icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Syahadat Cinta

Bab 2 Pertemuan

Jumlah Kata:2798    |    Dirilis Pada: 02/12/2021

eperti kebudayaan yang telah turun-temurun di Pondok Maarif, apabila santri kelas 1-5 imtihan, kelas enamlah yang bertugas piket ma'had , dari piket thoba

taknya di daerah Kediri, Jawa Timur. Penempatan pondok putra dan putri pun tidak satu wilayah, berbeda dengan pondok pesantren kebanyak yang mempunyai santri putra dan putri

bertugas membersihkan sampah yang berada di sekitar gedung Syiriah, tiba-tiba

kamu habis melanggar peratura

h riayah harus selalu berhubungan dengan

Zakia menggaruk kepalanya y

idak merasa punya salah kok. Jadi, kalian tidak perlu khawatir, palingan ju

, cepat ke sa

a pada Aira dan berlari ke hujroh ustazah riayah. Dengan nafas ya

aya," ucap salah satu us

untuk menghukumnya. Namun, dia juga tidak dapat membohongi perasaannya, takut apabila secara tidak sengaja melanggar peraturan, gadis itu tidak ingin mendap

kerudung mencolok itu. Itu merupakan hukuman yang memalukan. Saat semua santi memakai kerudung putih, orang yang melanggar memakai kerudung berwarna oranye, berbeda dari yang lain, selain itu ditambah deng

lihat seorang wanita berumur 23 tahunan berdiri tegap dihadapannya, badannya lebih tinggi beberapa senti dari Rania, tubu

na pukul delapan nanti Ustaz Hanafi dan sekertarisnya ak

tazah," ucap

urfah dari sannah s

usta

jutkan pekerjaan

laikum," Rania berpamitan dan menc

ia, Aira, dan Zakia sedang duduk berselonjor di samping taman depan gedung Syiriah

dak mendapat hukuman ka

enyum dan mengge

gil ke riayah?" Aira kini

h disuruh bersih-bersih guest house," u

, kasihan, hahaha," Zakia melontarkan ledekannya. Suara tawany

Rania, Aulia, d

p kesal pada tiga temannya, kemudian

siapa sih?" Aira meng

fi dan seke

tarisnya? Kamu tidak bohongk

ng? Kamu kenapa sih he

ya Ustaz Hanafi itu kan ganteng banget, banyak santriwat

ucap Zakia, Rania dan Aira hanya

gganti mukenah mereka dengan kerudung dan bergegas ke guest h

makan malam dan meja makannya saja. Tadi Ustazah Alin juga sudah beli nasi dan lauknya, semuanya ada

ap Rania, Fatma, d

a hidangkan di mangkuk dan piring-piring. Saat mereka sedang asyik menata meja makan tiba-tiba terden

tun ," ucap F

ohong deh," Ani

berbohong, aku ke kama

n menahan sesuatu yang akan keluar. Rania hanya tersen

napa tidak percaya pada Fatma? La

ma kan selalu menghidar, dia itu tidak mau bertemu dengan beli

u tahu kamu mau cari perhatian sama sekerta

saku ke Ustaz Hanafi, kan Fatma keponakan ustaznya, andai saja aku yan

rus yang dipikirin, kamu jangan mikir ena

ada sisi negatif menjadi

kemarin, terus tugas akhir papernya dia, kan kamu tahu sendiri dulu saja se

at saat itu Fatma bilang dunia seperti berhenti berputar. Aku tidak

ekspresi wajah Anisa, "Le

tawa terpingkal-pingkal, saat itulah tiba-tiba suar

ng yang tidak pernah didengar Ran

ingkah aneh mereka sebelumnya tidak dipergoki ol

andangan mata Rania tertuju pada kaki pria itu, berusah

ia yang mereka panggil dengan sebutan ustaz itu, setelah menerima ulur

get ustaz itu," bisik Anisa s

akit tahu," ucap Rania kesal sambil

aru saja ada pangeran di hadapan kit

memandang pria yang bukan mahrom kamu deng

kali, kenapa kamu jadi se

ingatkan kamu saja Nis, ing

butin itu lagi, mendingan kita memb

r," Rania tersenyum

lam itu ia memakai baju berwarna biru langit sehingga bercak kuning terlihat jelas di bajunya. Anisa merasa malu apabila harus ikut menghidangkan makanan

ja makan tiba-tiba Ustaz Ahda telah berdiri di s

n kamu," ucap Ustaz A

ucap Rania sambil men

an makan di dalam kamarnya dan baru keliling mahad besok pagi," uca

anya kata-kata itu saja yang

rkan makan malam Ustaz H

i-lagi hanya itu yang

di hadapannya itu, Rania yang merasa diperhatikan merasa semakin salah tingkah. Jantungnya tiba-tiba berde

tadi?" suara lembut Ustaz

mbersihkan dapur," ucap Rania

diri, berharap agar Ustaz Ahda tid

berpamitan untuk kembali ke dapur,

saya mau membuat kopi tapi tidak terbiasa menggunaka

a dengan menyunggingkan senyum manisnya, tanda bahwa

mendidih ya," t

r dan meninggalkan Ustaz Ahda yang sedan

ncang dengan Anisa, pandangan kedua teman Rania itu terasa misterius, tajam dan menak

elihatku seperti itu

pa saja dengan ustaz k

an di ruang makan tadi? H

eman-temannya dengan wajah yang pe

sa sambil menahan tawa, Rania hanya mengerutkan keningn

aku mau masak air panas

yoraki Rania. Rania memilih tidak meladeni me

kan cuma bercanda," ucap Anis

meladeni kalian saja," ucap Rania sam

ya yang serius juga ya," ucap Fatma d

Jangan membuat aku merind

" Ucap Fatma to the point, membuat Rani

aku serius ini,

ahnya sih tinggal jawab

, detik ini dengan ustaznya, kok ya sudah ditanya suka apa tid

at-lihat sepertinya Ustaz Ahda suka

temannya. Ia mematikan kompor LPG dan mengangkat air mendidih

ngintip dari celah pintu, terus aku memperhatikan ekspresi wajah ustaznya waktu ngeli

ih terdapat sisa air panas yang mengepul, "N

kamu tahu aku punya kelebihan membaca ek

nya itu dosa, apa lagi kalau menikmati pemandangan itu jadi zina mata

tikan apa benar gosip yang beredar selama ini kalau sekertaris Ustaz Hanafi itu ca

aku sudah mengingatkan. Jadi, ka

a tidak dengan Ustaz Ahda?" Anisa masi

aku tidak tahu, lagian rasa suka itukan tidak bisa be

a pandangan pertama,"

adi aku tidak mungkin merasakan cinta pad

bisa pegang omongan aku kok, kalau ustaz kece itu ada

as yang diminta Ustaz Ahda, namun di dalam hatinya mulai timbul pertanyaan. Pertanyaan akan kebenaran dari pernya

ndiri tidak mengerti apa penyebabnya, hanya saja ia merasa tidak nyaman berada di satu tempat dengan pria yang bukan mahromnya tanpa ada

ania sambil menyodorkan air

lesung pipinya terlihat, namun Rania hanya melihat senyum itu dengan samar karen

ja termos itu jatuh ke lantai, untungnya Rania secara sigap menangkap termos itu, tanpa sadar Ustaz Ahda juga melakukan hal yang s

ia dan Usta Ahda

aja saling bersentuhan Rania untuk pertama kalinya dapat memandang dengan intens wajah pria yang telah berhasil membuat hatinya berkecamuk tak menentu, tentu saja tatapan mata me

pencipta alam ku

uhan pem

ya masi

ri tak dapa

t tak sel

h tak se

kdir yang

aktu yang

segalanya pa

a k

akhir tahun d

ad:

enjaga maka

t gedung dan lingkunga

l: jaga pondok

: berjaga di temp

berjaga di tempat

am: bagia

ah santri, berhubungan dengan wali santri, keamanan pondok, penanggung jawab penuh santri-santri yang ada d

oh:

aya: iya,

dhuyuf:

am:

h: bagian pe

disa: ke

: Terim

: saki

un?: Maaf, saudara

udah

-ma': in

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Syahadat Cinta
Syahadat Cinta
“"Saya mulai ragu dengan perasaan yang saya rasakan. Bukan berarti saya tidak lagi mencintai Ustaz tetapi saya memiliki mimpi yang tidak mungkin bisa saya raih jika berada di dalam penjara suci," tulis Adibah Rania Zahara dalam surat yang ditulisnya. "Saya hargai semua keputusan yang kau ambil. Insyaallah hati saya ikhlas menerima keputusanmu. Ini mungkin yang terbaik," Adib Ahda Zahiri menuliskan balasan surat untuk perempuan yang telah dikhitbahnya.”
1 Bab 1 Prolog2 Bab 2 Pertemuan3 Bab 3 Sebuah Masalah 4 Bab 4 Sebuah Awal5 Bab 5 Adib dan Adibah6 Bab 6 Mengganggu Hati7 Bab 7 Terpisah8 Bab 8 Pertemuan Tak Terduga9 Bab 9 Ungkapan Tak Terduga10 Bab 10 Dalam Bimbingan Allah11 Bab 11 Keputusan yang Salah 12 Bab 12 Debar Jantung13 Bab 13 Debaran Rasa14 Bab 14 Calon dari Nenek15 Bab 15 Pertemuan Kedua Keluarga16 Bab 16 Keraguan17 Bab 17 Sebuah Jawaban 18 Bab 18 Surat Kepastian19 Bab 19 Arfan Ilham Awwab20 Bab 20 Jodoh untuk Ilham I21 Bab 21 Jodoh untuk Ilham II22 Bab 22 Khumairah Faza I23 Bab 23 Khumairah Faza II24 Bab 24 Khumairah Faza III25 Bab 25 Sahabat Lama I26 Bab 26 Sahabat Lama II27 Bab 27 Keputusan28 Bab 28 Kesedihan dalam Hati29 Bab 29 Dilema I30 Bab 30 Dilema II31 Bab 31 Permintaan Terakhir I32 Bab 32 Permintaan Terakhir II33 Bab 33 33 Babak Baru34 Bab 34 Perjalanan Baru35 Bab 35 Sang Pengganggu36 Bab 36 Kesan Lain37 Bab 37 Puisi dari Seberang38 Bab 38 Awal Segalanya39 Bab 39 Awal Sebuah Kekaguman40 Bab 40 Emier Reza Alfadi41 Bab 41 Sajak42 Bab 42 Perjalanan Cinta43 Bab 43 Sajak-Sajak Cinta44 Bab 44 Epilog