icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Keluarga yang Mengkhianatiku Sendiri

Bab 3 menjadi pusat perhatian

Jumlah Kata:1993    |    Dirilis Pada: 24/10/2025

a reda, menempel di rambutnya yang masih basah. Ia menatap lift yang bergerak naik ke lantai delapan dengan langkah p

sangat ambisius. Semua angka dan laporan yang tersusun rapi di mejanya terasa menantang sekaligus menekan. Ia tahu bahwa proy

yhan menatap dari kursi kerjanya, rasanya seperti melihat badai tropis ma

ara ringan. Senyumnya seolah bisa menembus l

opnya. "Selamat sore," jawabnya datar. Suaranya

eyhan. "Kau terlihat serius sekali," katanya sambil mencondong

ini tidak main-main. Aku harus memastikan semuanya sempurna," jawabnya.

a ide-idenya. "Aku mengerti. Tapi kita tidak bisa terus menatap risiko. Kad

kan risiko, satu menekankan peluang. Namun ada rasa kagum yang perlahan muncul di dalam diri Reyh

menjelaskan ide kreatifnya dengan semangat, sementara Reyhan menganalisis risiko dan konsekuensi dari setiap la

terlalu lama, peluang itu bisa hilang,"

an tajam. "Aku tidak menunda. Aku hanya memastikan bahwa se

gan. "Aku tidak minta aman. Aku minta hasil. Dan

merasa hidupnya lebih berwarna, sekaligus membuatnya frustrasi. Ia jarang bertemu seseorang yang mam

arta sore itu terasa lembap, dengan aroma hujan yang menempel di aspal dan beton. Aluna berjalan dengan langk

bil tersenyum, "aku selalu penasaran bagaimana k

an itu. "Aku tidak selalu tenang. Aku hanya tahu

h maksud. "Tapi aku bisa merasakan ada yang berbeda

enasaran yang terus tumbuh, dan Aluna selalu tahu cara menyingkap sisi

sil menarik perhatian Reyhan ke arah yang lebih ringan-menunjukkan humor kecil, komentar spontan, bahkan sentuhan ringan pada tabl

gedung memantulkan bayangan mereka di lantai kaca yang licin

nya sebentar. "Ya. Produktif," jawabnya singkat. Namun ada nada yang samar dala

utusan strategis yang lebih matang. Reyhan merasa stres, tetapi kehadiran Aluna justru menjadi semacam keseimbangan

hir proyek. Aluna mengetuk pintu ruangannya. "Reyhan, aku tahu kau lelah. Tapi aku perl

tegangan yang samar di ma

Kita harus memutuskan cepat. Aku ingin pendapatmu, tapi jangan biar

osi yang biasanya ia kendalikan kini sedikit goyah. "Aku akan

an lambat, setiap kata dan tatapan membangun ketegangan yang tidak bisa dihindari. Aluna sesekali menatapnya, t

tup mapnya. "Terima kasih, Reyhan. Aku tah

n ada kata-kata yang tidak terucap: bahwa kehadiran Aluna bukan sekadar bant

bahwa ia semakin sulit menahan jarak, sementara Aluna tahu bahwa ketertarikannya pada Reyhan

etegangan, tatapan, dan perasaan yang mulai menuntut untuk diakui. Dan tanpa s

mer. Aluna menapaki tangga darurat dengan langkah cepat, membawa laptop dan beberapa dokumen penting. Pekerjaan yang biasanya bisa

ang mulai turun lagi. Jasnya sedikit basah di bahu akibat hujan sore tadi. Pandangannya tajam, fokus, tapi ada kelelahan yang samar terli

Suaranya ringan, tapi matanya berbinar, penuh sema

, tapi sorot matanya tetap menilai. Ia jarang membiarkan orang lain menem

ri klien. Mereka ingin perubahan desain dan laporan risiko yang diperbarui

kerja sepanjang malam," katanya, menatap dokumen dengan serius. Ia

a. "Itu berarti kita punya waktu cukup untuk menyele

dari mereka menemukan kesalahan atau peluang untuk memperbaiki. Semakin lama, Reyhan menyadari sesuatu yang tidak

s lebih teliti di bagian ini. Data yang kau

ku baru ingin mencoba beberapa pendekatan berbeda," katan

erbeda boleh, tapi jangan sampai mengganggu keseluru

belum kembali fokus ke layar. "Aku mengerti.

eka-satu penuh disiplin dan ketelitian, satu lagi penuh energi dan improvisasi-bertemu di ruang kerja

ntar, meregangkan tubuh. "Kau harus istirahat sebentar, Reyhan. Kau t

ik saja," jawabnya, tetapi matanya menunjukkan sebaliknya. Ia jarang membiar

iri sendiri terlalu keras, kau akan membuat kesalahan yang bisa dih

menahan napas, merasa denyut jantungnya sedikit meningkat. Wanita ini-Aluna-tid

secara tidak sengaja bersentuhan saat mereka mengambil tablet yang sama. Reyhan menatapnya sebentar, menahan diri aga

n yang samar mulai muncul, tidak diungkapkan tapi terasa nyata. Reyhan menatap layar, berusaha fokus, tetapi pikirannya

diperbarui, dan semua risiko telah dianalisis dengan detail. Aluna menatap Reyhan dengan senyum puas. "Kita ber

Kerja yang baik, Aluna. Kau benar-benar

n kau... kau membuat segalanya terasa lebih terstr

dirinya merasakan ketergantungan emosional pada seseorang, tapi Aluna telah membuatnya merasa

yangan mereka di aspal basah. Aluna berjalan di samping Reyhan, matanya masih bersinar pen

ka mereka. Reyhan mulai menyadari bahwa ia tidak bisa lagi sepenuhnya menahan diri dari ketertarikan yang muncul, sementara Aluna

ke Reyhan. "Terima kasih, Reyhan. Tanpa b

juga membuat pekerjaannya lebih mudah untukku," jawa

nakal. "Itu berarti kita

butuhkan kehadiran orang lain, yang bisa tergoyahkan oleh energi dan keberanian seseorang. "Mu

meningkat. Malam lembur itu, tanpa amarah, tanpa gemuruh, telah menimbulkan badai kecil-badai

gitu berbeda, perlahan mulai bertaut lebih erat. Dan keduanya t

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Keluarga yang Mengkhianatiku Sendiri
Keluarga yang Mengkhianatiku Sendiri
“Tidak semua badai hadir dengan amarah. Beberapa datang dengan senyum hangat, aroma kopi yang samar di udara, dan sentuhan ringan pada lengan seseorang... cukup untuk mengacak ketenangan yang selama ini terasa stabil. Aluna muncul layaknya angin musim semi-ceria, penuh energi, dan sulit untuk diabaikan. Seorang wanita muda dengan tutur kata yang manis, percaya diri yang meluap, dan mata yang menyimpan kisah-kisah tak terucap. Ia hidup tanpa batas, menapaki setiap hari dengan kebebasan yang menular. Ia bukan perempuan biasa. Aluna adalah cucu kesayangan Hartawan, seorang taipan dengan kerajaan bisnis yang menjulang. Tumbuh dalam kemewahan, dimanja sejak kecil, dan dipersiapkan menjadi pewaris utama keluarga. Aluna percaya pada satu hal: ia bisa mendapatkan apa pun yang ia inginkan... termasuk mencairkan hati seorang pria dewasa yang terkenal dingin dan sulit didekati. Sementara itu, Reyhan menjalani hidupnya dengan aturan yang ketat. Rapi, teratur, disiplin-seperti tumpukan dokumen yang tersusun rapi di mejanya. Dengan usia matang dan pengalaman yang membentuk karakternya, ia menjaga jarak dari segala bentuk godaan-setidaknya itulah keyakinannya selama ini.”
1 Bab 1 ada sosok yang mampu membuat pagi itu terasa lebih hangat2 Bab 2 Ia tahu pria itu bukan tipe yang suka basa-basi3 Bab 3 menjadi pusat perhatian4 Bab 4 mempesona5 Bab 5 Hari ini bukan hari biasa6 Bab 6 terlihat resah7 Bab 7 mobil yang melintas8 Bab 8 ekspresi yang tak terbaca9 Bab 9 Reyhan masih menjauh10 Bab 10 ada sesuatu yang membuatnya yakin11 Bab 11 suasana berbeda dari biasanya12 Bab 12 Aku terlalu sibuk13 Bab 13 Mereka tidak boleh selamat14 Bab 14 kita mencoba menghentikan mereka secara paksa15 Bab 15 tentang kebenaran16 Bab 16 kecerdikannya17 Bab 17 menghalangi18 Bab 18 ambigu19 Bab 19 menyasar reputasi20 Bab 20 cukup puas dengan manipulasi21 Bab 21 ragu harus diawasi22 Bab 22 kepentingan perusahaan23 Bab 23 memperkuat posisi mereka24 Bab 24 Kau ingin menyelamatkan Reyhan25 Bab 25 Tidak ada lagi ruang untuk keraguan