icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Janji Kita Hanyalah Debu

Bab 3 membuktikan bahwa ia bisa hidup

Jumlah Kata:2498    |    Dirilis Pada: 24/10/2025

-pikuk orang-orang yang berjalan cepat membuat Rania awalnya hampir tersesat di setiap sudutnya. Namu

hari. Ruangan itu sederhana: tempat tidur, lemari kecil, dan meja kerja untuk laptopnya. Di sudut ruangan

da tiga ulang tahun, dua pernikahan, dan satu acara amal besar yang

baru," gumamnya sambil

awalnya terbata-bata, sekarang setiap langkah terasa natural-seolah tanga

ulai banyak tahu tentang kamu, loh. Ada yang minta diajari bikin cake, bahkan ada y

"Aku cuma beruntung ada

ggak, kamu yang jalanin sekaran

kopi dan hujan rintik-rintik yang baru saja reda. "Kadang

andanya kamu pantas, Ran. Jang

ang ia tunjukkan pada pelanggan, masih ada bayangan Farel-bay

ampu kota yang berkelap-kelip. Ia membuka laptop dan mulai menelusuri blog pastry

al dekorasi kue sederhana, tips memilih bahan yan

n belajar, mungkin aku bisa leb

form media sosial. Ia mengedit sendiri, menambahkan musik

i takut gagal," katanya di video itu. "Jangan

komentar pertama datang dari seor

angat profesional. Apakah kam

esar, tapi juga menakutkan. Ia harus menghadapi dunia baru yang lebih luas, yan

ortofolio, menyempurnakan resep, dan mengatur

p jendela apartemen, melihat lampu-lampu kota, dan mengingat perjuangan yang sudah ia lalui: meninggalkan r

menegakkan tubuhnya, dan

. Aku har

k pesta anak-anak, seorang pria masuk ke kafe. Penampilannya

ku dengar tentang kue-kue kamu. Aku ingin bekerj

enang. "Wah, senang bertemu. T

engarkan dengan seksama, mencatat setiap detail. Ada sesuatu dalam cara Andre

tap Rania sejenak. "Kamu serius b

bisa setengah-setengah sek

t. "Aku bisa lihat itu. Aku suka

sakan sesuatu yang berbeda-perasaan nyaman dan aman yang belum ia rasakan seja

lnya mulai mendapat perhatian lebih, beberapa café besar mengunda

mereka bertemu, ada percakapan ringan yang membu

uatu sore, saat Rania sedang menata kue ulang tahun untuk seorang klien,

ta-kata yang ia tulis, hanya emoji maaf. Ia menggenggam

rus keluar sebenta

lai turun. Rania menatap kota y

gumamnya pelan. "Ak

rsamaan. Tapi kali ini, ia berbeda. Ia sudah belajar bertah

ik balasa

a sekarang. Tol

i ke kafe. Hujan menyiram rambut dan jaketnya, tapi ia merasa ringan. Rania ta

nya, menatap kota yang diterangi lampu-lampu jalan. Andre meng

s di buku

yang aku cintai, dan aku punya teman yang mendukungku. Kalau cinta datang lagi, aku a

ia merasakan kedamaian sejati. Tidak ada rasa takut, ti

minar pastry internasional. Ini adalah pencapaian yang belum pernah ia bayangkan beber

a, dan memastikan setiap detail sempurna. Hatinya berdebar, tapi ber

, dan menceritakan sedikit perjalanan hidupnya. Beberapa peserta menatapnya dengan kagum. Bahkan

dekatinya. "Kamu luar biasa, Ran

uma mau menunjukkan kalau perempuan b

akin kamu bisa lebih dari itu. Dan aku...

rdebar-debar tapi bukan karena takut, melaink

elan. "Sekarang aku masih ingi

k, tersenyum. "

an langkah baru dalam hidupnya. Ia tahu, meski jalan ke depan masih panjang, ia tidak lagi berjalan sen

ari satu hal: kadang kehilangan adal

dunia. Datangilah dengan semu

ggu untuk diwujudkan. Dan untuk pertama kalinya, Rania benar-bena

-bahan kue untuk pesanan pesta ulang tahun seorang klien ternama. Oven yang hangat dan aroma gula p

otak kerja Rania. Judulnya sederh

i Eksklusif – Luxur

ng acara. Ini adalah ajang bergengsi, tempat para pastry chef profesional dari

besar, yang ingin Rania membuat kue utama untuk acara tersebut. Ini adalah kesempatan sekali seu

email ini?" Dina

pala, matanya masih

mau aku bikin kue utama u

. Semua orang bakal kenal kamu. Tapi..

aku gagal di depan orang-orang seperti itu...

dari kegagalan. Dari rumah kecil ibumu, dari pengkhiana

hu Dina benar, tapi hatinya tetap r

p lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Ponselnya ber

ngin bicara.

ayangan masa lalunya langsung muncul: Farel? Alena?

top, menarik selimut, dan mencoba menenangkan diri. Hatinya sudah terlalu

etap fokus pada tugasnya. Ia mulai membiasakan diri dengan ritme baru, belajar menata adonan cok

ke kafe dengan wajah serius. Penampil

tanyany

ak terkejut. "Ya...

aya dari Luxury Pastry Expo. Kami ingin membicarakan kontrak ke

k. Ia berdiri, menatapnya ser

skan ketentuan kontrak: bahan yang harus digunakan, k

besar," kata Adrian, menatapnya dalam-dalam. "Kami butuh orang yang bisa

. "Aku... akan mela

ue. Ini pertunjukan. Semua mata akan tertuju padamu. Setiap kesalahan

, ia merasakan ketegangan yang nyata. Bukan ketegangan karena ta

jawabn

ubuh, menyiapkan bahan-bahan, dan bekerja hingga larut malam. Oven yang panas, adonan

perempuan yang meninggalkan rumah demi harga diri, perempuan yang

pi panas, kadang ia membantu menata kue, atau sekadar tersenyum memberi semangat. Kehadiran Andre

kelat tinggi dengan dekorasi bunga segar, p

bicara. Tolong ja

natap Andre yang baru saja masuk ke dap

, dan menatap Andre. "Aku harus fokus. Aku

tangannya sebentar. "Aku di

enang. Ia tahu, untuk pertama kalinya,

natap kotak kue yang sudah ia siapkan untuk presenta

esain kue dari pastry chef dunia. Tiba-tiba

ve cooking di Luxury Pastry Expo. Ini ke

etapi matanya berbinar. Ini adalah

yang tak bisa dihilangkan. Apakah ia bisa tampi

angit malam dari balkon. Hujan rintik-rintik jatuh, mem

da diri sendiri. "Ini bukan ten

lampu, dan peserta dari seluruh dunia. Rania berjalan di panggung,

kerja, mengikuti semua latihan yang ia lakukan selama berbulan-bulan. Gerakannya presisi, hati-ha

aula. Kamera merekam setiap detik, me

ia merasa bangga pada dirinya sendiri-bukan karena orang lai

enepuk punggungnya. "Kamu heb

yum hangat. "Terima kasi

ng ke apartemen, sebuah pesan m

il. Tapi aku nggak bisa dia

masa lalu kembali hadir, tapi kali ini berbeda. I

pesan balas

h hidupku. Janga

kon apartemennya, menatap lampu kota, dan untuk pertama kalinya m

dan lampu kota yang berkelap-kelip, Rania tahu satu hal pasti: apapun ya

peluang, tantangan, dan harapan baru. Rania akhirnya sadar: kehilangan

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Janji Kita Hanyalah Debu
Janji Kita Hanyalah Debu
“Malam itu, Rania duduk di ruang tamu yang sepi, menatap jam dinding yang berdetak pelan. Ketika Farel, suaminya, akhirnya pulang, wajahnya tampak tenang, seolah tak ada yang perlu dijelaskan. Rania hanya menunduk, menyembunyikan badai di dadanya. Ia sudah terlalu lelah mencari alasan untuk tetap bertahan. Dalam diam, Rania memutuskan untuk pergi. Ia teringat janji yang pernah ia ucapkan pada dirinya sendiri bertahun-tahun lalu - sekali disakiti, aku akan pergi tanpa menoleh ke belakang. Sejak malam itu, ia mulai menyiapkan segalanya dengan hati-hati: berkas-berkas penting, tabungan yang diam-diam ia kumpulkan, hingga surat gugatan cerai yang disimpannya di laci meja rias. Rania memberi waktu tiga puluh hari untuk dirinya sendiri. Tiga puluh hari untuk menutup bab yang telah lama membuatnya berdarah. Ia menghitung mundur, setiap hari terasa seperti detik terakhir dari cinta yang pernah ia perjuangkan sendirian. Di hari ulang tahun Farel, Rania datang diam-diam ke kantornya. Ia membawa kue, balon kecil, dan senyum yang dipaksakan. Ia ingin mengucapkan selamat, mungkin untuk terakhir kalinya. Namun langkahnya terhenti di depan pintu ruang kerja Farel. Dari celah pintu yang tak tertutup rapat, ia melihat sesuatu yang meremukkan seluruh hatinya - Farel sedang memeluk dan mencium Alena, mantan kekasih yang dulu pernah membuat Rania cemburu bertahun-tahun lalu. Kue di tangannya gemetar, senyumnya runtuh bersama air mata yang tak terbendung. Saat itu juga, Rania tahu... tak ada lagi alasan untuk bertahan.”
1 Bab 1 menenangkan bagi sebagian orang2 Bab 2 tanda tangani3 Bab 3 membuktikan bahwa ia bisa hidup4 Bab 4 kesempatan sebesar5 Bab 5 Artikel utama tentang kamu6 Bab 6 Kamu pikir semua ini selesai 7 Bab 7 Mereka tidak akan berhenti8 Bab 8 ia seharusnya merasa lega9 Bab 9 Paris10 Bab 10 kecemasan11 Bab 11 Malam Paris gelap pekat12 Bab 12 mencoba memasuki apartemen13 Bab 13 rasa bersalah14 Bab 14 menentukan arah hidupnya15 Bab 15 hatinya terasa berat16 Bab 16 Buat mereka percaya kita berada di gedung17 Bab 17 soal kebenaran18 Bab 18 Kenapa dia mengincarku19 Bab 19 tidak ada yang bisa selamat20 Bab 20 Beberapa jam kemudian21 Bab 21 seseorang mengintip dari kejauhan22 Bab 22 Aku dengar beberapa orang diteror23 Bab 23 Mereka pikir aku akan panik24 Bab 24 pesan semalam25 Bab 25 tidak peduli