icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Janji Kita Hanyalah Debu

Bab 2 tanda tangani

Jumlah Kata:1711    |    Dirilis Pada: 24/10/2025

-kota, menatap jendela yang dipenuhi embun. Di kursinya, ia memeluk tas kecil berisi dokumen pentin

hanya satu koper kecil dan sel

elihat Farel memeluk Alena di kantornya, sesuatu dalam dirinya mati -

kota mulai memudar, berganti hamparan sawah dan perbukitan yang ia kenal betul. Ia kembali ke

nya pelan, seolah sedan

ania menikah. Farel membuatnya sibuk, terlalu sibuk untuk mengingat rumah dan masa lalu. Tapi

apas panjang, lalu turun dengan langkah gemetar. Angin dingin m

- penuh tikungan tajam, dengan pohon jati di kanan kiri. Setiap detik ter

a mulai mengelupas, tapi pohon melati di halaman masih tumb

anita paruh baya muncul dengan wajah setengah mengantuk,

ibunya berget

um lemah. "Ak

ng hangat, namun juga menyakitkan - karena di dalamnya

kecil di rumah itu. Ibu Rania duduk di seberan

ang dulu. Ibu kaget, Nak,"

"Maaf, Bu. Aku... nggak

berkata pelan, "Kamu be

pal di atas meja. "Bukan berte

tanya ibu

bersama perempuan lain. Aku nggak salah dengar,

u berusaha jadi istri yang baik. Tap

lama. "Kamu udah

dah, Bu. Aku nggak mau hid

l bagaimana keras kepala putrinya itu. Sekali Rania me

rjualan kue basah di pasar pagi. Tangannya yang dulu halus kini terbiasa mengukus, membun

ada tatapan merendahkan setiap kali i

ederhana ini, Rania

tap rumah sambil memikirkan masa lalunya. Kadang ia masih berharap Farel akan mencarinya, menyesal, lalu meminta maaf

esanan kue untuk hajatan tetangga, ponselnya bergetar. Na

re

api ia tak menjawab. Panggilan itu berulang tiga k

sa jelaskan semuanya. Tolon

r matanya menetes ke bungkus

mau dijelaskan dari pengkhianatan yang

Dalam hatinya, ada perang besar - antara cinta yang masih

ran kerja paruh waktu dari salah satu teman lamanya, Dina, yang memiliki toko r

ap bantu," kata Dina waktu mereka be

cuma sembunyi di balik dapur rumah. Aku butu

ya. "Kamu selalu kuat, R

a mulai berseri lagi. Ia belajar tersenyum kepada pelanggan, membuat

setelah berbulan-bul

Suatu malam, Dina menutup toko

harus bila

tap bingun

ar pesanan ke hotel Grand Vista, aku lihat Farel

apasnya tertahan

ang mendadak meluap. "Aku udah nggak mau

lan. "Aku cuma tak

"Aku udah nggak bisa

run rintik-rintik, tapi ia tak peduli. Ia berhenti di depan etalase toko mainan, menatap bon

inta itu segalanya. Ternyata, cinta tan

datang ke rumah ibunya. Untung saja ia sedang di to

ya mau minta maaf. Ibu

tolong jangan biarin dia masuk.

agu. "Ta

tapi tegas. "Aku butuh waktu

elum akhirnya menjawab, "Baiklah, Ra

yang belum ia bentuk. Air mata mengalir tanpa ia sadari. Tapi kali ini bukan karena l

sar dari sebuah acara amal yang diadakan oleh yayasan sosial di

a besar yang datang nanti. Siapa tahu kamu

khirnya setuju. Ia ingin men

h dihiasi bunga-bunga putih dan lampu gantung elegan. Suasana

mek putih. Saat sedang menata kue di meja bes

an

eku. Ia perlahan berbalik - dan

ak lelah, mata cekung, tapi masih de

di sini," k

am. "Aku di mana pun

"Aku nyari kamu ke mana-ma

minta kamu jujur, kamu diam. Sekarang sete

"Aku salah. Ta

nama itu lagi. Kamu udah bikin aku kehilangan harga

nia tak ingin lagi terjebak dalam ekspresi itu. Ia be

satu per satu, tap

acara selesai, Din

u yang di posisi kamu tadi

n. Tapi aku sadar... kalau aku terus biarin

engan kagum. "Aku

la toko. "Aku cuma pengin hidup tenang,

r nyenyak. Tidak ada tangisan, tidak ada mimpi buruk. Hanya

di jalan y

san pengadilan ia simpan di laci meja kerja di toko. Tidak ada pesta

ermin, melihat perempua

a yang baru," ucapnya

Dina menghampirinya

ang toko kita di kota besar. Dan mereka m

rkejut.

il. "Aku udah rekomendasiin kamu. Kamu pantas,

-kaca. "Terima kasih, Din. Kamu nggak ta

ota besar, tinggal di apartemen kecil dekat toko baru. Hari-harinya dipenuhi arom

arel masih muncul di piki

yang menentukan dirinya, melainka

donan kue yang mengembang

epung, ia akhirnya menemukan sesuatu ya

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Janji Kita Hanyalah Debu
Janji Kita Hanyalah Debu
“Malam itu, Rania duduk di ruang tamu yang sepi, menatap jam dinding yang berdetak pelan. Ketika Farel, suaminya, akhirnya pulang, wajahnya tampak tenang, seolah tak ada yang perlu dijelaskan. Rania hanya menunduk, menyembunyikan badai di dadanya. Ia sudah terlalu lelah mencari alasan untuk tetap bertahan. Dalam diam, Rania memutuskan untuk pergi. Ia teringat janji yang pernah ia ucapkan pada dirinya sendiri bertahun-tahun lalu - sekali disakiti, aku akan pergi tanpa menoleh ke belakang. Sejak malam itu, ia mulai menyiapkan segalanya dengan hati-hati: berkas-berkas penting, tabungan yang diam-diam ia kumpulkan, hingga surat gugatan cerai yang disimpannya di laci meja rias. Rania memberi waktu tiga puluh hari untuk dirinya sendiri. Tiga puluh hari untuk menutup bab yang telah lama membuatnya berdarah. Ia menghitung mundur, setiap hari terasa seperti detik terakhir dari cinta yang pernah ia perjuangkan sendirian. Di hari ulang tahun Farel, Rania datang diam-diam ke kantornya. Ia membawa kue, balon kecil, dan senyum yang dipaksakan. Ia ingin mengucapkan selamat, mungkin untuk terakhir kalinya. Namun langkahnya terhenti di depan pintu ruang kerja Farel. Dari celah pintu yang tak tertutup rapat, ia melihat sesuatu yang meremukkan seluruh hatinya - Farel sedang memeluk dan mencium Alena, mantan kekasih yang dulu pernah membuat Rania cemburu bertahun-tahun lalu. Kue di tangannya gemetar, senyumnya runtuh bersama air mata yang tak terbendung. Saat itu juga, Rania tahu... tak ada lagi alasan untuk bertahan.”
1 Bab 1 menenangkan bagi sebagian orang2 Bab 2 tanda tangani3 Bab 3 membuktikan bahwa ia bisa hidup4 Bab 4 kesempatan sebesar5 Bab 5 Artikel utama tentang kamu6 Bab 6 Kamu pikir semua ini selesai 7 Bab 7 Mereka tidak akan berhenti8 Bab 8 ia seharusnya merasa lega9 Bab 9 Paris10 Bab 10 kecemasan11 Bab 11 Malam Paris gelap pekat12 Bab 12 mencoba memasuki apartemen13 Bab 13 rasa bersalah14 Bab 14 menentukan arah hidupnya15 Bab 15 hatinya terasa berat16 Bab 16 Buat mereka percaya kita berada di gedung17 Bab 17 soal kebenaran18 Bab 18 Kenapa dia mengincarku19 Bab 19 tidak ada yang bisa selamat20 Bab 20 Beberapa jam kemudian21 Bab 21 seseorang mengintip dari kejauhan22 Bab 22 Aku dengar beberapa orang diteror23 Bab 23 Mereka pikir aku akan panik24 Bab 24 pesan semalam25 Bab 25 tidak peduli