icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu

Bab 2 jangan lupa makan siang

Jumlah Kata:1676    |    Dirilis Pada: 23/10/2025

ya. Angin lembut membawa aroma roti dari toko di seberang jalan. Di dapur,

alnya habis sekolah ada latihan lomba c

"Iya, tapi jangan lupa makan siang dulu,

u Rayan sambil

takut - setiap kali Rayan melangkah pergi, Alya selalu takut kehilangan. Ia suda

an, Revan berdiri di sisi mobil hitamnya. Ia tidak mengenakan jas

sudah bertemu. Revan tersenyum kecil - senyum yang dulu perna

menurunkan tirai

angannya gemetar setiap kali memegang jarum. Da

semua yang terjadi? Apa belum c

menegakkan tubuhnya, menatap pintu dengan gugup.

ini aku

embuat jantungnya berdebar,

mau lihat kamu lagi!" t

ksa kalau kamu nggak mau dengar," suaranya terde

enar-benar menyesal, kamu harusnya udah datang dulu, waktu a

g sej

pelan. "Dan aku nyesel setiap hari karena hal itu

mau mendengar. Tapi suara Revan

u berhak. Tapi tolong jangan

ang. Ia membuka pintu dengan cepat dan mena

ngan mata merah. "D

van hingga suara kerasnya terdengar di udara.

suruh aku gugurin dia! Kamu yang bikin aku diusir dari ruma

tanpa melawan. "Aku pantas ditampar seribu kali

rasanya jadi aku. Setiap malam aku bangun takut, setiap kali Rayan nanya 'ayahku siapa, M

Suaranya hilang

van. Sebelum Rayan pulang. Aku nggak

dur. "Aku nggak akan nyerah, Alya. Sekalipun kamu

Tangannya menutupi wajah, menahan tangis yang tak pernah

gsung, hanya memperhatikan dari jauh. Kadang ia meninggalkan bekal di meja guru, pura-pura sebagai don

u Guru?" tanya R

antu-bantu di sekolah, katan

apa-apa. Tapi tanpa sadar, ia mul

ak macet karena jalan tergenang. Saat ia sampai, tubuh Rayan suda

Re

pria itu. "Om ini nolongin aku, M

Terima kasih, tapi ng

elan. "Aku cuma le

ta Revan penuh kerinduan, sementara Aly

, banyak bercerita tentang sekolah, tapi di tengah cerita, i

evan mirip bange

rhana yang menu

yum. "Mungkin cuma

juga sama. Terus cara senyu

ia tak boleh menangis. "Sudah, R

uti. Ia tidak tahu bahwa kata-katanya ba

terlelap di sebelahnya. Anak itu tumbuh dengan wajah y

, Tuhan," bisiknya. "Dia terlal

a menegakkan tubuh. Ia menyingkap tirai - Revan b

an karena cinta. Karena keta

cil di hatinya yang belum bisa benar-benar memben

tempat Alya biasa belanja bahan. Ia membawa du

elas kasihan kamu,

las Revan lembut. "Anggap aja

gak pernah jadi teman, Revan. Kita cu

lang waktu, aku bakal pilih jadi orang asing buat

Ada ketulusan di mata Rev

Kenapa nggak waktu aku hampir mati di ruang bersalin, w

i alasan buat lari dari rasa bersalah. Tapi nggak ada satu hari pun

"Kamu nggak bisa nebus semu

i dari hal kecil. Aku cuma mau Rayan tahu bahwa dia

ercampur jadi satu. "Kalau kamu beneran mau buktiin,

akan nurut. Tapi aku nggak akan pergi jauh. Aku akan tetap a

selalu muncul dalam hal-hal kecil. Kadang ada bunga di depan rumahnya dengan cata

semua itu dari "Om R

tak tahu apakah harus m

Alya panik karena obat di rumah habis, tapi sebelum ia sem

singkat. "Dia bilang ini c

ra Revan menatap Rayan - penuh cemas, tulu

yang dingin. "Om, jangan perg

tap Alya m

lalu mengangguk pel

ayan hingga anak itu tertidur. Ia menatap wajah mungil

ada sesak. Ada kehangatan di pemandangan itu - pemandan

alam dirinya, dan dalam hati Alya. Ia mulai sadar, kehadiran R

ali ini mimpi itu tak selalu menyakitkan. Kadang, ia memimpikan

a menangis. Bukan karena

Revan datang membawa termos kecil. "Aku bawain

pa ekspresi. "Kamu

kuin hal kecil buat kamu. Nggak usah kamu mak

ngku kayu depan rumah. "Kenapa kamu nggak nika

ggak bisa lupakan dosa yang aku buat sama kamu. Aku

berkaca. "Dan kalau aku ng

skan hidupku buat nyob

tiup pelan, membawa aro

sedih atau lega. Tapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hatinya tak la

ungkin Tuhan mulai menulis bab baru dalam hidup mereka - bab yang

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu
Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu
“Alya adalah putri angkat dari seorang pengusaha terkenal bernama Haris dan istrinya, Ratna. Sejak kecil, Alya dibesarkan dengan kasih sayang dan dianggap seperti anak sendiri, meski ia tahu darahnya berbeda. Di rumah itu, Alya hidup berdampingan dengan anak kandung mereka, Revan, yang usianya terpaut empat tahun lebih tua. Awalnya hubungan Alya dan Revan berjalan baik. Revan bahkan sering melindungi Alya dari ejekan teman-temannya. Namun semuanya berubah ketika mereka beranjak dewasa. Revan mulai sering pulang larut malam, terjerat dalam pergaulan bebas, dan suatu malam - terjadi insiden kelam yang mengubah hidup Alya selamanya. Alya mengandung. Revan, ketakutan dan egois, menyangkal perbuatannya. Ia memaksa Alya menggugurkan kandungan agar reputasi keluarganya tidak hancur. Ratna, ibu angkat Alya, justru menyalahkannya dan menyuruh Alya pergi dari rumah sebelum aib itu diketahui publik. Dengan hati hancur, Alya meninggalkan rumah itu dan hidup seorang diri. Ia bertahan dengan bekerja serabutan, menanggung kehamilan sendirian hingga akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Rayan - cahaya kecil yang membuatnya kuat bertahan. Tahun demi tahun berlalu. Alya berhasil bangkit dan membuka usaha kecil. Hidupnya memang sederhana, tapi penuh ketenangan. Sampai suatu hari takdir mempertemukannya kembali dengan Revan dan keluarganya. Revan kini sudah berubah. Ia menyesal dan ingin menebus dosa masa lalunya setelah mengetahui bahwa Rayan adalah darah dagingnya sendiri. Ia mencoba mendekati Alya, meminta kesempatan untuk menjadi ayah bagi Rayan. Namun, bagi Alya, luka itu terlalu dalam. Ia tidak bisa begitu saja melupakan penghinaan dan penolakan di masa lalu. Ia hanya ingin melindungi anaknya dari masa lalu yang kelam. Revan terus berusaha - datang setiap hari, menjemput Rayan sekolah, membantu tanpa diminta, bahkan rela dihina oleh Alya berkali-kali. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan lagi pria pengecut yang dulu. Kini, pertanyaannya hanya satu - apakah hati Alya bisa luluh setelah semua luka yang pernah ia tanggung sendirian? Atau justru ia memilih menutup pintu selamanya, agar masa lalu tak lagi menyakitinya?”
1 Bab 1 beruang kecil dengan salah satu matanya hilang2 Bab 2 jangan lupa makan siang3 Bab 3 malam terasa hampa4 Bab 4 sekadar mimpi buruk5 Bab 5 memperingatkannya6 Bab 6 Jangan menipu7 Bab 7 menahan rasa takut8 Bab 8 Aku tahu kamu takut9 Bab 9 tak ada yang menyadari10 Bab 10 Mereka bisa saja datang kapan saja11 Bab 11 Mereka berencana melakukan penculikan12 Bab 12 memeluk Rayan yang masih membaca13 Bab 13 suhu tubuhnya naik lagi14 Bab 14 telepon dari seseorang15 Bab 15 Damar ingin menghabisinya16 Bab 16 Damar sudah dibawa ke tahanan17 Bab 17 ayah yang selama ini ia percayai18 Bab 18 merebut kembali bukti19 Bab 19 Kalau dia tahu kita berhasil20 Bab 20 musuhnya sendiri21 Bab 21 selamatkan22 Bab 22 pengintaian23 Bab 23 Isinya sederhana tapi mengerikan24 Bab 24 tidak akan mudah25 Bab 25 kesalahan lagi26 Bab 26 tidak ada yang bisa menakut-nakuti