icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang

Bab 2 Adhit benci akhir pekan

Jumlah Kata:2162    |    Dirilis Pada: 26/11/2025

hir pekan berarti kewajiban. Dan kewajiban terbesar sekarang adalah m

terogasi, apalagi sejak dia memba

npa menoleh. Dia sedang mengancingk

abu muda, sangat sederhana. Tidak mencolok, tapi tetap elegan. Itu membuat Adhit sed

ab Riani. Dia berdiri d

rbesar kita. Ibu akan mengawasimu, mengawasi setiap gerak-gerikmu. Jangan sampai

u tugas sandiwaraku. Senyu

hanya perasaan Adhit saja. Tapi kelelahan itu cepat hi

emikirkan bagaimana cara menghadapi ibunya, Sasmita, yang pasti sudah menyiapkan rent

ni tiba-tiba mem

, sedikit ter

kan jika Ibu bertanya te

enyipit. "Apa? Kau takut melan

ban yang bertentangan dengan ceritamu di depan Ibu. Itu bisa meru

aja kita masih penyesuaian. Bilang saja aku... aku terlalu sibuk denga

. Aku catat," Riani mengangguk, la

us mencatat seperti sedang menghadiri rapat dewan dir

sa hangat-terlalu hangat. Begitu masuk, Riani l

karang jadi menantu Ibu. Kamu membawa ketenangan," ujar Ibu Sasmita, me

a ketenangan. Karena Riani itu selembar kertas ko

anggukan kaku. Pak Dirgantara hanya tersenyum tipis,

iap kali Ibu Sasmita melihat, Riani dengan cepat meletakkan tangannya di atas tangan Adhit yang tersembunyi di b

n dimulai begitu hid

k sup tom yam karena Adhit bilang kamu suka mas

ernah tahu makanan kesukaan Riani.

ai sekali memasak," jawab Riani, melirik Ad

suami yang perhatian. Ia menyadari betapa mudahny

an garpunya, tatapannya beralih dari Riani ke Adhit,

n itu... ya, Ibu tahu itu urusan perusahaan, tapi Adhit butuh keamanan.

anyaan yang paling ia takuti. Itu berarti, Ib

alasan klise seperti "masih sibuk," atau

lembut, tidak defensif sama sekali. Dia bahkan meraih tang

ang sangat menghargai perasaanku. Dia tahu aku baru saja kehilangan, dan dia tidak mau terburu-buru. Di

engan mata penuh adorasi palsu yang mem

t menghargai kesabarannya. Kami sedang dalam tahap penyesuaia

o

ia juga mengubah Adhit menjadi suami yang sangat baik, penuh pengertian, dan mengho

kalau kamu bersikap dewasa seperti itu, N

uk. "Ya, bagus Adhit. Itu yang

Ia tidak bisa membantah. Jika ia membantah, itu berarti ia mengakui bahwa ia adalah pria dingin yang tidak menghormat

a ini benar-benar lihai. Dia menggunakan aturan Adhit (yaitu menja

setiap kali dia tertawa kecil menanggapi lelucon Ayah, Adhit merasa Rian

i sekali lagi. "Kamu itu memang menantu terbaik, Riani. Sab

tersenyum da

na dingin kembali memenuhi ruang. Adhit mena

suaranya rendah dan berbahaya. "Kenapa ka

g. "Aku hanya mengikuti instruksimu, Mas

olah aku pria suci yang sangat menghormatimu! Sementara kau ta

antai. "Kau yang membuat aturan jarak, Mas Adhit. Dan di depan Ibu, aku hanya membenarkan atur

bil, tapi ia segera mengendalikan diri.

hatku sebagai pria yang baik agar kau mendapat simpati d

rcaya bahwa kau bersikap baik padaku, maka Ibu tidak akan terlalu sering mengganggu kita untuk

t baik, Riani sebenarnya melindungi batas yang telah mereka sepakati. Dia melindungi

a menerima bahwa ia 'd

"Aku tahu kau punya motif. Warisan itu. Aku tahu kau past

rtamu. Kau bisa memercayainya atau tidak. Itu bukan urusanku. Tugasku hanya satu: menjadi istrimu di depan mata pu

membuat diriku tidak terlihat'? Dengan membuat alasan bahwa kau menghormatiku, a

ap kali Adhit menyerang, Riani membalasnya dengan logika d

anis lagi di depanku," Adhit akhirnya berkata, nada

Aku hanya bersikap sopan," Riani mengoreksi. "Sama

rnya tanpa menoleh. Ia benci wanita itu. Ia benci fakta bahwa Riani, dengan ketenangan dan logikanya, membuatnya

dur. Ia meraih ponselnya, mencari nama Kiara. Ia harus bicara dengan Kiara. H

menghindari semua drama ini. Adhit

tapi rasa sakit itu ada. Itu sakit, bukan karena Adhit memarahinya, tapi karena Adhit benar-benar tidak melih

tor. Menjadi istri palsu adalah pekerjaan kotor. Tapi janji itu terlalu besar untuk dilanggar. Janj

memeriksa pesan. Ada pe

Aku dengar kamu menikah. Me

baik. Ada urusan mendesak yang ha

k ada yang akan mengerti betapa beratnya berada di s

Rumah ini terasa seperti penjara emas. Dia punya segal

s. Itu adalah satu-satunya momen nyata hari ini. Dan dia harus melindungi mome

a Adhit di mobil: "Aku tahu k

tuk Adhit. Ironisnya, ia berada di sana untuk menyelamatka

lakukan secara daring. Dia adalah seorang desainer grafis lepas, dan dia harus terus bekerja. Dia tidak mau mengambil uang Adhit, bukan karena ge

Adhit tidak bisa tidur. Ia bangkit, menyalakan televi

untut apa-apa, dan selalu bersikap logis. Adhit sudah terbiasa berhadapan d

ustru berubah menjadi perangkap yang cerdas. Perangkap yang membuatnya terlihat ba

melewati koridor gelap. Tujuannya a

melihat celah cahaya dari ba

menangkap suara apa pun. Yang ia dengar hanyalah ke

ika dia sekarang istri dari Adhitama Dirgantara?

n tahu apa yang Riani lakukan di sana, sendirian, se

, ia teringat lagi pada peraturannya sendiri.

melanggar aturannya sendiri. Ia

, ia meminum air dingin dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Riani hany

, telah berhasil menciptakan konflik baru: konflik di benak Adhit, yang mulai bertanya-tanya tentang siapa

ntuk pertama kalinya, ia tidak hanya marah. Ia mulai penasaran.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang
Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang
“Adhitama tak pernah memilih pernikahan ini. Dia hanyalah pion dalam permainan keluarga, dipaksa menikahi seorang wanita bernama Riani seorang janda yang nyaris tak ia kenal. Sejak hari pertama, Adhit sudah memasang dinding es. Ia bersikap dingin, menjaga jarak, dan berharap Riani mengerti: ia tak pernah menginginkan wanita itu di sisinya. Namun, Riani terlalu tenang, terlalu menerima seolah sikap dingin Adhit tak mampu menyentuh perasaannya sedikit pun. Awalnya, Riani setuju menjadi 'pengantin pengganti' karena terdesak untuk membalas budi. Adhit tidak peduli apa motifnya. Lalu, sebuah tragedi mengubah segalanya. Adhit terluka, fisik dan batinnya rapuh. Di tengah keterpurukan itu, Riani selalu ada. Tanpa keluh kesah, tanpa menuntut, ia setia merawat dan mendampingi. Kehadirannya yang dulu diabaikan, perlahan berubah menjadi sesuatu yang Adhit harapkan. Adhit mulai memperhatikan Riani, melihat sisi-sisi dirinya yang tak pernah ia pedulikan sebelumnya. Yang paling mengusik, hatinya mulai bergejolak setiap kali ada pria lain yang menatap Riani terlalu lama. Rasa itu datang tiba-tiba: cemburu. Ia mencoba menolaknya, namun semakin ia melawan, semakin kuat keinginan untuk memiliki Riani seutuhnya. Adhit tak tahan lagi. Ia pun memulai pergerakan, berusaha keras menghancurkan batas yang selama ini justru ia ciptakan, dan mencoba menembus ketenangan Riani yang misterius. Akankah Adhit berhasil meruntuhkan 'tembok' di antara mereka, ataukah ia sudah terlambat menyadari perasaannya?”
1 Bab 1 Pernikahan ini omong kosong2 Bab 2 Adhit benci akhir pekan3 Bab 3 Adhit merasa tertekan4 Bab 4 semakin tidak nyaman5 Bab 5 Tidak ada skandal6 Bab 6 rumah sakit dua tahun lalu7 Bab 7 Rasa bersalah8 Bab 8 Adhit harus tampil sempurna9 Bab 9 Setelah makan malam10 Bab 10 kesepakatan11 Bab 11 pengorbanan terbesar12 Bab 12 digantikan oleh kenyataan13 Bab 13 Bukan pernikahan kontrak yang kaku dan dingin14 Bab 14 Kabar kehamilan Riani15 Bab 15 Enam bulan pertama16 Bab 16 menjadi balita cerdas17 Bab 17 kepribadian yang serius18 Bab 18 menemukan Adhit di ruang kerjanya19 Bab 19 Riani menjalani peran sebagai CEO20 Bab 20 Sebagai anak tunggal21 Bab 21 melepaskan semua jabatan