icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu

Bab 2 Arga berjalan di belakangnya

Jumlah Kata:1922    |    Dirilis Pada: 22/10/2025

ti menghirup jarum es. Namun kali ini, Alana tidak lagi merasa lemah. Ia melangkah dengan mantap, tongkat kayu di tangan, matanya me

Kau harus memperhatikan semuanya: langkah, suara, bahkan arah napas mereka. Ini bu

ad. Sejak terakhir kali mereka melihat ketiga lelaki itu di Pos Dua, Alana terus memikirkan ba

s jejak kaki. Raka, Daffa, dan Iqbal masih berkeliaran di wilayah ini, belum menyadar

g lalu. Kau harus hafalkan pola mereka. Jejak kaki, arah langkah, bahkan cara m

dipelajarinya akan menjadi alat untuk balas dendam. Dalam hatinya, kemarahan

on, membentuk "target" bergerak. "Kau harus menembak atau melempar dengan tepat," katanya, memberi Alana pisau kecil dan busur

ergoyang di angin. Setiap kali lemparan atau panah meleset, Arga menegurnya dengan tegas, tapi juga

ah tepat sasaran. Ia tersenyum tipis, rasa percaya diri mulai tumbuh. Arga menatapnya, s

belajar bagaimana bergerak tanpa suara, mengenali pola langkah manusia, dan memahami psikologi mus

, mereka melihat cahaya api unggun-tanda bahwa ketiga lelaki itu sedang berkemah.

dan Iqbal. Ia melihat Raka, yang selalu menjadi pemimpin, tersenyum sinis sambil menyalakan ap

rlalu banyak," bisik Arga. "Kau harus sepert

ncana pertama: cara membuat mereka lengah, cara memancing kesalah

eras, merangkak di semak berduri, dan meniti tebing licin. Alana jatuh berkali-kali, tubuhnya penuh lu

p. Mereka tidak akan menunggu. Jika mereka me

ala. "Aku... aku siap. Aku akan menghanc

menapaki jalur pendakian yang sama. Alana menahan napas, hatinya berdentum keras

rang dulu. Amati. Pelajari. Kita belum sia

al mengikuti. Ia memperhatikan cara mereka berjalan, bagaimana mereka berbicara, bahkan c

, setiap kebiasaan ketiga lelaki itu dicatat dengan teliti. Ia mulai merencanakan langkah demi langkah, bagaiman

lemah yang jatuh ke jurang dulu. Kau menjadi predator yang cerdas. Tap

tekad. "Aku tahu. Tapi aku tidak ak

, menyiapkan jebakan sederhana, dan membaca tanda-tanda manusia serta alam. Hubungannya dengan Arga semakin dalam,

Alana dengan serius. "Kau harus tahu... membalas dendam itu berbahaya. Sekali kau m

m pikirannya. "Aku sudah kehilangan hampir segalanya. Sekarang aku hanya pu

s ini tidak bisa dihentikan. Ia hanya bisa membimbingnya, menyiapkan setiap l

idup kini tampak hening, hanya terdengar suara ranting patah di kejauhan dan aliran sungai yang bergemuruh. Alana berdi

berdiri di belakang Alana, tangan terlipat di dada, tubuhnya

"Aku sudah siap.

ah. "Ingat, ini bukan hanya soal kekuatan. Kau harus memperhatikan pola langkah mer

tampak menikmati perjalanan mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa Alana sedang mengamati. Ala

kau bukan gadis yang jatuh ke jurang du

digenggamnya, sementara Daffa sibuk menyesuaikan tali ransel, dan Iqbal melirik ke kanan-kiri dengan mata waspada. A

bisa ia pahami. Setiap cabang patah, setiap jejak kaki yang ter

g pohon untuk membuat perangkap yang bisa memperlambat atau menakuti musuh. "Ini bukan untuk membunuh, tapi untuk

g. Ia tahu ini adalah langkah pertama, dan kegagalan bisa berarti bencana. Tapi ada ras

an percaya diri, sesekali menoleh ke Daffa dan Iqbal untuk memastikan semuanya berj

suara keras. Alana menegang. Arga menepuk bahunya, berbisik, "

ika Raka melangkah ke titik jebakan pertama, Alana menarik tali dengan lembut, membuat ranting patah

ffa dan Iqbal menatap ke tanah, tampak bingung. Mereka ti

Langkah pertamanya berhasil-tidak untuk melukai, tapi untuk member

enciptakan ilusi bahwa hutan penuh dengan pengintai. Arga mengajarinya bagaimana menanamkan rasa takut tanpa t

dan Iqbal terjebak dalam kebingungan, merasa bahwa hutan ini menjadi musuh mereka sendiri. Ia

panjang dan sepi, dan setiap suara yang samar membuatnya teringat insiden di Pos Dua. Alana dud

suaranya rendah tapi tegas. "Tapi aku mengerti... rasa takut i

r kecil. "Aku... aku akan belajar. Aku t

i ingat, balas dendam itu berbahaya. Kau harus siap menghadap

k, hatinya bert

it yang menjadi jalur biasa ketiga lelaki itu. "Ini kesempatanmu untuk menguji jeb

ng di jalur mereka, menciptakan ilusi bahwa jalan licin dan berbahaya. Ketika Rak

pertanyakan jalannya sendiri. Alana menyaksikan dari kejauhan, hati berdebar kencang. T

gus. Kau mulai mengerti bagaimana cara memanfaatka

tekad yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Hutan yang dulu menakutkan kini menjadi sekutu, dan A

inari wajahnya, dan ia merasa dingin sekaligus bersemangat. Ia tahu, setiap langkah yang diambiln

tajamnya sulit dibaca. "Kau siap unt

ukis di wajahnya. "Aku siap. Tidak

a-bersiap menghadapi badai yang akan datang. Badai yang bukan hanya berasal dari alam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
“Di Pos Dua Gunung Lawu, tiga pemuda-Raka, Daffa, dan Iqbal-mencoba menyerang seorang gadis muda bernama Alana saat ia sedang berkemah sendirian. Alana berhasil melawan, tetapi dalam upayanya melarikan diri, dia terperosok ke dalam jurang yang curam dan hampir kehilangan nyawanya. Saat itu, seorang pria misterius muncul, Kapten Arga, mantan anggota Kopassus yang kini menjadi buronan karena kasus yang menjeratnya. Arga menyembunyikan diri di hutan Gunung Lawu, hidup dari alam liar sambil menenangkan luka batinnya. Dia menemukan Alana dalam kondisi lemah dan sekarat, dan membawanya ke tempat persembunyiannya. Di sinilah konflik mulai berkembang: Alana harus pulih dari trauma dan memutuskan apakah ia akan menyerah atau bangkit untuk membalas dendam. Sementara itu, kedekatannya dengan Arga, pria misterius dan keras namun penuh perhitungan, mulai menimbulkan ketegangan emosional-antara kepercayaan, rasa aman, dan emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.”
1 Bab 1 bayangan hitam yang bersembunyi2 Bab 2 Arga berjalan di belakangnya3 Bab 3 di bawah kaki hewan liar4 Bab 4 Kabut pagi Gunung Lawu5 Bab 5 Kekalahan kemarin6 Bab 6 dendamnya7 Bab 7 beberapa hari terakhir8 Bab 8 mengawasi musuh9 Bab 9 setiap keputusan yang mereka ambil10 Bab 10 hutan yang selama ini menjadi saksi perjuangan11 Bab 11 seorang peserta datang tergesa-gesa12 Bab 12 Kau merasakannya juga13 Bab 13 matanya penuh harapan14 Bab 14 kunjungan itu berlangsung15 Bab 15 Beberapa masih memikirkan insiden16 Bab 16 hari ini kita akan menghadapi ujian17 Bab 17 jangan mudah terprovokasi18 Bab 18 Dunia nyata selalu menuntut keputusan19 Bab 19 tetap bertindak benar20 Bab 20 rasa bangga yang dalam21 Bab 21 Setelah beberapa minggu persiapan22 Bab 22 tidak suka23 Bab 23 ketika kalian tetap bertindak benar24 Bab 24 Ada perselisihan25 Bab 25 menunggu di luar