icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Janji Kita Hanyalah Debu

Bab 23 Mereka pikir aku akan panik

Jumlah Kata:1645    |    Dirilis Pada: 24/10/2025

atinya masih gelap. Ia menatap secangkir kopi yang sudah dingin di meja kerja, dokumen-dokumen berserakan di sekelil

Buka bab ini

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Janji Kita Hanyalah Debu
Janji Kita Hanyalah Debu
“Malam itu, Rania duduk di ruang tamu yang sepi, menatap jam dinding yang berdetak pelan. Ketika Farel, suaminya, akhirnya pulang, wajahnya tampak tenang, seolah tak ada yang perlu dijelaskan. Rania hanya menunduk, menyembunyikan badai di dadanya. Ia sudah terlalu lelah mencari alasan untuk tetap bertahan. Dalam diam, Rania memutuskan untuk pergi. Ia teringat janji yang pernah ia ucapkan pada dirinya sendiri bertahun-tahun lalu - sekali disakiti, aku akan pergi tanpa menoleh ke belakang. Sejak malam itu, ia mulai menyiapkan segalanya dengan hati-hati: berkas-berkas penting, tabungan yang diam-diam ia kumpulkan, hingga surat gugatan cerai yang disimpannya di laci meja rias. Rania memberi waktu tiga puluh hari untuk dirinya sendiri. Tiga puluh hari untuk menutup bab yang telah lama membuatnya berdarah. Ia menghitung mundur, setiap hari terasa seperti detik terakhir dari cinta yang pernah ia perjuangkan sendirian. Di hari ulang tahun Farel, Rania datang diam-diam ke kantornya. Ia membawa kue, balon kecil, dan senyum yang dipaksakan. Ia ingin mengucapkan selamat, mungkin untuk terakhir kalinya. Namun langkahnya terhenti di depan pintu ruang kerja Farel. Dari celah pintu yang tak tertutup rapat, ia melihat sesuatu yang meremukkan seluruh hatinya - Farel sedang memeluk dan mencium Alena, mantan kekasih yang dulu pernah membuat Rania cemburu bertahun-tahun lalu. Kue di tangannya gemetar, senyumnya runtuh bersama air mata yang tak terbendung. Saat itu juga, Rania tahu... tak ada lagi alasan untuk bertahan.”
1 Bab 1 menenangkan bagi sebagian orang2 Bab 2 tanda tangani3 Bab 3 membuktikan bahwa ia bisa hidup4 Bab 4 kesempatan sebesar5 Bab 5 Artikel utama tentang kamu6 Bab 6 Kamu pikir semua ini selesai 7 Bab 7 Mereka tidak akan berhenti8 Bab 8 ia seharusnya merasa lega9 Bab 9 Paris10 Bab 10 kecemasan11 Bab 11 Malam Paris gelap pekat12 Bab 12 mencoba memasuki apartemen13 Bab 13 rasa bersalah14 Bab 14 menentukan arah hidupnya15 Bab 15 hatinya terasa berat16 Bab 16 Buat mereka percaya kita berada di gedung17 Bab 17 soal kebenaran18 Bab 18 Kenapa dia mengincarku19 Bab 19 tidak ada yang bisa selamat20 Bab 20 Beberapa jam kemudian21 Bab 21 seseorang mengintip dari kejauhan22 Bab 22 Aku dengar beberapa orang diteror23 Bab 23 Mereka pikir aku akan panik24 Bab 24 pesan semalam25 Bab 25 tidak peduli