icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang

Bab 3 Adhit merasa tertekan

Jumlah Kata:1916    |    Dirilis Pada: 26/11/2025

isnisnya yang paling berpengaruh, seorang pengusaha properti bernama Pak Herm

membawa bom waktu. Ia harus terus waspada, memastikan R

ereka di mobil. "Ini bukan lagi soal keluarga. Ini soal jutaan d

gnya di bahu, menoleh. "Aku tahu etika sosia

"Di sana akan ada banyak orang pentin

Ia menyesal begitu kata itu keluar dari

ada jeda singkat s

saja pada bisnismu," kata Riani. Sama sekali ti

nya, "Siapa Kiara?" atau menunjukkan sedikit rasa tidak suka. Tapi Riani

Adhit dan Riani langsung menjadi pusat perhatian. A

gin melindungi Riani, melainkan karena ia ingin memamerkan bahwa pernikahan

i biasa, ia menampakkan senyum yang mem

menyambut semua orang dengan sopan dan ramah. Ia tidak banyak bicara,

k sekali," kata Pak Herman, sa

jawab Adhit, berusa

ima kasih, Pak Herman

enjalankan perannya dengan sem

ak Herman, Riani berdiri sedikit di belakangnya,

at. Gaunnya mewah, riasannya tebal, dan mata

nya, menyapa Adhit dengan nada yang terlalu akr

elah Kiara pergi, sebelum ia dijodohkan dengan Riani. Karina adala

ma kasih," ja

rambut hingga ujung kaki. Tatapan itu adalah t

engantin yang seharusnya?" Karina berkata dengan nada tinggi,

a malu. Karina baru saja merusak sa

a bicaramu,"

an, Adhit. Kau yang seorang perfectionist mau menikahi janda yang..."

an karena ia peduli, tapi karena ia

ni adalah is

ama sekali tidak hilang dari wajahnya. Riani melangkah sedikit

dak ada amarah, tidak ada ketakut

i Mas Adhit. Mengenai masa laluku, aku tidak melihat itu rel

lihat tatapan Adhit padamu. Dia bahka

ghindari tatapan Riani karena merasa

ada citra. Kalau kamu tidak bisa memberinya image yang sempurna

li ini, senyum itu sedik

padamu. Tapi aku tahu satu hal, Karina," Riani maju s

rnikahannya sekarang adalah padaku. Dia bisa saja mencari wanita lain dengan image yang sempurna, tap

rinya sendiri. Dia membela Adhit, mengubah penolakan Adhi

k menyangka Riani akan me

ni tidak hanya menangkis. Dia mengubah hinaan menjadi pujian untuk Adhit.

emberikan ketenangan yang dia butuhkan, bukan drama yang dia h

kata-kata ini. "Baiklah. Aku hanya berharap kebahagiaan itu berta

urusan masing-masing, tapi bisik-bisik yang tersisa a

k Riani menjauh dari kerumunan

t, nadanya tidak lagi marah

Sandiwara yang sempurna. Karina mencoba merusak citramu di depan Pa

Dan kau tidak perlu berboh

jawab. Itu benar, kan? Kau setia pada janji Ayahmu dan bertanggung jawab atas pernikahan ini. Dan kau bisa l

mang tidak berbohong. Dia hanya memutar fakt

rang lain merusak citra kita, kau juga harus berhenti bersikap dingin di depan umum. Aku mem

hit, sang pemberi perintah, kini menerima kr

ku. Dan kali ini, tunjukkan sedikit kehangatan di w

Ia tidak bisa membantah logika Riani. Riani telah mem

is. "Tapi jangan ang

. Hanya bisnis yang harus diselesaikan,"

rasa kaku di wajahnya. Riani dengan lembut menyentuh lengan Adhit sa

Riani mendengarkan obrolan bisnis dengan penuh perhatian. Eksp

rtarik pada proyek kami,

, dia... dia memang

proyek ini memiliki potensi jangka panjang, terutama di segmen mid-low yang pasarnya be

tahu obrolan mer

banyak tentang pasar?"

embaca materi Mas Adhit yang bersera

egonya. Riani, yang ia anggap wanita rumah t

dapatkan istri cantik, tapi juga o

efinisikan. Ia sudah menetapkan Riani sebagai 'musuh' yang mudah ditebak

tidak sedingin sebelumnya. Ada lapisa

isis pasar?" tanya Adh

enjawab, menatap k

'sedikit'. Kenapa kau tida

i pertama, Mas Adhit. Aku tidak perlu menghabiskan energiku untuk mengubah kesimpu

iani kembali menunjukkan sikap pasif-agresif yan

Adhit memasuki kamarnya, tapi ia tidak bisa tenang. Ia membuka lap

anda, hu

ak ada skandal, tidak ada berita negat

Riani. Jika ia ingin mengalahkan Riani dal

lai terasa samar, digantikan oleh rasa penasaran yang terus tumbuh. Ia tidak lagi membe

or, ia melihat Riani sudah duduk di ruang ta

u Mas Adhit tahu. Aku tidak mau dia berpikir aku menikahinya demi menutupi h

ar kata-kata kunci: hutang, melunasi

di tangga. Ia segera memutus

u kau sudah di sini," Riani ber

g menjelaskan mengapa Riani bersedia menikah: hutang. Tapi R

tanya Adhit, n

Adhit. Itu urusanku. Dan aku sudah bilang,

rena itu! Itu sudah jad

i hutangku. Dan aku akan mempertanggungjawabkan keduanya secara

asaran, dan kekaguman yang sama

ekarang. Berapa pun. Asal kau

kan dengan uang, Mas Adhit? Tidak. Hutang ini adalah tanggung jawabku. Dan aku akan menyele

dapur. Ia meninggalkan Adhit berdiri di tengah ruang tam

begitu mati-matian menyembunyikannya. Dan yang paling mengganggu, kenapa Riani lebih memilih un

memberikan Adhit teka-teki yan

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang
Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang
“Adhitama tak pernah memilih pernikahan ini. Dia hanyalah pion dalam permainan keluarga, dipaksa menikahi seorang wanita bernama Riani seorang janda yang nyaris tak ia kenal. Sejak hari pertama, Adhit sudah memasang dinding es. Ia bersikap dingin, menjaga jarak, dan berharap Riani mengerti: ia tak pernah menginginkan wanita itu di sisinya. Namun, Riani terlalu tenang, terlalu menerima seolah sikap dingin Adhit tak mampu menyentuh perasaannya sedikit pun. Awalnya, Riani setuju menjadi 'pengantin pengganti' karena terdesak untuk membalas budi. Adhit tidak peduli apa motifnya. Lalu, sebuah tragedi mengubah segalanya. Adhit terluka, fisik dan batinnya rapuh. Di tengah keterpurukan itu, Riani selalu ada. Tanpa keluh kesah, tanpa menuntut, ia setia merawat dan mendampingi. Kehadirannya yang dulu diabaikan, perlahan berubah menjadi sesuatu yang Adhit harapkan. Adhit mulai memperhatikan Riani, melihat sisi-sisi dirinya yang tak pernah ia pedulikan sebelumnya. Yang paling mengusik, hatinya mulai bergejolak setiap kali ada pria lain yang menatap Riani terlalu lama. Rasa itu datang tiba-tiba: cemburu. Ia mencoba menolaknya, namun semakin ia melawan, semakin kuat keinginan untuk memiliki Riani seutuhnya. Adhit tak tahan lagi. Ia pun memulai pergerakan, berusaha keras menghancurkan batas yang selama ini justru ia ciptakan, dan mencoba menembus ketenangan Riani yang misterius. Akankah Adhit berhasil meruntuhkan 'tembok' di antara mereka, ataukah ia sudah terlambat menyadari perasaannya?”
1 Bab 1 Pernikahan ini omong kosong2 Bab 2 Adhit benci akhir pekan3 Bab 3 Adhit merasa tertekan4 Bab 4 semakin tidak nyaman5 Bab 5 Tidak ada skandal6 Bab 6 rumah sakit dua tahun lalu7 Bab 7 Rasa bersalah8 Bab 8 Adhit harus tampil sempurna9 Bab 9 Setelah makan malam10 Bab 10 kesepakatan11 Bab 11 pengorbanan terbesar12 Bab 12 digantikan oleh kenyataan13 Bab 13 Bukan pernikahan kontrak yang kaku dan dingin14 Bab 14 Kabar kehamilan Riani15 Bab 15 Enam bulan pertama16 Bab 16 menjadi balita cerdas17 Bab 17 kepribadian yang serius18 Bab 18 menemukan Adhit di ruang kerjanya19 Bab 19 Riani menjalani peran sebagai CEO20 Bab 20 Sebagai anak tunggal21 Bab 21 melepaskan semua jabatan