icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Boneka Suami, Kebenaran Pahit Terkuak

Bab 4 

Jumlah Kata:405    |    Dirilis Pada: 05/12/2025

berusaha menyesuaikan diri dengan kegelapan yang pekat. Aku merasakan sisa-sisa gai

mas, seperti habis berlari maraton. Aku bu

pukul tiga pagi. Badai di luar masih mengamuk, petir menyambar-n

ku bangkit dari tempat tidur. Gel

sudah hafal tata letak rumah ini, bahkan dalam gelap sekalipu

ngin dan kasar menyentuh pinggangku, merayap per

Tidak, ini terlalu bes

pisnya, tapi tangannya terlalu cepat. Ia

in berteriak, tapi suaraku tercekat di tenggo

enahanku. Tubuhku merapat pada tubuh yang lebih besa

erak berbisik di telingaku. Suara itu ter

ah

el erat padaku, memelukku dari belakang. Aku b

nya lagi, suaranya penuh godaan.

ndengar suaranya. Setidaknya ini bukan orang asing. Tapi kemudian, ide

n yang mencekam. Aku merasakan sesuatu yang keras dan pana

esar dari yang kubayangkan. Meskipun terhalang kain p

u di lift, tentang bagaimana rasanya jika aku tidak m

kan di lift, kini lenyap tak bersisa. Dig

badai, tapi dinginnya ketakutan. Ketakut

gi fantasiku yang gelap. Ini adalah ancaman n

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Boneka Suami, Kebenaran Pahit Terkuak
Boneka Suami, Kebenaran Pahit Terkuak
“Suamiku memelukku erat di ruang tunggu rumah sakit, berjanji akan melindungiku dari hukum setelah aku memukul kepala ayahnya sendiri hingga koma. Malam itu, Tjahjo, ayah mertuaku yang bejat, menerobos masuk ke kamarku dan mencoba memperkosaku saat suamiku sedang "dinas luar kota". Dalam kepanikan dan upaya membela diri, aku menghantamnya dengan patung keramik berat. Rangga, suamiku, terus membisikkan kata-kata penenang, bersikap layaknya pahlawan yang siap menanggung segalanya demi istri tercinta. Namun, saat ia lengah, sebuah notifikasi pesan menyala di layar ponselnya yang tergeletak di sampingku. "Rencana B Berhasil." Darahku seketika membeku. Potongan teka-teki itu akhirnya menyatu: kepergiannya yang terlalu sering, desakannya agar ayahnya menginap di rumah kami, hingga senyum tipisnya saat dokter memvonis ayahnya mungkin takkan bangun lagi. Ternyata, aku hanyalah umpan. Dia sengaja menyerahkanku ke mulut singa, membiarkan ayahnya melecehkanku, hanya untuk meminjam tanganku menyingkirkan orang tua itu demi warisan asuransi. Air mataku kering seketika, digantikan oleh nyala api dendam yang dingin dan membara. Rangga Agustina, kamu pikir kamu menang? Aku akan merebut segalanya darimu, dan memastikan kamu yang akan membusuk di penjara, bukan aku.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10