan bertahan selama puluhan juta tahun, atau mungkin ratusan juta tahun. Dia bisa merasakan kekuatan besar yang berasal dari naga itu.

"Klatak kletek klatak kletek ..."

Jiwa Zen bergetar di bawah tatapan intens dari sang naga. Sesaat kemudian dia merasa seolah-olah jiwanya akan terbelah dan terbuka lebar.

Zen mendengar bisikan datang dari naga saat dia merasa seolah-olah setiap inci dari dirinya akan hancur berkeping-keping. Kemudian tungku raksasa itu terus menerus berputar, dan terlihat api menyala dari dalam tungku.

Api hitam raksasa muncul dari dalam tungku.

Zen belum pernah melihat sesuatu seperti ini sebelumnya. Nyala api berkelip-kelip dengan ganas di ruang bawah tanah yang gelap dan sunyi. Untuk sesaat, Zen merasa bahwa api itu seolah-olah akan membakar semua yang ada di seluruh dunia!

Tungku raksasa itu lalu menutupi tubuh Zen dan tak lama kemudian, dia merasakan api yang berkobar membungkus jiwanya. Semua itu terjadi begitu cepat sehingga Zen tidak punya waktu untuk mengagumi apa yang telah dilihatnya.

Setiap orang biasa pasti akan dilahap oleh api itu. Hanya seseorang yang sangat istimewa yang mampu menahan rasa sakit dari jiwa mereka yang membara. Zen tidak boleh kehilangan kesadaran akan rasa sakit yang tak tertahankan ini karena itu adalah jiwanya yang menderita dan ini semua terjadi di dalam pikirannya. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan saat itu adalah menggertakkan giginya dan berharap siksaan itu akan segera selesai.

"Ah ah ah, biarkan aku mati saja!"

Tak lama kemudian, Zen telah mencapai batasnya dan dia pun berteriak kesakitan. Dia bersedia melakukan apa saja, bahkan merangkul kematian, untuk membebaskan dirinya dari rasa sakit yang sedang dia rasakan.

Tapi kematian adalah kemewahan baginya. Seseorang tidak bisa melakukan apa-apa dalam keadaan ini, bahkan menggigit lidahnya untuk bunuh diri saja tidak bisa dia lakukan.

Begitu jiwanya tidak dapat menahan rasa sakit dan hampir hancur, tungku itu memancarkan cahaya warna-warni untuk segera memperbaiki jiwa Zen.

Membakar, menghancurkan, memperbaiki dan kemudian membakar, menghancurkan dan memperbaiki, dan berulang terus seperti itu.

siklus yang menyiksa tampaknya berulang tanpa henti.

Zen tidak tahu berapa lama rasa sakit yang mematikan ini berlangsung. Akhirnya siksaan itu berhenti.

Dia menarik napas panjang dan menyambut waktu istirahatnya. Dia hampir tidak punya waktu untuk melupakan pengalaman yang barusan dia alami ketika dia menemukan jiwanya memancarkan cahaya keemasan.

Zen akhirnya perlahan kembali sadar setelah waktu yang cukup lama.

Tungku raksasa itu telah berhenti berputar di dalam benaknya, tetapi api hitam di tungku terus menyala dan tidak pernah padam. Tetapi api itu sekarang sudah lebih terkendali dan tampak tidak terlalu mengerikan.

Zen telah mengerti bahwa jiwa dan tubuhnya telah disempurnakan di dalam tungku itu.

Keajaiban tidak pernah berhenti terjadi di dunia yang besar ini. Beberapa master pemurnian senjata menggunakan segala macam cara aneh untuk memurnikan senjata mereka. Beberapa master bahkan melakukan pembunuhan yang tak terhitung jumlahnya untuk mengumpulkan darah manusia demi melakukan pemurnian. Yang lebih buruknya lagi adalah beberapa master bahkan mencuri jiwa manusia untuk dijadikan bahan bakar senjata mereka, sehingga membuat mereka menjadi semacam senjata jahat.

Namun, teori pemurnian senjata ini menganjurkan pemurnian tubuh seseorang dan mengubahnya menjadi senjata magis. Zen belum pernah mendengar tentang hal seperti ini sebelumnya. Semua ini terdengar sangat gila...

Kemalangan bisa menjadi berkah tersembunyi, begitu juga sebaliknya. Setelah berhasil menenangkan dirinya, Zen berpikir bahwa apa yang terjadi padanya mungkin bukan hal yang buruk!

Senjata magis harus melewati lima tahap di dunia ini, dengan yang pertama adalah tahap senjata misterius. Setelah itu, senjata ini akan menjadi senjata spiritual, senjata peri, senjata suci, dan yang terakhir adalah senjata dewa. Masing-masing dari tahap ini dibagi lagi menjadi kelas atas, menengah, dan bawah. Semua tahap memiliki nilai yang sangat tinggi.

Tubuh Zen baru saja disempurnakan menjadi senjata magis. Zen merasa dirinya kuat meskipun masih berada pada tingkat terendah dari senjata misterius.

Itu merupakan hal yang aneh untuk menganggap dirinya sendiri sebagai senjata magis. Zen menunjukkan senyum pahit di wajahnya.

Zen melihat fajar menyingsing saat dia membalikkan badannya untuk melihat keluar dari satu-satunya ventilasi yang ada di ruang bawah tanah. Dia telah begitu termakan oleh pengalamannya sampai-sampai dia lupa akan waktu.

Zen tidak merasa lelah meskipun dia baru saja melewati malam tanpa tidur dan pengalaman yang aneh dan mengerikan ini. Sebaliknya, jiwanya terasa seperti diistirahatkan, bahkan terangkat.

Dia menjadi tenang setelah menarik napas dalam-dalam. Semua kecemasan yang melanda dirinya di malam sebelumnya telah hilang begitu saja. Ternyata apa yang dikatakan buku itu benar sekali, semuanya akan terjadi sesuai takdir. Bahkan makan dan minum pun sudah ditentukan sebelumnya. Seseorang dapat mengatasi setiap kesulitan hanya dengan pikiran yang stabil.

Setelah dia dengan hati-hati membersihkan tumpukan abu dari buku yang terbakar dan memindahkan tangki air kembali ke tempat asalnya, terdengar suara kunci pintu ruang bawah tanah yang dibuka dan mengisi keheningan yang ada di dalam ruang bawah tanah. Zen mengerutkan keningnya. Sudah waktunya untuk menerima pukulan lagi.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Membalas Kejahatan Dengan Kebaikan (Bagian Satu)2 Bab 2 Membalas Kejahatan Dengan Kebaikan (Bagian Dua)3 Bab 3 Metode Pemurnian Senjata (Bagian Satu)4 Bab 4 Metode Pemurnian Senjata (Bagian Dua)5 Bab 5 Tubuh yang Luar Biasa (Bagian Satu)6 Bab 6 Tubuh yang Luar Biasa (Bagian Dua)7 Bab 7 Zen Memukul Para Pelayan (Bagian Satu)8 Bab 8 Zen Memukul Para Pelayan (Bagian Dua)9 Bab 9 Krisis (Bagian Satu)10 Bab 10 Krisis (Bagian Dua)11 Bab 11 Upaya (Bagian Satu)12 Bab 12 Upaya (Bagian Dua)13 Bab 13 Hari Latihan Keluarga (Bagian Satu)14 Bab 14 Hari Latihan Keluarga (Bagian Dua)15 Bab 15 Pukulan Fatal (Bagian Satu)16 Bab 16 Pukulan Fatal (Bagian Dua)17 Bab 17 Tingkat Pemurnian Organ (Bagian Satu)18 Bab 18 Tingkat Pemurnian Organ (Bagian Dua)19 Bab 19 Evil Sang Pemurni Senjata (Bagian Satu)20 Bab 20 Evil Sang Pemurni Senjata (Bagian Dua)21 Bab 21 Memurnikan Tubuh dengan Api (Bagian Satu)22 Bab 22 Memurnikan Tubuh dengan Api (Bagian Dua)23 Bab 23 Memurnikan Tubuh dengan Api (Bagian Tiga)24 Bab 24 Api Hitam Dan Sisik Naga25 Bab 25 Kebebasan (Bagian Satu)26 Bab 26 Kebebasan (Bagian Dua)27 Bab 27 Kebebasan (Bagian Tiga)28 Bab 28 Ibukota Kaisar (Bagian Satu)29 Bab 29 Ibukota Kaisar (Bagian Dua)30 Bab 30 Provokasi (Bagian Satu)31 Bab 31 Provokasi (Bagian Dua)32 Bab 32 Ujian Awal (Bagian Satu)33 Bab 33 Ujian Awal (Bagian Dua)34 Bab 34 Tekanan Tak Terlihat (Bagian Satu)35 Bab 35 Tekanan Tak Terlihat (Bagian Dua)36 Bab 36 Lulus Ujian Awal (Bagian Satu)37 Bab 37 Lulus Ujian Awal (Bagian Dua)38 Bab 38 Aku Memiliki Ide yang Sangat Sederhana (Bagian satu)39 Bab 39 Aku Memiliki Ide yang Sangat Sederhana (Bagian Dua)40 Bab 40 Kejutan (Bagian Satu)41 Bab 41 Kejutan (Bagian Dua)42 Bab 42 Pil Panjang Umur43 Bab 43 Amarah Zen (Bagian Satu)44 Bab 44 Kemarahan Zen (Bagian Dua)45 Bab 45 Aku Menolak Menerimanya (Bagian Satu)46 Bab 46 Aku Menolak Menerimanya (Bagian Dua)47 Bab 47 Yan Luo48 Bab 48 Gunung Berdarah (Bagian Satu)49 Bab 49 Gunung Berdarah (Bagian Dua)50 Bab 50 Ryan Fang (Bagian Satu)51 Bab 51 Ryan Fang (Bagian Dua)52 Bab 52 Cara Terbaik Menyingkirkan Orang Bodoh (Bagian Satu)53 Bab 53 Cara Terbaik Menyingkirkan Orang Bodoh (Bagian Dua)54 Bab 54 Tujuh Klan Bangsawan Teratas55 Bab 55 Terpaksa Bertarung (Bagian Satu)56 Bab 56 Terpaksa Bertarung (Bagian Dua)57 Bab 57 Mati-matian Melawan (Bagian Satu)58 Bab 58 Mati-matian Melawan (Bagian Dua)59 Bab 59 Raksasa (Bagian Satu)60 Bab 60 Raksasa (Bagian Dua)61 Bab 61 Menggunakan Pisau Terbang (Bagian Satu)62 Bab 62 Menggunakan Pisau Terbang (Bagian Dua)63 Bab 63 Perasaan Tertekan64 Bab 64 Mendapatkan Kembali Pisau Terbang (Bagian Satu)65 Bab 65 Mendapatkan Kembali Pisau Terbang (Bagian Dua)66 Bab 66 Memilih Metode Pemurnian (Bagian Satu)67 Bab 67 Memilih Metode Pemurnian (Bagian Dua)68 Bab 68 Metode Kultivasi Tingkat Lima (Bagian Satu)69 Bab 69 Metode Kultivasi Tingkat Lima (Bagian Dua)70 Bab 70 Gunung Neraka (Bagian Satu)71 Bab 71 Gunung Neraka (Bagian Dua)72 Bab 72 Masalah Tiada Akhir73 Bab 73 Tantangan74 Bab 74 Melupakan Diri Sendiri Sepenuhnya (Bagian Satu)75 Bab 75 Melupakan Diri Sendiri Sepenuhnya (Bagian Dua)76 Bab 76 Permainan Kucing dan Tikus (Bagian Satu)77 Bab 77 Permainan Kucing Dan Tikus (Bagian Dua)78 Bab 78 Mencapai Tingkat Pemurnian Sumsum79 Bab 79 Tetap Tenang (Bagian Satu)80 Bab 80 Tetap Tenang (Bagian Dua)81 Bab 81 Tetap Tenang (Bagian Tiga)82 Bab 82 Kebenaran Yang Dingin Dan Keras83 Bab 83 Instruktur Su Yang Marah (Bagian Satu)84 Bab 84 Instruktur Su Yang Marah (Bagian Dua)85 Bab 85 Lapangan Parkir Langit Biru (Bagian Satu)86 Bab 86 Lapangan Parkir Langit Biru (Bagian Dua)87 Bab 87 Serangan Mendadak Di Langit (Bagian Satu)88 Bab 88 Serangan Mendadak Di Langit (Bagian Dua)89 Bab 89 Diselamatkan (Bagian Satu)90 Bab 90 Diselamatkan (Bagian Dua)91 Bab 91 Tantangan Yang Tak Terduga92 Bab 92 Mempermalukan Dirinya Sendiri (Bagian Satu)93 Bab 93 Mempermalukan Dirinya Sendiri (Bagian Dua)94 Bab 94 Kesempatan Dalam Kesempitan95 Bab 95 Panen Melimpah Inti Kristal (Bagian Satu)96 Bab 96 Panen Melimpah Inti Kristal (Bagian Dua)97 Bab 97 Nasib Tragis (Bagian Satu)98 Bab 98 Nasib Tragis (Bagian Dua)99 Bab 99 Binatang Raksasa Di Danau Lava100 Bab 100 Perubahan Menjadi Senjata Spiritual (Bagian Satu)