icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu

Bab 3 di bawah kaki hewan liar

Jumlah Kata:1886    |    Dirilis Pada: 22/10/2025

gar aliran sungai yang bergemuruh, dan sesekali suara ranting patah di bawah kaki hewan liar. Alana berdiri di atas ba

seperti bayangan hitam yang mengintai dari kejauhan. "Hari ini, kau

a ia akan benar-benar menguji jebakan dan strategi balas dendamnya secara ny

eka bergerak santai, tapi tatapan mata mereka mulai waspada. Raka berjalan di depan, memimpin jalan

fa, menatap ke tanah. "Ad

g. "Mungkin hanya ilusi, atau... hutan ini

in mengalir deras. Setiap langkah ketiga lelaki itu dianalisis dengan seksama, setiap kebiasaan

anting patah dan batu berguling ke jalur mereka.

r ini?" Raka mengger

juga merasakannya, kan? Sep

ebih erat. "Mungkin... mungkin ada binatang l

alir deras. Langkah pertamanya berhasil-tidak untuk melukai, tap

a mulai merasakan ketakutan. Itu artinya latihanmu berhasil. Ta

g yang diikat dengan tali untuk menciptakan "perangkap bunyi" yang akan memicu suara keras ketika dii

enggeram, menatap sekeliling dengan tatapan tajam, mencoba menemukan sumber gangguan. Daffa menahan napas, ketakutan

san dan rasa lega bercampur menjadi satu-untu

rinya, ketika duduk di dekat api unggun bersama Arga, tubuhnya masih gemetar. "Ak

u akan selalu ada. Tapi kau harus belajar menggunakannya. Ketakutan bukan

bahwa setiap latihan, setiap jebakan, dan setiap pengamatan adalah bagian dari prosesnya. P

si kiri dan kanan. "Ini latihan terakhir sebelum kau benar-benar mengeksekusi rencana," katanya. "Kau har

t itu kini telah berubah menjadi fokus. Ia menarik napas panjang, mengangkat kaki, dan mulai menit

ke lembah, melihat jalur yang akan dilalui Raka, Daffa, dan Iqbal. Semua tampak jelas dar

g dapat menimbulkan suara keras sekaligus mempersulit jalur mereka. Ia menandai setiap posi

haya yang menunggu. Alana menahan napas, matanya mengikuti setiap gera

meledak, ranting patah, dan batu berguling di jalur mere

erteriak, suaranya p

. "Kau juga merasakannya, kan?

ungkin... mungkin kita harus kembali,

namkan rasa takut yang nyata. Arga menepuk bahunya, suaranya rendah tapi tegas, "Bagus.

ai ini, tidak ada jalan kembali. Mereka bisa menjadi lebih berbahaya, dan hutan ini bisa menjadi m

muncul dalam pikirannya. "Aku sudah siap. Tidak ada yang akan

tahu gadis ini tak bisa dihentikan. Ia hanya bisa membimbing, menyiapkan

atap jalur di bawah dengan mata tajam. Beberapa hari terakhir, Raka, Daffa, dan Iqbal mulai menunjukkan perubahan-tidak

e lembah. "Hari ini mereka akan mulai mencari dengan lebih

ya adrenalin-ada ketakutan yang nyata. Ia tahu, sekali mereka menemukan j

elusuri setiap gerakan di jalur. Raka, yang berjalan di depan, berhenti d

h mereka tegang. "Kau juga me

harus hati-hati. Mereka mungki

mulai aktif mencari. Ia tahu bahwa jebakan sederhana tidak akan cukup-ia harus menga

kan mereka menemukanmu dulu. Ingat semua latihan-gerak diam-diam

dengan hati-hati, setiap langkah diperhitungkan, setiap gerakan dibuat senyap mungkin. Ia tah

ketiganya dari jarak dekat. Ia menunduk di balik semak, menatap Raka,

akang. "Aku yakin ada sesuatu. Mereka mun

jahnya pucat. "Bagaimana k

t di wajahnya. "Kita harus berhati-hati.

m tahu siapa yang mengawasi. Ini adalah kesempatan untuk menguji jeba

ambil besok. Kau harus menempatkan jebakan terakhir-kombinasi fisik dan psikologis. Ingat,

itu kini telah berubah menjadi fokus. Ia mulai menempatkan tali, batu, dan ranting dengan hati-hati, menc

s dihitung. Jika mereka menemukanmu, kau harus siap untuk melarikan di

malam ini akan menentukan apakah latihan dan str

dan Iqbal muncul di jalur, wajah mereka tegang. Setiap langka

pai titik pertama jebakan, suara keras terdengar-ranting patah, batu bergul

berteriak, suaranya

Aku tidak tahu... tapi rasanya seperti a

a harus menemukan mereka sekarang! Ti

berbisik, "Bagus. Kau mulai menguasai psikologi musuh. Mereka mulai panik. Tapi janga

ar pengawas, membagi jalur, dan bergerak lebih berhati-hati. Alana menyadari bahwa

berbahaya. Kau harus lebih pintar, lebih cepat,

beda. Ia belajar mengendalikannya, mengubah ketakutan menjadi fokus dan perhitungan. Ia ta

ubuhnya masih gemetar. "Aku takut kalau mereka menemukan jej

an itu wajar. Tapi kau harus menggunakannya. Ketakutan bukan musuhmu

kan, dan setiap pengamatan adalah bagian dari prosesnya. Proses yang akan m

ih agresif, mengandalkan pengalaman dan insting mereka. Alana menyiapkan jebakan terakhir: komb

ara keras meledak, ranting patah, dan batu berguling

aka berteriak, frust

idak tahu... tapi kita harus berhati

terus seperti ini. Kita harus menemukan siapa yan

anamkan ketakutan nyata. Arga menepuk bahunya, suaranya rendah tapi tegas, "Bagus. Tap

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
“Di Pos Dua Gunung Lawu, tiga pemuda-Raka, Daffa, dan Iqbal-mencoba menyerang seorang gadis muda bernama Alana saat ia sedang berkemah sendirian. Alana berhasil melawan, tetapi dalam upayanya melarikan diri, dia terperosok ke dalam jurang yang curam dan hampir kehilangan nyawanya. Saat itu, seorang pria misterius muncul, Kapten Arga, mantan anggota Kopassus yang kini menjadi buronan karena kasus yang menjeratnya. Arga menyembunyikan diri di hutan Gunung Lawu, hidup dari alam liar sambil menenangkan luka batinnya. Dia menemukan Alana dalam kondisi lemah dan sekarat, dan membawanya ke tempat persembunyiannya. Di sinilah konflik mulai berkembang: Alana harus pulih dari trauma dan memutuskan apakah ia akan menyerah atau bangkit untuk membalas dendam. Sementara itu, kedekatannya dengan Arga, pria misterius dan keras namun penuh perhitungan, mulai menimbulkan ketegangan emosional-antara kepercayaan, rasa aman, dan emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.”
1 Bab 1 bayangan hitam yang bersembunyi2 Bab 2 Arga berjalan di belakangnya3 Bab 3 di bawah kaki hewan liar4 Bab 4 Kabut pagi Gunung Lawu5 Bab 5 Kekalahan kemarin6 Bab 6 dendamnya7 Bab 7 beberapa hari terakhir8 Bab 8 mengawasi musuh9 Bab 9 setiap keputusan yang mereka ambil10 Bab 10 hutan yang selama ini menjadi saksi perjuangan11 Bab 11 seorang peserta datang tergesa-gesa12 Bab 12 Kau merasakannya juga13 Bab 13 matanya penuh harapan14 Bab 14 kunjungan itu berlangsung15 Bab 15 Beberapa masih memikirkan insiden16 Bab 16 hari ini kita akan menghadapi ujian17 Bab 17 jangan mudah terprovokasi18 Bab 18 Dunia nyata selalu menuntut keputusan19 Bab 19 tetap bertindak benar20 Bab 20 rasa bangga yang dalam21 Bab 21 Setelah beberapa minggu persiapan22 Bab 22 tidak suka23 Bab 23 ketika kalian tetap bertindak benar24 Bab 24 Ada perselisihan25 Bab 25 menunggu di luar