icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah

Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah

icon

Bab 1 menjadi hari bahagia

Jumlah Kata:2047    |    Dirilis Pada: 28/10/2025

an piring porselen dan bisik-bisik para kerabat yang bergegas menata dekorasi. Meski hari itu seharusnya menjadi hari bahagia, hati N

na ivory, tetapi matanya tak mampu menyembunyikan kekhawatiran. Ia menatap b

aik saja," bisik ibunya, Sri, sambi

nelan ludah. Suaranya pecah ketika pikirannya kembali pada pesan

ra menutup wajahnya dengan kedua tangan, menahan air mata yang ingin tumpah.

i momen yang membahagiakan bagi putrinya. Namun kenyataan berkata lain. "Aku tahu, Nak. Aku juga marah dan kece

au menikah hari ini. Aku nggak mau melihatnya la

mengangkat kepala, dan terlihat ibunya membuka pintu sedikit. "Nadira... ada s

ata membesar. "Siapa, Bu? Aku.

a tetangga kita sendiri. Orang baik. Ia bersedia, d

osinya kacau balau. "Aku nggak mau! Aku nggak mau

Nadira... tolong dengarkan ibumu. Kita sudah tidak punya pilihan lain. Demi

reka yang selama ini dikenal dingin, jarang tersenyum, dan tampak

berjalan. Persiapan pernikahan sudah mendesak, dan pilihan

n tetangga menatap dengan campuran rasa penasaran dan simpati. Nadira duduk di kursi pengantin dengan tangan gemetar, sementara Raf

. Nadira menatapnya sekilas, mencoba membaca ekspresi pria itu.

ra menjawab singkat, s

an semua mata tertuju padanya, menunggu reaksinya. Di hatinya, ia membero

dangan yang sulit diartikan-antara perhatian, kesabaran, dan sedikit rasa iba. Nadira merasakan jantungnya berdetak kencang. Ia

tiba-tiba ini. Rafli, meski tampak dingin dan kaku, selalu hadir tepat waktu, menepati semua janji, dan menjaga Nad

ja, Rafli datang membawakan secangkir teh hangat. "Ini... untukmu," kat

..." Nadira m

asa berat, tapi tidak menakutkan. "Aku tahu ini sulit. Aku juga tidak i

.. aku takut. Takut kalau aku tidak bisa menci

tenang, "Aku juga takut, Nadira. Tapi aku percaya, c

rgerak. Ia menyadari bahwa di balik sikap tegas dan dingin Rafli,

seorang pria yang memiliki cerita, rahasia, dan luka sendiri. Nadira perlahan belajar membuka diri, memahami bahwa cinta tida

awa dua mug cokelat hangat. Ia duduk di samping Nadira, tidak te

rcaya cinta yang tiba-tiba. Tapi aku belajar, kalau cinta bisa muncul dari hal-

perlahan merasakan kehangatan yang sebelumnya asing baginya. Mungkin, pikirnya, mesk

an baru dalam hidupnya-dengan Rafli, seorang pria yang selama ini hanya dik

ang tertata rapi di rak, mencoba mengalihkan pikirannya dari semua yang terjadi beberapa hari terakhir. Suasana rum

nitas, kebebasan, bahkan teman-temannya-terasa berubah. Rafli, di sisi lain, tampak selalu tenang. Ia tidak pernah memaksa Nadira

ar. Hujan yang menetes di dedaunan memberikan ketenangan yang aneh, seperti dunia sedang menunggu sesuatu. Rafli keluar

t. Nada suaranya tetap tenang, tap

uk. Suaranya pelan, seolah mencoba menjaga jarak. Namun Rafl

g, namun ada rasa aman yang tidak ia mengerti dari keberadaan Rafli. Ia menoleh, mencoba membac

irnya bertanya, suaranya nyaris tak t

"Tidak. Aku... menyesal tidak bertemu denganmu dalam kondi

harus merasa lega atau semakin cemas. Rasanya dunia bar

tapi setiap tindakannya memiliki tujuan. Ia memperhatikan makanan yang Nadira makan, memastikan ia tidak terlalu lelah, bahkan menany

p pria itu dengan rasa penasaran. Rafli tampak berbeda dari citra sombong dan dinginnya di mata tetangga. Tangannya yan

sendiri?" tanya Nadira, suara

Aku tidak suka merepotkan orang lain. Terutam

a belum siap menerima pernikahan ini sepenuhnya, tapi di sisi lain, ia m

basah masuk. Rafli duduk di seberang, membaca koran. Keheningan mereka bukan lagi canggung, melainkan penuh perti

Tidak ada yang bisa menggoyahmu," ka

ng hanya topeng. Ada banyak hal yang kulalui sendiri, banyak hal yang tidak

fli bisa berkata begitu, menyingkap sisi yang jarang ia tunjukkan. Ada kerent

rubah," Nadira berbisik. "Aku m

tidak perlu mengerti semuanya sekarang. Kita hanya

terjebak. Ia mulai bertanya-tanya, apakah hatinya bisa be

di rak ruang tamu. Rasa penasaran membawanya membuka halaman demi halaman. Ia membaca cata

a pria sombong dan dingin. Ia adalah seseorang yang pernah terluka, berjuang s

tu. Ia mulai merasa, mungkin ada kemungkinan untuk mempercayai

gendarai mobil, Nadira duduk di samping. Perjalanan itu sunyi, tapi nyaman. Tida

a berinteraksi, caranya membuat orang lain menghormati dirinya tanpa harus menakut-nakuti. Ia mulai menya

li duduk di meja makan, menatapnya dengan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan. "Hati-hat

tanya. "Aku... aku ingin be

lah. Kita semua belajar dari kesala

memahami, bahwa pernikahan mendadak ini mungkin bukan kebetulan yang buru

ring takut membuka hati sepenuhnya, tapi setiap interaksi dengan Rafli membuatnya sedikit lebih percaya. Rafl

ar dari rumah dengan membawa dua gelas air lemon hangat. Ia duduk di samping Na

dang juga memberikan kesempatan kedua. Kita hanya perlu siap

uh di dalam dirinya-rasa percaya, rasa aman, dan bahkan sedikit rasa

i pernikahan ini terjadi secara mendadak dan penuh ketidakpastian, ada kemun

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah
Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah
“Pernikahan Nadira batal menjelang akad setelah ia mengetahui bahwa calon suaminya, Fadlan, ternyata seorang pria yang masih terikat pernikahan. Keluarga Nadira pun harus menanggung rasa malu yang begitu mendalam di tengah keramaian undangan dan kerabat. Di tengah kekacauan hatinya, Nadira lari dan mengurung diri di kamar, menahan tangis yang tak kunjung reda. Beberapa saat kemudian, ibunya, Sri, mengetuk pintu dengan hati-hati dan masuk sambil menahan cemas. "Nadira... ada seseorang yang bersedia menggantikan Fadlan. Ia akan menikahimu hari ini juga," kata Sri, menatap putrinya dengan mata penuh harap. Nadira menatap ibunya dengan kaget dan ketakutan. "Siapa, Bu? Aku... aku nggak mau menikah dengan orang yang baru kukenal!" suaranya gemetar. Ibunya menghela napas panjang. "Ini demi keluarga kita, Nak. Kita sudah malu sekali hari ini. Tolong, Nadira... terimalah. Ia... ia orang baik, tetangga kita sendiri. Namanya Rafli." Rafli, pria yang usianya jauh lebih tua dari Nadira, dikenal sebagai tetangga yang dingin dan terkesan sombong. Ia juga seorang duda yang jarang terlihat bercampur dengan tetangga lain. Mengetahui hal ini, Nadira menolak dengan tegas, hatinya penuh rasa takut dan cemas. Namun, hari itu, tak ada jalan lain. Untuk menutupi malu keluarga, Nadira akhirnya harus menerima pernikahan mendadak itu. Hari-hari pertama setelah pernikahan berlangsung canggung. Rafli yang selama ini dikenal dingin, ternyata menyimpan sisi lembut yang tersembunyi. Ia sabar menghadapi kegelisahan Nadira, meski tetap mempertahankan sikap tegasnya. Nadira pun perlahan menyadari, bahwa di balik aura sombongnya, Rafli adalah pria yang bertanggung jawab dan berhati hangat, walau jarak usia mereka terasa jelas. Kini, Nadira harus menghadapi kehidupan barunya-menyesuaikan diri dengan seorang suami yang awalnya asing, dan belajar menemukan arti cinta yang tak selalu datang dari kenyamanan, tapi juga dari kesabaran, pengertian, dan waktu yang berjalan bersama.”
1 Bab 1 menjadi hari bahagia2 Bab 2 sudah pesan sarapan3 Bab 3 sering terbangun di tengah malam4 Bab 4 tanpa rencana5 Bab 5 bukti besar6 Bab 6 tidak pernah menyangka7 Bab 7 Semua yang terjadi membuatnya sadar8 Bab 8 mereka membawa dokumen penting9 Bab 9 mereka berlindung sementara10 Bab 10 ruang kerja11 Bab 11 rahasia12 Bab 12 telah berhasil mereka lewati13 Bab 13 amarah yang membara14 Bab 14 segera diperiksa15 Bab 15 mereka bisa memutarbalikkan16 Bab 16 Mereka sudah mulai menyelidiki17 Bab 17 semakin kritis18 Bab 18 bekerja bersamaan19 Bab 19 mulai ramai20 Bab 20 berdatangan21 Bab 21 sebelumnya telah menimbulkan dampak besar22 Bab 22 harus tersusun rapi23 Bab 23 Tidak ada ruang24 Bab 24 keterlibatannya25 Bab 25 pembenaran