icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

KETUA OSIS

Bab 2 Kompeni

Jumlah Kata:1415    |    Dirilis Pada: 09/01/2023

ngga masing-masing ujungnya menjuntai di belakang. Tubuhnya mundur dan k

mpertahankan diri agar tak tertarik lebih jauh. Nyatanya kal

belakang, tapi lilitan di lehernya terlal

ung paling sadis seantero TB. Kabarnya beberapa anak yang menjadi korban memi

etuk-etuk satu pahanya sendiri yang diposisikan menekuk. Sedangkan tangan kirinya me

anlah p

suatu kesenangan tersendiri untuknya. Tak heran ia mendapat gelar s

ampak lebar dan berkilau. Ia juga merupakan anggota inti Kompeni yang posisinya berjalan

iapa lagi jika bukan Rehan? Tangan Ari yang kekar menyentuh kepalan Rehan

o. Kasian,

u. Melepaskan genggamannya pada ujung jilbab gadis yang menjadi ma

sak jilbab gue!" geram Eva sangat kesal. Tak takut sama sekali menunjukkan

ta berusaha untuk tampil rapih bukanlah hal gampan

ikan hal itu. Ia mengedar pandang dan bert

nar diabaikan membuat gadis itu terpancing emosinya sendiri. M

ua kelasn

itu menyahut ketu

ng ia bawa ini milik kelas ini 'kan? Tapi seakan-akan jadi Ev

tahu saja di bawah sana tangannya mengepa

ernyataannya penuh penekanan. Sepertin

a. Masih berbaik hati Eva membawakan absen ini pada mereka

ab baik-baik juga nggak?" bisik

balik. "Lo nanya mulu dari tadi! Gue udah bilang ngg

eneriaki Eva hingga mereka berdua menjadi pusat perhatia

i niat tersebut urung mengingat ada Kompeni di kelas ini. Gerombolan orang paling b

iya? Lihat saja Eva perhatikan sedari tadi ia sangat toxic dan sesuka

r

ak kelas. Tak peduli budaya senioritas. Tak peduli juga posisinya sebagai apa di sini. Kalau songong begini Ev

Cewek itu berdiri den

kasihin ke ketua kelas!" Setelah bicara dengan tegas

*

u menoleh menampilkan sosok putra tampannya yang telah siap dengan seragam. Rambut semrawut menutupi sebagian

Ar

emu. Kemudian ia mendekat lalu menyematkan sebuah kecupan

u

mbutnya. Setelahnya Arta me

mah ini. Lelaki itu telah siap dengan pakaian

menyahut sap

ra yang bertanya. Ia selalu siap melayani kebutuha

k papi aja,

n pergerakan maminya yang begitu cekatan itu. Hanya 30 d

or

ergeleng meng

ri. Tatapan matanya terus terarah pada tangga, tentunya menungg

belum sih?" decak Za

ggak?" Sang suami bertanya seray

o gak bangun. Cuma kebiasaan tuh anak kalo Mami tinggal lan

ggelegar memenuhi seisi rumah. "Sabilaa!!

ntal guling karena kesal. "Aaaa Mamiii!! Kaos kaki aku gak tau di

ah ini memang bers

cara sarapannya, menunda sementara untuk

Kalo bangunnya pagi mendingan. Ini udah siang, siapin ap

ruh isi kamarnya dengan perasaan kesal. Kamar yang pada dasarnya su

nda putih yang ternyata teronggok di bawah keranjang cucian kotor.

Udah Ketemu, nih. W

ketika Sabila katanya telah menemukan kaos kaki yang i

uruni tangga dengan

kecilnya dan ambil posisi menyempil d

pala melihat kelakuan putri bungsunya itu. "Di sebelah Mami k

a ingin Zahra menampol anak itu de

api sama abang," serunya tanpa p

nar kupi

*

ulutnya, decitan dari kursi sebelah membuat gadis itu menoleh

aling tampan di rumah i

emangnya siapa lag

Pi. Assala

tasnya dan berlalu begitu saja membuat

menekuk. Tak lupa mulutnya yang penuh dengan makanan

lat lagi, ya,"

elap mulutnya dengan punggung tanga

u wish

hra memutar bol

an, melainkan karena Rehan sahabatnya, salah satu anggota inti geng Kompeni berkata akan mengantar Sabila ke sekolah pagi ini. Cow

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka