icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 3
Metode Pemurnian Senjata (Bagian Satu)
Jumlah Kata:1270    |    Dirilis Pada:05/01/2022

Zen tidak peduli tentang dirinya yang diasingkan menjadi budak, atau dijadikan karung tinju untuk anak-anak dari Klan Luo, atau bahkan kehilangan Pil Ajaib, yang dirampok oleh Perrin.

Dia tidak peduli akan hal-hal tersebut. Kelemahan terbesarnya adalah saudara perempuannya, Yan Luo!

Yan adalah satu-satunya harapan untuk cabang tertua dari keluarga Luo. Yan adalah orang yang sangat berbakat. Dia meninggalkan rumah pada usia tiga belas tahun ketika Sekte Awan memilihnya sebagai murid. Dia selamat dari kudeta yang terjadi di dalam Klan Luo karena alasan ini.

Zen yang menjadi budak selama dua tahun terakhir tidak dapat mengetahui apa pun tentang kabar ataupun keberadaan saudara perempuannya itu. Sekarang setelah Perrin memberitahunya informasi tentang situasi Yan saat ini, Zen mendapati dirinya merasa cemas tentang kesejahteraan saudaranya itu.

Tersesat dalam pikirannya yang mengkhawatirkan adik perempuannya, Zen lupa melindungi bagian vital tubuhnya dan menerima beberapa pukulan dahsyat dari anak-anak Luo. Dia akhirnya kembali sadar setelah mendapat beberapa pukulan.

Zen kembali ke kamarnya di ruang bawah tanah pada malam hari. Dia berjalan tertatih-tatih saat rasa sakit yang menyiksa membanjiri seluruh tubuhnya.

"Obat ini akan membantumu agar segera pulih!" Pelayan Klan Luo melemparkan obat itu ke Zen sebelum membalikkan badannya untuk berjalan pergi.

Mau bagaimana pun juga karung tinju manusia tidak terbuat dari baja. Dalam beberapa hari saja, mereka pasti akan mati karena luka dalam jika mereka tidak diberi obat penyembuhan luka. Jadi para pelayan membagikan obat-obatan kepada para budak untuk membantu mereka pulih sesegera mungkin.

Namun, obat penyembuhan ini pun tidak terlalu efektif.

Zen membuka kantong kertas yang dia dapat dan tercengang ketika melihat hanya ada satu pil di dalamnya. "Darren Fang! Mengapa aku hanya mendapatkan satu pil hari ini?" Zen bertanya.

"Kamu seharusnya mensyukuri apa yang kamu miliki sekarang. Kenapa? Apa masalahnya? Apakah pil itu tidak cukup untukmu?" Pelayan itu mengejeknya.

"Sudah ditetapkan bahwa setiap budak harus mendapatkan tiga pil penyembuhan setiap hari. Tapi sekarang hanya ada satu di dalam kantongku. Jelas sekali kamu menggelapkan pil-pil ini. Penggelapan di dalam keluarga Luo adalah kejahatan besar. Beraninya kamu melakukan hal ini, Darren? Apakah kamu tidak takut mati?" Zen berteriak sambil menatap Darren dengan berani.

"Hei! Tentu saja aku takut mati, tapi aku tidak takut padamu sedikit pun. Kamu hanyalah seorang budak sekarang. Apa yang bisa kamu lakukan di sini? Kamu ingin memberontak? Aku benci melihat sikapmu. Apakah kamu masih menganggap dirimu sebagai tuan muda di sini? Lihatlah ke cermin dan hadapi kenyataanmu yang sebenarnya, Zen. Ha ha ha!" Darren tidak begitu menyukai Zen dan tidak segan-segan mengambil kesempatan ini untuk menghina mantan tuan muda itu.

Tapi Zen bukannya marah, dia malah menjadi tenang setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Darren. Zen menenangkan dirinya sebelum memelototi Darren. Dia bermaksud untuk menyampaikan kebenciannya melalui matanya yang jernih, tatapan tajam, dan wajah tanpa ekspresi.

Dan cara itu berhasil karena Darren merasa tidak nyaman saat melihat reaksi Zen. Dia menjadi takut ketika dia melihat api menari di mata Zen. Alih-alih mundur, Darren malah berjalan mendekat ke arah Zen dan menyodok dada Zen dengan jari telunjuknya sambil berkata, "Apa yang kamu lihat? Kamu berani menantangku? Apakah kamu pikir bahwa kamu bisa melawanku?"

Tiba-tiba Zen memancarkan kekuatan yang kuat dari dalam dadanya. Tubuh Darren gemetar saat kekuatan itu menyebar ke seluruh tubuhnya. Tidak lama kemudian lutut Darren menyerah dan dia terhuyung-huyung sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

"Kamu... Kamu... Kamu hanyalah seorang budak. Apakah kamu ingin memberontak saat ini?" Darren berdiri dan mencoba untuk terlihat berkuasa. Namun, ekspresi paniknya sudah cukup menyampaikan perasaannya yang sebenarnya.

Zen mengambil dua langkah ke depan sambil meretakkan buku-buku jarinya, dan membentaknya kembali, "Seorang pelayan yang bahkan bukan anggota Klan Luo berani begitu sombong di sini? Apakah kamu pikir aku tidak bisa memukulmu?"

Darren ketakutan dan tidak ingin berada dalam situasi ini lebih lama lagi. Jadi dia bergegas membalikkan badannya dan melarikan diri sesegera mungkin dari sana. Dia baru memelototi Zen segera setelah gerbang besi ruang bawah tanah itu tertutup.

"Perilaku jahat!" "Perilaku jahat katanya?" Zen mencibir sambil menggelengkan kepalanya melihat sikap Darren. Dia merasa bahwa pelayan itu tidak sepadan dengan waktunya.

Dia duduk dengan tenang di dalam kamarnya, mengeluarkan korek api untuk menyalakan lampu minyak, dan dengan tergesa-gesa membalik halaman buku yang biasa dia baca. Zen merasa frustrasi karena dia tidak bisa fokus. Pikirannya terus melayang kembali kepada apa yang dikatakan Perrin tadi tentang saudara perempuannya, Yan.

"Aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi." Zen mengerutkan keningnya sambil memikirkan ada pilihan apa yang bisa dia lakukan. 'Aku baru saja mencapai tingkat pemurnian daging. Akan sulit bagiku untuk meninggalkan ruang bawah tanah ini dengan tingkat itu, apalagi pergi ke Sekte Awan untuk menyelamatkan Yan.'

Zen mondar-mandir di kamarnya yang kecil di ruang bawah tanah. Dadanya semakin sesak dan jantungnya berdetak lebih cepat. Dia tampak seperti binatang buas yang sedang gelisah dan mencoba mencari jalan keluar.

Zen telah menerima nasibnya selama dua tahun terakhir ini. Dia tidak memiliki motivasi apa pun untuk memikirkan alternatif bagi dirinya. Dia merasa kehilangan bakat dan kepercayaan dirinya seiring berjalannya waktu.

Ini akhirnya menyebabkan dia benar-benar tidak percaya pada kekuatannya sendiri. Zen berdiri di tengah-tengah ruangan sambil merasionalisasikan dirinya sendiri. 'Sekarang aku adalah seorang budak. Bertahun-tahun dipaksa menjadi karung pukul untuk anak-anak di Klan Luo telah melemahkan kekuatanku. Yang lebih buruknya lagi adalah cedera harian yang kudapatkan mencegahku untuk berlatih ketika aku kembali ke ruang bawah tanah ini. Tetapi cepat atau lambat aku pasti akan mati terbunuh oleh salah satu anak-anak ini jika aku terus menerus diam dan tinggal di sini. Aku perlu mengambil sebuah tindakan drastis.'

Zen semakin cemas semakin dia memikirkannya. Dia mengarahkan pandangannya ke tempat buku mengerikan, Prinsip Surgawi, tergeletak dengan tenang di atas meja.

"Buku sialan ini tidak lain tidak bukan hanyalah sekumpulan teori kehidupan. Dan sejauh ini, apa yang dikatakan buku ini tidak ada yang berhasil untuk ayahku, maupun diriku. Tidak ada gunanya bagiku membaca buku ini. Mengapa aku harus terus membacanya? Buku itu sama sekali tidak berguna." Kemarahan dan ketidakberdayaan melanda pikiran Zen. Dia melangkah mendekat ke arah buku itu, mengambilnya dari meja, dan meletakkannya di atas lampu sampai mulai mendesis dan berderak.

Senyum perlahan tumbuh di bibir Zen saat buku itu mulai terbakar.

Namun, Zen langsung menyesaali perbuatannya sesaat kemudian. Dia berbisik dengan putus asa, "Zen, Zen, kenapa kamu repot-repot marah pada sebuah buku?" Zen menyesal melihat buku yang terbakar itu dan mengeluh, "Buku ini mengajarkan orang untuk menjadi baik. Buku ini memberitahu orang hal-hal apa yang memalukan dan salah, serta hal-hal apa yang bijaksana dan benar. Buku ini tidak bisa disalahkan atas kesulitan yang terjadi padaku. Aku seharusnya menyalahkan diri sendiri karena akulah yang tidak cukup kuat, karena telah menjadi seperti anak domba kecil yang mudah dikendalikan oleh orang lain."

Sayangnya, saat itu buku itu sudah menjadi tumpukan abu dan tidak bisa diselamatkan.

Tiba-tiba, Zen melihat seberkas cahaya keemasan melintas dari dalam tumpukan abunya. Zen tercengang untuk sesaat.

"Apa itu?"

Zen mendorong tumpukan abu itu ke samping, dan mengambil sepotong kecil emas yang memancarkan sinar cahaya terang. Zen berusaha mempelajari kertas emas tipis itu.

Dia tidak pernah menemukan kertas emas ini ketika dia membaca buku ini berulang kali. Sepertinya kertas itu tersembunyi di lapisan dalam buku.

'Apa gunanya selembar kertas emas itu?

Emas sama tidak berharganya dengan tanah liat untuk keluarga besar seperti Klan Luo.'

Namun ketika Zen sedang fokus pada kertas emas itu, sebuah penglihatan yang aneh muncul!

Kertas emas itu diukir dengan kata-kata kecil yang tak terhitung jumlahnya dan berbentuk seperti berudu. Zen tidak mengerti satupun kata-kata yang tertulis di kertas emas itu.

Kertas emas itu hancur di tangannya saat matanya sedang menganalisa kertas itu. Ribuan keping emas kecil, masing-masing membawa sebuah kata, terbang mendekat ke arahnya.

Wajah, mata, leher, lengan, badan, kaki...

Setiap bagian tubuh Zen dibalut oleh pecahan emas kecil ini.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Membalas Kejahatan Dengan Kebaikan (Bagian Satu)2 Bab 2 Membalas Kejahatan Dengan Kebaikan (Bagian Dua)3 Bab 3 Metode Pemurnian Senjata (Bagian Satu)4 Bab 4 Metode Pemurnian Senjata (Bagian Dua)5 Bab 5 Tubuh yang Luar Biasa (Bagian Satu)6 Bab 6 Tubuh yang Luar Biasa (Bagian Dua)7 Bab 7 Zen Memukul Para Pelayan (Bagian Satu)8 Bab 8 Zen Memukul Para Pelayan (Bagian Dua)9 Bab 9 Krisis (Bagian Satu)10 Bab 10 Krisis (Bagian Dua)11 Bab 11 Upaya (Bagian Satu)12 Bab 12 Upaya (Bagian Dua)13 Bab 13 Hari Latihan Keluarga (Bagian Satu)14 Bab 14 Hari Latihan Keluarga (Bagian Dua)15 Bab 15 Pukulan Fatal (Bagian Satu)16 Bab 16 Pukulan Fatal (Bagian Dua)17 Bab 17 Tingkat Pemurnian Organ (Bagian Satu)18 Bab 18 Tingkat Pemurnian Organ (Bagian Dua)19 Bab 19 Evil Sang Pemurni Senjata (Bagian Satu)20 Bab 20 Evil Sang Pemurni Senjata (Bagian Dua)21 Bab 21 Memurnikan Tubuh dengan Api (Bagian Satu)22 Bab 22 Memurnikan Tubuh dengan Api (Bagian Dua)23 Bab 23 Memurnikan Tubuh dengan Api (Bagian Tiga)24 Bab 24 Api Hitam Dan Sisik Naga25 Bab 25 Kebebasan (Bagian Satu)26 Bab 26 Kebebasan (Bagian Dua)27 Bab 27 Kebebasan (Bagian Tiga)28 Bab 28 Ibukota Kaisar (Bagian Satu)29 Bab 29 Ibukota Kaisar (Bagian Dua)30 Bab 30 Provokasi (Bagian Satu)31 Bab 31 Provokasi (Bagian Dua)32 Bab 32 Ujian Awal (Bagian Satu)33 Bab 33 Ujian Awal (Bagian Dua)34 Bab 34 Tekanan Tak Terlihat (Bagian Satu)35 Bab 35 Tekanan Tak Terlihat (Bagian Dua)36 Bab 36 Lulus Ujian Awal (Bagian Satu)37 Bab 37 Lulus Ujian Awal (Bagian Dua)38 Bab 38 Aku Memiliki Ide yang Sangat Sederhana (Bagian satu)39 Bab 39 Aku Memiliki Ide yang Sangat Sederhana (Bagian Dua)40 Bab 40 Kejutan (Bagian Satu)41 Bab 41 Kejutan (Bagian Dua)42 Bab 42 Pil Panjang Umur43 Bab 43 Amarah Zen (Bagian Satu)44 Bab 44 Kemarahan Zen (Bagian Dua)45 Bab 45 Aku Menolak Menerimanya (Bagian Satu)46 Bab 46 Aku Menolak Menerimanya (Bagian Dua)47 Bab 47 Yan Luo48 Bab 48 Gunung Berdarah (Bagian Satu)49 Bab 49 Gunung Berdarah (Bagian Dua)50 Bab 50 Ryan Fang (Bagian Satu)51 Bab 51 Ryan Fang (Bagian Dua)52 Bab 52 Cara Terbaik Menyingkirkan Orang Bodoh (Bagian Satu)53 Bab 53 Cara Terbaik Menyingkirkan Orang Bodoh (Bagian Dua)54 Bab 54 Tujuh Klan Bangsawan Teratas55 Bab 55 Terpaksa Bertarung (Bagian Satu)56 Bab 56 Terpaksa Bertarung (Bagian Dua)57 Bab 57 Mati-matian Melawan (Bagian Satu)58 Bab 58 Mati-matian Melawan (Bagian Dua)59 Bab 59 Raksasa (Bagian Satu)60 Bab 60 Raksasa (Bagian Dua)61 Bab 61 Menggunakan Pisau Terbang (Bagian Satu)62 Bab 62 Menggunakan Pisau Terbang (Bagian Dua)63 Bab 63 Perasaan Tertekan64 Bab 64 Mendapatkan Kembali Pisau Terbang (Bagian Satu)65 Bab 65 Mendapatkan Kembali Pisau Terbang (Bagian Dua)66 Bab 66 Memilih Metode Pemurnian (Bagian Satu)67 Bab 67 Memilih Metode Pemurnian (Bagian Dua)68 Bab 68 Metode Kultivasi Tingkat Lima (Bagian Satu)69 Bab 69 Metode Kultivasi Tingkat Lima (Bagian Dua)70 Bab 70 Gunung Neraka (Bagian Satu)71 Bab 71 Gunung Neraka (Bagian Dua)72 Bab 72 Masalah Tiada Akhir73 Bab 73 Tantangan74 Bab 74 Melupakan Diri Sendiri Sepenuhnya (Bagian Satu)75 Bab 75 Melupakan Diri Sendiri Sepenuhnya (Bagian Dua)76 Bab 76 Permainan Kucing dan Tikus (Bagian Satu)77 Bab 77 Permainan Kucing Dan Tikus (Bagian Dua)78 Bab 78 Mencapai Tingkat Pemurnian Sumsum79 Bab 79 Tetap Tenang (Bagian Satu)80 Bab 80 Tetap Tenang (Bagian Dua)81 Bab 81 Tetap Tenang (Bagian Tiga)82 Bab 82 Kebenaran Yang Dingin Dan Keras83 Bab 83 Instruktur Su Yang Marah (Bagian Satu)84 Bab 84 Instruktur Su Yang Marah (Bagian Dua)85 Bab 85 Lapangan Parkir Langit Biru (Bagian Satu)86 Bab 86 Lapangan Parkir Langit Biru (Bagian Dua)87 Bab 87 Serangan Mendadak Di Langit (Bagian Satu)88 Bab 88 Serangan Mendadak Di Langit (Bagian Dua)89 Bab 89 Diselamatkan (Bagian Satu)90 Bab 90 Diselamatkan (Bagian Dua)91 Bab 91 Tantangan Yang Tak Terduga92 Bab 92 Mempermalukan Dirinya Sendiri (Bagian Satu)93 Bab 93 Mempermalukan Dirinya Sendiri (Bagian Dua)94 Bab 94 Kesempatan Dalam Kesempitan95 Bab 95 Panen Melimpah Inti Kristal (Bagian Satu)96 Bab 96 Panen Melimpah Inti Kristal (Bagian Dua)97 Bab 97 Nasib Tragis (Bagian Satu)98 Bab 98 Nasib Tragis (Bagian Dua)99 Bab 99 Binatang Raksasa Di Danau Lava100 Bab 100 Perubahan Menjadi Senjata Spiritual (Bagian Satu)