icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah

Bab 2 sudah pesan sarapan

Jumlah Kata:2475    |    Dirilis Pada: 28/10/2025

g masih terpejam. Ia mengerjap pelan, lalu bangkit dari tempat tidur yang terasa terlalu besar untuk ditiduri sendi

afli sudah di sana-seperti biasa-dengan kemeja rapi meski belum berangkat

panya tanp

suaranya nyaris tenggelam ol

lum ia mengambil telur, Rafli sudah berkata tanpa mengalihkan pandangan,

u dengan campuran rasa kesal dan tak berdaya. "Aku bi

"Aku tahu. Tapi pagi-pagi begini, lebih praktis

erti sedang diatur. "Aku tidak lelah. Aku hanya ingin melakukan ses

entu. Aku tidak pernah bilang tidak." Lalu ia kembali menat

d buruk, tapi sikapnya yang selalu tenang justru membuatnya f

n telur dadar dan tempe orek. Rafli menata piring di meja makan tanpa banya

tidurmu?" t

awab Nadi

u harus memulai dari mana. Ia ingin tahu banyak tentang Rafli-tentang pekerjaannya, tentang masa lalunya-tapi

tak bicara ternyata lebih melela

pakaian. Televisi menyala tapi tidak benar-benar ditonton

pat ia bebas menulis, bercanda dengan teman, tertawa tanpa beban-dan dunia

emudian, Rafli masuk membawa beberapa berkas dan sebuah kantong pl

nya. "Kau tidak biasa pul

tersenyum tipis. "Tidak ada. Ha

ri kantong-sushi, salad, dan ayam panggan

n ragu. "Kau ingat aku bilang ti

lu menatapnya lagi. "O

Ia menarik napas dalam, mencoba menahan kekesalannya. "Tak apa," katanya akh

ntara Nadira memilih membaca buku di ruang tamu. Sesekali ia mendengar langkah kaki

p bukunya, menatap jendela yang dipenuhi butiran air. Lalu tanpa berpi

masuk?" tan

meja, lalu mengan

an, dan aroma kopi hitam yang tajam. Nadira berjalan perlahan, matanya berhenti

enti, tak berani mel

as pelan. "Itu ist

yang terdengar. Nadira menatap foto itu lebih

mandang kosong ke arah jendela. "Mereka

nya, tapi pria itu tetap datar. Hanya ada sedikit kerutan di a

ahu," ucap Nadira p

potong Rafli. "Ak

ngin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu bagaiman

Nadira berkata. "Kita sudah menikah hampir dua mi

k sekarang. Aku tidak ingin kau merasa terikat pada masa laluk

dengan nada lembut tapi tegas. "Kau juga bagian dari hidupku

dira, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di matan

i jangan paksa semuanya keluar sekaligus. A

engajak Nadira berbicara. Ia menanyakan hal-hal kecil-tentang makanan yang disukai, tentang b

a itu seperti langkah kecil menuju sesuatu

o bahan bangunan. "Aku ingin memperbaiki ruang

ecil saat Rafli mengeluh tentang betapa buruknya pegawai toko sebelumnya mengecat rumahnya.

sa bercanda," ujar Na

a sebentar. "Ak

tuk pertama kalinya, Rafli t

udah berdiri seorang wanita muda dengan pakaian rapi dan ekspresi tajam. Nadira sempat mengira wanita it

ada dingin. "Kau tidak menjawab p

ahnya pelan tapi tegas. "Kena

mengulang nama

ai bawah, lalu tersenyum miring. "Jadi i

negang. "

nada menyengat. "Atau... mungkin lebih tepatny

ra tajam. "Kau tidak perlu campur tangan

ada yang benar-benar selesai, Rafli. Ap

ntian, bingung dan cemas. "Ke

tangannya, suaranya rendah tapi

ap

ilang

ya. Ia melangkah masuk ke rumah, meski hatinya bergemuruh. Dari jend

ira menyadari bahwa pria yang kini menjadi suaminya bukan hanya menyimp

lama di ruang tamu, menatap kosong ke arah pintu yang sudah ter

tinya mulai diliputi rasa takut-takut bahwa pernikahan ini mungkin bukan hanya ten

ra. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar yang bukan miliknya, lalu menarik napas panja

reka, ia lebih banyak menghabiskan waktu di balik pintu, hanya keluar ketika benar-benar perlu.

a koran sambil menyeruput kopi. Rambutnya masih sedikit basah, wangi sabun maskulin memenuhi u

ra, suaranya hamp

pnya singkat, lalu tersenyum t

menghindari tatapan mata pria itu. Tangannya

i?" tawarnya, ta

ndorong satu cangkir ke arahnya. "Coba saja.

-tidak terlalu manis, sedikit pahit, tapi anehnya pas di

erhatikan, waktu di rumah ibumu dulu, kamu s

mua tatapan dingin dan diamnya Rafli dulu, ternya

gak pernah peduli,

ran. "Aku bukan orang yang banyak bicara, t

biasanya. Ada sesuatu yang berubah-entah karena kopi pagi itu, atau

setiap sudutnya tertata rapi dan steril seperti kamar hotel. Ia memegang kain lap dan mulai menge

memeluk anak kecil laki-laki, keduanya tersenyum bahagia di pantai. Na

membuat Nadira sedikit terlonjak. "Kamu

unkan foto itu. "Maaf,

ar, lalu meletakkannya kembali di tempat se

ersalah. "Aku nggak berma

namun mengandung nada kehilangan. "Kam

elan. Ia tak berani

terbuka separuh. Nadira duduk di teras, menatap halaman yang dipenuhi

Ia duduk di kursi sebelahnya tanpa bicara. Keduanya

ujar Nadira tiba-tib

oleh pela

rumah. Aku terbiasa sibuk, dan ak

rang. Tapi... kamu tahu orang-orang di sekitar

apa yang mau kulakukan," jawab Nadira dengan suara t

sulit menolak. Kekuatan, tapi juga luka. Ia mengangguk pelan. "Bai

"Aku sudah terbiasa deng

taf administrasi di sebuah toko alat tulis di pusat kota. Rafli mengantar di ha

Rafli jarang bertanya, tapi selalu memastikan ada makanan di meja makan setiap malam. Hubu

empatnya bekerja tutup mendadak. Saat memasuki rumah, ia m

ini, Raf. Dia bukan Lina,"

enegang. Ia melihat seorang perempuan elega

noleh, terkejut melihat

ung kepala hingga kaki dengan tatapan menilai

yum sopan meski dadany

tangan dengan gerakan an

ina? Nama yang tadi disebut-

senang. "Cukup, Rania. Aku nggak ma

itu saja? Kakakku meninggal, anaknya dibawa pergi,

as. Ia menatap Rafli dengan mata

t, lalu berbisik sinis, "Kalau kau tahu siapa sebenarn

as berat. "Rania,

alik pergi tanpa berkata lagi. Pintu tertutu

dengan mata berair.

siap menceritakannya," ucap Rafli pelan. "Aku mema

a Nadira denga

rena aku kehilangan hak asuhnya setelah Lina meninggal

tahu harus marah atau iba. Di depan matanya, pri

a yang tergantung di dinding. Hatinya penuh tanya-tentang masa lalu Rafli

ah kaki mendekat, lalu selimutnya ditarik pelan agar menutupi bahunya. Suara

ku hanya takut k

ernikahan ini bukan hanya tentang menutupi malu, tapi juga tentang dua hati yang sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah
Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah
“Pernikahan Nadira batal menjelang akad setelah ia mengetahui bahwa calon suaminya, Fadlan, ternyata seorang pria yang masih terikat pernikahan. Keluarga Nadira pun harus menanggung rasa malu yang begitu mendalam di tengah keramaian undangan dan kerabat. Di tengah kekacauan hatinya, Nadira lari dan mengurung diri di kamar, menahan tangis yang tak kunjung reda. Beberapa saat kemudian, ibunya, Sri, mengetuk pintu dengan hati-hati dan masuk sambil menahan cemas. "Nadira... ada seseorang yang bersedia menggantikan Fadlan. Ia akan menikahimu hari ini juga," kata Sri, menatap putrinya dengan mata penuh harap. Nadira menatap ibunya dengan kaget dan ketakutan. "Siapa, Bu? Aku... aku nggak mau menikah dengan orang yang baru kukenal!" suaranya gemetar. Ibunya menghela napas panjang. "Ini demi keluarga kita, Nak. Kita sudah malu sekali hari ini. Tolong, Nadira... terimalah. Ia... ia orang baik, tetangga kita sendiri. Namanya Rafli." Rafli, pria yang usianya jauh lebih tua dari Nadira, dikenal sebagai tetangga yang dingin dan terkesan sombong. Ia juga seorang duda yang jarang terlihat bercampur dengan tetangga lain. Mengetahui hal ini, Nadira menolak dengan tegas, hatinya penuh rasa takut dan cemas. Namun, hari itu, tak ada jalan lain. Untuk menutupi malu keluarga, Nadira akhirnya harus menerima pernikahan mendadak itu. Hari-hari pertama setelah pernikahan berlangsung canggung. Rafli yang selama ini dikenal dingin, ternyata menyimpan sisi lembut yang tersembunyi. Ia sabar menghadapi kegelisahan Nadira, meski tetap mempertahankan sikap tegasnya. Nadira pun perlahan menyadari, bahwa di balik aura sombongnya, Rafli adalah pria yang bertanggung jawab dan berhati hangat, walau jarak usia mereka terasa jelas. Kini, Nadira harus menghadapi kehidupan barunya-menyesuaikan diri dengan seorang suami yang awalnya asing, dan belajar menemukan arti cinta yang tak selalu datang dari kenyamanan, tapi juga dari kesabaran, pengertian, dan waktu yang berjalan bersama.”
1 Bab 1 menjadi hari bahagia2 Bab 2 sudah pesan sarapan3 Bab 3 sering terbangun di tengah malam4 Bab 4 tanpa rencana5 Bab 5 bukti besar6 Bab 6 tidak pernah menyangka7 Bab 7 Semua yang terjadi membuatnya sadar8 Bab 8 mereka membawa dokumen penting9 Bab 9 mereka berlindung sementara10 Bab 10 ruang kerja11 Bab 11 rahasia12 Bab 12 telah berhasil mereka lewati13 Bab 13 amarah yang membara14 Bab 14 segera diperiksa15 Bab 15 mereka bisa memutarbalikkan16 Bab 16 Mereka sudah mulai menyelidiki17 Bab 17 semakin kritis18 Bab 18 bekerja bersamaan19 Bab 19 mulai ramai20 Bab 20 berdatangan21 Bab 21 sebelumnya telah menimbulkan dampak besar22 Bab 22 harus tersusun rapi23 Bab 23 Tidak ada ruang24 Bab 24 keterlibatannya25 Bab 25 pembenaran