icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Balas Dendam Kejam Sang Mantan

Bab 4 

Jumlah Kata:648    |    Dirilis Pada: 29/07/2025

knalpot, dan membenarkan langkahku selanjutnya. Ini bukan h

anya terdengar di telepo

ku. "Aku sudah mem

ngan dalam suaranya. Aku memang belum

ntu. Aku akan membawa kesepakatan Nusantara k

nya ketika dia berbicara. "Aku mendengarkan. Aku be

penuh. Dan aku ingin jabatan yang mencerminkan

ik pun. Kecepatan persetujuannya ha

ni akan menjadi pertarungan. Baskara tidak akan me

dalam suaranya. "Aku yang akan menangani Baskara.

kataku cepat, mungkin terlalu cepat. "Ini

a dia berbicara lagi, suarany

ah, Ki

erhana, tapi terasa se

an," kataku, suara

awal dalam satu jam," katanya, kembali ke mod

napas dalam-dalam. Satu masalah terpe

epada sopir. Apartemen yang kutinggali bersam

hukum. Hanya sepuluh tahun kehidupan bersam

selembar kertas mana pun. Kehidupan kecil yang rapu

hanya untukku

uhi hantu-hantu masa depan yang tidak akan pernah terjadi.

. Pakaian, buku, laptopku. Aku meninggal

membuatnya tahun lalu, tempat untuk menyimpan kenang-kenangan perjalanan kami. Sobeka

ah dan patah hati, ingin meninggalkan

bagian yang dingin dan penuh p

nya dengan kuku dan

an kami ada ponsel keduanya. Pons

a menyala dengan aliran notifikasi

ilnya, tang

a. Puluhan. Ratusan. Sejak

kamu malam ini. Pakai kem

n banget di rapat tadi. Kapan s

etelah deal Nusantara. Aku janji.

ku nggak mau berbagi kamu atau

natan yang baru. Mereka telah merencanakan ini selama ber

puku. Ini adalah penyakit jiwa yang terasa fisik. Aku terhuyung-huyung

ucat dan berlinang air mata di cermin. Wan

l itu, dan dengan tangan yang mantap, mulai menerusk

ng keras dan ta

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Balas Dendam Kejam Sang Mantan
Balas Dendam Kejam Sang Mantan
“Perusahaanku, CiptaKarya, adalah mahakarya dalam hidupku. Kubangun dari nol bersama kekasihku, Baskara, selama sepuluh tahun. Kami adalah cinta sejak zaman kuliah, pasangan emas yang dikagumi semua orang. Dan kesepakatan terbesar kami, kontrak senilai 800 miliar Rupiah dengan Nusantara Capital, akhirnya akan segera terwujud. Lalu, gelombang mual yang hebat tiba-tiba menghantamku. Aku pingsan, dan saat sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Ketika aku kembali ke kantor, kartu aksesku ditolak. Semua aksesku dicabut. Fotoku, yang dicoret dengan tanda 'X' tebal, teronggok di tempat sampah. Saskia Putri, seorang anak magang yang direkrut Baskara, duduk di mejaku, berlagak seperti Direktur Operasional yang baru. Dengan suara lantang, dia mengumumkan bahwa "personel yang tidak berkepentingan" dilarang mendekat, sambil menatap lurus ke arahku. Baskara, pria yang pernah menjanjikanku seluruh dunia, hanya berdiri di sampingnya, wajahnya dingin dan acuh tak acuh. Dia mengabaikan kehamilanku, menyebutnya sebagai gangguan, dan memaksaku mengambil cuti wajib. Aku melihat sebatang lipstik merah menyala milik Saskia di meja Baskara, warna yang sama dengan yang kulihat di kerah kemejanya. Kepingan-kepingan teka-teki itu akhirnya menyatu: malam-malam yang larut, "makan malam bisnis", obsesinya yang tiba-tiba pada ponselnya-semua itu bohong. Mereka telah merencanakan ini selama berbulan-bulan. Pria yang kucintai telah lenyap, digantikan oleh orang asing. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka mengambil segalanya dariku. Aku berkata pada Baskara bahwa aku akan pergi, tetapi tidak tanpa bagianku sepenuhnya dari perusahaan, yang dinilai berdasarkan harga pasca-pendanaan dari Nusantara Capital. Aku juga mengingatkannya bahwa algoritma inti, yang menjadi alasan Nusantara Capital berinvestasi, dipatenkan atas namaku seorang. Aku melangkah keluar, mengeluarkan ponselku untuk menelepon satu-satunya orang yang tidak pernah kusangka akan kuhubungi: Revan Adriansyah, saingan terberatku.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10