icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Terjerat Obsesi Gila Duda Anak Dua

Terjerat Obsesi Gila Duda Anak Dua

Penulis: Amih Lilis
icon

Bab 1 Ditawar

Jumlah Kata:1079    |    Dirilis Pada: 19/01/2024

y Rea

te ini sekalian ya

h?

n seorang bocah perempuan yang tadi tiba-tiba saja menarik lenganku k

lu kenapa tiba-tiba dia ingin membeliku? Dia yang tidak bisa membedakan an

l, loh! Masa disamakan dengan

kan, Pa

tidak gatal. Saat lagi-lagi anak kecil itu menatap bapak

ungkin banget. Orang ganteng gitu kok bentukannya. Beneran jadi sampah juga pasti banyak yang m

apa' oleh anak itu. Tanpa sadar terpesona pada wajahny

sud aku si papanya anak-anak--Eh, kok jadi pap

h. Kan, aku jadi gak Fokus. Aduh ... aduh, bisa jongkok dikit gak sih,

pria ganteng itu. Pokoknya, pria itu lalu berdehem

ong. Tantenya bukan mai

knya jangan sampai aku khilaf dan malah lumer di dadanya minta beneran di b

ng di tempatku. Meski sudah sangat tidak fokus den

Aku tetaplah wanita normal. Dan tentu saja, sebagai seorang wanita, aku juga su

Tante ini aja yang gantiin mama, Pa. Dede bay

ng

ru? Ded

kku mencerna ucapan bocah yang berna

Duda, gitu? Udah Punya anak dua dan ... Ya amp

y one get three lagi, ya kan? Astaga! Kayak gak ada

pi-

Aku pun sengaja berdeham cukup keras, agar mendapat sedikit atensi mereka. B

Anak dan bapak itu pun menoleh ke arahku. Membuat mataku pun tak

ne get three!' batinku p

a memang hot-nya minta di ajak bikin anak. Menyebalkan! K

einginan kamu barusan, buat jadi mama baru kamu dan d

pun kembali bertan

lasan logis secepatnya sebagai jawaban. Sebab aku

jawabku asal, mengikuti ide random

, aku pun mengangkat tangan kiriku, dan menunjukan

ki lima ribu yang dibawa si Nur (Nyonya Ammar) ke toko tempo hari. Karena lucu, dan seperti cinci

uk membelikan hadiah bu

eminta konfirmasi lagi, yang langsu

mau ni

ya

pan

h besok, tapi ... gebetan aja aku gak pun

a tenggelam, ya kan? Toh, aku yakin. Setelah ini juga

perlahan, sebelum kemudian menunduk sedih. Membuat ak

sih, gak masalah. Nah ini, buntutnya sudah dua. Yang satu masih bay

h deh. Tita cari

ak tirinya Intan. Yakin aku dia gak akan menerima begitu aja situasi ini, dan ... jawabannya

si Papa. 'Aduh, ini lidah gak bisa di kondisikan. Keenakan man

trinya. Menggendongnya segera dan membelai rambut ind

anggu waktu kamu," ucap pria

t aja tiba-tiba ada yang narik." Aku

mage sebagai pub

ita mem

. Tapi ... Dev, uda

yela omongan si Papa begitu saja. Lebih dari itu, dia juga mengingatkan jadwal p

u mencapai pintu toko, T

nghentikan langkah dan me

g, ya? Tita masih mengharapk

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Terjerat Obsesi Gila Duda Anak Dua
Terjerat Obsesi Gila Duda Anak Dua
“Sebelumnya hidupku baik-baik saja. Aman, tentram, damai dan terkendali. Meskipun aku bekerja sebagai publik figur di dunia entertainment. Tetapi aku tidak pernah mencari sensasi agar viral, atau pun terkena gosip miring hingga menjadi headline di akun lambe-lambean. Hingga akhirnya aku bertemu dengan Thalita Eugenie Alexander. Seorang gadis cilik yang tiba-tiba menarikku ke meja kasir dan ingin membeliku. Lah, dia kira aku ciki atau permen kapas? Seenaknya saja mau dibeli. Namun, berawal dari kejadian itu, hidupku pun mulai kacau setelahnya. Kehadiran Tita dan ayahnya, Aksa Malvino Alexander, si duren sawit berbuntut dua. Perlahan membuat aku mendadak virall. Apalagi, dengan status si duda yang ternyata bukan orang biasa. Makin menjadi saja gosip yang menimpaku setiap harinya. Membuat aku muak, dan ingin sekali resign dari dunia entertainment yang kugeluti. Masalah lainnya adalah, si duda selain narsis parah, juga sangat pemaksa sekali. Aku harus ekstra keras memutar otak dalam menolak lamaran gilanya. "Saya heran, kok ada wanita bodoh seperti kamu?" Heh? Maksudnya? "Padahal ada berlian di depan mata. Bukannya diambil dan disimpan, malah di tolak. Waras kamu?" What the hell! "Saya juga heran sama Bapak. Sudah tahu ditolak, masih aja gigih maksa. Kayak gak ada cewek lain aja diluaran sana. Kenapa? Situ kurang laku, ya?" Nah, emang enak dibalikin? Lo jual, gue borong, Bang!”