icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pelarian Cinta Yang Terlarang

Bab 3 Suasana di meja makan terasa kaku,

Jumlah Kata:722    |    Dirilis Pada: 29/01/2025

p orang terdiam, hanya suara peralatan makan yang terdengar memecah keheningan. Thorne duduk di ujung meja, pandangannya selalu mengarah pada

an tahu apa yang terjadi, tapi memilih untuk diam. Elara tahu mereka bukanlah orang yang bisa ia percayai sepenuhnya. Mereka hidup dengan cara

h perintah. Itu bukan permintaan, itu adalah instruksi yang

ngan semua ini. Ia bisa merasakan pengaruh Thorne yang begitu kuat, menggerogoti segalanya dalam hidupnya. Perasaan seperti ini membuatnya ingin

yang telah terpendam begitu lama. "Kenapa semuanya harus sepe

seakan terhenti. Paman dan bibinya menundukkan kepala, tidak berani mengangkat pandangan mereka. Elar

menenangkan, namun Elara tahu itu hanyalah kebohongan yang ia coba

," Elara membalas dengan tajam. "Aku tidak but

dan bibinya saling berpandangan, jelas sekali mereka tidak ingin terlibat dalam percakapan ini. Mereka

mata yang penuh rahasia itu, menatap Elara dengan kedalaman yang mengerikan. Ada kek

pelan, namun suaranya mengandung ketegasan yang tak terbantahkan. "

berbicara seolah dia yang paling tahu segalanya. Segalanya tentang hidupnya,

"Kamu tidak pernah tahu apa yang terbaik, Thorne. Kamu hanya peduli pada dirimu sendiri. Kamu memb

a ia terjemahkan. Ada keheningan yang menekan di antara mereka

danya lebih dalam sekarang, hampir seperti peri

annya, membuatnya merasa takut, merasa tidak berdaya. Tapi dia tidak bisa membiarkan itu

n, meskipun hatinya berdegup kencang. "Kamu bisa mencoba mengendalikan

anya tersenyum tipis, seakan itu semua hanyalah bagian dari rencananya. "Kita lihat saja nanti,

campur aduk. Tidak ada yang bisa mengubah kenyataan bahwa dia terperangka

ndalikan segalanya, tetapi Elara tahu-

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pelarian Cinta Yang Terlarang
Pelarian Cinta Yang Terlarang
“Saat usianya 10 tahun, Elara diadopsi oleh Thorne, mantan kekasih ibunya, setelah ibunya mengakhiri hidupnya dengan tragis. Tidak hanya itu, Elara juga disadarkan pada kenyataan pahit bahwa Thorne adalah orang yang nyaris meracuni ibunya sebelum tragedi tersebut terjadi. Sejak saat itu, Elara terpaksa hidup bersama Thorne dan keluarganya-paman dan bibi dari pihak ayah angkatnya. Namun, semuanya berubah ketika situasi memaksa Elara untuk tinggal serumah dengan Thorne. Di bawah aturannya yang keras, hidup Elara berubah menjadi mimpi buruk. Keinginan Thorne untuk mengendalikan setiap aspek hidupnya, hingga hal-hal kecil yang seharusnya menjadi haknya, membuat Elara merasa seperti terperangkap dalam cengkeraman besi. Dulu dimanjakan, kini Elara menjadi pemberontak, marah, dan penuh kebencian. Namun, ada satu hal yang sulit diterima oleh Elara: Thorne, lelaki yang telah menghancurkan hidup ibunya, ternyata menyimpan perasaan yang jauh lebih gelap terhadapnya. Perasaan itu membuat Elara bertekad untuk melarikan diri-tapi apakah dia akan berhasil, atau justru jatuh lebih dalam ke dalam cengkraman Thorne yang tak terduga? Apakah Elara bisa menemukan kebebasan dan mengungkapkan kebenaran yang terkubur, atau akan terjebak dalam permainan berbahaya yang tak pernah ia inginkan?”
1 Bab 1 Rumah yang awalnya bukanlah tempat yang diinginkan2 Bab 2 Elara mengunci pintu kamarnya3 Bab 3 Suasana di meja makan terasa kaku,4 Bab 4 Elara menghabiskan malam itu dengan rasa gelisah5 Bab 5 setiap kata yang keluar dari mulut Thorne6 Bab 6 Membuka Pintu Terlarang7 Bab 7 berusaha untuk tetap teguh8 Bab 8 ada satu hal yang tak bisa ia abaikan9 Bab 9 Thorne mungkin berpikir ia telah menguasai semuanya10 Bab 10 Obrolan mereka semalam telah membuka sebuah jalan baru11 Bab 11 Pengakuan yang Menyakitkan12 Bab 12 Kebenaran yang baru saja ia dengar dari Gideon13 Bab 13 mengadakan rapat mendadak14 Bab 14 Hari yang ditunggu Elara akhirnya datang15 Bab 15 seperti dua kekuatan besar yang bersiap untuk bertarung16 Bab 16 hanya dihadapkan pada Thorne17 Bab 17 Kemenangan terasa seperti sebuah ilusi18 Bab 18 Suasana mencekam semakin menghantui19 Bab 19 semakin mempersempit ruang geraknya20 Bab 20 mobil hitam itu berhenti tepat di depan mereka21 Bab 21 Suara benturan22 Bab 22 menjadi simbol perlawanan mereka23 Bab 23 berfungsi sebagai pusat24 Bab 24 memeriksa dokumen-dokumen yang mereka temukan25 Bab 25 Elara dan Della tahu mereka tak bisa lagi menunda tindakan26 Bab 26 Della meninggalkan pusat perlindungan27 Bab 27 Pria itu mendekat dengan langkah penuh ancaman28 Bab 28 Membongkar Topeng29 Bab 29 Saat Elara dan Della menuju alamat yang diberikan30 Bab 30 Tidak ada jalan pulang