icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

KETUA OSIS

Bab 4 Qotsa

Jumlah Kata:1451    |    Dirilis Pada: 09/01/2023

m maka buliran kristal itu pasti akan meluruh membasahi pipinya. Eva berusaha untuk menahan tangis sendiri. K

asuk atau tidak? Membuat Eva makin uring-uringan takut serba salah. Mau nyelonong masuk, tap

lebih baik bertanya walau sepertinya ak

ak

l di posisi seperti ini. Ia berdeham kencang hingga beberapa murid menol

a, Pak? Saya bo

. Setelah tadi saya menjelaskan panjang lebar

ini terus. Setelah ucapan Eva sengaja dipotong dengan beliau yang

rnya tak hanya Eva yang pintar di kelas ini. Hanya saja rata-rata yang pintar itu pendiam dan gugup ketika di

saja itu sebagai karma untuk pak Erik agar tahu bagaimana rasa

dengan tekanan dalam cairan. Saya memang tidak menyimak sepenuhnya apa yang telah Bapak sampaikan tadi.

noleh kembali pada Eva yang sampai saat ini masih berdiri di depan pintu. Guru mana yang t

tanya menjabat sebagai ketua OSIS ini. Beliau mulai memainkan ekspresi guna memanipulasi. Dah

r dalam sistem tertutup diteruskan ke segala arah dengan sama besar." Jeda sejenak guna Eva menarik napas karena lumayan menges berb

njelasannya yang sempat tertunda. Karena memang, jeda yanga ia beri bukan untuk

nan eksternal yang diberikan. Dari pernyataan tersebut kita sudah bisa ambil ke

i atas sampai bawah seolah memberi penialian. "Kamu ikut kursus Fisika, ya?" tanyanya tak bisa lagi tutupi k

ayan besar itu? Syukurlah di Taruna Bangsa bidang akademisi masuk dalam kategori ekskul. Tak menyia-nyiakan peluang yang ada,

, "kebalik, Pak. Yang ada saya yang open j

olimp," katanya sedikit meringis. Menurutnya kalau Eva memang sudah tak perlu diragukan lagi. Tak hanya

Erik mengangguk paham. "Oh, ternyata

onal,

ekolah ini adalah Taruna Bangsa yang telah berhasil mengharumkan nama Indonesia di dunia dengan

lah gigi gingsul yang membuat gadis itu semakin manis dipandang mata. "Do'akan saya ya, Pak. Saya ak

ajak seisu kelas untuk memgaminkannya. Tangan bapak itu terge

ketika ia dipersilakan untuk duduk di kursinya. Tak sia-sia Eva

a seutas kalimat dari motivatornya sejauh ini. "Jangan taruh h

*

ah keluar dan sekarang waktunya istirahat. Eva duduk se

gga membuat mereka terkenal. Hanya orang biasa-biasa saja dengan ekonomi pas-pasan. Yang membuat Eva betah berteman dengan mereka karena sef

P mereka sudah berjanji bersama-sama untuk bisa bersekolah di SMA TB. Biaya sekolah juga kebutuhan yang mahal dan besar membuat mere

nat dan bakat. Sekolah seelit ini menyediakan banyak sekali beasiswa untuk orang-orang yang kurang mampu agar dapat ikut merasakan pendidikan juga segala fasilitas yang mumpuni dan disediakan untuk

kan menikmati bekal. Hal itu sudah menjadi rutinitas setiap hari. Yang p

man di bahu sang sahabatnya, Uma. Namun tiba-tiba saja bangku Eva

egup jantung yang berdetak kencang. Gadis itu mengidap hipert

Ketuanya adalah Melly Diandra dengan anggota yang hanya dua orang. Yakni Dina Marenza dan Salsa Dian Aviani. Mereka itu rombongan cewek-cewek cen

g perlu ditakuti dari mereka ini? Cuma modal

ukan takut. Eksistensi mereka sangat berpengaruh di sini. Khususnya sang ketua yang m

siswi lain akan merasa terintimidasi dengan hal ini. Namun ingatkan bahwa ini Eva Nur Shafaah. Kenapa pula terintimidasi? Mereka sa

sa ngejawab pertanyaan pak Er

Padahal Eva hanya diam saja, tapi mereka sudah tersulut emosi sendiri. Apalagi ketika Iq

gan iri. Jangan iri dengki, puter-puter jari!" Cowo

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
KETUA OSIS
KETUA OSIS
“Memandang sebelah mata anak beasiswa dan kalangan orang miskin sudah menjadi budaya yang terjadi hampir di seluruh sekolah elit. Taruna Bangsa salah satunya. Meski gadis itu memegang jabatan sebagai ketua OSIS, sayangnya ia tak pernah dihormati. Eksistensinya tak pernah mendapat respect oleh sekitar. Ketika hampir seluruh siswa/i menunjukkan secara terang-terangan ketidaksukaan mereka pada sosok gadis bernama lengkap Eva Nur Shafaah itu, maka ketua geng terkenal seantero Jakarta Selatan ini tak pernah sedikit pun peduli. Namun, hal itu tak berlaku lagi karena suatu kejadian yang membuat Eva harus bermasalah dengan sosok Artanabil Hibrizi, ketua geng Kompeni yang paling ditakuti dan berkuasa dalam ranah Taruna Bangsa. Selain menjabat sebagai ketua geng legendaris tersebut, Arta juga merupakan cucu dari pemilik sekolah hingga ia begitu mudah mendapatkan posisi tertinggi yang paling dihormati di kalangan murid TB. Penderitaan yang Eva topang makin terasa ketika Arta mengklaimnya sebagai 'babu'. Bukankah ketos TB terlalu dipandang rendahan? Melakukan apa pun yang diperintahkan Arta tanpa boleh melawan sedikit pun. Hubungan toxic yang dilalui antara sepasang insan. Bukankah si gadis itu terlalu polos dan tulus untuk disandingkan dengan lelaki brengsek itu? Sayangnya di dunia ini semua hal yang tak mungkin dapat menjadi sebuah kemungkinan.”