icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu

Bab 4 Kabut pagi Gunung Lawu

Jumlah Kata:1871    |    Dirilis Pada: 22/10/2025

asa lemah. Ia berdiri di balik semak besar, matanya menatap jalur di bawah yang akan dilalui Raka, Daffa, dan Iqbal. Har

mulai bergerak lebih cepat. Kau harus siap. Jika mereka menemukanmu, jangan panik. Ingat

i ini bukan adrenalin biasa-ada ketegangan nyata. Ia tahu, sekali mereka menemukan

g muncul di kabut. Raka, berjalan di depan, menghentikan langkah dan menatap sekeliling deng

ng. "Kau juga merasakannya, kan? Rasa

berhati-hati. Jangan sampai mereka menjebak kita lagi,

pi belum tahu siapa yang mengawasi. Ini adalah momen penting-kese

dar jebakan lagi. Kau harus siap menghadapi mereka secara langsung. Jangan menyerang

gkah diperhitungkan, setiap gerakan dibuat senyap mungkin. Hutan yang dulu menakutkan kini ter

lihat ketiga lelaki itu dengan jelas. Raka berjalan di depan, memimpin jalur dengan percaya diri yang pe

ebakan sederhana tidak akan cukup. Ia memanfaatkan seluruh kema

anting yang telah disiapkan Alana bergerak, menimbulkan su

gan jalur in

sa... ada yang mengawasi kit

"Kita harus menemukannya! Tidak b

nyum tipis muncul di wajahnya. Pertama kalinya, ia benar-benar m

ekat ke tempat Alana bersembunyi. Jantung Alana hampir meloncat. Ia menekuk tubuhnya

. "Jangan panik. Fokus. Gunakan hutan sebagai

at, tapi tetap senyap, menavigasi akar pohon dan batu besar yang menutupi jalur. S

ia melepaskan jebakan berikutnya-kombinasi batu, ranting, dan daun kering. Suara ke

engan marah. "Siapa di si

ta harus keluar dari sini... sek

er suara. Alana menahan napas, tubuhnya tegang. Ia tahu ini baru

u berhasil menanamkan ketakutan mereka. Tapi mereka akan bereaksi lebih agr

dak akan takut lagi," gumamnya. Ia tahu, balas dendam ini bukan sekadar untuk membuat m

lur, menggunakan pengawas tambahan, dan bergerak lebih hati-hati.

bisa menemukan jejaknya. Ia menyiapkan jebakan terakhir-kombina

ebakan aktif. Batu berguling, ranting patah, suara

lagi?" Rak

t. "Kita tidak bisa terus seperti

frustrasi, marah, dan takut. "Ki

ya. Strategi berhasil lagi. Arga menepuk bahunya, suaranya rendah t

na-tongkat, pisau, atau alat pertahanan lain. Mereka tidak lagi bergerak santai. Hutan yang

ih waspada, dan lebih berbahaya. Kau harus lebih cerdas, lebih cepat, dan leb

erbeda. Ia belajar mengendalikannya, mengubah ketakutan menjadi fokus dan perhitungan. I

kini rasa dingin itu bukan lagi ketakutan, melainkan pemicu fokus. Setiap langkahnya kini dipikirkan dengan matang. Ia

, kau akan menghadapi mereka secara langsung. Jangan menyerang dulu. Biarkan mereka lengah. Amati gerakan mereka, cari celah, dan

ar seperti beberapa minggu lalu. Ia sudah berubah-dari gadis yang jatuh ke jurang,

, tampak lebih waspada dari sebelumnya. Raka berjalan di depan, menatap sekeliling d

merasakannya juga, kan?

ita harus ekstra hati-hati. Mereka mu

h agresif, membawa tongkat dan pisau sederhana untuk perlindungan. Ini bukan

osi. Gunakan hutan, bayangan, dan setiap elemen di sekitarmu. Me

an setiap celah dan bayangan. Setiap langkah dibuat senyap, setiap gerakan dipikirkan

atu berguling dan ranting patah terdengar keras.

ini?!"

a pucat. "Ini... tidak wajar. S

dengan frustrasi. "Ki

nya berhasil. Rasa takut yang tertanam sejak beberapa hari terakhir kini me

jalur, menggunakan cahaya senter sederhana untuk menerangi area sekitar. Alana tahu, ia ha

ba menenangkan jantungnya. Arga menatapnya dengan serius. "Ingat, ini adalah ujian. Ka

i. Daffa mulai kehilangan kesabaran, dan Iqbal mengge

tahu, ini saatnya menghadapi mereka secara fisik. Dengan cepat, ia melepaskan jebakan tambaha

liling dengan panik. "Siapa di

akutan. "Kita harus

rasi dan takut. "Kita tidak bis

qbal melangkah ke depan, ia menyeruduk dari sisi bayangan, mena

jut, namun Alana bergerak cepat, menggunakan bayangan pepohonan untuk tetap tersemb

dengan gerakan lincah, menghindari pukulan, dan memanfaatkan medan untuk mengontrol jarak. Daffa mencoba me

ya, menilai gerakan, dan dengan gerakan cepat menangkis serangan pisau itu dengan batang

a keadaan memburuk. "Bagus, tetap tenang. Guna

mencoba menyerang dari belakang. Tapi Alana sudah mengantisipasi gerakan mereka. Ia me

f-dorongan, pukulan ringan, dan gerakan yang membuat mereka kehilangan keseimbangan.

dan tatapan mereka berubah-tidak lagi arogan seperti sebelumnya. Mereka sadar, Ala

ya ia menghadapi mereka secara fisik, dan ia berhasil menguasai situasi. Arga menepuk bahunya, senyum tipis di wa

, tubuhnya lelah tapi tekadnya semakin menguat. "Aku tida

, tapi ingat... balas dendam itu berbahaya. Kau harus tahu kapan b

qbal muncul di pikirannya. Ia tahu, ini bukan sekadar pertarungan fisik-i

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
“Di Pos Dua Gunung Lawu, tiga pemuda-Raka, Daffa, dan Iqbal-mencoba menyerang seorang gadis muda bernama Alana saat ia sedang berkemah sendirian. Alana berhasil melawan, tetapi dalam upayanya melarikan diri, dia terperosok ke dalam jurang yang curam dan hampir kehilangan nyawanya. Saat itu, seorang pria misterius muncul, Kapten Arga, mantan anggota Kopassus yang kini menjadi buronan karena kasus yang menjeratnya. Arga menyembunyikan diri di hutan Gunung Lawu, hidup dari alam liar sambil menenangkan luka batinnya. Dia menemukan Alana dalam kondisi lemah dan sekarat, dan membawanya ke tempat persembunyiannya. Di sinilah konflik mulai berkembang: Alana harus pulih dari trauma dan memutuskan apakah ia akan menyerah atau bangkit untuk membalas dendam. Sementara itu, kedekatannya dengan Arga, pria misterius dan keras namun penuh perhitungan, mulai menimbulkan ketegangan emosional-antara kepercayaan, rasa aman, dan emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.”
1 Bab 1 bayangan hitam yang bersembunyi2 Bab 2 Arga berjalan di belakangnya3 Bab 3 di bawah kaki hewan liar4 Bab 4 Kabut pagi Gunung Lawu5 Bab 5 Kekalahan kemarin6 Bab 6 dendamnya7 Bab 7 beberapa hari terakhir8 Bab 8 mengawasi musuh9 Bab 9 setiap keputusan yang mereka ambil10 Bab 10 hutan yang selama ini menjadi saksi perjuangan11 Bab 11 seorang peserta datang tergesa-gesa12 Bab 12 Kau merasakannya juga13 Bab 13 matanya penuh harapan14 Bab 14 kunjungan itu berlangsung15 Bab 15 Beberapa masih memikirkan insiden16 Bab 16 hari ini kita akan menghadapi ujian17 Bab 17 jangan mudah terprovokasi18 Bab 18 Dunia nyata selalu menuntut keputusan19 Bab 19 tetap bertindak benar20 Bab 20 rasa bangga yang dalam21 Bab 21 Setelah beberapa minggu persiapan22 Bab 22 tidak suka23 Bab 23 ketika kalian tetap bertindak benar24 Bab 24 Ada perselisihan25 Bab 25 menunggu di luar