icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Janji Kita Hanyalah Debu

Bab 5 Artikel utama tentang kamu

Jumlah Kata:2065    |    Dirilis Pada: 24/10/2025

ntuk berpikir. Setelah sukses di festival, namanya mulai disebut-sebut di berbagai media internasional, dan undangan un

-lampu kota yang samar di kejauhan. Andre duduk di sampingnya, memb

halaman utama. "Artikel utama tentang kamu. M

ling ke arah jalan. "Iya... tapi aku nggak bisa

ya serius. "Ma

Dan aku nggak tahu apa yan

hadapi ini sama-sama. Aku nggak aka

seseorang yang bisa diandalkan sepenuhnya. Tapi naluri peringatannya tetap menyala-Fare

rt" yang diadakan oleh Philippe, pastry chef terkenal dari Prancis. Aul

lumnya, tapi beberapa orang baru tampak antusias sekaligus waspada padany

rna. Rania mengikuti setiap gerakannya dengan saksama. Tangannya gesit men

ari Jepang-Hana-menghampirinya. "Ra

, sedikit terkejut

a pihak yang mencoba mengganggumu di festival kemarin

adar, tapi aku nggak tahu s

ll yang menentukan. Ada politik, persaingan, dan kadang

perjalanan ini lebih berbahaya dari yang ia bayangkan-bukan hanya soal

sponsor festival. Ruangan restoran mewah dipenuhi lampu gantung kris

uduk di seberang meja Rania. Ia memperkenalkan diri

bil menatap serius. "Tapi aku dengar ada pihak yang mencoba sab

. Untungnya Andre selalu ada u

l lain... kami mendengar Farel munc

u. Tapi sekarang aku har

am dunia internasional, seseorang yang memiliki akses emosional ke kam

sadar, menghadapi pesaing profesional saja tidak cuku

li ke hotel. Ia duduk di balkon, menatap lampu kota.

kita harus memikirkan strategi. Festival ini bukan sekadar kompeti

ragu-ragu. "Stra

mbunyi di balik orang-orang profesional. Kita juga harus waspada sama Farel. Kalau dia benar-bena

. "Aku senang kau ada di sini. Aku nggak

ku selalu ada, Ran. Kita

e couture yang akan dinilai oleh juri internasional dan media global. Aula megah

encairkan cokelat, dan mengatur dekorasi bunga segar. Ia fok

t tingginya, tiba-tiba ia melihat seseorang mencoba mendekati dap

gkan diri. Andre muncul di sampingny

. Kita bisa hadapi

ekerjaan. Ia tahu, kali ini bukan hanya skill yang diuji, tapi juga

p setiap detail, dan peserta lain tampak gelisah. Rania tetap fokus. Ia menata fondant den

atap Andre, tersenyum tipis. Ia tahu, meski ancaman ma

amplop berwarna hitam tergeletak di depan pintu apart

Ini baru permulaan. –

kencang. Ancaman semakin nyata, dan ia ta

"Kita harus menemukan siapa orang ini. A

i juga siap menghadapi apapun. Untuk pertama kalinya, ia merasa kuat bukan hanya karena ski

. "Aku tidak akan mundur. Siapapun

Rania, itu adalah awal dari babak baru-babak di mana profesionalisme, kebera

penuh ketegangan. Ia bangun dengan perasaan waspada; pesan misterius yang ditemukan semalam masih mem

gat, menatapnya dengan tatapan penuh perhatian. "Ra

h ke jendela. "Aku nggak bisa tidur tenang. Ra

ita nggak boleh meremehkan ancaman ini. Hari ini, kita

. Ia tahu Andre selalu hadir di saat-saat kritis, t

ional berbondong-bondong, dan peserta lain tampak lebih kompetitif. Rania merasakan tekanan yang me

bahan kue yang ia siapkan untuk presentasi utama hilang. Ia menelan luda

ap sekeliling. "Ini jelas sabotase. Kita har

emetar. "Aku nggak boleh pa

esuaikan resep, dan mulai membuat ulang kue yang hampir sele

cul dari kerumunan, mencoba mendekati meja kerja Rania

?" tanya A

Hanya ingin melihat karya ch

ngatakan ada sesuatu yang salah. "Andr

api Rania tahu, ini baru permula

an menata fondant. Tangannya gesit, hati-hatinya terfokus pada setiap detail.

bahan tambahan yang ia simpan di lemari tiba-tiba tidak ada

a bisa atasi ini, Ran. Aku sudah periksa o

coba menenangkan tangan yang gemetar

langsung, tapi tatapannya tajam, mengamati setiap gerakan Rania. Ada campuran perasaan ya

menatap Farel sejenak, lalu menunduk kembali. Tidak

t dan membisikkan sesuatu. "Ran... ada catatan di meja kerja. Sepert

catatan itu de

u akan pastikan semua usaha keras

bertekad. "Aku nggak akan mundur," bisiknya pada diri sendiri. "

"Aku di sini, Ran. Kita

mendekat, menatap dengan mata berbinar. "Rania... ketenanganmu luar biasa. B

suksesan ini bukan hanya soal kemampuan membuat kue, tapi jug

n tidak sepenuhnya menenangkan hatin

ke hotel. Mereka duduk di balkon, mem

. Aku tahu kau merasa dia ancaman, tapi juga mungkin dia

dipercaya. Aku hanya tahu... aku nggak mau lagi

api kita harus siap menghadapi kenyataan. Orang yang menginca

Ia tahu Andre bukan hanya pendukung, tapi juga p

ndre sedang menyiapkan bahan untuk demo sore, alarm keamanan berbunyi. Pintu dapur

u jauh. Mereka benar-benar ingin

meninggalkan dapur dengan cepat. "Kita bisa lihat re

ku nggak akan membiarkan ini terjadi. Aku harus bertindak, tapi

ak indah, tapi hatinya tidak bisa tenang. Ia merasa ancaman terus mengikuti langkahnya, dan perjala

ndaknya. "Ran... kita harus siap meng

at. "Terima kasih. Aku nggak tahu

. "Kita selalu bisa h

unggu. Namun untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar siap. Ia tidak akan mundur. Ia akan menghadapi semua, s

ia, setiap tantangan adalah kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya seb

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Janji Kita Hanyalah Debu
Janji Kita Hanyalah Debu
“Malam itu, Rania duduk di ruang tamu yang sepi, menatap jam dinding yang berdetak pelan. Ketika Farel, suaminya, akhirnya pulang, wajahnya tampak tenang, seolah tak ada yang perlu dijelaskan. Rania hanya menunduk, menyembunyikan badai di dadanya. Ia sudah terlalu lelah mencari alasan untuk tetap bertahan. Dalam diam, Rania memutuskan untuk pergi. Ia teringat janji yang pernah ia ucapkan pada dirinya sendiri bertahun-tahun lalu - sekali disakiti, aku akan pergi tanpa menoleh ke belakang. Sejak malam itu, ia mulai menyiapkan segalanya dengan hati-hati: berkas-berkas penting, tabungan yang diam-diam ia kumpulkan, hingga surat gugatan cerai yang disimpannya di laci meja rias. Rania memberi waktu tiga puluh hari untuk dirinya sendiri. Tiga puluh hari untuk menutup bab yang telah lama membuatnya berdarah. Ia menghitung mundur, setiap hari terasa seperti detik terakhir dari cinta yang pernah ia perjuangkan sendirian. Di hari ulang tahun Farel, Rania datang diam-diam ke kantornya. Ia membawa kue, balon kecil, dan senyum yang dipaksakan. Ia ingin mengucapkan selamat, mungkin untuk terakhir kalinya. Namun langkahnya terhenti di depan pintu ruang kerja Farel. Dari celah pintu yang tak tertutup rapat, ia melihat sesuatu yang meremukkan seluruh hatinya - Farel sedang memeluk dan mencium Alena, mantan kekasih yang dulu pernah membuat Rania cemburu bertahun-tahun lalu. Kue di tangannya gemetar, senyumnya runtuh bersama air mata yang tak terbendung. Saat itu juga, Rania tahu... tak ada lagi alasan untuk bertahan.”
1 Bab 1 menenangkan bagi sebagian orang2 Bab 2 tanda tangani3 Bab 3 membuktikan bahwa ia bisa hidup4 Bab 4 kesempatan sebesar5 Bab 5 Artikel utama tentang kamu6 Bab 6 Kamu pikir semua ini selesai 7 Bab 7 Mereka tidak akan berhenti8 Bab 8 ia seharusnya merasa lega9 Bab 9 Paris10 Bab 10 kecemasan11 Bab 11 Malam Paris gelap pekat12 Bab 12 mencoba memasuki apartemen13 Bab 13 rasa bersalah14 Bab 14 menentukan arah hidupnya15 Bab 15 hatinya terasa berat16 Bab 16 Buat mereka percaya kita berada di gedung17 Bab 17 soal kebenaran18 Bab 18 Kenapa dia mengincarku19 Bab 19 tidak ada yang bisa selamat20 Bab 20 Beberapa jam kemudian21 Bab 21 seseorang mengintip dari kejauhan22 Bab 22 Aku dengar beberapa orang diteror23 Bab 23 Mereka pikir aku akan panik24 Bab 24 pesan semalam25 Bab 25 tidak peduli